
Dalam dunia hitam rimba persilatan, nama 'Tiga Singa Buas Bersurai Biru' sebenarnya tidak begitu sering terdengar. ini bukan karena tiga orang lelaki tua bersaudara kandung yang punya wajah garang mirip seekor singa buas itu berkepandaian silat rendah, melainkan di sebabkan ketiga orang ini memang hanya berkeliaran di sekitar wilayah gunung Merapi yang menjadi sarang mereka.
Selama puluhan tahun tiga orang jahat yang gemar merampok dan memburu wanita cantik itu sangat jarang sekali keluar kandang. jika di hitung dengan saat ini, mungkin tidak lebih dari tiga atau empat kali saja mereka pergi meninggalkan wilayah gunung Merapi. bahkan bisa di pastikan jika mereka belum pernah kelayapan sejauh ini, hingga sampai ke gunung Semeru.
Jika Ki Tanjung Semboro merasa terkejut melihat kemunculan Tiga Singa Buas Bersurai Biru, maka demikian juga dengan ketiga orang itu. mereka agak tercengang karena tidak mengira kalau si 'Pendekar Golok Emas Berlengan Tunggal' rupanya masih bersama dengan Pranacitra dan Puji Seruni.
Biarpun mereka hampir selalu berada di daerah kekuasaanya sendiri, tapi segala peristiwa yang terjadi di rimba persilatan tetap dapat mereka ketahui termasuk pertemuan besar kaum pendekar di gunung Semeru ini. bahkan ketiga orang jahat itu sudah datang dan mengamati semua yang terjadi di atas panggung sejak dini hari masih gelap.
''Haa., ha., ha., tidak di sangka kalau tokoh silat sekelas Ki Tanjung Semboro mau- maunya menjadi buntut dari seekor anjing pincang..'' sindir orang yang berdiri paling depan sambil tertawa menghina. namanya Ki Singo Barong, dia sekaligus sebagai pemimpinnya. kedua saudaranya ikut pula bergelak tawa. tapi seketika tawa ketiga orang ini sirap berganti sebuah teriakan gusar bercampur ketakutan saat selarik cahaya hitam pekat yang di iringi suara ledakan keras.
Dengan melompat ke udara, ketiga orang jahat bersaudara yang punya wajah mirip binatang buas itu berusaha menghindari serangan mendadak si pincang. dari atas mereka sama buat gerakan mengepruk dengan kepalan tangan menyatu. tiga gelombang cahaya dan kabut kebiruan menghantam. hebatnya saat itu bumi sekitarnya terasa berguncang seakan di landa gempa.
'Whuuuuk., Shaaaat.!'
''Aakh., setan alas. cepat menyingkir.!'
''Bocah bangsat. pincang keparat., kau rasakan ajian 'Singo Lindu Jagat Biru' ini.!'' rutuk dua orang rekan Ki Singo Barong. namanya Ki Singo Parut dan Ki Singo Rawit. biarpun dapat selamat dari jurus 'Tongkat Maut Pemecah Rembulan' tapi mereka mesti bersusah payah untuk dapat lolos.
Pranacitra tancapkan tongkat besi hitam kepala tengkoraknya ke tanah. jari tangan kiri membentuk cakar lalu mencabik. sementara tangan kanan mengepal dan menghantam. lima larik cahaya hitam tajam berkelebat menyambar, suasana sekitar turut berubah menjadi lebih gelap.
Di saat semua orang terperangah, muncul seberkas cahaya hitam kuning berbentuk kepala seekor naga buas yang sedang membuka mulutnya. suara meraung buas disertai hawa panas luar biasa menghampar ke seantero udara.!
Dalam kemarahannya Pranacitra langsung lepaskan dua ilmu kesaktiannya sekaligus. jurus 'Cakar Burung Hantu Pemuja Kegelapan' warisan dari si nenek 'Burung Hantu Bungkuk Pencabut Nyawa' dan pukulan sakti 'Raungan Naga Kehancuran' milik 'Iblis Naga Rembulan.!
__ADS_1
'Whuuuk., whuuus., whuus.!'
'Shaaaat., Whooouus.!'
'Blaaaarr., blaaaang.!'
Lima jurus pukulan sakti bertemu. ledakan keras yang menguncangkan seluruh lereng dan kaki gunung Semeru terjadi beberapa kali. beberapa batang pohon yang ada di tepian jalan setapak itu roboh pecah meranggas tersapu angin panas. semak belukar juga pasir bebatuan berhamburan menutupi pandangan.
