Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Pelangi Kematian.


__ADS_3

Hujan gerimis yang turun pagi ini terasa cukup singkat. beberapa hari belakangan air hujan yang jatuh dari langit tidak sebanyak bulan lalu, rentang waktunyapun hanya sebentar saja. mungkin musim hujan sudah berada di bagian penghujungnya. awan kelabu diatas langit hanya tersisa gumpalan putih kecil. sebelum hilang tersapu cahaya mentari.


Seorang bocah lelaki berumur sembilan atau sepuluh tahunan terlihat bermain di dekat sungai kecil bersama beberapa teman sebayanya. kalau di perhatikan ada keanehan pada diri bocah itu. jika semua anak lelaki dan perempuan yang bermain dengannya sama berteriak dan tertawa riang saat bersenda gurau sambil mandi di sungai, bocah itu cuma bisa tersenyum saja. jika ada yang terdengar dari mulutnya hanyalah suara ''Aauu., aa., auu., aau..'' rupanya dia seorang bocah yang bisu.


Bocah lelaki bisu itu tertegun melihat ke atas langit. disana muncul seberkas sinar warna- warni. ''Hei., lihat ada pelangi dilangit sana.!'' seru seorang bocah lelaki. ''Wah., indah sekali warnanya..'' ujar yang lainnya. bocah bisu itu berlarian menghampiri salah seorang wanita muda yang sedang mencuci baju bersama dengan beberapa perempuan desa lainnya.


Dengan memakai isyarat tangan dia menunjuk ke atas sambil bibirnya tersenyum. wanita yang umurnya mungkin baru dua puluhan tahun dan terlihat paling cantik dibandingkan semua rekannya itu turut tersenyum. dengan memeluk si bocah dia berbisik, ''Kau pasti teringat paman pincang itu. karena saat dia berpamitan pergi, hujan gerimis baru saja reda. waktu itu di langit juga muncul pelangi yang indah seperti ini..''


Bocah bisu itu mengangguk sandarkan dirinya kebahu kiri wanita cantik yang hanya memakai selembar kain jarik melilit tubuh dan baju dalam berupa kutang, sama seperti para wanita desa lainnya yang sedang mencuci pakaian di sungai kecil itu.


''Di manapun paman pincang itu sekarang berada, dia pasti dapat melihat pelangi yang sama dengan yang sedang kita lihat ini. jadi., kita doakan saja agar dia selalu sehat dan dilindungi Yang Maha Kuasa..'' ujarnya sambil mencium kening si bocah bisu.


Sementara itu semenjak berpisah, di dalam hatinya selalu timbul harapan agar suatu ketika kelak mereka berdua dapat bertemu lagi dengan si pincang. ''Ini adalah rumahmu juga., meskipun tidak ada pertalian darah atau ikatan apapun diantara kita bertiga, tapi kau sudah kami berdua anggap sebagai bagian keluarga kecil ini..''


Wanita cantik itu masih ingat betul setiap patah kata yang dia ucapkan pada pemuda pincang yang tidak dia ketahui namanya ini. saat itu mereka berdua sedang duduk diatas ranjang tempat tidur kayu yang berada di salah satu ruang kamar di dalam rumah. dia juga ingat betul kalau malam itu dia mengenakan pakaian yang sama dengan yang di pakainya mencuci saat ini.


Beberapa tahun berada disarang pelacuran, berpindah dari dekapan satu lelaki ke pria yang lainnya, membuatnya tahu jika tubuh dan wajahnya yang ayu cukup mengundang birahi para lelaki hidung belang. meskipun tanpa dia harus merayu terlebih dulu, mereka sudah diamuk nafsu. demikian juga saat berdua dengan si pincang, dia hanya diam menunggu.

__ADS_1


Tapi pemuda pincang yang pucat namun tampan itu cuma mengelus rambutnya. ''Harap kau jaga dan rawat saja anak itu sebaik mungkin, bagiku itu sudah lebih dari cukup. aku paham maksud hatimu untuk membalas budi. tapi., kau tidak perlu melakukannya. dirimu mungkin wanita yang cenderung pasrah, tapi dalam menjalani hidup kau bukanlah perempuan yang gampang menyerah..''


Wanita cantik bekas penghibur hidung belang itu sempat tertegun, meskipun dia sadar kalau dirinya hanyalah wanita rendahan yang kotor tapi sungguh tidak menduga tubuhnya bakal mendapat penolakan dari seorang lelaki. tapi yang membuatnya kagum adalah cara pemuda itu menolaknya. ucapannya seolah membuat dia merasa kembali punya harga diri.


Seruan para wanita desa yang mengajaknya untuk pulang seketika menyadarkan lamunan perempuan itu. dengan mengemasi cuciannya dia menyahuti kawan- kawannya. sambil tersenyum penuh harapan dan keyakinan dia menggumam, ''Orang itu pasti selalu selamat dan suatu ketika nanti dia akan datang untuk mengunjungi kami..''


Tiga sosok bayangan biru terlihat berturut- turut berkelebat keluar dari dalam sebuah mulut goa batu yang bagian luarnya berbentuk kepala seekor singa besar sedang membuka mulutnya. anehnya bebatuan disekitar goa kepala singa itu berwarna dan berkabut tebal kebiruan yang kabarnya mengandung racun.


