Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Pertarungan Srianah. (bag1)


__ADS_3

Biarpun cukup terkejut dengan semua yang dikatakan oleh Gendol namun Srianah tetap bersikap tenang. dengan lebih dulu mengelap keringat ditubuhnya dan mengencangkan lilitan kain jarik hitam yang menutupi bagian pinggang hingga lututnya, gadis manis itu menyuruh kedua orang pembantunya untuk tetap berada di dalam.


Sekali bergerak seringan daun, tubuhnya sudah berkelebat keluar gubuknya. Gendol sesaat merasa kebingungan sebelum akhirnya membuat keputusan. entah kenapa otaknya jadi sedikit pintar. dia menyuruh mbah Tumi agar pergi menemui penduduk kampung terdekat yang punya hubungan sangat baik dengan Srianah lewat pintu belakang untuk meminta bantuan mereka.


Meskipun sempat ragu tapi nenek itupun menurut. dengan mengendap- endap dan memanfaatkan suasana yang masih gelap mbah Tumi berhasil keluar dari sana. sementara itu Gendol mengambil sebilah kapak yang biasa dia gunakannya untuk membelah kayu bakar. dengan busungkan dadanya pemuda itu turut keluar menyusul majikannya.


Srianah berdiri bertolak pinggang. matanya sedikit mengernyit karena sempat silau oleh cahaya dari beberapa obor yang berada ditangan para pendatang itu. tubuh gadis enam belas tahunan meskipun agak pendek tapi padat ramping itu terlihat sangat menarik ditimpa nyala api obor. Srianah tidak perduli dengan pandangan dari beberapa lelaki yang menyiratkan kecabulan karena semasa dia masih mengembara sudah sering melihat tatapan penuh nafsu kotor seperti itu.


Sekali pandang saja Srianah langsung tahu kalau diantara dua puluhan orang begundal yang datang menyatroni tempatnya paling tidak ada tiga orang yang punya kepandaian lumayan tinggi dilihat dari ketenangannya serta gerak- gerik mereka yang ringan dan cepat. bahkan diantara ketiga orang itu ada satu yang membuat Srianah gelisah.


Kalau dilihat dari pakaiannya, dua orang diantara mereka itu yang sama berwarna putih keperakan, bisa dipastikan kalau keduanya berasal dari golongan yang sama. umur mereka mungkin tiga puluh lima tahunan dengan tampang lumayan gagah. tapi yang membuat Srianah merasa terancam adalah orang berjubah coklat kehitaman yang berdiri di tengah. meskipun terus menunduk tapi dari dalam dirinya seperti terpancar hawa nafsu membunuh yang menyeramkan.


Di lihat dari perawakannya yang tinggi kekar dengan rambut gondrongnya bisa di tebak kalau orang ini juga masih muda, mungkin baru empat puluhan tahun. Srianah juga tahu kalau sisanya adalah para tukang pukul bayaran. mata Srianah menatap tajam ke belakang tubuh mereka. dia dapat melihat ada beberapa pedagang pasar yang pasti telah membayar mereka semuanya.


Saat bertemu pandangan mata Srianah tubuh para pedagang itu agak menyurut ngeri. maklum saja beberapa waktu lalu beberapa rekan mereka sampai pingsan, luka- luka dan patah tulang dihajar gadis ini. tetapi itu cuma sesaat saja karena sekarang selain jumlah mereka yang datang lebih banyak juga ada tiga pesilat bayaran yang tangguh berada di pihak mereka.

__ADS_1


''Aku sedang sangat sibuk mempersiapkan ramuan jamu untuk para pelangganku. jadi jika kalian tidak ingin membeli jamu buatanku sebaiknya lekas pergi dari halaman rumah ini. jangan membuang waktuku yang berharga.!'' bentak Srianah. suara gadis itu terdengar sangat keras karena dilambari tenaga dalam.


''Mbak Srianah., aku datang membantumu. akan kubelah tubuh orang- orang pasar itu dengan kapak ini jika berani menyakitimu.!'' teriak Gendol yang baru tiba disampingnya sambil mengacungkan kapak pembelah kayu bakar. perasaan Srianah campur aduk antara merasa gusar karena pembantunya tidak mau menurut untuk tetap berdiam dalam gubuk, juga ada rasa haru atas kesetiaannya.


Meskipun begitu tetap saja Srianah mengumpatnya. ''Dasar bodoh., kenapa kau malah muncul kemari.!'' Gendol hanya nyengir tanpa perduli. ''Aaa., aku., aku mem., memang bodoh. tapi buu., bukan penakut. laa., lagg., lagi puu., pula kuu., kuu., kurasa aku cuu., cukup kuat..'' jawabnya tergagap.


