
Biarpun waktu sudah beranjak masuk tengah hari tapi suasana terasa suram. saat itu Pranacitra tiba di sebuah persimpangan jalan. dia mendongak ke langit yang mulai tertutup mendung. suara guntur menggelegar pertanda bakal turun hujan. beberapa pejalan kaki terlihat bergegas cepat menuju simpang jalan sebelah kanan karena dari kejauhan terlihat ada sebuah desa di ujung sana.
Simpang jalan yang satunya kiranya tembus ke sebuah tepian hutan rimba. Pranacitra sebenarnya hendak berjalan melewati hutan itu, tapi hujan yang mau turun membuatnya menunda tujuannya. dengan melangkah terseok si pincang inipun menyusul para pejalan kaki yang sudah jauh meninggalkan dia menuju ke arah desa.
Sebenarnya sangat mudah bagi Pranacitra untuk bisa sampai ke desa itu dengan cepat. dengan ilmu kesaktiannya yang sangat tinggi dia dapat memasuki desa itu hanya dengan sekali berkelebat saja. tapi pemuda ini tidak mau menjadi perhatian orang lain.
''Sedikit kehujanan kurasa juga tidak mengapa. anggap saja sebagai gantinya mandi pagi yang belum sempat kulakukan hari ini..'' gumamnya. bersamaan itu rintik hujan mulai turun dari atas sana. beberapa orang yang berlarian sempat memandang si pincang penuh rasa kasihan dan simpati atau bisa pula menghina.
Separuh tubuh si pincang sudah mulai basah kuyup di siram hujan, saat sebuah kereta pedati yang di tarik oleh dua ekor sapi melintas di sampingnya. ''Naiklah ke pedatiku anak muda, air hujan tidak bagus untuk kesehatan tubuhmu..''
Pranacitra menoleh, seorang kusir pedati yang mungkin adalah kaum pencari rumput atau penggembala ternak menawarinya naik ke atas kereta pedati yang dindingnya terbuat dari bilah bambu dan anyaman daun di atapnya. sambil mengucapkan terima kasih si pemuda melompat naik ke dalam gerobak pedati yang separuhnya terisi rumput pakan sapi.
Seorang bocah lelaki sepuluh tahunan terlihat tidur di atas tumpukan rumput jerami, kalau melihat usia lelaki kusir pedati itu yang lewat lima puluhan tahun, mungkin si bocah adalah cucunya. ''Kau hendak kemana anak muda, sepertinya dirimu juga bukan orang daerah sekitar sini.?'' tanya si kusir sambil miringkan capingnya ke kiri agar wajahnya tidak tersapu hujan angin yang datang dari samping.
''Aku hanyalah seorang gelandangan yang suka luntang- lantung mencari pengalaman hidup. asalku dari tempat yang jauh. bocah ini cucumu Ki.?'' si pincang balik bertanya sambil mengalihkan pembicaraan. lelaki setengah umur itu mengangguk. ''Dia yatim piatu dan mulutnya bisu..''
Pranacitra tertegun, baru saat itulah matanya melihat sebuah bekas luka tusukan di bagian atas tenggorokan yang menembus ke rongga mulut. selain itu ada beberapa bekas goresan senjata tajam yang sudah lama di kulit tubuh anak itu. ''Siapa orang yang telah berbuat demikian kejam pada bocah ini dan apa alasannya?'' tanya Pranacitra menoleh si kakek dengan sorot mata dingin.
__ADS_1
Tanpa sadar orang setengah tua itu merinding saat melihat tatapan mata si pemuda. sekilas terasa olehnya ada sesuatu yang sangat kejam dan seram terpancar dari pandangan mata itu. ''Ii., itu cuma sebuah kisah masa lalu, semuanya juga telah lama berakhir. ja., jadi tidak perlu kau memikirkannya..'' jawabnya terbata. entah kenapa dia merasakan gelisah dan ngeri berada di dekat pemuda pincang ini.
''Maaf anak muda, sepertinya aku cuma bisa mengantarmu di pintu masuk desa itu saja, kami harus berbalik arah untuk pulang ke rumah..'' ucap orang tua itu hentikan gerobak pedatinya. ''Berbalik arah., memangnya kalian hendak ke mana. ataukah rumah kalian berada di simpang jalan yang menuju tepian hutan.?'' tanya Pranacitra heran.
Lelaki tua itu hanya mengangguk. Pranacitra malah urungkan niatnya untuk turun. ''Kalau di ijinkan aku berniat ikut berteduh ke rumahmu, apakah kau keberatan.?'' tanpa menjawab dia memutar arah pedatinya. dua ekor sapi putih yang basah kuyup itu melenguh sebelum balik berjalan.
Di atas balai bambu yang berada di depan teras rumah gubuk itu sudah terhidang ubi bakar yang masih panas dan sekendi teh yang juga panas karena baru di angkat dari tungku. lelaki setengah tua baru saja memperkenalkan namanya sebagai Ki Mada itu menemani sang tamu si pemuda pincang.
''Kalau kau tidak mau memperkenalkan siapa dirimu, aku juga tidak mau memaksa. hanya., bagaimana caraku untuk memanggilmu.?'' tanya Ki Mada sambil meniup wedang teh di gelas bambunya yang masih panas. ''Panggil saja diriku sobat pincang. kau belum jawab pertanyaanku, siapa yang membuat cucumu menderita seperti itu.?''
