
Senja sudah sampai di penghujung waktunya. kepak sayap kawanan kelelawar yang terbang menerobos pepohonan seolah menggantikan serombongan burung yang kembali ke sarang mereka setelah seharian mencari makanan. semilir angin berhembus menggugurkan pucuk daun- daun kering membawa perasaan hampa di hati.
Seiring dengan malam yang telah turun, kegelapan juga mulai menyelimuti dunia. sebuah gundukan makam baru itu terlihat agak menonjol di sekeliling tanah berumput yang rengkah terbongkar. empat sosok mayat berjubah hitam dan bau hangus dari semak pepohonan yang terbakar menambah seram suasana malam.
Sekelebat bayangan putih mendadak muncul di depan gundukan tanah kuburan. pekatnya kegelapan malam membuat orang lain tidak dapat mengetahui siapa orang ini dan apa yang sedang dia perbuat. hanya terlihat dipunggung orang tinggi besar ini seperti memanggul sesuatu benda yang berat.
Selanjutnya sempat terdengar helaan nafas penuh kesedihan, kekhawatiran bercampur amarah juga suara benda keras beradu dengan tanah berbatu. apapun yang sedang di lakukan sosok tinggi besar ini semuanya berlangsung cukup cepat, hanya berkisar waktu sepenanakan nasi saja. setelah memastikan di sekitarnya aman, sosok bayangan putih itupun berkelebat pergi tinggalkan tempatnya.
Bunyi kokok ayam jantan yang sayup terdengar di kejauhan menandakan malam sudah hendak berganti pagi. meskipun demikian kegelapan masih menyelimuti tepian hutan itu. dari arah timur bermunculan beberapa sosok bayangan manusia yang dalam waktu singkat telah berada di depan gundukan makam.
Yang menjadi pimpinan ada dua orang. salah satunya adalah seorang lelaki tinggi kurus berjubah hitam berpadu garis- garis warna merah. orang ini mempunyai rambut panjang hitam lebat yang seolah selalu menutupi separuh mukanya sebelah kanan hingga cuma nampak raut wajah pucatnya di sisi kiri. walaupun demikian dari sela rambut lebatnya yang menjuntai masih terbersit sorot mata kanannya yang sadis serta penuh dengan hawa kematian.
Seorang lagi merupakan kakek berjubah ungu tua dengan rambutnya yang putih panjang menjela baju dan dikepang menjadi sembilan buah. keduanya terlihat rada tercekat melihat empat sosok mayat manusia berjubah hitam yang tergeletak tidak jauh dari sana. sesaat mereka saling lirik. walaupun mengenali keempat mayat itu sebagai rekannya namun dalam hati masing- masing justru merasa senang dengan kematian kawan mereka ini.
''Sejak masuk ke bagian dalam sebulan lalu, mereka berempat senang mencari muka pada para pimpinan. jika ada kesempatan aku berpikir ingin menghabisi para cecunguk ini. baguslah jika sekarang semuanya sudah mampus. Haa., ha.!'' ucap lelaki jangkung berjubah hitam itu tertawa bengis. suaranya terdengar agak serak parau hingga terasa makin menyeramkan.
''Dirikupun juga tidak suka dengan mereka. kematian memang paling pantas untuk kaum penjilat..'' timpal rekannya sinis. setelah edarkan pandangan matanya yang tajam menembus kegelapan, orang ini memberi perintah pada lima orang berjubah dan berpenutup kepala hitam yang berdiri di belakangnya.
__ADS_1
Dengan menggunakan cangkul dan linggis kelima orang itu mulai bekerja menggali gundukan tanah di depan mereka. meskipun cara kerjanya cukup cepat tapi penuh kehati- hatian. tidak berapa lama kemudian mereka sama berhenti saat melihat ada jemari kaki dari sesosok mayat yang putus terajam linggis besi. tanpa di perintah lebih lanjut mereka menjadi lebih perlahan menyingkap tanah yang menutupi mayat itu.
Setelah membersihkan lumpur tanah di tubuh mayat, lima orang itupun segera keluar dari liang kuburan. dengan menggunakan dua buah obor mereka melihat ke bawah lubang. seraut wajah pucat dan kaku dari seorang pemuda berpakaian hitam terlihat di dalam sana. ''Apakah kalian sudah periksa semua yang ada pada mayat itu.?'' tanya orang tua berambut kepang sembilan.
''Kami sudah memeriksa semuanya, tubuh pemuda pucat ini penuh dengan bekas luka termasuk di bagian kaki kirinya yang cacat terdapat bekas tikaman dan patah tulang. itu semua sesuai dengan ciri yang beredar di luaran sana..'' jawab salah satu dari kelima anak buahnya. kedua orang pimpinannya menyeringai dan saling pandang.
''Tidak disangka peringkat pertama dari jajaran sepuluh pendekar muda terkuat, saat ini sudah terkapar dalam liang lahatnya. tapi hatiku masih merasakan dendam kesumat pada si bangsat ini karena dialah yang telah membunuh si 'Gadis Berwajah Tengkorak.!'' geram si lelaki tinggi kurus berjubah hitam yang rambutnya selalu menutupi bagian kanan raut mukanya.
