Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Sebilah pisau. (bag2)


__ADS_3

Dalam hatinya 'Sepasang Musang Pesolek' sama membatin, ''Pisau itu jelas cuma sebilah pisau dapur biasa yang dapat dengan mudah dijumpai dipasar manapun dan bentuknya juga sangat umum. tapi kenapa ada perasaan seram saat melihat pisau itu tertancap di leher pemuda bernama Darta Ganjaran. siapa orang yang telah membunuhnya.?''


''Jika dilihat., jelas pisau dapur ini dilemparkan dari jarak cukup jauh tanpa kami berdua tahu. orang yang telah melakukannya pasti memiliki tingkatan ilmu kesaktian yang sangat tinggi..'' Sepasang Musang Pesolek hampir bersamaan memalingkan kepalanya kesatu arah. suara guntur diatas langit bermendung tebal kelabu menandai rintik hujan gerimis yang mulai turun.


Jalanan tanah berbatu yang kering berdebu seketika menjadi basah dan becek tersiram air hujan. hanya dalam waktu beberapa kejapan mata saja rintik gerimis berubah menjadi hujan lebat. angin kencang yang mengiringi tumpahan air dari atas langit menimbulkan suara kacau bergemuruh dan mengaburkan pandangan mata.


Meskipun suasana amukan alam itu cukup bising ditelinga namun tetap tidak dapat menghilangkan suara langkah kaki seseorang yang sedang berjalan mendekat. Sepasang Musang Pesolek mesti mengusap wajah mereka yang dibasahi air hujan, hingga bedak dan gincu tebal yang menghias raut muka mereka luntur dan coreng moreng agar dapat melihat siapa orang yang datang.


'Taap., sreek., trap., srak.!'


'Sreek., traap., srak., tek.!'


Bunyi langkah kaki terseok dengan benda berat dan tajam menyaruk tanah basah itu membuat telinga pendengarnya seakan teriris. pada jarak lima- enam tombak barulah kedua perempuan berjubah merah muda itu dapat melihat sosok si pendatang walaupun masih rada kabur.


Hanya seorang pemuda pincang berbaju gelap sedang berjalan perlahan tundukkan kepala, dengan sebatang tongkat besi hitam yang ujung gagangnya dibungkus selembar kain yang juga berwarna hitam. sama dengan mereka berdua, pakaian pemuda ini juga basah kuyup.


''Apa kau kenal dengan pemuda gelandangan yang pincang ini.?'' bertanya musang pesolek bertubuh tinggi pada rekannya. yang ditanya hanya mendengus kesal seraya gelengkan kepalanya. ''Huhm., siapapun si pincang sialan ini, dia telah berani mengganggu kesenangan kita. jadi., dia mesti mampus.!''


Saat keduanya saling berbisik, entah sejak kapan pemuda pincang itu sudah tiba didepan tubuh Darta Ganjaran yang mati tertelungkup. dengan tangan kirinya dia mencabut pisau dapur yang masih menancap dibelakang pangkal leher pemuda itu. air hujan seketika membasuh darah yang menempel dimata pisau. bibirnya yang sedikit pucat tersenyum saat jemarinya membelai lembut pisau dapur itu dengan penuh perasaan sayang.

__ADS_1


Pisau dapur yang bentuknya sangat umum itu sudah tersimpan dibalik baju hitam. si pemuda pincang perlahan membalikan tubuh lalu mengangkat kepalanya. sebagian wajah pucat dingin tertutupi rambutnya yang gondrong dan basah. titik- titik air hujan yang menetes dari ujung rambut hitam itu berjatuhan ketanah.


Sepasang Musang Pesolek tanpa sadar tersurut mundur. meski suasana hujan lebat dibarengi angin kencang terdengar menderu memecah udara, tapi saat keduanya menatap mata pemuda pincang ini jiwa mereka justru merasa hening dan membeku. seakan- akan., kehadirannya membawa suatu firasat buruk dan kesialan.


Tongkat besi hitam bergerak mengungkit. mayat Darta Ganjaran yang tertelungkup menindih tubuh Rara Cempluk seketika terlempar jauh beberapa langkah sampai membentur sebatang pohon yang tumbuh ditepi jalan. ujung tongkat itu kembali bergerak menotok dua jalan darah yang mengunci tubuh gadis itu.


Terdengar suara keluhan pelan, meski dirinya telah terbebas tapi dia belum mampu bangkit berdiri. tubuhnya terasa lemas dan sakit di daerah persendian. akhirnya Rara Cempluk hanya dapat beringsut mendekati ayahnya dan Pujo Satriman yang masih tergeletak ditanah. matanya masih sempat melihat pemuda itu bergerak maju dengan langkahnya yang aneh dan merayap seperti seekor cacing.


Tongkat besi hitam terangkat menunjuk muka Sepasang Musang Pesolek. jarak diantara mereka hanya terpaut lima langkah. ''Aku ingin bertanya dan kalian hanya perlu menjawabnya. apakah kalian inilah yang disebut sebagai 'Sepasang Musang Pesolek.?'' biarpun pertanyaan itu diucapkan perlahan namun hebatnya mampu menembus suara gemuruh hujan badai yang sedang menyapu bumi.


''Sia., siapa ka., kau bocah pincang kurang ajar. jika kami memang Sepasang Musang Pesolek memangnya kau mau berbuat apa, Hhah.?'' hardik musang pesolek bertubuh pendek rada tergagap. ''Apa kau sudah bosan hidup sampai berani bicara sembarangan dihadapan kami berdua.!'' timpal rekannya yang bertubuh lebih tinggi.