Pranacitra hanya melirik sekejab tanpa bicara. dalam waktu tidak begitu lama semua hidangan di meja balai bambu sudah pindah ke dalam perutnya. sebelum menggeletak tidur dia masih sempat kencing agak jauh dari luar gubuk. tanah di pelataran gubuk bambu itu basah oleh siraman air hujan. setelah meniup obor kecil yang menerangi teras gubuk, si pincang itupun membaringkan diri di atas balai.
Sebenarnya selain karena bocah lelaki cucu Ki Mada, pemuda ini juga penasaran dengan lelaki setengah umur itu. dia merasa kalau Ki Mada seperti menyembunyikan sesuatu. meskipun malam itu dingin dan sudah agak larut, tapi Pranacitra belum bisa memejamkan matanya. sudah lebih dua minggu dia berpisah dengan Puji Seruni. dalam hatinya mulai ada sedikit rasa kangen dengan tingkah gadis cantik jelita yang cerewet itu.
Tiba- tiba saja si pemuda teringat pada suatu masalah. dari cerita 'Malaikat Copet' sewaktu dia masih berada di markas rahasia kelompok 'Maling Kilat'. ''Dulu ketua Malaikat Copet pernah bercerita kalau jauh sebelum diriku dan kelima orang tua yang menjadi guruku, sudah ada dua orang tokoh silat yang masuk dan mampu keluar dari dalam 'Lembah Seribu Racun..''
''Kabarnya keduanya berhasil keluar dari dalam lembah itu dengan selamat serta membawa hasil yang berbeda. orang pertama mampu meningkatkan ilmu kesaktiannya, tapi ketua salah satu padepokan silat itu menjadi gila sebelum mati bunuh diri. sedang seorang lagi dapat lolos dengan membawa bongkahan emas sekarung, sayangnya gembong rampok itupun akhirnya juga mati keracunan..''
__ADS_1
''Lima orang tua yang terperangkap di dalam goa itu juga berhasil masuk ke dalam lembah tapi sayangnya mereka tidak mampu keluar dari sana. meskipun para pentolan persilatan aliran hitam yang sudah kawakan ini telah mengatakan padaku siapa saja bedebah yang telah menjebak mereka, tapi kenapa diriku merasa masih ada rahasia lain yang belum terungkap..'' batin pemuda dari gunung Bisma itu.
Tanpa sadar Pranacitra teringat pada beberapa hari terakhir sebelum dia keluar dari goa yang berada di dalam Lembah Seribu Racun. saat itu tiga orang gurunya sudah meninggal setelah sempat mewariskan hampir seluruh ilmu silat dan kesaktiannya pada pemuda itu. dari kedua orang guru yang tersisa hanya 'Setan Kuburan' saja yang masih dapat berdiri dan bicara, sedang si 'Nenek Tabib Bertongkat Maut' cuma mampu duduk bersila menanti ajalnya.
Setan Kuburan yang punya ilmu paling tinggi berjalan sempoyongan. jika tidak melihatnya sendiri, Pranacitra tidak akan percaya kalau dedengkot aliran hitam itu dapat menjadi begitu lemah. berturut- turut kehilangan guru yang telah mendidiknya dalam tiga tahun itu membuat hati si pemuda tercabik, meskipun jauh- jauh hari dia sudah mengetahui semua itu pasti akan terjadi pada mereka berlima.
Di depan sana adalah sebuah ruangan yang sangat gelap dan dingin. meskipun Pranacitra tahu ada ruangan aneh di dalam goa ini, tapi lima gurunya melarangnya keras untuk masuk ke sana. bahkan si 'Pengemis Tapak Darah' pernah menampari wajahnya hanya karena dia berniat untuk melihat dari luar apa isi ruangan gelap dan sangat dingin itu dengan membawa obor penerangan.
Tapi sekarang dia dan si Setan Kuburan justru berada hanya lima langkah saja dari ruangan gelap dan sangat dingin itu. terasa ada hawa aneh yang merangsang perasaannya untuk segera masuk ke dalam sana. ''Apapun yang kau lihat nanti didalam ruangan itu, jangan pernah beranjak maju selangkahpun kecuali kau ingin mampus.!'' perintah Setan Kuburan dingin.
Meskipun penasaran tapi si pemuda menurut. orang tua berjubah kelabu itu keluarkan sebuah batu hitam yang biasa di gunakan untuk menyalakan perapian. dengan kerahkan tenaga dalamnya batu di telapak tangannya mengeluarkan cahaya api lalu di lemparkan ke dalam ruangan gelap dan dingin yang berada di depan sana.
Biarpun kobaran api yang berkobar dari batu itu tidaklah besar, tapi saat memasuki ruangan gelap dan dingin, cahayanya berubah ratusan kali lebih terang. bahkan warnanyapun berubah kuning keemasan hingga terasa sangat menyilaukan pandangan mata.
Seiring cahaya api yang masih berkobar dari batu hitam itu, di sana terlihat ratusan atau bahkan ribuan bongkahan emas permata yang berserakan di dalam ruangan yang sekilas terlihat cukup luas dan panjang menyerupai sebuah lorong. walaupun masih cukup jauh jaraknya, tapi Pranacitra juga sempat melihat ada banyak sekali tulisan dan gambar orang sedang memainkan jurus- jurus silat yang entah dari aliran apa terdapat di dinding ruangan itu.
''Hentikan langkahmu dasar bocah pincang sialan. sudah kubilang jangan beranjak dari tempatmu.!'' bentak Setan Kuburan bengis. si pincang masih sempat merasakan sebuah gebukan menghantam tengkuknya sebelum akhirnya dia jatuh tersungkur.
__ADS_1