Ki Tanjung Semboro yang berdiri di depan Puji Seruni kibaskan lengan tunggalnya beberapa kali untuk menggebut mental bebatuan pasir yang menghempas. saat semuanya berlalu terlihat Pranacitra berdiri terbungkuk dengan tubuh gemetaran sambil pegangi tongkat besinya. setelah terbatuk beberapa kali dan menyeka ujung bibirnya yang meneteskan darah, barulah dia mampu berdiri tegak.
Di depan sana tidak nampak lagi 'Tiga Singa Buas Bersurai Biru'. yang ada hanyalah bekas potongan kain jubah biru yang terkoyak dan bernoda darah. tiga muntahan darah berwarna kehitaman terlihat juga di atas tanah. dari kejauhan sayup terdengar suara makian kotor bernada ancaman berseling erangan terbatuk.
''Uugh., Setan Pincang keparat., 'Gelandangan Hantu jahanam., jika kau memang tidak punya rasa takut pada apapun seperti yang tersiar di luaran, datanglah ke lereng utara gunung Merapi pada hari ke tiga bulan ke tiga. akan kami buatkan suatu penyambutan besar yang mengesankan untukmu.!''
Pertarungan antara Pranacitra dengan Tiga Singa Buas Bersurai Biru itu berlabgsung cukup singkat. dari awal hingga akhir mungkin tidak sampai terlewat lima jurus. tapi semua yang terjadi justru lebih menegangkan dari pada pertarungan bersenjata ratusan jurus para pesilat kelas rendah.
''Sobat pincang., kau., kau terluka, apakah dirimu baik- baik saja.?'' bertanya Puji Seruni sambil pegangi bahu dan lengan si pemuda. jelas sekali kalau gadis itu merasa khawatir. pemuda itu hanya diam pejamkan kedua matanya mengatur pernafasan. tidak sampai sepeminum teh dia sudah membuka mata. biarpun wajahnya masih terlihat pucat namun jelas dia sudah kembali pulih dari luka dalam di tubuhnya.
Baik Puji Seruni dan Ki Tanjung Semboro terkesima melihat kehebatan ilmu si pincang yang mampu begitu cepat memulihkan diri. kedua orang itu mana pernah tahu jika dalam tubuh Pranacitra tersimpan batu sakti 'Nirmala Biru' dan 'Lubang Nadi Neraka Gelap' yang dapat mengeluarkan tenaga kesaktian dan pengobatan dengan sendirinya, jika pemuda itu mengalami keadaan antara hidup dan mati.
Dua sosok bayangan putih terlihat berlarian cepat menuruni lereng timur gunung Semeru. jika di lihat ilmu meringankan tubuh mereka meskipun tidak begitu tinggi namun lumayan juga, hingga dapat melalui kelebatan hutan belantara yang ada di depan mereka. setelah hampir mencapai daerah kaki gunung, tiba- tiba saja mereka berhenti. senjata sabit bergagang putih terlolos dari pinggangnya.
''Kawan baik dari mana yang mau- maunya mengikuti kami sejak dari lereng sampai kaki gunung Semeru ini.?'' seru orang berbaju putih yang bertubuh lebih tinggi. ''Jika sobat berniat baik silahkan keluar untuk bertemu tapi kalau bermaksud buruk, sebaiknya pergi saja dari hadapan kami.!'' sambung rekannya sambil mengedarkan pandangan matanya.
__ADS_1
''Dua kawan dari perkumpulan kaum petani 'Bumi Hijau' yang di utus oleh sang ketua Ki 'Tani Langit Jagat' memang bukan pesilat sembarangan, hingga tahu keberadaanku yang mengikuti saudara berdua. hebat., sungguh mengagumkan.!'' bersama dengan itu dari balik pepohonan berkelebat muncul seorang lelaki muda berbaju hitam dan bercaping daun pandan.
Belum sempat kedua orang berpakaian dan bertutup muka kain putih itu bertanya, orang yang barusan datang sudah mengeluarkan sebatang pipa cangklong besi berukuran pendek. jemari tangan kanannya memutar pipa itu dengan gerakan aneh dan cepat. saat berhenti secara hebat pipa cangklong itu sudah menyala apinya. aroma kemenyan menyebar saat mulut orang itu menghisapnya.
''Rupanya saudara adalah utusan dari yang mulia ketua besar 'Malikat Copet' penguasa perkumpulan 'Maling Kilat'., maafkan jika kami terlambat mengenalimu..'' ujar si baju putih yang bertubuh lebih kecil sambil menjura hormat bersama rekannya.