Tanpa perduli apapun tangan kanan orang ini yang sudah terkepal menghantam tiga kali secara beruntun. tiga larik sinar kemerahan disertai gumpalan asap hitam melabrak lubang kuburan di bawahnya hingga mayat di bawahnya seketika hancur dan hangus terbakar api. getaran tenaga hantaman ilmu kesaktian itu turut membuat runtuh bongkaran tanah bekas galian sehingga menimbun kembali liang makam.
''Huhm., aku tahu kau merasakan dendam kesumat dalam jiwamu akibat kematian rekan kita si Gadis Berwajah Tengkorak dan yang lainnya di gunung Ciremai. tapi tetap saja tidak semestinya dirimu membuat hancur mayat si 'Muka Pucat Dingin' itu karena siapa tahu pimpinan kita menginginkan mayatnya.!" tegur kakek berkepang sembilan pada si lelaki jangkung sembari mendengus.
"Aahs., persetan.! semuanya sudah terlanjur terjadi. jika pimpinan bertanya kita jawab saja kalau mayat si pincang ini telah membusuk sehingga sulit untuk di bawa. lagi pula kita juga sudah memeriksa semua ciri yang ada pada tubuh bocah keparat itu.." ujar si kakek berjubah ungu tua itu kibaskan tangannya.
''Sebaiknya kita segera kembali menghadap pimpinan untuk melaporkan semuanya. Hee., he., kabar kepastian akan tewasnya si 'Siulan Kematian, 'Gelandangan Hantu, 'Iblis Pincang Kesepian, 'Pendekar Pincang Tanpa Perasaan' atau siapapun julukan yang di sandang oleh si bangsat itu, rimba persilatan pasti akan di landa kegemparan yang sangat hebat.!'' dengan mengumandangkan gelak tawa keras merekapun berkelebat lenyap dari tempat itu.
----------
__ADS_1
Biarpun malam hari telah cukup lama berganti pagi dan matahari sudah naik ke cakrawala timur namun cahaya terangnya masih belum sanggup menembus celah dan batang pepohonan yang tumbuh sangat lebat di hutan itu. dalam keadaan demikian suasana tetap terlihat gelap gulita di delapan penjuru.
Dari satu sudut hutan muncul satu bayangan putih yang berkelebat cepat menerobos lebatnya hutan yang masih gelap. meskipun tidak nampak jelas namun dari sosoknya dapat dipastikan kalau dia adalah seorang yang berbadan tinggi besar. beberapa kali orang ini sempat berhenti dan mendekam di balik semak pepohonan sambil edarkan pandangannya seolah ingin memastikan arah dan tidak ada orang yang menguntitnya.
Setelah memastikan segalanya aman, orang ini kembali bergerak cepat. sekilas di atas punggungnya nampak memanggul sesuatu yang berat dan di kotori lumpur tanah basah. biarpun bertubuh besar tetapi gerakannya sangat ringan dan cepat seolah bayangan hantu pertanda orang ini memiliki ilmu kesakitan peringan tubuh yang sangat tinggi.
Lelaki bertampang gagah dan agak brewokan itu sunggingkan senyuman lega saat melihat bayangan sebuah bangunan gubuk kayu yang berada di balik lebatnya pepohonan. dua tiga kali saja kakinya menutul tanah jarak lebih enam puluh langkah sudah terlewati olehnya. dalam beberapa kejap mata saja dia sudah berada di depan gubuk kayu itu.
Lelaki brewok ini sempat agak ragu mengetuk pintu gubuk. tapi terdesak oleh waktu diapun melakukannya. setelah mengetuk pintu gubuk beberapa kali tidak terdengar jawaban dari dalam, orang inipun berubah panik. dengan segera dia menerobos masuk. biarpun dalam gubuk cukup gelap tapi lelaki brewok ini bisa memastikan kalau tidak ada siapapun di sana.
Dengan cepat dia menyalakan pelita minyak yang tergantung di tengah ruangan. cahaya remang menerangi ruangan itu. hanya ada sebuah meja dengan dua buah kursi kayu yang terletak di tengah ruangan gubuk, tepat di bawah pelita minyak jarak yang tergantung. selain itu ada juga satu pembaringan kayu yang terdapat di sudut kiri gubuk.
Meskipun merasa kecewa dan sangat khawatir karena tidak menemukan siapapun dalam gubuk itu tapi lelaki brewok itu juga sadar tidak ada gunanya berkeluh kesah. lagi pula yang sedang ditunggunya bukanlah pesilat sembarangan. ilmu kesaktiannya sangat jauh diatasnya. bahkan mungkin., bisa dianggap sebagai dongeng yang sangat menakjubkan.
''Hehm., kurasa mungkin mereka berdua memang belum tiba kemari. tidak mungkin kalau mereka sampai melupakan masalah sepenting ini..'' gumam si brewok sambil dengan perlahan menurunkan beban berat yang di panggulnya ke atas pembaringan kayu. walaupun masih berlepotan tanah lumpur tapi samar dapat terlihat kalau yang terbaring itu adalah sesosok tubuh dari seorang pemuda.
*****
__ADS_1
Silahkan tuliskan komentar Anda.. Terima kasih🙏.