Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Keputusan sulit.


__ADS_3

Retno Item yang masih terlentang kaku di atas tanah berumput hanya bisa melotot matanya melihat sosok pemuda pincang yang berdiri di atas tubuhnya. biarpun sudah lewat tiga tahun tapi gadis itu masih ingat betul setiap kelakuan pemuda itu dan juga langkah kakinya yang pincang. cara jalannya masih sama seperti dulu, merayap setapak demi setapak seakan membawa beban hidup yang teramat berat.


Jika tiga tahun lalu Retno Item pasti akan memandang rendah atau menghinanya, sekarang dia justru menjadi bersimpati dan iba hatinya. di sisi lain gadis cantik berkulit sawo itu tanpa sadar juga merasa penasaran dengan diri si pincang yang aneh itu.


'Resi Kembar Sakti Dari Bukit Kemukus' alias si 'Resi Kembar Bejat' sama memucat raut wajahnya. angin malam yang berhembus terasa dingin, tapi hati mereka berdua sudah lebih dulu menggigil ketakutan.


''Kau., kau., sia., siapa kau seb., sebenarnya..'' ucap Resi Giling Langit tercekat. jarinya gemetaran menunjuk si pincang.


''Ja., jangan be., berani men., dekat. cepat kata., katakan siapa., dirimu. atau., atau kami ak., akan bertindak ke., kejam..'' Resi Giling Bumi mencoba menggertak. sementara kedua kakinya justru terus bergerak mundur.


'Langkah kaki yang pincang merayap seperti cacing.,


'Siulan lagu yang berirama menyedihkan hati.,


Entah kenapa sejak sebulan belakangan ini dua kalimat itu sudah menjadi momok bagi kaum persilatan. bahkan sampai ada yang bilang itu pantangan untuk menyebutnya, karena hanya akan mengundang kesialan saja.


Meskipun Resi Kembar Bejat berilmu silat tinggi dan juga punya maksud membunuh pemuda pincang itu untuk menaikkan nama dan pengaruhnya. tapi jika harus berhadapan langsung dengan orangnya. mereka jauh lebih memilih menghindar.


Tapi sialnya malam ini mereka mesti bertemu dengan si pemuda pincang yang menakutkan ini. pertanyaan dan gertakan yang keluar dari mulut mereka hanyalah sebuah ucapan yang tidak berguna, karena dalam hati sebenarnya juga sudah menduga sedang berhadapan dengan siapa.


''Saudaraku Resi Giling Bumi., apa yang mesti kita lakukan sekarang.?'' bisik Resi Giling Langit berusaha tenangkan dirinya.

__ADS_1


''Sialan betul., jika terpaksa kita harus bisa kabur dari sini dan meminta bantuan para tokoh silat lainnya., lagi pula kita juga masih memiliki benda itu. mustahil si keparat ini masih berani membunuh kita berdua..'' jawab saudaranya mendengus.


Dua pertapa bersaudara kembar itu saling lirik lalu menyeringai sinis. ''Hhmh., berani betul kau mempermainkan kami 'Resi Kembar Sakti Dari Bukit Kemukus'., dasar pincang keparat pengacau rimba persilatan., hari ini kami akan memaksamu untuk bunuh diri..!''


''Lihat apa yang ada di tangan kami., kau pasti tahu lambang apa ini.!'' bentak kedua resi cabul itu. kini ditangan Resi Giling Langit sudah bertambah sebuah bendera kecil berwarna hitam pekat dengan gambar pintu gapura dan rembulan purnama berdarah.


''Haa., ha., ha.! Kau pasti tidak mengira kalau kami memiliki lambang partai 'Gapura Iblis'., partai silat terkuat di dunia persilatan.!'' seru Resi Giling Bumi hingga pemuda pincang itu hentikan langkahnya.


Sepasang mata pemuda itu terpejam sesaat, kepalanya menunduk semakin dalam. kedua resi tua itu tidak menyangka kalau si pincang dapat di gertak semudah itu hingga mereka saling pandang dan tertawa bergelak penuh penghinaan. baru saja mereka hendak umbar makian, mendadak si pincang menggumam pelan namun anehnya dapat terdengar jelas di telinga Resi Kembar Bejat.


''Sebenarnya aku hanya ingin menghabisi kalian secepatnya, tapi siapa suruh kalian memiliki benda yang paling aku benci. karena itu matilah dengan penuh siksaan..''


Kepalanya terangkat, rambut panjangnya tersibak hingga terlihat sepasang matanya yang menyorotkan cahaya menakutkan. tongkat besi hitam kepala tengkorak di tancapkan ke dalam tanah.


Perubahan ini sepertinya terasa lambat jika di ceritakan, padahal kejadian sebenarnya berlangsung begitu cepat hanya dalam beberapa kejapan mata saja. Resi Kembar Bejat terperangah mereka masih hendak mengertak tapi lawan keburu memotong.


