
Malam telah turun menggantikan senja, seiring hujan yang telah berhenti. langit malam terlihat terang penuh bintang. tidak sedikitpun ada sisa awan yang terlihat, seakan hujan deras tidak pernah turun senja tadi. dibawah cahaya sinar bulan dan bintang yang menaburi langit, terlihat seorang pemuda tujuh belas tahunan sedang duduk berjongkok bawah sebatang pohon besar. sudah berapa kali pemuda ini berusaha membuat perapian untuk menghangatkan tubuhnya, sekaligus menjemur pakaian dan semua bekalnya yang basah oleh air hujan.
''Aah akhirnya menyala juga apinya..'' gumam pemuda yang memang Pranacitra adanya. ranting dan dedaunan yang basah tersiram air hujan membuat pemuda itu kesulitan untuk membakarnya.
Beruntung dia kini mempunyai bekal ilmu tenaga dalam. dengan hawa panas yang tercipta dari aliran tenaga sakti di telapak tangannya, dia mampu membuat ranting dan dedaunan yang tadinya basah bisa lebih cepat kering. saat sekali lagi dia hantamkan dua buah batu di kapalan tangannya, dari benturan itupun tercipta percikan api yang terus membakar ranting kayu di perapian itu.
Sedikit tiupan udara dari mulutnya, membuat api perapian menjadi semakin besar. dengan menggunakan jepitan dari batang kayu Pranacitra mulai memanaskan bungkusan berisi ketan kelapa dan pisang rebus yang basah. karena kedinginan dan lapar yang menyiksa, tanpa menunggu lama dia mulai memakan semuanya meskipun ketan kelapa itu sudah menjadi basi karena air hujan.
Tapi siapa perduli., disaat kelaparan manusia bisa menelan apapun yang ada di depannya, sekalipun itu sudah menjadi seonggok sampah. padahal disaat lain manusia juga serIng kali menyia- nyiakan makanan hanya dikarenakan masalah selera yang tidak sesuai dengan keinginan hatinya.
Di saat roda kehidupan manusia berada di atas, rasa syukur akan segala nikmat dari Sang Pencipta langit dan bumi seringkali terlupakan. tapi sebaliknya di waktu sudah terpuruk di tempat yang paling bawah, barulah manusia sadar dan menyesalinya.
Malam itu terang penuh bintang. selarik cahaya panjang dari bintang jatuh terlihat di penjuru langit barat. dulu Srianah pernah bilang padanya ''Kalau kau melihat cahaya bintang jatuh di langit, cepatlah membuat suatu permohonan. kata orang permohonan itu akan terkabulkan.!''
Saat itu mereka berdua sedang tidur diatas padang rumput beralas sebuah tikar butut sambil memandangi bintang dan rembulan di langit malam. saat itu dia cuma tertawa sambil mengucek rambut si gadis yang dianggapnya lucu karena percaya pada tahayul.
Tapi sekarang justru dia ingin supaya semua itu bisa menjadi kenyataan. tanpa sadar Pranacitra berlutut dan menengadah, ''Kalau boleh aku memohon., tolong ijinkan aku hidup lebih lama, wahai Penguasa langit dan bumi.!''
__ADS_1
''Tolong beri aku petunjuk agar aku bisa menyembuhkan semua penyakit yang berada di dalam tubuhku ini. apakah., permohonanku ini terlalu sulit bagimu wahai Pencipta alam semesta.? ucap Pranacitra sanbil rentangkan tangannya ke atas. ''Ataukah., aku yang memang tidak layak untuk mengharapkan pertolonganmu.?'' bisiknya menunduk pasrah lalu bersujud.
''Tahukah kalian salah satu ciri manusia yang paling bodoh di dunia ini.? orang yang paling bodoh adalah orang yang selalu merasa dirinya paling pandai, paling hebat, dan tidak tertandingi di dunia ini..''
''Karena sesungguhnya sehebat- hebatnya manusia, dia hanyalah segumpalan daging dan darah bernyawa yang tidak akan bisa lari dari yang namanya kematian. lahir, tumbuh, tua dan akhirnya mati. itu sudah menjadi rangkaian dari garis kehidupan manusia.!''
''Lalu tahukah kalian ciri manusia pengecut.? pengecut adalah orang yang selalu lari dari tanggung jawab. kaum penjlat dan penakut yang selalu menyerah kalah sebelum mencoba untuk berjuang sekuat tenaganya..''
Itulah petuah dari gurunya Ki Rangga Wesi Bledek alias si Tangan Guntur Besi. ''Aku tidak akan pernah menyerah. sampai di ujung usiaku aku akan tetap melangkah maju.!'' tekadnya bulat. hatinya menjadi tenang. seiring dengan perapian yang meredup. si pemuda juga turut terlelap.
Seorang pemuda berpakaian lusuh berjalan tertatih menyusuri jalanan di tepian sebuah hutan. kalau diperhatikan langkahnya telihat berat dan kaku, kaki kanan melangkah yang kiri terseret menyusul kedepan. kaki kirinya yang pincang dan terluka seakan membawa beban hidup yang teramat berat. meskipun langkah kaki si pincang ini terlihat perlahan dan menggelikan seperti cacing merayap, tapi setiap langkahnya dipenuhi pancaran keteguhan hati.
