Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Racun dalam obat.


__ADS_3

Gadis cantik berbaju putih bersih yang bernama Puji Seruni itu keluarkan suara tercekat kaget. bukan saja oleh sambaran cahaya hitam pekat berhawa panas yang menghadang jurus 'Sayap Walet Cahaya Surya' yang dia lepaskan, tapi juga karena suara teguran yang sepertinya dia kenal.


Meskipun yakin dengan dugaannya, tapi dia tidak dapat lagi menahan jurus kesaktian yang telah di lepaskan. apalagi sinar hitam dari ilmu lawan juga sudah menghadangnya. tidak dapat di tahan lagi dua jurus kesaktian bertemu saling hantam.


'Whuuut., wheet., bheeet.!'


'Plaaang., craaang., braaak.!'


Sinar hitam pekat dari tongkat si pincang meluruk lurus tanpa sedikitpun berubah arah. hawa panas dan suara ledakan keras turut mengiringinya. cahaya emas yang menyilaukan mata menyelimuti sabetan dua pedang pendek yang bergerak menggunting.


Pijaran cahaya hitam emas dan bunga api yang semburat ke delapan penjuru, diselingi gemuruh ledakan tenaga sakti seketika memecah keheningan malam dan membuat sekitar kaki bukit sesaat berguncang keras.


Tubuh Puji Seruni berjumpalitan ke belakang, meskipun terpental hingga dua tombak namun dia masih dapat jejakkan kedua kakinya ke atas tanah dengan sangat ringan dan mantap. sepasang matanya yang indah bening menatap tajam ke depan.


Dalam serangannya dia sudah lepaskan ilmu 'Sayap Walet Cahaya Surya' yang mampu menebas rata sebuah tonggak batu karang sebesar gajah dan menghanguskannya sekaligus. dalam satu jurus terkandung setidaknya sepuluh tikaman dan sabetan mata pedang. karena dia memakai sepasang pedang maka paling tidak ada dua puluhan serangan yang mengancam nyawa lawan.


Semak belukar di sana tersapu rata. celah batuan tebing bukit yang berada di belakang pemuda berbaju hitam itu sebagian hancur berguguran luruh terkena sambaran dua tenaga kesaktian yang bentrok di udara hingga menimbulkan suara bergemuruh. hebatnya tidak satupun pecahan batu yang berjatuhan luruh itu menimpa pemuda yang berada di bawahnya.


Puji Seruni keluarkan suara terpekik melihat sebuah batu sebesar kerbau terjatuh dari atas tebing bukit yang meluncur deras ke bawah. si pemuda pincang tidak berusaha menghindar, namun mengangkat kepalan tangan kanannya ke atas. cahaya hitam kuning berbentuk bayangan kepala seekor naga seketika menghantam di barengi suara meraung buas.


'Whuuuss., braaaakk.!'


'Blaaaar., blaam.!'


Dengan mengunakan ilmu 'Raungan Naga Kehancuran' bukan masalah sulit baginya untuk meleburkan sebongkah batu gunung. bahkan seandainya batu yang menimpanya berukuran lebih besar sekalipun juga tidak ada bedanya.

__ADS_1


Seakan tidak perduli pecahan debu bebatuan yang hancur bermentalan terhantam pukulan saktinya, pemuda itu berjalan keluar dari balik kegelapan. langkahnya yang pincang terseok pelan, masih sama dengan waktu pertama kali mereka berdua bertemu di tanah pekuburan. Puji Seruni tersenyum haru. bibir merahnya bergetaran ''Sob., sobat pincang., ja., jadi., ini., ben., benar kau yang datang.?''


Hanya beberapa langkah di hadapan gadis cantik jelita berbaju putih itu sekarang sudah berdiri seorang pemuda berpakaian gelap, cahaya bulan bintang menerangi seraut wajah tampan yang terlihat pucat dan kesepian. sebatang tongkat besi hitam setinggi pinggang tergenggam di tangannya.


Kedua muda- mudi itu hanya terdiam saling pandang tanpa bicara sampai cukup lama, hingga akhirnya suara gadis itu memecah kecanggungan. ''Rupanya benar dirimu yang muncul. syukurlah., terima kasih kau mau datang kemari..'' ucapnya seakan bergumam. turut maunya dia ingin menghambur ke dalam pelukan pemuda itu, tapi harga diri sebagai seorang gadis mencegahnya.


