
Daging ular bakar masih tersisa tiga tusuk di atas perapian yang tinggal sedikit arang bara yang semakin mengecil apinya. sate daging ular sanca itu juga mulai gosong. Pranacitra masih berdiri termenung. dalam hatinya dia merasa aneh. diantara kelima gurunya yang terperangkap di Lembah Seribu Racun, tidak ada satupun yang pernah punya masalah dengan Ki Cemeti Nogoseto sang ketua dari perguruan 'Cambuk Naga'.
Ini membuktikan kalau yang bakalan hadir di lereng gunung Merapi untuk beradu nyawa dengannya bukan hanya pesilat yang punya dendam kesumat dengan dia dan gurunya saja, tetapi juga kaum persilatan yang hanya ingin namanya ikut jadi terkenal dan tidak ada sangkut pautnya dengan pembalasan dendam.
''Ketua perguruan 'Cambuk Naga' itu berkata kalau di lereng gunung sudah ada beberapa orang pesilat yang menungguku. kenapa aku mesti terburu- buru naik ke lereng utara Merapi, biarkan saja 'Tiga Singa Buas Bersurai Biru' dan semua pesilat yang mereka undang berkumpul di atas sana agar diriku bisa lebih cepat menyelesaikan semuanya..'' gumam Pranacitra menghela nafas.
Baru saja dia hendak melangkah pergi, dari gerumbulan semak dan pepohonan lebat melesat berpuluh- puluh anak panah hitam dengan kecepatan luar biasa. suara desingan nyaring turut mengiringi sambaran puluhan anak panah yang mengancam hampir seluruh anggota tubuhnya itu.
Bentuk anak panah hitam itu cukup kecil dan pendek, mungkin panjangnya hanya sejengkal jari tangan dengan ujung mata panah berulir seperti baut bor hingga mampu menancap lebih kuat dan dalam pada sasarannya. belum lagi cahaya kehitaman pada mata panah, jelas menunjukkan kandungan racun ganas yang terkandung di dalamnya.
Di lihat dari jarak dan kecepatannya, sangat mungkin puluhan senjata panah hitam itu dilepaskan melalui sebuah alat pelontar yang berpegas kuat hingga mampu melesat cepat dari jarak cukup jauh. meskipun Pranacitra agak terkejut juga melihat serangan ini namun demikian dia tetap tenang.
Tongkat besi hitam ditangan kirinya terangkat sebatas dada. kepala dan tubuhnya sedikit membungkuk, kedua kakinya merenggang ke depan belakang. seiring putaran tubuhnya tongkat besi hitam itu berkelebatan menyapu mental berlusin- lusin panah hitam beracun yang melesat ke arahnya.
Gerakan tongkat dan kakinya sepintas terlihat buruk dan serampangan, padahal sebenarnya itu adalah penggabungan dari jurus 'Tongkat Mencongkel Pintu Alam Gaib' yang diajarkan 'Malaikat Copet' dan ilmu 'Langkah Aneh Mayat Hidup' ciptaan si 'Setan Kuburan'. maka tidak mengherankan jika semua ancaman panah itu dapat dengan mudah dia patahkan. dengan pandangan mata dingin pemuda itu menyapu sekelilingnya. telinganya sempat mendengar beberapa seruan tercekat ngeri dari balik pepohonan.
Rupanya ancaman panah hitam beracun belum usai. dari atas udara muncul hujan ratusan anak panah. sementara dari bawah permukaan tanah juga melesat berpuluh anak panah hitam yang sama. Pranacitra merutuk dalam hati. diserang dari atas bawah seperti ini jelas lebih sulit dibandingkan serangan yang pertama. dia seketika teringat sesuatu.
''Panah hitam beracun dengan ujung mata panah berulir. setiap tikaman panah mengenai bagian manapun dari tubuh, dalam waktu singkat jantung lawan yang akan mengeras hitam keracunan. hanya ada satu aliran dunia persilatan yang menggunakan senjata rahasia seperti ini., kalian pastilah dari perkumpulan 'Panah Pemburu Jantung.!'' serunya sambil terus berjumpalitan diudara.
__ADS_1
Tubuhnya bergerak melayang dan berputaran hanya satu tombak dari permukaan tanah. tangan kiri yang menggenggam tongkat hitam lepaskan jurus 'Tongkat Maut Sembilan Geledek Kematian' sementara kepalan tangan kanan berturut- turut menghantam dengan pukulan 'Naga Penghancur Rembulan' dan jurus 'Tapak Darah Meminta Sedekah.!'
