Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Hati seorang gadis.


__ADS_3

Hembusan angin yang terasa semakin dingin dan suasana malam yang mencekam membuat hati ketiga orang suami istri dan seorang anak gadisnya yang masih diam tergeletak di atas pedataran berumput itu menjadi bertambah membeku.


Walaupun saat itu dalam kepala Ki 'Wedhus Jenggot Putih' juga istrinya 'Dewi Bintang Hitam' serta putri mereka Retno Item sama timbul berbagai macam pikiran yang berbeda, namun pada akhirnya semuanya tetap berujung pada satu pertanyaan yang sama.


''Apa yang akan di perbuat oleh pemuda pincang ini pada kami bertiga., apakah dia akan.,?'' ketiga orang itu tidak berani lagi membayangkan segala yang mungkin saja terjadi pada mereka. apalagi saat itu pemuda yang mereka pikirkan sudah mulai bergerak.


Dengan langkah terseok perlahan yang masih sama dengan tiga tahun silam pemuda ini berjalan mendekat. tiga orang itu jelas masih teringat di suasana malam dan padang rumput yang hampir serupa, pemuda inilah yang telah menyelamatkan nyawa mereka bertiga dari si 'Sukma Tertawa'.


Kini si pincang sudah berada di depan Dewi Bintang Hitam dan suaminya. walaupun luka dalam mereka mulai membaik, tapi belum sanggup untuk berdiri terutama Dewi Bintang Hitam yang lukanya agak parah. dengan hati dan pandangan di cekam rasa ngeri mereka hanya bisa menanti tindakan pemuda itu.


''Ber., berhen., ti. aa., apa., yang., ak, akan., kau la., kukan., pa., pada ayah., ibu., ku.?'' dengan susah payah Retno Item berteriak meski terbata- bata. gadis ini sangat takut jika nanti terjadi apa- apa dengan kedua orang tuanya, mengingat betapa menakutkan pemuda pincang yang sepintas terlihat lemah dan pucat seperti orang penyakitan itu.


Si pincang cuma meliriknya sebentar saja. mungkin hanya sekejap mata tapi pacaran sinar matanya yang dingin menyeramkan seakan menyuruhnya untuk diam. tanpa sadar Retno Item bergidik ngeri. sorot mata pemuda itu seperti bukan pandangan mata seorang manusia melainkan., mata iblis.!


Seorang pemuda berkaki pincang sebelah. bertongkat besi hitam kepala tengkorak, berpakaian gelap terbuat dari kain tebal yang sudah lusuh dan robek di beberapa bagian dengan sorot pandangan mata yang dingin menggidikkan kini berada hanya dua langkah saja dari pasangan suami istri itu.


Kedua tangannya yang pucat namun berotot terlihat memutar- mutar tongkat besi hitam berkepala tengkorak yang tertancap di tanah. gerakannya baru berhenti saat ukiran muka tengkorak yang menyeramkan pada gagang tongkatnya menghadap langsung di depan wajah kedua orang tua itu. tanpa sadar hati sepasang suami istri itu semakin membeku.


Kepalanya yang dalam menunduk mendadak mendongak. matanya yang dingin tanpa ada gambaran suatu perasaan apapun justru membuatnya lebih menyeramkan dari setan atau siluman manapun. kedua tokoh silat yang sudah punya banyak pengalaman itu tertunduk. meskipun enggan mengakuinya tapi mereka sudah merasa ngeri dan takut walau cuma untuk menatap mata pemuda itu.


''Kenapa kalian bertiga masih juga keluyuran di dunia luar., apakah kalian bertiga sudah merasa memiliki ilmu yang tinggi hingga tidak khawatir lagi dengan kaki tangan partai Gapura Iblis yang selama bertahun- tahun membuat kalian bertiga tidak dapat saling menyebut sebagai orang tua dan anak.?'' bentak si pincang bernama Pranacitra itu bengis, sementara jari tangannya menunjuk Retno Item.


