Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Ambillah., jika kau merasa mampu.


__ADS_3

Kalau di taksir pendatang muda yang aneh ini mungkin baru berumur dua puluh tahun. tapi dari raut wajah dan sorot matanya yang tajam namun dingin tanpa perasaan itu membuat dia seakan terlihat sedikit lebih tua dari umurnya yang sebenarnya.


Pemuda itu masih berdiri diam sedikit menunduk. tangannya memutar- mutar ujung gagang tongkat besi hitamnya yang terbalut secarik kain hitam. sikapnya seperti sedang merenungkan sesuatu masalah yang sulit. dengan menghela nafas berat dia berkata pelan, ''Kau tidak akan pernah dapat menemukan batu sakti 'Nirmala Biru' itu., jadi sebaiknya kau pergi saja dari sini dengan selamat sebelum terlambat..''


Sebuah ucapan yang lebih mirip gumaman ini bukan saja membuat Ki Alu Gempur Bumi terkesiap kaget. bahkan anggota terakhir gerombolan 'Tupai Terbang' yang hampir sekarat menunggu ajal itu juga tercengang. ucapan pemuda pucat itu seakan tidak ada ujung pangkalnya, tapi juga seperti punya kaitan dengan masalah Ki Alu Gempur Bumi.


''Kau ini pemuda edan dari mana hingga berani bicara tidak karuan., katakan apa maksud ucapanmu barusan sebelum aku pecahkan kepalamu.!'' gertak Ki Alu Gempur Bumi. biarpun sempat merasa merinding dengan kedatangan pemuda aneh yang mampu mematahkan pukulan saktinya itu, tetapi kemarahan cepat menyapu semuanya.


Ki Alu Gempur Bumi tertegun sesaat kala melihat si pemuda aneh. matanya yang tajam namun kosong seperti tanpa suatu perasaan apapun itu menatap anggota gerombolan Tupai Terbang terakhir yang masih tergeletak di tanah dan sudah hampir mati. perlahan kakinya mulai bergerak maju.


Gelak tawa menghina seketika tersembur dari mulut Ki Alu Gempur Bumi saat melihat si pemuda yang mulai melangkah. suatu cara berjalan yang menurutnya sangat menggelikan dan memancing rasa iba kini ada di depannya.


Pertama kaki kanannya menapak ke depan di susul yang kiri. tapi kaki itu bergerak pelan terseret seperti seekor siput atau cacing. yang kanan maju yang kiri terseok mengikuti di belakang. rupanya kaki kiri pemuda aneh itu cacat alias pincang.


''Huhm., kiranya kau cuma seorang gembel pincang yang kesasar kemari. bocah cacat sialan., di sini bukan tempatnya mengemis. tapi tak mengapa, nanti akan aku berikan sarapan potongan tulang untuk kau gerogoti seperti seekor anjing. Haa., ha.!''


Gelak tawa menghina dari mulut Ki Alu Gempur Bumi seketika lenyap berganti suara tercekat kaget. bagaimana tidak, sudah jelas sekali kalau pemuda itu pincang sebelah kakinya dan jalannya juga terseok- seok. tapi anehnya hanya dalam waktu beberapa kejap mata saja dia sudah tiba di depan anggota Tupai Terbang yang sekarat menjelang ajal.


Keterkejutan yang di alami Ki Alu Gempur Bumi tidak sampai di situ saja. saat pemuda itu berjongkok di depan bekas anak buahnya dan telapak tangan kanan terulur ke muka, terjadilah sesuatu yang luar biasa.


Mulanya muncul setitik cahaya biru redup di tengah telapak tangannya yang pucat itu. cahaya kebiruan itu terus berkembang dan semakin terang membentuk bulatan sebesar telur ayam. entah bagaimana sekarang ini di atas telapak tangan kanan si pincang telah tergenggam sebutir batu yang memancarkan hawa dingin sejuk bersinar terang kebiruan.


Pemuda pincang itu tancapkan tongkat besinya ke tanah lalu letakkan telapak tangan kirinya di atas dada orang itu. segulung cahaya biru redup berhawa sejuk mengalir dari telapak tangan kanannya yang menggenggam batu kebiruan terus melewati tubuh si pincang dan tersalur ke telapak tangan kirinya yang mengalirkan tenaga murni ke tubuh anggota terakhir gerombolan Tupai Terbang.


Orang ini seperti terjingkat dan keluarkan suara melenguh keras. sesaat di sekujur tubuhnya seperti di selimuti kabut tipis yang berwarna kebiruan. saat semuanya usai dia terlihat jauh lebih baik. meskipun belum mampu bangkit berdiri setidaknya dia sudah dapat menggerakkan tubuhnya. rupanya uap kebiruan yang berasal dari batu sebesar telur ayam itu telah mengobati luka dalam di tubuhnya.