''Dari serangan jurusmu tadi aku dapat memperkirakan kalau tenaga dalam dan ilmu ringan tubuhmu sudah naik dua tingkat lebih tinggi dari sebelumnya. sangat jarang orang yang dapat mencapai peningkatan setinggi itu dalam waktu kurang dari tiga bulan..''


''Hanya ada dua kemungkinan., pertama kau mendapatkan penyaluran tenaga dalam dari gurumu atau orang lain. tapi kurasa itu tidak mungkin, karena kau bilang gurumu sudah meninggal. lagi pula disini tidak kulihat ada orang lain lagi..'' sepasang mata pemuda itu seakan berkilat tajam menatap Puji Seruni, membuat gadis itu serasa sedang di selidiki.


''Jadi kemungkinan kedua yang lebih masuk akal. dirimu sudah menggunakan sejenis ramuan obat rahasia untuk dapat membantu mempercepat peningkatan tenaga saktimu..'' ujar pemuda pincang bernama Pranacitra itu. melihat raut wajah tercengang dari gadis itu, si pemuda tahu kalau tebakannya benar.


''La., lalu apa masalahnya dengan itu., kurasa cara seperti itu wajar saja di lakukan oleh kaum persilatan yang ingin meningkatkan ilmunya dalam waktu singkat..'' sela Puji Seruni tergagap sambil palingkan wajahnya seakan takut menatap mata orang yang berdiri di depannya.


''Hidup dan nyawamu adalah milikmu sendiri, mau kau apakan juga terserah kau. tapi., jika hanya untuk meningkatkan tenaga dalam dan kesaktianmu kau sampai nekat minum ramuan obat rahasia yang di kemudian hari dapat merusak jantung, lambung, otak dan seluruh pembuluh darahmu., apakah semua itu juga sepadan.?'' tanya Pranacitra setengah membentak, membuat gadis itu tersurut mundur. dia sangat terkejut, malu sekaligus geram karena rahasianya dapat terbongkar dengan begitu mudah oleh si pincang yang aneh ini.


''Hhm., siapa juga yang sudi ikut campur urusanmu. percuma saja dulu aku pernah menolongmu. tahu begini kubiarkan saja kau mati bersama tunanganmu. asal kau tahu saja., mendiang gurumu dan Wiratama tidak bakal tenang di alam sana jika mereka tahu apa yang telah kau perbuat.!''


Selesai bicara Pranacitra balikkan tubuhnya lalu melangkah pergi. karuan saja Puji Seruni tertegun karena tidak menyangka si pincang bakal berlalu begitu saja.


''Eeh., tung., tunggu dulu. sau., saudara pincang. kau mau kemana., bagaimana pula dengan kesepakatan kita berdua mengenai perguruan Naga Biru.?'' serunya gugup juga merasa tidak enak hati.


''Chuih., aku mau kemanapun tidak ada kaitannya dengan dirimu. soal urusan perguruan silat Naga Biru, anggap saja kita tidak pernah bertemu. karena aku tidak mau bersepakat dengan gadis yang sudah putus asa dan berniat mati.!'' sentak Pranacitra tanpa hentikan langkahnya lalu menghilang di balik kegelapan.


''Lalu apa yang bisa kulakukan untuk dapat menuntut balas, sementara musuh yang mesti kuhadapi berilmu sangat tinggi. coba katakan padaku., aku mesti berbuat apa. aa., aku., aku harus bagai., mana.?'' suara jeritan tersengal bercampur tangisan itu sesaat masih menggema di tengah keheningan malam.

__ADS_1


Puji Seruni jatuh bersimpuh, air matanya mengalir membasahi pipinya yang halus kemerahan. entah bagaimana pemuda pincang itu bisa tahu, tapi semua yang di katakannya memang benar adanya. demi untuk menguasai ilmu silat dan kesaktian pedang 'Walet Emas' dalam waktu yang singkat dia nekat meminum sebuah ramuan obat peningkat tenaga dalam yang dia temukan di dalam ruang semedi mendiang gurunya.


