
Hujan sudah berhenti cukup lama. dari luar goa tidak terdengar lagi suara apapun. kedua orang murid perguruan silat 'Naga Biru' itu pasti sudah selesai menguburkan mayat semua rekannya. apakah setelah membuang mayat Ki Tuyul Ireng mereka masih mau kembali menjaga pintu goa atau lebih memilih kabur sejauh mungkin., bagi Pranacitra itu sudah tidak penting lagi.
Dari kejauhan luar sayup terdengar kokok ayam hutan. mungkin waktu sudah menjelang pagi hari. Pranacitra melirik gadis berbaju putih yang terbaring di atas dipan kayu. dari nafasnya yang teratur menandakan luka dalam di tubuh Puji Seruni sudah mulai pulih. melihat wajah cantik gadis itu membuat si pincang merasa tidak tega juga untuk pergi.
''Aku sungguh tidak mengerti., begitu cantikkah wajahku ini hingga mampu membuat seorang pendekar muda terkenal yang masuk dalam sepuluh pendekar pendatang baru terkuat di dunia persilatan terpesona, dan terus saja diam- diam melihatku sejak semalaman..'' gumam gadis itu sambil tersenyum mengejek.
Entah sejak kapan Puji Seruni terbangun dari semedinya. sekarang dia sudah duduk di tepi pembaringan kayu. Pranacitra melengos dan mendengus lirih. mungkin dia malu atau kesal hati karena gadis itu berhasil membalikkan sindiran yang pernah dia ucapkan kepadanya.
''Tidak baik menyindir seseorang yang pernah bersusah payah menolongmu, nanti kau bisa kualat. jika dirimu telah merasa baik kembali, sekarang juga aku akan pergi dari sini..'' ujar pemuda pincang itu lantas bangun dari tempatnya bersila, membalikkan tubuhnya dan langsung melangkah keluar dari dalam goa.
Kejadian itu membuat Puji Seruni tersentak. sesaat dia termangu tanpa tahu mesti bicara apa. ''Eeh., kau., kau mau kemana. tu., tung., tunggu jang., jangan pergi dulu. aa., aku belum sembuh betul. kuu, kurasa tub., tubuhku masih sangat lem., lemah..'' ucap gadis itu gugup sambil kembali berbaring.
Justru saat itulah dia menyadari telah salah berucap. ''Aa., aduuh. kenapa juga kau bicara seperti itu., meskipun dirimu ingin si pincang brengsek ini menemanimu, taa., tapi tidak seharusnya juga kau., kau bicara terus terang seperti wanita rendahan. sungguh mem., memalukan sekali kelakuanmu Puji Seruni.!'' batinnya malu.
Pemuda pincang dari gunung Bisma itu terkekeh licik. ''Hee., he., menjadi seorang pemuda ganteng kadang menyusahkan juga. sampai- sampai ada seorang gadis yang rela membuang malu agar dia bisa tetap berada di dekatnya. tapi sayang., aku harus tetap pergi keluar dari sini sekarang juga. kecuali., kau mau melihatku kencing di depan matamu..''
Pranacitra melangkah terseok keluar goa dengan seringai kemenangan meninggalkan Puji Seruni yang melontarkan seribu sumpah serapah dan makian kesal. ''Dasar pincang brengsek. bajingan sialan yang tidak punya perasaan., kenapa kau tidak mampus saja di atas panggung itu kemarin..''
''Laa., lagi pula sii., sia., siapa yang tidak tahu malu. kaa., kau., kaulah yang tidak punya malu. bahkan mung., mungkin juga kau sebenarnya tidak lagi punya k*m*luan. dasar kampret pucat, anjing penyakitan.!'' umpat gadis itu gusar. tapi pada ucapan terakhirnya dia merasa kalau itu terlalu kasar dan memalukan.
''Ooh., begitukah menurutmu. kalau ingin tahu kemaluanku masih ada atau tidak, kenapa kau tidak keluar dan melihatnya sendiri. mumpung sekarang aku sedang buang air kecil..'' balas Pranacitra tergelak. suara makian dan sumpah serapah kotor dari mulut seorang gadis muda kembali terdengar dari dalam goa. sampai- sampai dua orang pemuda murid perguruan Naga Biru yang baru kembali dari membuang mayat Ki Tuyul Ireng jadi melengak kaget.
''Kenapa dengan Puji Seruni., aa., apa yang telah terjadi padanya.?''
__ADS_1
''Sep., sepertinya dia., dia sedang marah besar pada seseorang..'' bertanya kedua orang yang bernama Danurino dan Songkali keheranan. mereka sungguh tidak percaya Puji Seruni, gadis cantik murid Nyi Pariseta yang dikenal pendiam dan santun bisa menyemburkan makian busuk dan sumpah serapah kotor.
