
Saat golok karatan di tangan gembel tua itu berkelebat membacok, Pranacitra hanya bisa memaksakan diri berguling menghindar. arus tenaga murni yang mestinya dapat mengobati luka dalamnya akibat racun panah hitam berulir dari perkumpulan 'Panah Pemburu Jantung' yang mungkin sudah dibayar seseorang untuk turut memburunya, menjadi tersendat dan berbalik menghantam dirinya.
Bacokan golok meskipun lewat sejengkal dari pungungnya namun hawa kesaktian yang jahat dari senjata itu masih terasa menyusup kedalam tubuhnya hingga pemuda itu muntah darah. bacokan kedua masih sanggup dia tangkis dengan tongkat besi hitam tapi senjata itupun terlepas dari genggaman.
Pranacitra merutuk geram. racun panah hitam yang menyasar tubuhnya meskipun sanggup dia musnahkan, tapi tetap saja memerlukan waktu dan ketenangan dalam pengobatannya. saat golok kusam berkarat membacok untuk ketiga kalinya, pemuda pincang ini hanya punya satu kesempatan saja untuk bergerak, dengan tenaga yang tersisa tangan kirinya meraih tubuh salah seorang anggota Panah Pemburu Jantung yang berada disampingnya.
Darah yang mulai dingin seketika menyembur bersama isi tubuh yang terbelah setelah golok kusam di tangan pengemis itu membabat dada anggota 'Panah Pemburu Jantung yang raganya dijadikan si pincang sebagai tameng pelindung tubuhnya.
Peristiwa ini jika diceritakan mungkin terasa sangat panjang dan bersambungan. tapi pada kejadian yang sebenarnya justru berlangsung begitu cepat. sejak awal serangan golok yang pertama hingga saat mayat anggota Panah Pemburu Jantung terbelah oleh babatan golok, semuanya hanya selewat waktu dua atau tiga kejapan mata saja.
''Setan alas jahanam., nyawamu alot juga untuk dicabut. tapi pada akhirnya kau tetap saja akan mampus.!'' makian gusar tersembur dari mulut pengemis tua yang tingkahnya seperti orang gila itu. sesaat lagi golok maut kembali menderu, cahaya dan asap merah bakalan menyambar. Pranacitra cuma bisa pasrah. meskipun ingin menghindar tapi dia sudah tidak berdaya.
Kabarnya orang yang sudah menjelang ajal akan terbayang kembali pada masa lalunya. demikian juga si pincang dari gunung Bisma ini. satu persatu wajah orang yang dekat dengannya hadir dalam ingatan. bahkan puluhan sosok musuh yang mati di tangannya turut pula muncul dikepala. mereka seakan tertawa menghina melihat nasibnya yang tiba diujung kematian.
Rasa marah, dendam dan penasaran tapi tidak sanggup berbuat apapun. perasaan seperti ini seakan lebih buruk dari kematian itu sendiri. biarpun tidak terima dengan nasib sialnya tapi Pranacitra hanya bisa pasrah pejamkan mata. anehnya saat begini dia malah menjadi lebih tenang dalam menyambut datangnya maut.
__ADS_1
Golok pusaka tegak teracung diatas kepala, yang punya golok mendelik bengis, geram penuh dendam kesumat. wajah tua, seram dan jelek itu perlahan berubah menjadi meringis kesakitan. sepasang matanya menyiratkan perasaan keheranan bercampur ketakutan yang teramat sangat. saat mata itu melirik ke bawah dia merasa ada suatu keanehan.
Tarikan nafasnya menjadi berat dan tersengal. setiap hendak bersuara hanya ada rasa sakit dan darah kehitaman yang tersembur dari tengah dadanya. dia sungguh tidak mengerti sejak kapan ada sebuah mata pedang hitam muncul di sana. dia ingin membalik tapi ujung pedang yang hitam berbau sebusuk bangkai itu terus mengiris ke atas, memotong urat jantung hingga ke pangkal lehernya.
Golok masih tergenggam erat ditangan, tapi kepala sudah terpisah dari tubuh tuanya yang dekil dan bau. raga si pengemis terkapar mandi darah. sepasang mata di kepala yang terpisah dari tubuh masih mendelik, seakan dia terus ingin bertanya bagaimana dapat muncul sebuah ujung mata pedang hitam di tengah dadanya. kenapa juga kepalanya bisa terpisah dari tubuh. sayangnya., orang ini tidak akan pernah tahu jawabannya.
Pedang hitam yang baru saja memenggal kepala si gembel tua itu cukup pendek. mata pedang mungkin hanya dua jengkal saja panjangnya. ujung gagang pedang berukiran wajah iblis dengan asap dan cahaya hitam pekat yang menebar bau sebusuk bangkai.