Walaupun cuma sebuah pedukuhan, tapi Punggingan tempat yang sangat ramai karena wilayah perbatasan dari kadipaten Wonokerto. orang- orang mulai keluar masuk Punggingan untuk membeli pebekalan. beberapa prajurit kadipaten tampak berjaga di beberapa sudut jalan untuk menjaga keamanan.
Sepasang suami istri muda yang berjalan bersandingan dengan menggendong bayi lelakinya, terlihat berhenti sekejab di samping Pranacitra. lalu sang istri memberi sebuah bungkusan nasi yang masih hangat juga sekeping uang tembaga pada pemuda itu. ''Makankanlah dulu pengemis., ini ada sedikit sedekah untukmu dari kami..''
Pranacitra tertegun sesaat lalu menganguk sambil tersenyum kecut. saat keduanya berlalu si pemuda mengamati keadaan dirinya sendiri yang sudah dekil tak terurus. ''Hhm., kurasa aku memang sudah menjadi seorang gembel, anggap saja ini rejekiku di pagi hari..'' Pranacitra tertawa sendiri.
__ADS_1
Tanpa ragu dia mulai memakan bungkusan nasi beserta tumisan sayur di tangannya. baru saja dia selesai makan terlihat seorang lelaki setengah umur mendatangi bercaping bambu tempatnya duduk. sepintas dari sikapnya yang tegang dan gelisah, orang ini sedang punya masalah. hampir sebulan Pranacitra menggelandang membuatnya lebih paham keadaan. dia tidak ingin terlibat masalah. tapi anehnya masalah seakan selalu berada di dekatnya.
Baru saja si pincang hendak berlalu, orang bercaping bambu itu sudah mencegahnya. ''Barang pesanan belum kuberikan, kenapa saudara sudah mau pergi.?'' bisiknya setengah menggeram. ''Apakah perkumpulan pengemis 'Kelabang Ireng' berniat untuk membatalkan kesepakatan dengan kami dari perkumpulan pencuri 'Maling Kilat.?''
Si pincang menoleh kesal, ''Aku baru saja selesai sarapan, lalu tahu- tahu kau datang dan berbicara sesuatu yang tidak kupahami., kurasa kau sudah salah orang..'' tanpa perduli lagi kakinya mulai melangkah terseok meninggalkan tempat itu.
''Kurang ajar., kau pikir perkumpulan Maling Kilat bisa dibuat main- main seenaknya. sudah banyak tenaga dan pikiran yang kami keluarkan untuk mendapatkan barang yang kalian pesan, lalu sekarang begitu mudahnya perkumpulan pengemis Kelabang Ireng membatalkannya..''
''Kalau memang kalian hendak menyudahi kesepakatan kita, paling tidak berikan kami ganti rugi selayaknya.!'' kata orang itu seraya berdiri setengah membentak. si pincang menggeleng pelan. ''Sudah kukatakan kau salah orang. aku mau pergi, saranku kau tetap tunggu saja disini. siapa tahu orang yang kau nantikan bakal muncul..''
Saat orang itu hendak mencegah, muncul seorang pengemis bertudung anyaman rumput dan berpakaian hitam yang sepintas mirip dengan baju warna gelap yang dipakai Pranacitra.
''Apakah saudara dari perkumpulan Maling Kilat yang sudah datang membawa barang pesanan.?'' bertanya pengemis berbaju hitam itu pada orang setengah umur yang bercaping bambu. lelaki ini terkejut, sesaat kemudian dia baru menyadari kalau telah salah orang. dalam hatinya dia merasa kesal dan malu.
''Eehm., maaf tadi aku mengira kalau orang pincang ini adalah anggota dari perkumpulan pengemis Kelabang Ireng., aku curiga dia adalah mata- mata perkumpulan lain yang juga menginginkan barang itu..'' bisik orang yang mengaku dari perkumpulan Maling Kilat itu pada pengemis berbaju hitam yang baru datang. serentak kedua orang ini bergerak mengurung Pranacitra.
Si pincang ini menarik nafas berat ''Hidupku sudah cukup susah., tapi kenapa masalah selalu datang menghampiriku..'' gumamnya menunduk seakan sedang bicara pada dirinya sendiri.
__ADS_1
''Kau orang dari aliran mana, kenapa bisa berada di tugu perbatasan ini.?'' tanya pengemis berbaju hitam sambil mengamati sosok si pincang. di daerah ini nama perkumpulan Pengemis Kelabang Ireng cukup terkenal. salah satu ciri mereka adalah selalu berpakaian warna hitam dan gelap. maka tak heran jika orang dari perkumpulan Maling Kilat sampai salah kira.
''Aku cuma gelandangan yang kebetulan lewat dan beristirahat di bawah tugu gapura ini serta bukan anggota dari perkumpulan manapun..'' jawab Pranacitra. tapi rupanya kedua orang itu sama tidak percaya, karena dari sikapnya yang mengancam mereka sudah berniat membekuk pemuda pincang itu.