Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Malaikat Copet dan Maling Nyawa.


__ADS_3

Perahu itu sudah bergerak menerobos aliran sungai Wareng. meskipun kapal besar milik gerombolan Bajak Sungai Kali Wareng yang sudah tenggelam dan hanyut terbawa arus yang deras telah tertinggal sangat jauh di belakangnya. pertarungan dengan Ki Betik Kawak sang pimpinan kawanan bajak sungai itu juga sudah berlalu sejak tadi siang, tapi kegusaran dan dendam penghinaan di hati Iblis Dayung Besi masih terasa membakar jiwanya.


Hari mulai beranjak menuju ujung senja, kawanan burung telah terbang kembali ke sarangnya setelah seharian mencari makanan. sinar mentari yang semburat jingga kemerahan di ufuk barat membiaskan cahaya berkilau dipermukaan sungai.


Sebenarnya suasana senja hari itu cukup indah untuk dinikmati, tapi tidak mampu menghilangkan kegeraman di hati si pendayung perahu. untuk kesekian kalinya dia mendengus, dayungnya mengayun lebih keras dan cepat dari sebelumnya membuat perahu itu juga melaju lebih kencang. tenaga dalam orang ini memang cukup tinggi.


''Untuk apa kau memendam rasa gusar, toh semua sudah terjadi. memangnya kau mau berbalik arah dan mengejarnya.?'' terdengar suara teguran dari dalam bilik kecil tempat berteduh yang ada di tengah perahu. dari suaranya bisa dipastikan yang bicara sudah cukup tua.


''Aku hanya merasa kesal saja karena telah membiarkan manusia bangsat bernama Ki Betik Kawal dan kedua pengikutnya lolos dari hadapanku. sial., sungguh sialan. bagaimana jahanam itu bisa mendapatkan bendera partai Gapura Iblis itu.?''


''Mungkin sekarang ini dalam hatimu merasa malu karena takut dengan partai Gapura Iblis., tapi aku tahu betul kalau sebenarnya kau hanya khawatir perkumpulan Maling Kilat terlibat silang sengketa dengan partai hitam terkuat itu.!''


''Kau tidak perlu risau., apa yang kau lakukan sudah benar. lagipula dari apa yang pernah kudengar untuk bisa memiliki bendera itu sekaligus mendapatkan perlindungan dari Gapura Iblis, orang harus membayar dengan harga yang sangat mahal untuk setiap jangka waktu tertentu. jika orang tersebut tidak lagi sanggup membayar upetinya, bendera itu akan diambil kembali dan jaminan perlindungan itupun berakhir..''


''Orang seperti Betik Kawak tidak akan sanggup terus- terusan membayar upeti keamanan pada Gapura Iblis. jika saat itu tiba, membunuhnya jadi persoalan mudah..''


Mendengar penuturan orang yang ada di dalam bilik perahu membuat hati si Iblis Dayung Besi sedikit lega. dayung besinya kembali mengayun membawa perahu itu terus menuju ke hulu sungai Wareng.


Sementara itu di dalam bilik tempat berteduh terlihat seorang tua berblangkon dan berbaju hitam yang terbuat dari kain mahal sedang duduk santai sambil menghisap sebuah pipa cangklong berbau asap kemenyan. kesepuluh jari orang tua yang mungkin umurnya sudah mencapai tujuh puluhan tahun ini memakai sepuluh buah cicin emas bermata berlian warna- warni. dari gayanya orang lain akan mengira kalau dia adalah seorang tuan tanah atau juragan kaya raya.


Tapi sebaliknya orang tidak akan pernah menduga kalau manusia inilah yang menjadi ketua dari sebuah perkumpulan para maling di rimba persilatan yang dikenal dengan julukan 'Malaikat Copet.!'

__ADS_1


Sekali lagi dia menghisap pipa tembakau bercampur kemenyan di bibir peotnya. asap putih memuakkan menghembus ke sosok tubuh seorang pemuda kurus penuh bekas luka yang terbaring lemah di atas lantai perahu. orang tua yang di panggil sebagai ketua oleh si Iblis Dayung Besi itu juga merasa heran, kenapa dia bisa tertarik dengan seorang pemuda penyakitan yang pincang ini.


''Apakah karena diriku masih memendam rasa kesal dengan si Maling Nyawa yang memilih bergabung dengan kelompok 13 Pembunuh. beberapa bulan lalu dia muncul kembali dengan membawa seorang pemuda lima belasan tahun yang berlumuran darah..'' batin orang tua ini merenung.


Tanpa sadar Malaikat Copet teringat kejadian tiga bulan silam. saat itu tengah malam ada seseorang yang menyudup ke dalam markas perkumpulannya. dari gerakannya yang sangat enteng melewati lorong- lorong rahasia tanpa diketahui puluhan anggota perkumpulan Maling Kilat, bisa dipastikan kalau selain ilmu orang ini sangat tinggi juga seperti mengenal seluk beluk tempat itu.


Malaikat Copet yang saat itu masih berada dalam latihan semedinya juga baru tersadar kalau ada orang lain yang hadir dalam ruangan pribadinya.


