Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Srianah dan Rinai.


__ADS_3

Biarpun telah lewat tiga puluh jurus tapi pertarungan antara dua orang gadis itu masih berlangsung dengan sengitnya. Pranacitra juga merasa enggan untuk memisah mereka berdua. bagi si pincang adegan perkelahian mereka berdua sama lucunya dengan dua orang ibu- ibu yang sedang bergelut karena rebutan barang bagus dan murah di pasar.


Tanpa sadar pemuda ini tertawa sendiri melihat mereka berdua. separuh kendi kecil berisi jamu kunyit asam (cap Sido Nongol 🤭🙏) buatan Srianah sudah habis di teguknya. entah bagaimana kebetulan Srianah dan Rinai sama melihat kelakuan pemuda itu. selintas pikiran muncul di benak mereka hingga tanpa bersepakat kedua gadis itupun menghentikan pertarungan.


''Hei., hei., kenapa malah berhenti. aku baru saja menikmati betapa serunya pertarungan kalian berdua.!'' seru Pranacitra menegur. baik Srianah maupun Rinai hanya diam sambil menatapnya dengan pandangan mata tajam menusuk. tengkuk Pranacitra terasa dingin dan merinding.


''Eeh,, ehm., kaa., kal., kalau kalian sudah merasa lelah, mem,, memang seb., sebaik., sebaiknya beristirahat saja. kuu., kurasa akan lebih een., enak jik., jika kalian mem., minum jamu dulu biar badan kee., kem., kembali segar..'' ucap Pranacitra nyengir tergagap sambil beringsut pergi dari tempatnya duduk.


''Ooh jadi begitu., kau pikir pertarungan ini cuma sebuah tontonan untuk menghibur dirimu.!'' bentak Srianah kereng. ''Kurang ajar., apa kau kira kami berdua adalah pertunjukan wayang orang diatas panggung.!'' damprat Rinai mendelik. ''Hei., siapa yang mengijinkan dirimu pergi dari sana. kau mau lari yah.!'' timpal Srianah gusar.


Kedua orang gadis yang baru sesaat lalu baku hantam dengan sengitnya saling pandang dan sama mengangguk. pikiran mereka seakan tersambung. berikutnya tubuh Rinai dan Srianah sudah berkelebat kirimkan pukulan serta tendangan untuk menghajar Pranacitra.


''Setelah ketahuan enak- enakan menonton pertarungan kami berdua, sekarang kau mau kabur begitu saja. Huhm., rasakan ini dulu dasar pincang sialan.!'' rutuk Srianah. ''Hari ini akan kuberikan pelajaran berat karena telah berani memperlakukan para gadis sebagai barang tontonan. bedebah pucat sialan.!'' maki Rinai pula.


Biarpun bukanlah jurus serangan yang mematikan namun cukup menyakitkan jika terkena pukulan itu. karena gerakan kedua gadis ini terlalu mendadak hingga Pranacitra tidak menyangkanya. yang cukup menyulitkan adalah Pranacitra hanya bisa berusaha untuk menghindar dan melolong minta ampun karena tidak tega untuk balas menyerang mereka. akibatnya tubuh dan wajah pemuda itu memar bengkak seperti muka seekor celeng bunting.

__ADS_1


Setelah puas melampiaskan kekesalannya baik Srianah maupun Rinai sama berhenti menghajar Pranacitra. ''Lain kali jangan pernah lagi menganggap dirimu orang yang penting hingga bisa berbuat seenaknya..'' semprot Rinai. ''Sekarang juga pergilah mandi di sungai belakang gubuk sana.!'' bentak Srianah geram.


Pranacitra hanya bisa nyengir menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. tangannya meraba kulit wajah dan bibirnya yang terasa tebal seolah menggembung. jika saja Puji Seruni, Nyi Rondo Kuning atau Jingga Rani melihat mukanya pasti mereka tidak akan ada yang mau percaya kalau dia adalah Pranacitra.


Dengan tertatih- tatih dia berjalan keluar sambil mengerang. ''Aahh., auughh., gwaliaan bhehuwaa., hweegaa sweegwalii. aaghuuhh., swakhiisst.!'' (Aahh., augh., kalian berdua tega sekali. aduuh., sakit.!) meski suaranya jadi terdengar aneh tapi Srianah seakan tidak mau perduli. ''Cerewet., jangan banyak mengeluh. cepat pergi mandi.!'' teriaknya tanpa ampun. pemuda itupun langsung menghilang dari dalam gubuk.