Sembilan kilatan sinar hitam yang dibarengi dengan suara ledakan sekeras guntur menyambar ke atas rimbunan pepohonan. bepuluh dahan pohon berderak patah dan hangus. jeritan ngeri terdengar bersamaan dengan jatuhnya lima orang berpakaian hitam dengan keadaan tubuh berkubang hangus. dedaunan rontok mengiringi terlemparnya mayat yang mendekam dibalik cabang pohon.
Dari delapan penjuru keluar caci maki kotor berseling teriakan parau meregang nyawa, setelah tubuh para anggota perkumpulan 'Panah Pemburu Jantung' tersapu jurus 'Tapak Darah Meminta Sedekah' yang berhamburan dari telapak tangan Pranacitra. terakhir kali dari dalam tanah yang terbongkar akibat pukulan sakti 'Naga Penghancur Rembulan' berserabutan keluar tiga sosok mayat dengan wujud yang tidak utuh. tulang dan potongan tubuh hancur berserabutan. seantero tempat itu mendadak berbau hangus dan anyir darah.!'
Biarpun kelihatannya gerakan tubuh melompat dan berputaran di udara lantas melepaskan tiga jurus ilmu kesaktian sekaligus seperti yang dilakukan si pincang cukup mudah, tapi pada nyatanya semua itu sangatlah sulit dan menguras tenaga kesaktian.
Sejak serangan pertama dari hujan panah hitam menyerbu hingga berakhirnya serangan hanya memakan waktu lima hingga enam gerakan jurus saja. tapi berapa banyak tenaga kesaktian yang Pranacitra hamburkan dalam waktu sesingkat itu.? yang jelas saat ini tubuh si pemuda terlihat gemetaran dan terjatuh ke tanah dengan keluarkan suara mengerang, dia mencabut dua buah anak panah hitam yang menancap di punggung atas dan paha kirinya.
Walaupun mata panah itu hanya seruas jari saja, tapi daerah mulut lukanya sudah mulai menghitam. masih untung tenaga dalam pemuda itu sangat tinggi dan berlapis hawa kesaktian dari batu 'Nirmala Biru' hingga racun itu belum menjalar ke jantungnya. namun begitu untuk dapat menghilangkan racun panah yang sangat ganas, Pranacitra mesti bersemedi sekaligus untuk memulihkan diri.
Kabarnya perkumpulan silat Panah Pemburu Jantung dimiliki oleh seorang bekas pejabat tinggi di istana pada masa lalu yang tidak diketahui nama ataupun kedudukannya. meskipun dalam perkumpulan itu tidak memiliki tokoh persilatan yang punya kesaktian sangat tinggi di belakangnya tapi kerja sama antara para anggotanya sangat hebat dalam memburu sasarannya. dimana setiap anggota dibekali sebuah alat pelontar panah beracun yang dibuat oleh seorang ahli senjata dari negeri Tiongkok.
Dalam memburu sasarannya mereka selalu bekerja dalam kelompok. seolah pantangan bagi para anggotanya untuk bekerja sendirian. yang juga tidak kalah hebatnya mereka juga menguasai sebuah ilmu langka yang disebut sebagai ajian 'Nafas Mati Suri'. dengan ilmu itu lawan yang punya kepandaian tinggi sekalipun juga tidak akan bisa merasakan kehadiran anggota Panah Pemburu Jantung di sekitar mereka.
Dengan ilmu itu hawa kehidupan mereka seolah hilang. bukan saja mampu bertahan hidup di dalam tanah, bahkan pada ruangan yang hampa udara sampai waktu yang cukup lama. karena itulah Pranacitra sampai tidak menyadari adanya para anggota perkumpulan 'Panah Pemburu Jantung' yang mengintainya di balik pepohonan dan dari bawah tanah. sungguh beruntung pemuda ini masih dapat lolos dari sergapan mereka pada saat terakhir.
Mendesak keluar sekaligus memusnahkan racun dari panah hitam tidaklah semudah yang dibayangkan. meskipun memiliki batu sakti Nirmala Biru yang sudah melebur dalam darahnya, tapi tetap saja membutuhkan waktu. dia tidak bisa lagi bergerak mencari tempat yang lebih aman untuk memulihkan dirinya. karena menghentikan semedi pengobatan di tengah jalan secara mendadak sama saja melukai dirinya sendiri.
__ADS_1
Bahkan saat Pranacitra menyadari kehadiran seseorang di depannya dengan hawa membunuh yang mengancam jiwanya, dia tetap tidak bisa berbuat apapun kecuali terus duduk bersila untuk mendesak keluar racun ganas dari Panah Pemburu Jantung sekalian memusnahkannya.
