
Mendung masih menggantung meskipun hujan sudah berhenti turun. sepasang kaki berjalan terseok diantara gundukan tanah dan nisan kuburan. alas kakinya yang di buat dari papan kayu dan ikatan tali kulit terlihat sudah rombeng dan sedikit lapuk.
Kaki kanannya melangkah ke depan yang kiri terseret mengikutinya. tongkat besi hitam menahan tubuhnya agar tidak miring ke kiri. telapak kaki dan ujung celananya yang gelap terlihat kotor oleh tanah pekuburan yang becek di basahi air hujan bercampur tumpahan darah yang mulai membeku.
Cara melangkah yang aneh ini terlihat sangat menggelikan dan membuat iba hati orang. mungkin dari pada di sebut sebagai langkah kaki seorang manusia, cara berjalan ini lebih pantas di katakan sebagai gerakan cacing atau seekor siput yang sedang merayap.
Hanggajaya yang sedang dilanda kemarahan karena kematian dua orang pengawalnya sampai tidak dapat menahan rasa geli dan jijik. dengan tertawa penuh penghinaan dia mengejek dan menyumpahi pemuda pincang itu.
''Gelandangan busuk sialan., sudah pincang masih berani bertingkah. dari pada hidup penuh kesengsaraan begitu kenapa juga kau tidak mati bunuh diri saja hah., Ha., ha.!''
Sebenarnya Hanggajaya yang cukup punya kecerdikan sempat merasa curiga dan ngeri dengan tingkatan ilmu kepandaian pemuda ini. tapi saat melihat keadaan kakinya yang cacat sebelah membuat dia seketika hilang rasa khawatirnya. hanya saja tuan muda perguruan silat 'Naga Biru' itu lupa., bagi seorang pesilat sedikit saja dia kehilangan kewaspadaan selangkah pula dia mendekati kematian.
Pemuda ini berhenti dua tombak di depan Hanggajaya. tangannya yang pucat namun kekar berotot terlihat menggenggam erat ujung gagang tongkat besinya yang terbungkus selembar kain hitam lusuh. perlahan kepalanya mendongak. rambutnya yang lebat gondrong dan di ikat secarik kain batik lurik menutupi sebagian wajahnya yang tampan namun sedikit pucat.
Angin dingin berhembus rambutnya tersibak, sepasang matanya terlihat jelas. mata itu dingin tanpa menyiratkan perasaan apapun. apakah ada kemarahan, kesedihan, takut, benci atau gembira dalam sorot mata itu.? tidak seorangpun yang paham.
__ADS_1
Hanggajaya tanpa sadar bergigik ngeri. suara tawanya perlahan lenyap. dia tidak suka tatapan mata pemuda pincang itu. dia seakan melihat mata sesosok mayat. putra ketua perguruan silat Naga Biru itu merutuk. entah kenapa hatinya menjadi gelisah. satu perasaan seram yang belum pernah dia alami sebelumnya. Hanggajaya benci perasaan ini. ataukah., dia mulai ketakutan.? seandainya itu benar tentunya dia enggan untuk mengakuinya.
''Omong kosong. dasar pincang keparat., aku adalah putra ketua perguruan silat Naga Biru yang ternama. beraninya kau meremehkanku.!''
Mulutnya menggertak, kedua tangannya turut bergerak. yang kanan melolos pedang yang tergembol dipunggungnya. tangan kiri mengenggam membentuk kepalan yang lapat- lapat mengeluarkan cahaya dan asap kebiruan. meskipun belum sempurna tapi ilmu pukulan 'Tinju Naga Mendung Biru' yang dia pelajari langsung dari sang ayah sudah termasuk tingkatan yang sangat kuat dalam perguruannya.
Tubuhnya menerjang, bersamaan kepalan tangan biru menghantam. pedang di tangan kanan berputar menciptakan cahaya hujan pedang kebiruan lalu menusuk deras menyasar lima bagian tubuh si pincang. jika serangan pedang cepat dan ganas bagaikan sapuan ekor naga, ilmu pukulan yang di lepaskan jelas lebih berbahaya.
Dalam segebrakan saja Hanggajaya telah mampu lepaskan lima jurus serangan pedang yang di ambilnya dari ilmu pedang Naga Biru. jurus yang dia gunakan bernama 'Sapuan Ekor Lima Naga Mengamuk'. jurus ke tiga sekaligus salah satu yang terkuat dari rangkaian delapan jurus kitab ilmu pedang Naga Biru.!