Mendengar itu Srianah cuma bisa mengeluh sambil tepuk jidatnya dan geleng- geleng kepala. dalam hatinya dia membatin, ''Bukan masalah kau kuat dan berani, tapi jika aku sendirian saja perhatianku tidak akan terpecah untuk mengawasimu hingga diriku lebih bebas bergerak..''


''Eehm., tapi yo wis lah. arep piye maneh. bocah lanang gemblung iki ora bakalan gelem nurut. (tapi biarlah. mau bagaimana lagi. anak lelaki bego ini juga tidak akan mau menurut) sudah terlambat bagi Gendol untuk kabur. lagi pula., sebenarnya dia bermaksud baik..'' hanya itu yang sempat terlintas di pikiran Srianah karena pihak lawan sudah mulai berulah.


Jika perempuan lain yang mendengarnya hampir pasti dia akan langsung mengamuk atau setidaknya mencaci maki karena ucapan yang sangat memalukan itu. tapi Srianah bukanlah gadis remaja sembarangan. dengan santai dia malah maju mendekat sebelum menjawab dia sempat menyeringai.


''Jamu semacam itu tentu saja bisa aku buat. malahan ada seorang saudagar kaya beristri lima yang jadi pelanggan tetapku, karena jamu kuat buatanku dia mampu memuaskan kelima orang istrinya walaupun lelaki itu sudah berumur lebih dari enam puluh tahun..''


''Sungguh tidak kusangka., lelaki yang masih muda sepertimu sudah membutuhkan bantuan jamu kuat seperti itu. aku sangat prihatin dan bersimpati padamu. meskipun di luar dirimu nampak masih muda dan gagah, tapi sayangnya di bagian bawah perutmu lembek, keropos dan mungkin juga., kecil mungil..''

__ADS_1


''Pasti selama ini., dirimu selalu menjadi bahan hinaan kaum wanita yang pernah kau tiduri karena hasrat mereka tidak pernah terpuaskan olehmu. Aaduuh., aku jadi tidak tahu mesti harus ikut bersedih atau malah tertawa melihat nasib malangmu. dasar lelaki mandul, kenapa kau tidak bunuh diri saja.!'' ejek Srianah mencibir sinis.


Hampir semua orang yang ada disana sama sekali tidak menyangka kalau gadis muda yang sepintas terlihat lugu ini mampu berkata kotor seperti itu. bagi kebanyakan kaum pria, penghinaan terbesar adalah jika dia disebut sebagai lelaki mandul yang tidak sanggup memuaskan pasangannya.


Demikian juga dengan lelaki pendek berbaju putih keperakan itu. saking marahnya dia sampai gemetaran dengan wajah merah padam dan terlupa mesti berbuat apa. apalagi beberapa orang yang datang bersamanya melirik sinis seolah mereka benar mengira kalau dia seorang lelaki pecundang dalam urusan ranjang.


Namun orang ini memang tidak perlu untuk berbuat apapun pada Srianah, karena mendadak saja tubuh gadis itu sudah berkelebat ke depan. tangan kakinya bergerak memukul dan menendang dengan keras dan sangat cepat. sasaran yang dia incar justru para tukang pukul bayaran yang berdiri paling jauh darinya.


Dengan ilmu peringan tubuh 'Sembilan Daun Melayang' ajaran si 'Gembel Sakti Mata Putih' dia dapat bergerak cepat dan ringan seperti hembusan angin. seperti kebiasaan Srianah jika sudah bertarung, dia akan gunakan jurus terkuat dan tercepat dalam merobohkan musuhnya. sasaran yang dia tetapkan memang tidak salah, karena mereka yang berdiri paling jauh pasti tidak pernah mengira akan jadi korban pertama serangan lawan.


Secara umum dalam suatu pertarungan yang melibatkan banyak pengepung, hampir pasti seseorang lebih memilih untuk menyerang lawan yang paling dekat dengannya karena dirasa lebih mudah. tapi kadang dia lupa kalau orang yang terdekat biasanya malah paling siap menyerang dan waspada.


Sebaliknya yang berada paling jauh lebih merasa aman hingga cenderung tidak siap jika diserang. tidak ampun lagi suara raungan kesakitan di timpali makian sumpah serapah yang bersautan seketika terdengar memecah suasana awal pagi. dalam sekali gebrakan saja, tangan dan kaki Srianah mampu membuat tiga orang lawan terjungkal roboh dengan tulang iga patah.!


*****

__ADS_1


Silahkan tulis komentar Anda. jika bisa tolong Share novel ini ke teman" reader pembaca yang lainnya. Terima kasih🙏.


__ADS_2