''Jika kalian dua tua bangka tolol sudah tidak perduli dengan keselamatan anak gadismu lagi., lebih baik aku nikmati saja tubuhnya sekarang lalu kemudian kubunuh..'' gumam Pranacitra menyeringai keji. sambil memutar tubuhnya dia melangkah terseok mendekati Retno Item yang mulai ketakutan sekaligus merasa marah dan jijik.


''Jang., jangan., ber., berani men., dekatiku.!''


''Aa., apa yang akan kau la., laku., kan padaku.?'' bertanya Retno Item tergagap.

__ADS_1


''Pe., pemuda pin., cang., kepa.,rat. hentikan perbuatan bu., busuk., mu., dasar terkutuk..''


''Aa., aku bersum., pah akan mem., bunuh., mu jika kau berani menyakiti anak., kami. sam., sampai matipun., akan ku., kejar nyawa an., anjingmu.!'' Dewi Bintang Hitam dan Ki Wedhus Jenggot Putih seakan menjadi kalap berteriak- teriak seraya berusaha bangkit dari atas tanah. tapi luka dalam mereka belum sembuh benar. baru saja keduanya bangun tubuh mereka sudah kembali ambruk.


''Ooh sungguh aneh., kenapa sekarang kalian jadi perduli dengan keselamatan anak gadis ini..'' pemuda itu mencibir sinis.


''Huhm., sayang sekali gadis manis, kedua orang tuamu ini cuma punya kasih sayang palsu yang tidak ada gunanya. sebab kalau benar mereka menyangimu tentu tidak akan mengajakmu kembali ke dunia luar yang kejam ini..''


''Hee., he. sekarang salahkan saja nasib burukmu dan pastinya kedua orang tuamu.!'' dengusnya menggila. setiap langkah kakinya yang terseret seperti jejak- jejak kaki iblis jahat yang baru keluar dari neraka.


''Aa., ayah., Ibu., to., tolong aku. wahai., sau., saudara., pincang., kumohon jang., jangan., laku., kan..'' ratap Retno Item menangis ketakutan karena membayangkan musibah apa yang bakal menimpanya.


''Jang. ,jangan., kumohon., hen., henti., kan..''


''Ka., kami akan., la., laku., kan., aa., apapun untukmu.!'' jerit kedua orang tuanya sambil bersimpuh menghiba. sungguh mereka tidak mengerti dengan cara berpikir dari pemuda pincang itu yang sulit di tebak. sekejap terlihat baik hati dan lemah lembut, tapi di lain waktu dia dapat berubah sangat liar, licik serta kejam tanpa perasaan.


''Dua tua bangka tolol., apa kejadian tiga tahun silam sudah begitu mudah kalian lupakan. dulu aku menolong kalian bertiga bukan untuk sesuatu yang sia- sia..''


''Jika kalian tidak dapat mengambil hikmah dari kejadian pahit di masa lalu dan kembali mengulangi kesalahan yang sama., lantas apa gunanya kalian hidup.?'' desis Pranacitra menggeram kesal.


''Andai saat itu aku tidak berada di sana, kalian bisa bayangkan apa yang bakal menimpa anakmu. begitupun sekarang., jika saja aku tidak ada di sini, pastinya saat ini putrimu yang sombong dan suka turut campur urusan orang lain itu sudah di nodai oleh dua orang pertapa tua jahanam itu.!''


''Sekarang., bisa- bisanya kalian berdua bilang sanggup melakukan apapun untukku. dengar orang tua sialan., dalam sebulan belakangan ini aku sudah banyak melihat orang- orang tolol yang mati konyol. tapi tidak ada yang sedungu kalian berdua..''


''Bukannya menikmati kehidupan tenang bersama anak gadismu sambil menebus semua waktu kebersamaan yang hilang sebagai satu keluarga, tapi malah kelayapan tidak karuan.!'' umpat Pranacitra kesal.


Kedua orang tua itu seketika gemetaran seakan baru menyadari sesuatu. apa yang di ucapkan pemuda itu memang benar. kenapa mereka bertiga mesti keluar lagi, padahal kehidupan mereka selama tiga tahun ini cukup bahagia sebagai sebuah keluarga yang utuh. tanpa sadar keduanya menatap putri mereka. ''Aah., kenapa kami mesti menuruti permintaan Retno Item. tapi kami tahu dia cuma ingin..''