Setelah itu barulah kedua gadis ini tertawa bergelak. sebenarnya sudah sejak awal melihat tampang bodoh Pranacitra yang bengkak tidak lagi berbentuk rupa manusia mereka sudah merasa geli namun sengaja ditahan. sesaat kemudian keduanya baru tersadar lantas saling diam menunduk dengan perasaan malu.


''Eehm., kurasa kita mesti bicara beberapa hal untuk membuatnya menjadi jelas..'' akhirnya Srianah membuka pembicaraan sambil menunjuk meja kursi kayu. ''Mmba., mbak Sri dulu saa., saja yang bicara. aa., aku akan dengarkan semua dan menjawab..'' ucap Rinai sambil mengikuti duduk di kursi satunya.


Sempat tertegun sejenak pada akhirnya Rinai menceritakan juga semua riwayat hidupnya hingga bertemu dengan si 'Siulan Kematian' itu sampai kemudian mereka berdua datang ke mari. sekarang inilah dia baru mengetahui kalau nama pemuda penolongnya itu adalah Pranacitra.


Hening sesaat lamanya saat Rinai selesai berkisah. ''Eehm maaf yah., ceritaku pastinya terdengar membosankan mbak Srianah..'' kata gadis bopeng itu pelan tertunduk. suara isak tangis disertai pelukan dari sepasang lengan tiba- tiba merengkuh erat tubuhnya yang sedikit kurus.


''Maafkan aku Rinai., sungguh tidak kusangka kalau dirimu punya masa lalu sekelam itu..'' bisik Srianah penuh rasa simpati diantara tangisannya hingga membuat Rinai merasa rikuh sendiri. tapi dia lega karena ganjalan hati dan salah paham diantara mereka berdua sudah tersapu lenyap.

__ADS_1


Sementara itu dari balik dinding gubuk dekat jendela terlihat seorang pemuda yang berdiri sambil bersandar tiang kayu penyangga teras gubuk itu. wajah bengkaknya yang tadi mirip celeng hutan entah bagaimana telah kembali pulih. seluruh tubuhnya juga jauh lebih bersih dan rapi dibandingkan sebelum dia mandi. ada senyuman tipis tersungging di bibirnya.


Sebenarnya sudah agak lama juga Pranacitra selesai membersihkan tubuhnya di sungai belakang gubuk. di saat hendak masuk tanpa sengaja dia mendengar pembicaraan kedua orang gadis itu. sempat merasa ragu akhirnya Pranacitra malah memilih untuk menguping dari luar gubuk.


Sebenarnya sejak awal memutuskan untuk mengajak Rinai ke tempat Srianah, si pincang sudah mengira ada kemungkinan kalau bakal terjadi salah paham diantara kedua gadis itu. tapi Pranacitra bukanlah pemuda umumnya yang bakal kebingungan dan malah membuat suasana semakin ruwet jika menghadapi keadaan seperti itu.


Meskipun kedua gadis ini punya sifat yang agak keras kepala namun mereka tetaplah punya sifat kelembutan bawaan dari kaum wanita utamanya Srianah. walaupun dia agak pencemburu dan keras hati tapi Pranacitra tahu betul kalau dia sangat perasa serta mudah tersentuh oleh penderitaan hidup yang dialami orang lain.


Rinai mempunyai kisah hidup masa lalu yang sangat menyedihkan sejak dia masih bocah kecil. gadis seperti Srianah tidak akan pernah tega dan pasti menaruh simpati pada orang yang bernasib buruk seperti itu. karena meski tidak sepahit Rinai dia juga punya masa lalu yang cukup kelam.


Pranacitra melangkah masuk saat kedua gadis itu sudah saling mengisahkan riwayat hidupnya masing- masing. meskipun ada kesedihan dan amarah dalam cerita mereka namun terkadang terselip gelak tawa riang jika terdapat sesuatu yang lucu dan menggelikan hati.


Baik Srianah maupun Rinai sempat tertegun melihat penampilan Pranacitra yang nampak jauh lebih bersih, tampan dan rapi dibanding sebelumnya meskipun baju celana gelap yang dia pakai masih tetap sama. pemuda ini seakan tidak perduli. pandangan matanya tertuju pada Gendol yang masih terbaring. ''Bocah bodoh bertubuh besar ini lumayan menarik juga..'' gumamnya tanpa sadar.


*****

__ADS_1


Cuma dapat update sedikit saja. Mohon maaf jika ada tulisan yang kurang berkenan. Silahkan tulis komentarnya. Terima kasih 🙏.


__ADS_2