Pemuda pincang itu berdiri menatap acuh Ki Alu Gempur Bumi. tangan kanannya yang menggenggam batu bulat kebiruan terulur ke depan. ''Kau bilang ingin mendapatkan batu sakti 'Nirmala Biru'., lihatlah sekarang batu yang kau idamkan ada di tanganku. ambilah jika memang dirimu merasa mampu..''


Sebuah ucapan yang bernada merendahkan keluar dari mulut seorang pemuda pincang. Ki Alu Gempur Bumi sampai gemetaran tubuhnya menahan hawa kemarahan yang meluap. jika saja tidak ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya, pasti saat ini dia sudah menghajar mampus pemuda cacat yang dianggapnya tidak tahu diri itu.

__ADS_1


''Bangsat pincang ini sungguh membuat hatiku terasa mendidih. ingin rasanya kubuat tubuhnya hancur lebur tidak terbentuk. tapi., dari mana dia bisa mendapatkan batu sakti Nirmala Biru itu..''


''Aah., jangan- jangan Jogo Panut dan kawan- kawannya sudah menjual batu sakti itu pada pemuda pincang ini. tapi., itu rasanya juga tidak mungkin..'' batin Ki Alu Gempur Bumi sangsi.


''Hhm., kalau di lihat dari semua yang terjadi barusan, sepertinya bocah pincang itu sudah dapat menguasai rahasia kesaktian dari batu 'Nirmala Biru' terbukti orang yang sudah sekarat akibat pukulanku juga dapat dia pulihkan sebagian besar lukanya.


''Bangsat sialan., aku tidak boleh terlambat. bagaimanapun caranya benda itu harus kurebut sekalian juga memaksanya untuk mengatakan cara menggunakan batu sakti Nirmala Biru itu..''


''Bocah pincang., berikan batu sakti Nirmala Biru itu kepadaku sekarang. katakan juga tentang semua rahasia penggunaannya lalu kau boleh pergi dengan selamat. atau aku habisi nyawamu.!'' ancam Ki Alu Gempur Bumi bengis.


Pemuda pincang itu meludah lantas tertawa mengekeh. matanya menatap sinis orang tua di depannya. ''Apakah saat ini kau sedang mengancamku., asal dirimu tahu saja tentang dua hal penting. pertama aku bukan orang yang suka di ancam. dan yang kedua adalah., selama ini mereka yang berani mengancamku selalu saja mati lebih cepat. bahkan., banyak di antaranya yang tidak pernah paham bagaimana mereka bisa mati terbunuh..''


Si pincang itu maju selangkah kedepan. tangannya yang memegang batu sakti sedikit teracung. ''Batu sakti Nirmala Biru ada di sini., kau mau ambil atau enyahlah secepatnya dari sini.!''


''Bocah pincang tolol keparat., jangan pernah salahkan aku jika bertindak kejam padamu. matilah kau dalam kebodohanmu.!'' umpat Ki Alu Gempur Bumi penuh kegusaran. tanpa dapat di tahan lagi orang tua itu berkelebat maju kirimkan tiga buah jotosan keras yang di susul dengan dua tendangan cepat yang menyasar bagian bawah perut si pincang.


Angin pukulan yang panas menderu seakan membuat udara sekitarnya terpecah buyar. kekuatan serangan ini sepertinya mampu menumbangkan sebatang pohon besar.


'Bheeet., bheet., wheeesst.!'


'Dhaaass. dhees., dhraaak.!'


Di serang secara buas begitu rupa tidak membuat si pincang kalang kabut. tanpa menggeser tubuhnya, dengan tangan kiri dia memutar tongkat besi hitamnya hingga tercipta sebuah gulungan sinar hitam pekat seakan sebuah perisai gelap pelindung tubuh. hebatnya semua serangan lawan di buatnya mental berikut tubuh orangnya.


''Kurang ajar., kau memang layak mampus.!'' umpat Ki Alu Gempur Bumi sambil berjumpalitan ke udara. tubuh orang tua itu masih sempat melayang beberapa saat lamanya seperti seekor elang buas yang sedang mengincar mangsanya, sebelum meluruk ke bawah sambil kedua kepalan tangannya yang berselimut asap dan cahaya putih bergerak mengepruk.!


Dua gulung angin dan cahaya putih yang keras dan terasa sangat berat menggebrak di sertai suara letusan bergemuruh. dalam kemarahannya bekas kepala pasukan kerajaan Majapahit itu telah lepaskan ilmu kesaktiannya yang paling tinggi.


Karena ingin secepatnya menguasai ilmu 'Dua Gunung Meletus' inilah Ki Alu Gempur Bumi sampai kesalahan melatih sehingga berakibat terluka dalam. sebenarnya jika dia memakai ilmu ini dalam pertarungan bukan saja tenaga dalamnya bakal cepat terkuras, tapi juga dapat membuat luka lamanya kambuh.