''Kehormatan bagi kalian dua tua bangka karena dapat merasakan ilmu pukulan sakti yang selama ini belum pernah kugunakan.!''


Mulut bicara kedua tangannya menghantam ke depan. dua buah sinar putih berbentuk balok panjang menyambar. cahaya putih menyilaukan di barengi gelombang hawa dingin dan suara bergemuruh keras bagaikan guguran gunung salju turut menggebrak dahsyat.!


Resi Kembar Bejat meraung marah bercampur kengerian. sekuat tenaga mereka hantamkan cakar hitam beracunnya juga kebutkan lengan jubah hitamnya. semburan sinar hitam panas beracun menderu ganas. dalam perhitungan Resi Kembar Bejat, ilmu kesaktian mereka setidaknya dapat menahan pukulan dingin lawan yang menakutkan itu sehingga mereka punya waktu untuk kabur.

__ADS_1


Tapi semuanya hanyalah kesia- siaan belaka, karena pukulan sakti ke dua pertapa cabul itu seketika musnah di labrak dua cahaya dingin balok es yang terus menghantam tubuh kedua orang itu.


Kedua pertapa cabul yang sudah banyak merusak kehormatan kaum wanita itu melolong setinggi langit. tubuh tua mereka terlempar hingga lima tombak ke belakang. saat tiba di tanah terlihat tubuh mereka menggigil keras berselimut kabut berhawa sangat dingin.


Pertama ujung kaki mereka mulai membeku terus naik hingga ke paha, perut, dada hingga ujung kepalanya. 'Resi Kembar Sakti Dari Bukit Kemukus' masih sempat mengerang dan gemetaran sebelum tubuh keduanya berubah menjadi balok es besar.


Semua kejadian itu masih terus berjalan., kedua bongkahan balok es itu mulai retak dan sampai akhirnya terpecah menjadi gumpalan es sekepalan tangan berselimut darah dan daging beku.!


Dewi Bintang Hitam dan suaminya tidak bisa menahan rasa ngerinya melihat segala yang berlangsung di tempat itu. jika bisa memutar waktu mereka lebih memilih tetap menutup mata atau pingsan saja dari pada melihat semuanya. ''Ilmu kesaktian apa yang di miliki pemuda pincang ini hingga sanggup membekukan tubuh lawan sekaligus menghancurkannya berkeping- keping.?'' batin suami istri itu terperangah ketakutan.


Sementara itu Retno Item juga berpikir tidak jauh berbeda. ''Siapa pemuda ini sebenarnya, dari mana dia mendapatkan semua ilmu kesaktian luar biasa itu. selama tiga tahun ini dia berada dimana., dan apa yang terjadi pada dirinya.?''


Begitu juga dengan Pranacitra., dia sungguh tidak pernah mengira kalau ilmu pukulan 'Nisan Kuburan Membeku' ajaran si 'Setan Kuburan' dapat membuat hasil sedahsyat itu. tanpa sadar pemuda dari gunung Bisma itu diam termangu. ''Ini., ini terlalu mengerikan.!'' batinnya sedikit menyesal.


Dari kelima orang gurunya, ilmu kesaktian Setan Kuburan adalah yang tertinggi. orang tua ini juga pernah mewanti- wantinya, jika tidak dalam keadaan sangat terpaksa jangan pernah menggunakan ajian ilmu kesaktian yang dia wariskan kepadanya. sekarang Pranacitra mengerti apa sebabnya.


Malam semakin meninggi., pemuda itu mencabut tongkat besi hitamnya lalu terseok melangkah dan berhenti di depan sebuah bendera hitam yang basah oleh darah berselimut salju dingin. ujung tongkat besi di putar mengerus bendera lambang partai terbesar aliran hitam itu hingga kepulan asap dan api membakarnya musnah.


Sudah lebih dari sebulan sejak Pranacitra keluar dari 'Lembah Seribu Racun' terhitung telah lima kali ini dia menghabisi pemegang bendera partai Gapura Iblis. sejauh ini dia selalu menjalankannya secara diam- diam. jika memang ada orang yang pernah melihat perbuatannya, semua saksi mata itu turut juga di habisinya.


Semua itu terpaksa dia lakukan karena urusan yang di tanggungnya sudah terlalu banyak. jika ada yang sampai mengatakan para pemegang bendera perlindungan dari Gapura Iblis itu mati di tangannya, dia akan semakin terjepit. meskipun Pranacitra sangat membenci partai Gapura Iblis, tapi dia sadar bakal cepat mati konyol jika para pentolannya ikut turun tangan memburunya.

__ADS_1


Perlahan kepalanya menoleh, dua orang tua berjuluk Ki Wedhus Jenggot Putih dan Dewi Bintang Hitam juga anak gadisnya yang bernama Retno item itu sudah melihat apa yang sudah di perbuatnya. dia merasa cukup sulit memutuskan. tapi meskipun hatinya sempat ragu, akhirnya Pranacitra dapat memastikan apa yang mesti dia lakukan.


__ADS_2