Orang yang datang itu adalah seorang lelaki tua bertubuh sedang agak pendek. rambutnya memutih dan kotor tidak terurus. bajunya yang putih gombrong sudah sangat kotor, robek- robek, bau apek juga bertambalan kain hitam kotak hingga membuat pakaian itu rada mirip papan catur. mata orang tua itu sedikit sipit tapi menonjol keluar. dengan cengar- cengir sambil mengorek upil hidungnya yang kotor dia mengamati pemuda di depanya.
Sikap kakek tua berpakaian gembel itu seperti orang yang kurang waras alias edan. ''Hek., he., kalau dilihat sepertinya bocah ini yang sedang diburu kaum persilatan. Aah., aku juga ingat tongkat besi hitam kepala tengkorak itu. baguslah kalau begitu, aku habisi saja bocah pincang sialan ini sekarang juga. setelah itu aku bisa mendapat pahala dari para petinggi partai Gapura Iblis..''
''Dua orang sobat lamaku, Ki Karwa Manggala si 'Setan Berjari Iblis' dan 'Harum Beracun' maaf saja., kali ini semua imbalan dari ketua partai akan aku ambil sendiri. salah kalian juga kenapa tidak mau menungguku, tapi malah lebih dulu naik ke atas Merapi. Hek., he., orang lain boleh bilang aku gila, tapi diriku bukanlah manusia tolol yang tanpa perhitungan dalam bertindak..''
''Menjadi pemburu mesti paham kelemahan sasaran yang diburu. daripada bersusah payah, lebih baik diam- diam aku mengikuti orang- orang 'Panah Pemburu Jantung' yang mengejarmu. Hhm., mungkin 'Tiga Singa Buas Bersurai Biru' yang telah membayar mereka..'' gumam pengemis tua ini.
''Anak muda., kuakui namamu cukup membuat nyali kaum persilatan menciut. meskipun aku suka dengan sepak terjangmu yang telengas tapi sayangnya kau mesti mati ditanganku..'' gumam orang tua yang berdandan seperti seorang pengemis itu. dari balik bajunya dia mengeluarkan sebilah golok buntung yang sudah kusam berkarat. tapi anehnya senjata butut itu perlahan seperti mengeluarkan cahaya dan asap kemerahan.
''Dulu aku punya dua orang murid. tapi gurumu si jahanam 'Pengemis Tapak Darah' telah membunuh mereka berdua. sekarang gantian diruku yang menghabisi pewarisnya. biarpun dua ditukar satu nyawa masih rugi, tapi harga kepalamu jauh lebih bernilai. Hee., he..'' gelak pengemis tua itu. diujung tawanya golok buntung ditangannya berkelebat menebas pangkal leher pemuda itu.
Cahaya disertai asap kemerahan dari golok buntung menyambar. jarak diantara keduanya hanya terpaut dua tiga langkah saja. sekilas terlihat ujung alis mata Pranacitra berkedut. tangan kirinya menyambar tongkat kepala besi hitamnya. sambil menggulingkan tubuhnya dia menangkis serangan golok lawan hingga tiga empat kali. dua buah tendangan dan pukulan telapak si gembel bersarang di dadanya.
Darah termuntah dari mulutnya. warna darah itu kehitaman. semedi pengobatannya belum selesai tapi dia terpaksa menghentikannya di tengah jalan untuk menahan serangan lawan. meskipun racun panah hitam dapat turut keluar dari mulutnya yang menyemburkan darah. tapi luka dalam baru timbul akibat pukulan lawannya. Pranacitra mengeluh, dia belum sanggup bangkit berdiri.
Dengan sekuat sisa tenaga tangan kanannya mencabik. suasana sekitar berubah menjadi redup dan lebih gelap. pukulan 'Cakar Burung Hantu Memuja Kegelapan' datang menyambar. meskipun kekuatannya jauh berkurang tapi lawan tetap tidak berani meremehkannya. dengan melompat ke udara dan hantamkan satu pukulan sakti dia mampu memusnahkan ilmu kesaktian si pincang.
__ADS_1
Dengan seringai buas golok buntung di tangannya berkelebat di udara. cahaya golok kemerahan menebas kepala pemuda itu. ''Hek., he., Amblas nyawamu bocah pincang keparat.!'' rutuknya bengis. suara makian gusar bersama jeritan kematian terdengar menyayat hati. darah tersembur dari tubuh yang terbelah.!