''Haa., ha., tidak perlu sungkan dengan kawan sendiri. yang penting tugas dari atasan sudah kita lakukan dengan baik. aku hanya ingin agar saudara berdua menyampaikan salam hormat ketua kami pada ketua besar perkumpulan 'Bumi Hijau., Ki Tani Langit Jagat. diriku juga telah membakar bangunan perguruan Naga Biru, kurasa sekarang sudah tinggal puing saja..''
Kedua orang yang ternyata adalah anggota perkumpulan silat 'Bumi Hijau' itu sama melengak saling pandang mendengar ucapan si baju hitam. dalam hati keduanya merasa kalau orang yang berada di depan mereka ini cukup berbahaya dan tidak kenal ampun dalam bertindak.
''Akan kami sampaikan pesan saudara dari 'Maling Kilat' pada ketua kami. sebelumnya bolehkan kami tahu siapa nama besar saudara, dan apakah kau juga yang telah membuat bermacam suara orang hingga mampu membuat semua pesilat di bawah panggung besar kebingungan dengan nama perkumpulan 'Sabit Putih' yang sengaja kami pakai untuk penyamaran.?''
''Aah., itu cuma permainan anak kecil saja. perencana semua ini adalah ketua Maling Kilat yang di setujui oleh ketua Bumi Hijau. kita sebagai bawahan hanya mengikuti saja. nama saya Suro Dares, orang baru dalam Maling Kilat. sebelumnya diriku adalah anggota dari gerombolan 'Tupai Terbang.!''
''Saya sendiri bernama Sembada dan ini kawanku Mahesa Gelang. jika ada waktu kami ingin lebih mengenal sobat Suro Dares dari perkumpulan Maling Kilat. ilmu langka 'Membagi Gelombang Nada Memecah Suara' yang saudara gunakan untuk membingungkan para pesilat itu sangat menarik minat kami..'' ucap orang yang bertubuh besar dan terlihat lebih tua sambil menghormat.
''Haa., ha., aku akan sampaikan hal itu pada ketua kami. jika dia ijinkan tidak masalah bagiku untuk membaginya dengan kalian berdua sebagai tanda persaudaraan. baiklah., kurasa saatnya untuk berpisah. jaga diri kalian masing- masing. selamat tinggal.!'' Suro Dares berkelebat cepat kilat tinggalkan tempat itu.
Sebagai bekas anggota Tupai Terbang, ilmu meringankan tubuhnya memang jempolan. Sembada dan Mahesa Gelang pandang sekeliling tempat, setelah memastikan aman, merekapun cepat menyusul pergi dengan arah yang berbeda.
Tanpa di sadari ketiga orang tadi, di atas sebatang cabang pohon yang lebat dan tinggi, terlihat seorang pemuda berbaju putih sedang duduk di sebuah cabang dan bersandar dahan pohon. caping bambunya yang di lepaskan membuat wajahnya yang tampan namun agak dingin kejam terlihat. selembar ikat kepala kukit ular hitam melilit kening dan rambutnya yang hitam gondrong.
''Chuih., dari dulu mana ada perkumpulan silat Sabit Putih. ternyata benar dugaanku kalau itu hanya penyamaran. dulu sih memang pernah ada gerombolan bajak laut 'Sabit Darah'., tapi aku dengar sudah di buat musnah oleh si pembunuh nomor enam 'Gada Rahwana..''
__ADS_1
Pemuda berbaju putih itu meludah kesal. jari tangannya mencekal seekor ular kobra hitam sepanjang satu lengan orang yang terlihat berkali- kali mematuki tangan kirinya dengan menyemburkan bisanya hingga tangan itu menjadi bengkak kehitaman. tapi dengan kerahkan tenaga ilmu kesaktiannya yang memancarkan sinar dan uap putih, pemuda itu mampu mendesak keluar racun ular itu.
Perbuatan mengadu nyawa itu dilakukannya seolah sebuah permainan belaka, setelah merasa bosan ular itupun di lemparkannya ke bawah. ''Perkumpulan 'Bumi Hijau' dan 'Maling Kilat'., banyak juga pihak yang mendukungmu diam- diam pincang sialan. tahu begini aku tidak akan sudi buang tenaga untuk membantumu..'' gerutu pemuda yang bukan lain adalah si 'Ular Sakti Berpedang Iblis'. sekali tubuhnya bergerak diapun lenyap dari sana.