Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Orang menyebalkan yang alergi wanita cantik.


__ADS_3

Warung makan yang berdiri di tepian sebuah sungai yang bernama sungai 'Canggu' itu selalu ramai pembeli. selain berjualan makanan, pemilik warung juga membuka usaha jasa penyeberangan sungai dengan menggunakan rakit bambu yang dilakukan dua orang pekerja lelaki muda. kebanyakan orang yang menggunakan jasa penyeberangan ini adalah kaum pengembara dan saudagar.


Mereka yang sudah tiba dari seberang sungai yang berada di daerah Kediri itu biasanya mampir sebentar untuk mengisi perut atau membeli bekal makanan untuk di perjalanan. sungai Canggu yang kabarnya masih berhubungan dengan aliran sungai Brantas itu meskipun tidak begitu lebar tapi cukup dalam dan deras arusnya.


Siang itu udara terasa panas meskipun diatas agak mendung. serombongan penyeberang terlihat menuruni rakit bambu besar dan panjang yang dikemudikan oleh dua orang pemuda kekar setelah sebelumnya membayar sekeping uang tembaga berukuran kecil untuk satu orang penumpang rakit.


Mungkin perlu juga diketahui kalau alat pembayaran saat itu berupa kepingan bundar uang tembaga, perak dan emas dengan ukuran kepingan kecil, sedang dan besar. dua keping uang tembaga kecil sama dengan satu keping uang berukuran sedang. dua kepingan uang tembaga berukuran sedang sama nilainya dengan sekeping uang tembaga yang berukuran besar. jadi., empat keping uang tembaga ukuran kecil sama dengan sekeping uang tembaga yang besar. perbandingan itu semua juga berlaku untuk uang perak maupun emas sebagai alat pembayaran dengan nilai yang tertinggi.


Dari belasan orang penumpang yang baru turun dari rakit, lebih dari separuh langsung melanjutkan perjalanannya. rupanya pemilik warung makan tepi sungai Canggu itu punya naluri dagang yang tinggi, karena di samping warungnya juga terdapat gerobak dan kereta kuda yang siap disewa untuk mengantarkan barang serta para pedagang dengan tujuan jarak pendek. seorang lelaki setengah umur yang menjadi kusirnya terlihat duduk dibangku menunggu para penumpang.


Enam orang sisanya sama masuk ke warung dan memesan makan siangnya. diantara mereka terlihat seorang gadis cantik jelita berbaju jingga yang langsung memilih duduk di pojokan. seakan tidak perduli dengan pandangan mata para pengunjung warung yang terkagum padanya, gadis itu terus mengedarkan pandangannya ke sekeliling warung yang cukup luas dan terdapat sepuluh meja kayu dan bangku tempat duduk.


Pandangan mata wanita cantik itu berhenti pada seorang pemuda berpakaian gelap yang duduk sendirian diujung warung dengan pandangan matanya menghadap ke arah sungai sambil ngemil seikat kacang dan kedelai rebus. gadis berbaju jingga itupun tersenyum senang. dengan cepat diapun berpindah ke tempat pemuda itu duduk.


Beberapa mata pengunjung warung menatap iri dan sinis pada pemuda muka pucat yang terlihat mirip gelandangan itu dihampiri oleh seorang gadis cantik. ''Apa mata gadis cantik ini buta hingga lebih memilih duduk bersama pemuda pucat mirip gembel itu. Huhm., sialan. seperti tidak ada lagi pria lain saja yang lebih pantas diwarung ini.?'' batin sebagian pengunjung kesal.


''Eehm., eh kebetulan sekali kita bertemu disini. aku., aku juga sedang dalam perjalanan karena suatu keperluan..'' ucap gadis itu lalu duduk dibangku depan si pemuda yang masih diam acuh. ''Eeh., kau tidak keberatan bukan kalau aku duduk di sini. karena ada beberapa hal yang ingin kusampaikan padamu..''