Lelaki tua berwajah biasa, berambut panjang ubanan yang dikuncir ekor kuda itu sedang membaringkan tubuh seorang pemuda berbaju putih yang terluka tusukan di bagian dadanya. Malaikat Copet tidak kenal dengan pemuda yang terluka parah ini, tapi dia tahu betul siapa orang tua berambut panjang itu.


''Tua bangka si 'Maling Nyawa'., kukira kau sudah tidak sudi lagi datang kemari karena sudah hidup enak di dalam perkumpulan pembunuh bayaran 13 Pembunuh.!'' tegur Malaikat Copet sinis menahan rasa geram.


Yang di sindir cuma nyengir sambil garuk- garuk kepalanya lalu menoleh ''Bisakah kau tahan dulu kemarahanmu padaku., sekarang ini aku butuh pertolonganmu untuk dapat mengobatinya..''


Tanpa sadar Malaikat Copet turut memeriksa tubuh pemuda lima belas tahunan itu. dia tertegun saat meraba bagian dada si pemuda. meskipun jelas dadanya tertikam tapi jantungnya masih kuat berdenyut.


''Pemuda ini memiliki cacad jantung bawaan yang sangat langka. susunan tulangnya juga lumayan bagus. anak ini cukup baik untuk diajari ilmu silat., jangan katakan kalau kau tertarik padanya Maling Nyawa..''


''Hee., he., sejujurnya aku memang tertarik pada anak ini setelah melihat kenekatannya bertarung dengan beberapa ekor serigala. bahkan dia berani mengorbankan sebelah tangannya sebagai umpan untuk bisa memotong lidah hewan itu sampai mati kehabisan darah..''


''Kalau teringat kelakuan bocah ini, aku jadi merasa ngeri sendiri.!'' gumam si Maling Nyawa. ''Kumohon tolonglah anak ini, paling tidak ingatlah hubungan persaudaraan kita..''

__ADS_1


''Persaudaraan katamu., apakah dengan lari dari Maling Kilat lalu bergabung dengan kelompok 13 Pembunuh, kau masih layak menyebut kata persaudaraan.?'' damprat Malaikat Copet murka. turut maunya ingin dia ludahi muka bekas kawan karibnya yang pernah bersama mendirikan perkumpulan Maling Kilat ini. tapi itu diurungkan saat melihat Maling Nyawa bersujud di depannya.


''Aku mohon tolong obati anak ini., kau tahu diriku tidak pernah berlutut di hadapan siapapun. aku lebih memilih mati dari pada melakukannya. tapi demi kepentingan yang lebih besar aku mau untuk melakukannya.!''


Malaikat Copet tertegun. dia tahu betul siapa orang yang berlutut di depannya ini. jangan dilihat sikapnya yang terlihat lugu, manusia ini lebih berbahaya dari pada ular berbisa. orang ini juga tidak pernah merasa takut pada apapun. tapi kini dia malah mau merendahkan diri berlutut di hadapannya.


''Jika kau mau menolongnya aku akan jelaskan kenapa diriku sampai bergabung dengan kelompok 13 Pembunuh..'' ujar si Maling Nyawa sambil usap- usap ibu jari dan telunjuk tangan kanannya yang buntung.


''Kalau begitu jelaskan dulu alasannya, jika masuk akal akan kusanggupi permintaanmu, tapi jika kau mencoba berdusta, akan kau rasakan ilmu 'Asap Candu Kematian' dariku.!'' ancam Malaikat Copet.


Rekannya perlahan bangkit berdiri sembari menarik nafas berat. ''Sebenarnya semua ini ada hubungannya dengan keturunan dari 'Istana Angsa Emas.!''


Semenjak saat itu si Maling Nyawa seakan menghilang tak karuan rimbanya. bahkan kabarnya kelompok 13 Pembunuh juga sudah kehilangan jejaknya.


''Hhmm., dasar tolol. kenapa juga kau susah payah ikut terlibat perebutan kekuasaan di istana Angsa Emas. meskipun timbunan harta dan barang pusaka yang konon ada di sana memang menggiurkan, tapi aku tahu dirimu tidak tertarik pada semua itu..''


''Kau bilang anak muda yang kau bawa itulah yang bakal menjadi kaki tanganmu untuk menghancurkan kelompok 13 Pembunuh dari dalam. Hee., he., cita- citamu kurasa terlalu muluk. dasar maling tua tolol..''


''Baiklah Maling Nyawa., kau bisa punya barang bagus seperti bocah yang memiliki kelainan jantung itu. sekarang ini di depanku juga ada bocah pincang yang menarik., jadi kita lihat saja nanti dasar maling tua brengsek.!'' umpat Malaikat Copet sambil menyedot pipa cangklongnya.


Perahu terus melaju ke daerah hulu sungai Wareng. senja telah berganti malam, bulan sabit dan bintang- bintang tertutup awan tebal. seiring kawanan kelelawar yang keluar mencari makanan hujan gerimispun mulai turun ke bumi.

__ADS_1


*****


Mohon sertakan Komentar., kritik dan saran juga like👍 bila anda suka. terimakasih.🙏


__ADS_2