Dulu gurunya memang pernah berusaha meracik sebuah ramuan obat yang dapat dipakai untuk meningkatkan hawa kesaktian seseorang dalam waktu singkat. tapi ramuan obat itu tidak dia pergunakan saat gurunya menyadari kalau selain dapat meningkatkan tenaga kesaktian berkali lipat lebih tinggi dalam waktu yang singkat, tapi obat itu juga mengakibatkan luka parah dan kerusakan pada bagian dalam tubuh para penggunanya di masa depan.


Ibaratnya obat itu cuma bisa memberikan kekuatan besar dalam jangka waktu yang terbatas. setelah itu si pengguna obat hanya menerima ampas obat itu berupa racun yang tertinggal di dalam tubuh.


Racun sisa ramuan obat itu sangat sulit untuk di keluarkan. jika semakin lama mengeram dalam tubuh akan semakin ganas dan hampir tidak mungkin di punahkan. siapapun pengguna obat itu seakan sudah di takdirkan untuk mati.


Puji Seruni bukannya tidak mengerti semua itu, tapi apalagi yang bisa dia lakukan. demi menuntut balas kematian guru dan Wiratama tunangannya, gadis itu sanggup melakukan apapun termasuk memperpendek umurnya.


Sebuah ujung tongkat besi hitam legam yang samar- samar tercium bau darah bergerak pelan mengangkat dagunya yang putih hingga gadis itu mendongakkan kepalanya.


Seraut wajah pemuda pucat menatapnya dingin. tanpa sadar Puji Seruni teringat saat pertama kali dia bertemu si pincang di tengah pekuburan di bawah rintik hujan. dulu ujung tongkat besi itu juga menggangkat dagunya seperti ini, lalu dia memberinya dedaunan obat untuk menutup lukanya dan Wiratama. tapi sekarang., akankah si pincang yang sampai sekarang belum dia ketahui namannya ini juga akan memberinya pengobatan., rasanya dia berharap terlalu muluk.


"Balikkan tubuhmu lalu duduk bersila. cukup kumpulkan seluruh hawa kesaktianmu ke satu titik. akan lebih baik jika terkumpul di punggung sebelah kanan. jangan berpikiran buruk saat diriku melakukan senuanya.."


"Aa., apa maksudmu, memangnya apa yang akan kau perbuat.?" tanya Puji Seruni rada curiga, tapi di bawah tatapan mata yang dingin tanpa perasaan itu dia seperti merinding dan tidak berani membantah. tanpa banyak bertanya lagi dia melakukan semua yang diminta penuda itu. dengan duduk bersila dia mulai mengumpulkan hawa saktinya ke pundak kanan, gadis itu mesti menahan rasa sakit yang mulai timbul akibat pengerahan tenaga dalam itu. Puji Seruni sadar kalau ampas obat penguat tenaga itu sudah mulai berubah menjadi racun.


'Breeet., breet.!'


'Plaaak., dheeess.!'


Gadis murid mendiang Nyi Pariseta itu terpekik kecil saat merasa baju putihnya di tarik sebagian ke bawah oleh jemari kekar yang dingin. dia tidak dapat berbuat apapun kecuali pasrah, karena dua buah totokan kilat di punggung membuatnya tidak dapat bergerak. meskipun takut tapi dalam hatinya dia tetap percaya dengan si pincang.


Pranacitra bersila di belakang si gadis, telapak tangan kanannya yang terbuka mengeluarkan setitik cahaya biru yang semakin lama kian membesar sampai akhirnya berubah menjadi cahaya bulat biru terang sebesar telur ayam. hawa sangat sejuk menyebar di sekitarnya.

__ADS_1


Telapak tangan kanan bersinar kebiruan perlahan di letakkan di punggung kanan Puji Seruni yang putih mulus. di bawah cahaya sinar bulan kulit gadis itu terlihat mengkilap. meskipun punggung putih mulus itu masih di tutupi sehelai pakaian dalam kutang putih, tapi tetap saja terasa sangat menggiurkan.


Pranacitra menghela nafas gelengkan kepala. dia mengakui kecantikan Puji Seruni memang sangat memukau kaum lelaki. telapak tangannya sudah menempel di punggung si gadis. hawa kebiruan dari batu sakti 'Nirmala Biru' mulai tersalur ke dalam tubuh Puji Seruni.


__ADS_2