__ADS_1


Pemuda itu terus memandangi aliran sungai Canggu yang hanya berjarak selemparan batu dari tempatnya duduk dan cuma terhalang dinding anyaman bambu setinggi pinggang. ''Ini warung makan, bukannya tempat pribadi. kenapa juga meminta ijin. lagi pula., kau sudah duduk duluan..'' pemuda itu menjawab dingin sambil habiskan kacang kedelai rebusnya.


Sikap si pemuda yang acuh membuat gadis cantik berbaju jingga itu kesal dan malu. tapi dia tetap berusaha tenang. baru saja dia hendak melanjutkan ucapan, di luar dugaan pemuda itu sudah mendahuluinya bicara, ''Katakan terus terang apa tujuanmu mengikuti diriku sampai jauh ke wilayah Kediri ini.?'' Pertanyaan ini membuat si gadis terperanjat. ''Sii., sia., siapa yang mengikutimu. kita hanya ber., bertemu disini secara keb., kebetulan saja. kau jangan berani bicara seenaknya.!'' bantahnya gugup dengan raut muka merah padam menahan marah dan malu sambil gebrak mejanya.


Keributan itu membuat para pengunjung menoleh. bahkan seorang wanita pelayan yang hendak mengantarkan pesanan untuk gadis itu tersurut mundur. gelas kendi minuman dan cobek periuk berisi makan di tangannya hampir terlepas nyaris tumpah. ''Maaf jika saya lancang bicara., tapi jika kalian masih ingin makan disini harap jangan membuat keributan di dalam warung..'' tegur pelayan itu sambil menghidangkan pesanan di atas meja lalu bergegas pergi.


''Kau dengar tidak ucapan pelayan itu, jadi jawab saja kenapa dalam waktu lima hari ini sejak dari gunung Bromo kau terus mengikuti aku. bukannya pulang ke sarangmu untuk merawat kedua saudaramu yang masih terluka, malah kelayapan mengintil orang lain. ataukah Aahh., jangan- jangan dirimu mulai tertarik denganku yah.?'' sindir pemuda itu menyeringai licik.


Karuan saja gadis cantik yang bukan lain adalah Jingga Rani itu mengkelam mukanya. ''Pemuda pincang sialan, jangan dikira kau telah menyelamatkan nyawa kami lantas dirimu bisa berkata sembarangan. chuih., kau pikir dirimu siapa dan apa bagusnya sampai begitu percaya diri. dasar tidak tahu malu.!'' dampratnya sambil berdiri menunjuk muka si pemuda pucat yang tentunya Pranacitra ini.


Saking jengkel dan marahnya Jinggga Rani sampai tidak tahu mesti berkata apa kepada pemuda pincang yang menurutnya sangat sombong dan tidak tahu diri ini. ''Dasar pemuda pincang gila. sebenarnya darimana dia mendapatkan kepercayaan dirinya yang keterlaluan itu. sudah kakinya cacat, mukanya pucat, melarat, bajunya dekil, sombong lagi. huhm., menyebalkan..'' geramnya dalam hati.


Gadis jelita pimpinan dari 'Lima Elang Api' itu merasa heran dengan dirinya sendiri yang sampai mau- maunya mengikuti pemuda pincang itu secara diam- diam. padahal selama ini sudah banyak pemuda gagah tampan dari berbagai kalangan yang berusaha untuk menarik perhatiannya, tapi dia tetap tidak merasa tertarik bahkan memandang rendah mereka semua. sungguh tidak dia sangka pemuda yang tahu jika sedang dibuntuti itu malah bersikap dingin dan memandang sinis padanya. bagaimana hati gadis itu tidak menjadi semakin kesal dan terhina.


Baru saja Jingga Rani hendak mengumbar amarahnya, dari salah satu meja pengunjung warung yang berada dideretan tengah, berdiri lima orang lelaki. seorang diantaranya yang nampak lebih muda dan gagah berbaju kuning keemasan bicara setengah membentak sambil gebrak mejanya. ''Dasar gembel tidak tahu diri, kelakuanmu yang tidak menghargai seorang wanita cantik sungguh merendahkan derajat kaum lelaki.!''