Di daerah gunung Merapi hanya ada satu goa batu yang punya bentuk aneh seperti itu. lebih tepatnya berada di lereng gunung sebelah utara dan bernama 'Goa Singo Biru' tempat tinggal tiga orang perampok jahat yang punya gelar 'Tiga Singa Buas Bersurai Biru.!'


Tiga bayangan biru yang baru saja keluar dari lubang goa berbentuk mulut singa itu jelaslah adalah Tiga Singa Buas Bersurai Biru. hampir empat bulan mereka bertapa memperdalam ilmu kesaktian semenjak keluar sarang dan kalah bertarung dengan seorang pemuda pincang di daerah kaki gunung Semeru.


Dengan didahului bentakan keras, kedua cakar mereka bergerak membeset dan meremas. sinar- sinar biru tajam berbentuk cakar binatang buas menyambar pohon besarnya dua kali pelukan orang dewasa yang tumbuh di depan sebongkah batu sebesar kerbau. pohon besar itu berderak keras sebelum patah roboh tercabik- cabik menjadi puluhan potong. sampai akhirnya batu besar dibelakang pohon itupun turut hancur pecah menjadi kepingan.


Tiga Singa Buas Bersurai Biru saling lirik, lantas tertawa bergelak hingga menggoncang seantero hutan dilereng utara gunung Merapi. setelah beberapa bulan mendekam di dalam sarangnya dan berlatih keras, pada hari ini mereka akhirnya dapat keluar dari pertapaan dengan bekal ilmu yang lebih sempurna.


''Haa., ha., saudaraku Singo Rawit dan Singo Parut, setelah berusaha sangat keras akhirnya kita mampu menguasai ilmu 'Cabikan Singa Neraka Biru' yang selama ini selalu gagal kita kuasai. jika saja guru kita bertiga masih hidup, tentunya dia akan turut bangga dengan semua keberhasilan ini.!''

__ADS_1


''Kau benar saudaraku., paling tidak sekarang ini kita sudah dapat melaksanakan pesannya untuk menguasai ilmu kesaktian ciptaannya yang terakhir sebelum paduka guru kita Ki Singo Geni Merapi meninggal..'' ujar Ki Singo Parut kepada Ki Singo Barong sang kakak tertuanya.


''Dengan demikian, kita bakal lebih mudah untuk dapat mencabik tubuh si pincang jahanam itu demi membalas dendam kekalahan kita sekaligus luka dalam yang puluhan tahun harus diderita guru akibat pukulan dari si 'Setan Kuburan.!'' timpal Ki Singo Rawit penuh dendam.


''Huhm., jika teringat masa lalu kita yang sering kali mendapat cacian dan hinaan dari semua orang karena terlahir dengan tubuh berbulu serupa binatang buas, aku merasa sangat muak dan ingin menghabisi semua orang yang pernah menghina kita..'' dengus Ki Singo Rawit penuh amarah.


''Untungnya takdir dapat mempertemukan kita dengan tuan guru Ki Singo Geni Merapi yang berkenan menjadikan kita bertiga sebagai murid- muridnya, sehingga mampu memiliki ilmu kesaktian sehebat sekarang ini. sekarang kita mesti mulai mengatur segalanya untuk menyambut 'Gelandangan Hantu' keparat itu..''


''Tapi saudaraku., apakah kau yakin si pincang itu bakalan datang memenuhi tantangan kita di lereng Merapi ini.?'' tanya Ki Singo Parut ungkapkan keraguannya. ''Hhmm., dia pasti datang kemari. kalaupun tidak., kita bisa turun gunung dan mengejarnya hingga ke neraka sekalipun.!'' dengus Ki Singo Barong kibaskan sebelah cakarnya ke depan. lima larikan sinar biru menyambar semak pepohonan hingga hancur meranggas.


Agak jauh dari utara kaki gunung Merapi terlihat seorang pemuda berbaju gelap sedang berdiri termenung. wajahnya yang sedikit pucat terlihat menyimpan lelah dan kesepian hati. pagi itu hujan gerimis baru saja berhenti. di langit nampak kilauan sinar panjang melengkung dengan tujuh warnanya yang memukau.


Pelangi pagi hari itu terlihat indah di pandang. tapi mungkin ini juga panorama alam langit yang terakhir kali dapat dia nikmati. meskipun punya bekal ilmu kesaktian sangat tinggi tapi lawan yang bakal dia hadapi mungkin jauh lebih banyak dan hebat dari semua pesilat yang mengeroyoknya dalam panggung kematian di gunung Semeru.


Entah kenapa dia jadi teringat dengan semua orang yang dikenalnya dalam kehidupan. mendiang ayahnya, Ki Rangga dan saudara- saudara seperguruannya di gunung Bisma, kelima orang gurunya di Lembah Seribu Racun, Ki Suta, Srianah, Retno Item, Puji Seruni juga masih banyak yang lain. terakhir seorang perempuan muda yang cantik bekas pelacur bersama bocah lelaki bisu turut terbayang dikepalanya.


Apakah ingatan ini pertanda dirinya akan mati di lereng Merapi.? pemuda itu menunduk pejamkan mata. saat dia mendongak terlihat kilatan sadis di kedua matanya. pelangi itu ada tujuh warna, tapi dalam pandangannya hanya ada satu warna merah., semerah warna darah.!

__ADS_1


*****


Asalamualaikum., silahkan tulis komentar, kritik saran, like👍, vote atau favorit👌 jika anda suka. Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan. 🙏Terima kasih. Wasalamualaikum.


__ADS_2