__ADS_1


Hanya itu saja yang sempat terpikir oleh Dewi Bintang Hitam dan suaminya, karena Retno Item sudah terisak dan menangis. Pranacitra agak tertegun melihat kelakuan gadis itu. tapi dia lebih terkejut lagi saat Retno Item mulai berbicara.


''Kuharap jangan menyalahkan kedua orang tuaku sobat pincang., sebab akulah yang bersalah karena telah memaksa ayah dan ibuku untuk keluar dari tempat kami tinggal..''


''Ooh., lantas kenapa kau melakukannya., jangan kau bilang karena sudah mulai bosan berada di rumahmu.!'' bentak Pranacitra.


''Tidak., Aa., aku., aku cuma., cuma., ingin., eeh., maksudku kami. kami ingin ber., temu denganmu karena sobat pincang pernah menolong kami sekeluarga. untuk berterima kasih..'' dengan susah payah gadis itu dapat juga menjawab meskipun alasan dia yang sebenarnya tidak persis seperti itu.


Pranacitra terhenyak, meskipun gelap tapi dia masih dapat melihat raut muka gadis itu yang kemerahan menahan rasa malu. pemuda itu sadar apa yang sebenarnya ada di dalam hati Retno Item.


''Hhem., sebenarnya gadis sombong ini menarik juga, sayang dia bakal kecewa karena mulai tertarik dengan orang rendahan sepertiku..'' batin si pemuda geleng- geleng kepala. dia sendiri heran kenapa sampai ada gadis cantik yang bisa tertarik dengan pemuda gelandangan dan pincang sepertinya. tapi semuanya sudah dia putuskan demi kebaikan semuanya. hidup mati ketiga orang itu akan di tentukan dalam satu jawaban.!


''Cukup sudah basa- basinya., aku juga tidak perduli dengan semua alasan kalian..''


''Sekarang dengarkan aku., dalam sebulan ini aku sudah membunuh banyak orang. soal apa sebabnya tidak perlu kalian ketahui. hanya perlu kalian ingat., semua yang mati di tanganku adalah orang yang memang patut untuk di habisi.!'' tegas Pranacitra.


''Aku akan bertanya satu kali saja, jika jawaban kalian bertiga sama, maka hidup kalian akan selamat. tapi jika tidak., terpaksa kalian aku lenyapkan di sini.!'' desis si pemuda. seketika tiga orang itu terkesiap saling pandang.


''Aku bertanya., malam ini di tempat ini., kalian bertiga ayah, ibu dan anak gadisnya sudah melihat kejadian apa, dan sudah bertemu dengan siapa.?''


Sesaat tiga orang itu tertegun dan kebingungan tidak mengerti. tapi kemudian Ki Wedhus Jenggot Putih menghela nafasnya lalu menjawab ''Kami sekeluarga tidak melihat apapun, juga tidak bertemu siapapun. jika kami berdusta seumur hidup akan menerima malapetaka.!''


Pranacitra mendongak lalu hembuskan nafasnya seakan baru melepas beban berat.


''Hiduplah sebagai satu keluarga yang bahagia, carikan suami yang baik dan bertanggung jawab untuk anakmu. kurasa kalian berdua sudah pantas punya cucu..'' ujar Pranacitra lalu melangkah pergi.


Saat melewati Retno Item dia tidak lupa membebaskan totokan di tubuh gadis itu. mata si pincang sempat juga melirik bagian atas tubuh Retno Item yang tersingkap.

__ADS_1


''Hehm., di bandingkan tiga tahun lalu, kurasa buah dadamu yang sekarang terlihat lebih montok lagi., kelak suamimu pasti akan merasa senang. Hee., he..'' bisik Pranacitra lantas terseok melangkah meninggalkan tempat itu. Retno Item merah padam wajahnya. sama seperti tiga tahun silam dia masih juga tidak tahu apakah mesti berterima kasih ataukah menyumpahi kekurang ajaran pemuda pincang ini tujuh turunan.


__ADS_2