Bersama empat kawannya yang sedikit lebih tua dan berpakaian sama warna kuning tapi dari bahan kasar dia bergerak menghampiri. sebentar saja mereka berlima sudah berada di samping Jingga Rani. dengan sikap dan tutur kata sopan pemuda itu menjura hormat.

__ADS_1


''Mohon maaf nona jika saya lancang bicara, perkenalkan namaku Gading Arwana. kurasa nona tidak perlu mengambil hati atas sikap kurang ajar gelandangan busuk yang tidak tahu diri ini. biar diriku sang calon pewaris padepokan silat 'Gading Emas' yang akan memberinya pelajaran tentang arti kata sopan santun.!''


Alis mata Pranacitra sedikit mengernyit. wajah pemuda itu selintas mengingatkannya pada seseorang. sambi terkekeh nyengir dia habiskan kendi tuaknya. ''Nah., apa kubilang. masalah sudah mulai datang bukan. Aah., aku harap maafmu saudara. maklumilah ucapanku yang mulai ngelantur. mungkin diriku sudah mabuk. Eehm kurasa., nona cantik ini memang hanya cocok dengan pemuda gagah dan berkelas sepertimu. nah., selamat tinggal.!''


Baru saja ujung ucapannya habis, Pranacitra sudah keluar melompati dinding bambu pembatas warung setelah sebelumnya sempat meninggalkan beberapa recehan tembaga, lalu lenyap dibalik pepohonan tepian sungai. pemuda baju kuning itu tertegun sementara Jingga Rani melongo. ''Hei., kaa., kau., kau hendak pergi kemana.?'' seru Jingga Rani panik bercampur kesal.


Mekipun agak kaget dengan kecepatan gerak pemuda gelandangan itu, tapi Gading Arwana tidak terlalu memikirkannya. justru malah kebetulan baginya karena tidak ada orang lain yang menggangunya untuk berkenalan dan dekat dengan wanita cantik berbaju jingga ini.


''Haa., ha., sekarang nona tidak perlu lagi merasa terganggu dengan gelandangan sialan itu. jika di ijinkan aku ingin sekali berkenalan dan sekalian mengundangmu untuk datang ke perguruan Gading Emas..'' ucap Gading Arwana setengah membungkuk hormat diikuti keempat kawannya.


''Asal nona tahu saja, kau sungguh beruntung karena diundang oleh tuan muda Gading Arwana. putra tertua dari Nyai Gading Wikuni yang berjuluk si 'Gading Gajah Sakti' ketua perguruan Gading Emas..'' ucap salah satu dari empat pengikut Gading Arwana. pemuda itu terlihat senang mendengar ucapan kawannya.


Jingga Rani menoleh dan tersenyum manis hingga pemuda itu terpesona agak blingsatan. tapi kejap kemudian senyuman manis dibibir merah itu lenyap berganti makian kotor. ''Para begundal tengik dan bodoh seperti kalian hendak mengundangku., phuih., biar aku bangunkan dulu kalian dari alam mimpi. gara- gara kau semua urusanku jadi kacau.!'' bentak Jingga Rani penuh kekesalan.


Tanpa banyak bicara kedua tangannya yang putih halus bergerak memukul, membabat dan mencengkeram. sementara kaki kirinya turut berputar kirimkan tendangan. angin serangan jurusnya keras dan tajam laksana sambaran sayap dan cabikan cakar burung elang.


Lima orang yang mengaku murid perguruan Gading Emas itu sama sekali tidak pernah mengira kalau gadis cantik jelita itu bukan saja berilmu silat tinggi, tapi malah melancarkan serangan ganas pada mereka. tanpa ampun dua orang terjungkal roboh sementara satu lagi patah sebelah kakinya.!

__ADS_1


__ADS_2