''Kalian tidak perlu mengerti masalah ini. asal tahu saja., sekarang di dalam goa itu ada seekor macan betina yang sedang ngamuk. jadi sebaiknya kalian menjauh saja dari sana..'' kata Pranacitra sambil mengikat tali pinggang celananya yang hitam tebal. hawa dingin pegunungan membuatnya tidak tahan untuk buang air seni.
''Siapa yang kau maksudkan sebagai macan betina., jangan sembarangan kalau ngomong. sekarang juga kau bawa kedua orang murid perguruan Naga Biru itu kemari. aku hendak bicara dengan mereka.!" seru Puji Seruni dari dalam goa. kedua pemuda itu saling pandang lalu melirik Pranacitra. "Kalian berdua masuk saja., mungkin ada sesuatu yang penting.."
Sudah lebih waktu sepeminum teh kedua orang murid perguruan silat Naga Biru itu berdiri beberapa langkah di depan balai kayu tempat tidur Puji Seruni. tapi tidak ada seorangpun yang ada di sana. saat mereka masuk gadis cantik itu malah pergi ke ruangan goa bagian dalam dan menyuruh mereka menunggu. di dalam sana terdapat makam Nyi Pariseta, guru Puji Seruni.
Saat kembali mata gadis itu terlihat sembab berair. mungkin dia baru saja menangis. di tangannya tergenggam sebuah bungkusan kulit yang terikat tali erat dan rapat. bungkusan itu terlihat lembab dan di kotori tanah. Puji Seruni duduk kembali di atas balai dengan bungkusan kulit itu di pangkuannnya.
Setelah termenung dan berpikir cukup lama diapun mulai bicara. ''Di pelataran luar goa tempat tinggal guruku terlihat kotor tidak terawat. tapi di bagian dalam sana tempat beliau di makamkan nampak bersih wangi dan terawat, menandakan ada orang yang selalu menjaga makam itu. apakah kalian berdua tahu sesuatu tentang ini.?''
Dua orang itu sekejap saling pandang. ''Maaf Puji Seruni., sejujurnya ada tiga orang yang secara bergiliran diam- diam membersihkan dan menjaga bagian dalam goa. selain kami berdua, juga ada murid lain yang bernama Narada. dulu kami bertiga adalah sahabat karib dari Wiratama tunanganmu..''
''Hanya itu saja yang bisa kami lakukan untuk menghormatinya. meskipun kami baru dua tahun belakangan masuk ke dalam perguruan Naga Biru, tapi saat masih bocah kami sempat tinggal di dalam kampung yang sama..'' ujar Danurino dan Songkali bergantian.
Teringat mendiang tunangannya, hati Puji Seruni menjadi semakin murung dan merasa bersalah. meskipun berusaha menyangkalnya, tapi sekarang di dalam hatinya sudah terisi seseorang yang menggantikan Wiratama. ''Hhm., hidup terus berjalan, mereka yang sudah meninggal juga tidak dapat kembali lagi ke dunia. cuma doa yang bisa kita panjatkan untuk mereka agar tenang di alam sana..'' batin gadis itu berusaha menghibur dirinya sendiri.
''Aku ucapkan terima kasih kepada kalian berdua dan juga murid yang bernama Narada itu karena sudah merawat dan menjaga makam guruku. bungkusan kulit ini berisi dua buah kitab ilmu silat Naga Biru yang pernah di ambil guruku secara diam- diam dan menukarnya dengan barang tiruan yang sama persis dengan aslinya, karena beliau merasa saudara seperguruannya sudah mulai berkelakuan buruk..''
''Sampai saat ajalnya tiba aku yakin Ki Galing Brajapaksi tetap tidak menyadari kalau kitab ilmu silat dan kesaktian Naga Biru yang dia simpan dalam ruang rahasianya adalah kitab tiruan. karenanya dia tidak pernah berhasil menguasai ilmu Naga Biru secara sempurna..'' terang Puji Seruni sambil memberikan bungkusan itu pada kedua murid itu.
''Kuharap kalian berlima dapat bahu membahu untuk membangkitkan kembali perguruan silat Naga Biru. tentu tidak mudah menghilangkan kesan buruk orang persilatan pada Naga Biru setelah peristiwa di atas panggung. tapi., jika niat baik dan tekat yang kuat semuanya pasti bisa terwujud..''
__ADS_1
Kedua orang itu sama tercengang seakan tidak percaya. bahkan Pranacitra yang berada agak di belakangnya juga merasa agak di luar dugaan. hampir serentak Danurino dan Songkali menjura hormat dan berterimakasih. setelah mengucapkan beberapa pesannya, Puji Seruni meminta mereka untuk kembali ke gunung Semeru.