Sepasang mata sadis di balik caping bambu menyorot tajam penuh nafsu membunuh. dalam hatinya orang ini berpikir, jika dia menghabisi si pincang ini, namanya akan mencuat naik ke puncak teratas dalam jajaran sepuluh pesilat pendatang baru yang terhebat di dunia persilatan saat ini.
Pemuda berbaju putih itu selipkan pedangnya ke balik pinggang. sebaliknya dia keluarkan sebuah karung goni. batok kepala si pengemis tua dimasukkan ke dalam kantung itu. dengan mendengus sinis dia melirik tubuh Pranacitra yang terkapar. sepasang mata si pincang yang mulai terbuka masih sempat melihat sosok pemuda bercaping bambu itu, sebelum dia berkelebat lenyap dari hadapannya.
Pranacitra hanya bisa melihat orang itu dari ujung matanya. biarpun curiga dan penasaran tapi dia tidak dapat menahannya. dengan mengerahkan tenaga kesaktian dia mencoba mempercepat penyembuhan luka dalamnya. hawa kesaktian batu Nirmala Biru perlahan muncul menyelimuti tubuhnya. penyembuhan luka dalam dan racun dengan tubuh terbaring di atas tanah seperti ini mungkin lebih sulit untuk dilakukan. tapi bagi si pincang bukanlah masalah berat.
Waktu sudah mendekati senja hari saat Pranacitra telah mampu bangkit berdiri. alisnya mengernyit melihat tubuh bermandi darah tanpa kepala. dalam petualangannnya sudah seringkali pemuda ini berhadapan dengan elmaut, tapi mungkin baru kali inilah dia merasa sangat dekat dengan ajalnya.
__ADS_1
''Aku tidak dapat melihat jelas siapa orang itu, tapi dari sosoknya, dia seperti pernah kukenal sebelumnya. kepala gembel tua itu terpotong. lukanya busuk menghitam dari tengah dada. orang yang membunuhnya sungguh telengas. kira- kira siapakah orang itu.?'' selintas pikiran sempat muncul di kepalanya tapi dia merasa ragu.
''Tidak mungkin orang itu adalah dia. lagi pula untuk apa 'Ular Sakti Berpedang Iblis' muncul di sini. aku juga tahu dia seorang pembunuh bayaran berharga mahal yang mempunyai kebiasaan memotong kepala sasarannya. jadi kurasa sangat aneh kalau sekarang dia membiarkan diriku tetap hidup. padahal harga kepalaku mungkin yang tertinggi saat ini..'' batinnya keheranan dalam hati.
Kedua matanya menatap dingin sekelilingnya. puluhan sosok mayat yang bergelimpangan bersimbah darah membuat suasana hatinya semakin murung. entah sampai kapan dia akan terus dipaksa berurusan dengan bunuh- membunuh. dengan menarik nafas panjang pemuda itupun memutuskan untuk langsung menuju lereng utara gunung Merapi.
Mendaki lereng gunung Merapi meskipun bukan perkara yang terlalu sulit, tapi tetap saja memerlukan kehati- hatian dalam menentukan langkah. apalagi sekarang sinar mentari senja tidak dapat lagi menerobos kelebatan hutan belantara di wilayah kaki gunung itu.
Langit senja masih terang diatas sana, tetapi kegelapan sudah menyelimuti sekelilingnya. beruntung mata dan seluruh inderanya sudah terbiasa dengan gelapnya ruangan goa rahasia yang ada dalam 'Lembah Seribu Racun' hingga matanya dapat menembus kepakatan hutan.
Menjelang tengah malam pemuda itu sudah memasuki perbatasan lereng gunung. dia mengernyit saat merasa hawa udara disekitar tempatnya berdiri berubah menyesakkan. Pranacitra langsung menyadari kalau udara di tempat ini sengaja ditebari racun.
Meskipun cukup berbahaya tapi dengan kekuatan batu sakti Nirmala Biru yang sudah melebur dalam tubuhnya semua itu dapat dia atasi. setelah berpikir sebentar Pranacitra memutuskan mencari tempat aman untuk beristirahat mengumpulkan tenaganya. hingga saat hari ke tiga bulan ke tiga tiba besok pagi, kekuatannya sudah kembali ke puncaknya.
*****
__ADS_1
Asalamualaikum., Mohon maaf 🙏menjelang Hari Raya Idul Fitri ini novel Pendekar Tanpa Kawan dan 13 Pembunuh kami hentikan sejenak karena kami/author semakin banyak pekerjaan yang tidak dapat kami tinggalkan. mungkin setelah Lebaran keduanya kembali kami lanjutkan. Selamat menyambut datangnya Idul Fitri, Minal Aidin Wal Faidzin., Mohon Maaf Lahir dan Batin.🙏 Terima kasih. Wasalamualaikum.