__ADS_1


Namun dia terpaksa melakukannya karena menyadari kalau ilmu pukulan 'Gempur Bumi' miliknya tidak akan sanggup merobohkan pemuda pincang di hadapannya itu. karena dari bentrokan jurus kesaktian yang terjadi pada gebrakan pertama tadi, dia sampai tidak dapat mengira- ngira setinggi apa tingkat tenaga dalam lawan sebenarnya. tapi yang jelas tubuhnya sampai dibuat mencelat mental ke udara.


Si pincang tetap berdiri diam, sudut matanya melirik sekejap keatas. dia masih sempat menghela nafas prihatin, seakan menyesali sesuatu. ''Sebenarnya aku sudah berjanji pada seseorang untuk tidak lagi gampang membunuh lawan., tapi kau sendiri yang memaksaku untuk melakukannya..''


Bibirnya menggumam, kepalan tangan kanan dan tongkat besi hitam di tangan kirinya bersamaan menghantam. selarik cahaya hitam pekat di sertai sambaran sinar emas dan hitam menggebrak udara. pusaran angin tenaga sakti yang bentrok saling hantam seketika menciptakan gelombang ledakan beruntun.


Bumi berguncang keras, pepohonan di kiri kanan jalan berderak patah, sebagian sampai tumbang terbetot seakarnya. rumput semak belukar tersapu hilang. debu tanah bebatuan berputaran naik menutupi pandangan mata.


Anggota terakhir gerombolan Tupai Terbang terhempas bergulingan hingga terbentur batang pohon besar yang tumbang di jalan. dia mengeluh kesakitan. tubuhnya terasa remuk. kulit dan kedua matanya perih tersapu debu kerikil tajam yang berhamburan ke segala penjuru.


Satu jeritan keras menyayat hati terdengar dari balik gulungan debu yang menutupi pandangan. satu sosok tubuh tinggi kurus berjubah biru tua terhepas ke bawah bagai sebuah layang- layang putus talinya. titik- titik semburan darah segar kehitaman tercurah bagai hujan. tubuh Ki Alu Gempur Bumi terkapar hanya dua langkah saja di samping kirinya.


Orang ini nyaris tidak dapat menahan rasa mualnya saat melihat keadaan mayat bekas pimpinannya itu. sebuah lubang hitam hangus menembus batok kepalanya hingga nyaris pecah. bagian perut sebelah kiri jebol dan hangus menghitam hingga terlihat usus dan lambungnya yang gosong terburai keluar berbau menyengat hidung. darah yang keluar berwarna kehitaman. sungguh suatu kematian yang mengerikan.


Sepasang mata orang tua yang semasa hidupnya pernah menjadi salah satu kepala pasukan kerajaan Majapahit, seangkatan dengan Ki Musang Laga ketua perkumpulan 'Musang Kelabu' itu membeliak seperti hendak keluar rongganya.


Kata orang mata adalah jendela hati. saat menatap kedua mata yang melotot itu, orang seakan dapat melihat rasa tidak percaya, penyesalan dan ketakutan yang teramat sangat sedang di alami Ki Alu Gempur Bumi sewaktu ajalnya tiba. anggota terakhir Tupai Terbang palingkan kepalanya. biarpun dia benci dendam dengan bekas pimpinannya itu, tapi tetap saja dia merasa tidak sampai hati dan ingin muntah melihat kematiannya.


Di jurusan lain si pincang tetap tegak berdiri di tempatnya semula, kepalanya menunduk mengamati kedua kakinya yang melesak ke dalam tanah hingga sebetis. tanah yang dia pijak dalam jarak lingkaran dua tombak keliling terlihat rengkah terbongkar.


Dalam adu jurus kesaktian tadi pemuda pincang itu sudah lepaskan jurus 'Tongkat Maut Pemecah Rembulan' dan 'Raungan Naga Kehancuran' karena dia sadar lawan telah kerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk menghantamnya. biarpun dia sanggup menghabisi lawan, tapi si pincang juga terluka dalam.


Dengan punggung tangannya dia menyeka ujung bibirnya yang meneteskan darah. dia mendongak pejamkan matanya. dalam benaknya terbayang wajah polos seorang gadis enam belas tahunan yang meskipun tidak begitu cantik tapi sangat menarik hati.


Sambil menghela nafas seperti menyesali sesuatu dia menggumam, ''Aaih., sepertinya aku akan kesulitan untuk memenuhi janjiku pada gadis itu agar tidak mudah membunuh lawan- lawanku..''


*****


Asalamualaikum., salam sejahtera. mohon tulis komentar, kritik dan saran. like👍 atau vote jika anda suka. Terima kasih. Wasalam.

__ADS_1


__ADS_2