''Terus terang saja keputusanmu tadi cukup mengejutkanku. tapi kurasa., aku tahu kenapa kau mau melakukannya. bagaimanapun juga gurumu juga berasal dari perguruan silat yang sama. beliau pasti tidak ingin nama Naga Biru lenyap begitu saja. setidaknya sekarang ini mereka masih bisa mewarisi. berhasil atau tidaknya, itu urusan lima orang murid yang tersisa..'' kata Pranacitra sambil menatap dua orang murid Naga Biru yang berlalu pergi.
''Aku sebenarnya tidak yakin dengan semua keputusanku. tapi., hanya inilah yang dapat kulakukan..'' jawab gadis itu sembari memberi isyarat tangan pada si pemuda untuk datang mendekat. meskipun enggan tapi Pranacitra menurut juga untuk duduk di samping si gadis.
Di luar dugaannya tiba- tiba saja Puji Seruni merebahkan kepala dan tubuhnya ke atas pangkuan paha Pranacitra. jelas saja pemuda ini sesaat jadi kelabakan dan jengah. tapi saat hendak menghardik, dia merasa tidak tega melihat seraut wajah cantik itu tertidur manis di pangkuannya. seulas senyuman menghiasi bibirnya yang merah polos tanpa gincu.
''Hhemm., kalau saja Srianah tahu aku sedang berduaan dengan seorang wanita cantik, dia pasti bakal mengamuk..'' gumam Pranacitra mengelus rambut ikal Puji Seruni yang hitam lebat. ''Saat seorang gadis sedang kasmaran, dia paling benci kalau mendengar pemuda di dekatnya menyebut nama gadis lain..'' bisiknya cemberut pejamkan mata.
''Aah., rupanya di sini ada macan betina yang sedang kesengsem dengan seekor pejantan..'' sindir si pincang terkekeh. ''Kau salah., yang ada dalam di goa ini cuma seekor kucing putih kecil yang sedang ingin di manja. coba kau dengarkan suaranya., Meeoong., meeoong., meeooooong..'' ucap Puji Seruni tersenyum sendiri. matanya terpejam. senyumannya terlihat begitu damai di pangkuan pemuda itu.
Pranacitra tidak tahu mesti berbuat apa. tubuhnya sedikit beringsut ke belakang untuk menyandarkan punggungnya ke dinding goa. ''Mungkin berduaan dengan seorang gadis barang sebentar juga tidak masalah. lagi pula., Srianah juga tidak bakal tahu..''ujarnya menghela nafas.
Sementara itu pada waktu yang hampir bersamaan, di tempat jauh di kaki sebuah bukit kecil yang terpencil.,
Seorang gadis enam belas tahunan bernama Srianah sedang sibuk merebus cairan obat. meskipun udara di luar cukup dingin dan masih gelap, tapi gadis muda itu sudah bekerja untuk memenuhi permintaan pelanggannya. semenjak berpisah dengan Pranacitra dia memilih meneruskan pekerjaan Ki Suta sebagai tabib kampung.
Biarpun masih muda tapi sebentar saja dia sudah di percaya banyak orang karena sering berhasil mengobati warga kampung yang sedang sakit. bahkan langganannya sampai berasal dari beberapa kampung yang jauh letaknya. meskipun udara di luar gubuk cukup dingin, tapi lain halnya dengan di bagian dapur dekat tungku besar tempat merebus dan meracik obat. hawanya cukup panas oleh api tungku yang berkobar menyala.
Wajah Srianah sudah kotor berkepotan asap hitam bercampur keringat. tubuhnya cuma di tutupi baju dalam berupa kutang putih di sebelah atas dan selembar kain jarik hitam yang melilit pinggangnya yang ramping hingga ke lututnya. beberapa goresan luka bekas cambukan gurunya Ki Suta di masa lalu masih terlihat jelas. anehnya semua itu malah akan menambah daya tarik tersendiri bagi sebagian lelaki.
Tiba- tiba saja Srianah bersin keras hingga tiga kali, telinganya juga terasa gatal. ''Aneh sekali., kenapa hidung dan telingaku terasa gatal. kata orang kalau mengalami hal ini, berarti ada seseorang yang sedang membicarakan diriku. atau jangan- jangan., si pincang itu sedang mengalami masalah berat.?'' batinnya khawatir.
__ADS_1
''Aah., itu tidak mungkin terjadi. aku percaya dia pasti bisa melewati semua penghalangnya. ilmu kesaktian Pranacitra sangat tinggi, orang yang berani merecokinya pasti sudah bosan hidup..'' gumam Srianah tersenyum riang sambil bersenandung.
Kalau saja saat itu Srianah tahu si pemuda pincang yang dia banggakan sedang berduaan dengan seorang gadis cantik di dalam sebuah goa., mungkin murid Ki Suta dan 'Gembel Sakti Mata Putih' itu bakalan mengamuk dan mengobrak- abrik seisi dapur rumahnya.!