Tongkat besi hitam di angkat sejajar dada lalu berputar cepat seperti kincir. suara keras menggaung dan sambaran sinar hitam pekat menangkis terjangan pedang Hanggajaya. tangan kirinya berbuat sama dengan lawan, terkepal keras seperti kepalan batu hingga terdengar berkerotokan.
Saat menghantam cahaya hitam kuning yang di sertai gelombang angin keras.dan hawa sepanas api melabrak. lebih tiga kali suara ledakan ilmu pukulan terdengar. belasan kali denting benturan senjata. dalam sekejab saja entah berapa jurus pedang dan tongkat yang sudah terlewati.
Tenaga kesaktian dua dari pukulan sakti bertemu. cahaya biru saling labrak dengan sinar kuning hitam dari pukulan si pincang. pedang patah terpental, darah menetes bagaikan hujan gerimis.
__ADS_1
Jika di hitung mulai awal bentrokan sampai dengan tubuhnya yang terjungkal, semua itu hanya terlewati tidak lebih dari lima jurus saja. Hanggajaya meraung parau namun suaranya cuma terhenti di tenggorokan saja karena ujung tongkat besi lawan keburu menotok jalan suara dan tiga urat penting di bagian tubuhnya hingga membuat pemuda itu lumpuh seketika.!
Tangan kanan yang tadinya menggengam pedang terlihat lunglai. telapak tangannya pecah berlepotan darah. luka paling parah ada di bagian kepalan tangan kiri dari ujung jari hingga ke tulang siku. hancur remuk hangus menghitam.!
Hanggajaya ingin menjerit meluapkan rasa kesakitannya yang teramat sangat. tapi sial., suaranya hanya ada di tenggorokan. dia hendak mengancam, ''Aku Hanggajaya., putra Ki Galing Brajapaksi ketua perguruan silat Naga Biru yang terkenal di jagad persilatan. kau telah berani melukaiku, seluruh murid perguruanku akan mengejarmu, mengulitimu dan mencincang habis tubuhmu.!''
Tapi semua itu cuma bisa terpendam dalam dadanya yang terasa remuk dan sesak. ingin dia pingsan dan tidak ingat apapun, namun totokan si pincang yang aneh membuatnya terus tersadar hingga terpaksa merasakan penderitaan sakit yang seakan tiada akhir.
Pemuda pincang itu cuma sekilas saja menatapnya. biarpun begitu pandangan matanya yang dingin tanpa perasaan itu seakan menjawab, ''Memangnya kenapa kalau dirimu calon pewaris ketua perguruan silat Naga Biru. jangankan kau., seorang pangeran putra raja yang menjadi penguasa negeri ini juga akan bernasib sama jika dia berani mengancamku..''
''Sobat pincang awas.!'' seruan gadis cantik itu terdengar penuh rasa khawatir. terdengar desingan dua buah senjata rahasia berbentuk kelelawar terbang yang terbuat dari lempengan besi hitam melesat cepat menyambar dengan gerakan yang saling bersilangan. cahaya hitam redup terlihat mengiringi senjata rahasia itu pertanda mengandung racun ganas.
Di lihat dari arah datangnya serangan gelap ini terlihat agak menyimpang karena sedikit meleset ke kanan. Wiratama yang marah oleh kelicikan ketua ke empat menjadi kalap. tanpa perdulikan dirinya pemuda ini menyerbu menendang dan memukul hingga beberapa jurus.
Biarpun ilmu silatnya terbatas, tapi karena di lakukan secara mendadak membuat wanita berjubah hitam setengah baya yang bergelar 'Kelelawar Betina Berpedang Hantu' itu rada terdorong tubuhnya hingga lemparan senjata rahasia kelelawar terbang beracun yang dia lepaskan sedikit menyamping.
__ADS_1
''Ketua Kalong Hitam pengecut., wanita jelek pembokong hina.!'' maki Wiratama sambil lepaskan tiga pukulan dan dua tendangan kaki secepat yang dia mampu. di bantu gadis cantik tunangannya yang membekal pedang kembar 'Walet Emas' dia menyerang wanita bernama Nyai Kalong Mangiran itu.