''Sungguh diriku merasa tidak enak hati dan sepatutnya dihukum karena telah berlaku tidak sopan dihadapan dua orang pesilat wanita yang terkenal seperti kalian berdua..'' serunya tercengang seakan penuh perasaan bersalah. tubuhnya juga menjura hormat lebih dalam. Sepasang Musang Pesolek tertegun saling pandang lalu tertawa terkekeh.


''Hee., he., baguslah jika kau sudah tahu apa kesalahanmu. melihat sikap hormatmu kami jadi tidak tega memberikan hukuman..'' ujar Sepasang Musang Pesolek. rupanya keduanya merasa senang hati juga dipuji sebagai dua orang pesilat wanita yang cantik dan terkenal. ''Sekarang katakan apa maksudmu dengan menghalangi pekerjaan kami dan membunuh Darta Ganjaran.!'' meskipun senang dipuji tapi mereka juga bukan orang bodoh yang gemar dijilat.


''Sekali lagi aku yang rendah mohon maafmu, jika kalian ingin tahu alasanku maka sebaiknya sekarang juga aku bicara langsung saja. ''Apakah benar berita yang kudengar kalau Sepasang Musang Pesolek sudah beberapa bulan belakangan bergabung dengan suatu perkumpulan silat dan mendapat bekal sebuah benda keramat seperti milikku ini.?''


Sambil bertanya dan terus membungkuk, entah sejak kapan ditangan kanan pemuda pincang bermuka rada pucat itu sudah bertambah selembar kain bendera hitam dengan lukisan dua buah gapura dan bulan purnama berselimut darah yang menebarkan aroma anyir busuk.

__ADS_1


Kedua orang perempuan berdandan menor yang sudah luntur bedak gincunya itu sama terperanjat lebih dulu sebelum tergelak ''Hee., he., rupanya kau juga orang sendiri. karena sesama anggota partai 'Gapura Iblis', kami tidak akan membuat perhitungan atas semua kesalahanmu..''


''Lagi pula harta kawalan dari Teratai Hijau ini lumayan banyak, mungkin kau bisa kecipratan sedikit. hitung- hitung telah menyingkirkan si Darta Ganjaran yang memang bakal kami sungkirkan setelah semuanya selesai..'' sambung musang pesolek bertubuh pendek sambil turut acungkan sebuah bendera hitam yang sama dengan milik si pincang. sekilas terlihat kilatan cahaya buas dimata pemuda itu .


''Kalau benar demikian., maka diriku semakin merasa bersalah karena harus membunuh kalian berdua.!'' ucapan itu terdengar prihatin dan dipenuhi rasa penyesalan. tubuhnya perlahan menegak, sepasang matanya menatap lurus ke depan seolah tidak ada benda lain dimuka bumi ini yang lebih menarik perhatiannya dibandingkan kedua perempuan itu.


Sorot mata yang lebih tajam dari pedang juga juga lebih dingin dari salju yang membeku. pandangan mata aneh tanpa ada suatu perasaan apapun seolah mata orang yang sudah mati. Sepasang Musang Pesolek jadi bergidik ngeri melihatnya.


Kain hitam pembungkus gagang tongkat besi hitam sudah terlepas. sebentuk ukiran kepala tengkorak dengan bola matanya yang merah menyorot terlihat. Sepasang Musang Pesolek tercekat gemetaran seolah baru teringat pada sesuatu yang sangat menyeramkan. senjata cermin maut berbingkai perak hampir terlepas dari tangan mereka.


Tidak ada kata ucapan atau penjelasan apapun setelahnya. yang ada hanya hantaman satu pukulan sakti yang menebarkan berlusin bayangan telapak semerah darah berbau anyir. bersamaan tongkat besi hitam juga terangkat menusuk kedepan. suara ledakan beruntun sekeras halilintar membarengi sembilan jalur sinar hitam yang melabrak ganas. pukulan 'Tapak Darah Meminta Sedekah' dan jurus 'Tongkat Maut Sembilan Geledek Kematian' menyambar memburu korbannya.!


Segalanya berlangsung begitu cepat, tidak ada jurus pertahanan yang sempat muncul atau juga celah kesempatan untuk kabur. puluhan tusuk kundai perak dan sisir besi beracun yang terlontar, juga cahaya panas menyilaukan mata dari senjata cermin perak yang mereka kibaskan seolah tidak mampu menunda sedetikpun waktu datangnya kematian.


"Buu., bukankah kita satu gol., golongan. ben., bendera Gapura Iblis kau juga punya.!" teriak musang pesolek bertubuh tinggi. "Kaa., kau bagaimana mungkin kau bisa mun., muncul di sini.?'' jerit rekannya penasaran. hampir setengah tahun menghilang tidak ketahuan rimbanya, kenapa bajingan ini dapat datang ke tempat ini sambil membawa bendera partai Gapura Iblis yang sama dengan mereka.


Segala pertanyaan dan rasa penasaran yang terpendam dalam hati mereka hanya dapat menghilang lenyap ditelan angin pukulan yang melibas tanpa ampun. bahkan kemungkinan., keduanya tidak sempat lagi untuk membuka mulut karena nyawa mereka keburu tercabut.


Semuanya hancur luluh ditengah udara yang diamuk pusaran hawa panas dari dua buah ilmu kesaktian milik si pincang. Sepasang Musang Pesolek bahkan tidak punya kesempatan untuk sekedar menjerit. tubuh keduanya terhempas musnah menjadi serpihan potongan tulang daging berdarah yang hangus terbakar.

__ADS_1


__ADS_2