
Lereng barat gunung Ciremai yang baru saja menyambut suasana pagi hari seketika berguncang keras seakan dilanda gempa. ledakan kekuatan tenaga sakti dari empat pesilat papan atas membuat pelataran padepokan 'Lutung Ciremai' porak poranda. jeritan tertahan yang ditimpali makian kotor juga sumpah serapah terdengar diantara ledakan beruntun.
Tanah bebatuan terbongkar dan pepohonan yang berderak patah sebelum tumbang, juga debu panas yang memedihkan kulit tubuh seolah membakar udara. teriakan para murid perguruan Lutung Ciremai yang terpental oleh angin pukulan sakti semakin membuat kacau tempat itu. Raja dan Ratu Lutung Sakti juga sampai turut terhempas bergulingan diatas tanah.
'Whuuuuss., whuuuss., wheeess.!'
'Shaaaatt., sheeett., sheeett.!'
'Blaaaaamm., blaaaam., blaaaaarr.!'
''Setan pincang keparat.!'' rutuk 'Nyai Dupa Tumbal. ''Bocah pincang bangsat.!'' 'Sepasang Pengemis Bangkai' turut mengumpat hampir bersamaan. biarpun mereka dapat selamat dari ilmu pukulan 'Tapak Darah Meminta Sedekah' namun tubuh ketiganya sama terseret mundur hingga nyaris membentur dinding perguruan itu.
Keadaan ini adalah sebuah kesempatan bagi dua murid utama padepokan Lutung Ciremai yang bernama Palastra dan Darmanik beserta lima orang murid lainnya yang berdiri paling dekat dengan tempat lawan berada untuk balik menyerang ketiga tokoh silat jahat yang baru mengatur aliran darahnya akibat beradu aji kesaktian dengan si pincang.
Tanpa perlu bersepakat terlebih dulu, sambil gulingkan tubuhnya mereka membabat selakangan kaki Sepasang Pengemis Bangkai juga sekalian menikam perut serta pinggang Nyai Dupa Tumbal dari bawah. meskipun golok tipis yang bentuknya agak melengkung ditangan mereka bukan jenis senjata pusaka tapi gerakan jurus mereka tidak dapat dipandang remeh.
Karena gerakan tubuh berguling ditanah itu adalah pembukaan dari serangan jurus yang disebut 'Lutung Batu Bergulir'. seperti nama jurusnya serangan ini dilakukan secara cepat dari bawah mengarah keatas. sasaran yang diincar adalah bagian pinggang lawan ke bawah.
'Wheett., sheeett., shaatt.!'
'Plaang., claaakk., claang.!'
''Bedebah kunyuk., mampus saja kalian semuanya.!'' maki Nyai Dupa Tumbal gusar karena tidak mengira sisa murid padepokan Lutung Ciremai masih berani menyerangnya. kuali pedupaan tembaga mengibas tiga kali ke bawah lalu mengepruk. golok lawan lawan bukan saja dibuat terpental kepala pemiliknya juga remuk terhantam pedupaan panas.
__ADS_1
Sepasang Pengemis Bangkai yang juga diserang sedikit lebih tenang. tapi balasakejin serangan mereka justru lebih dari Nyai Dupa Tumbal. meskipun sebagian celananya sempat robek tersayat golok, tapi dengan melompat bersamaan setinggi satu tombak ke udara serangan gabungan lawan dapat dihindari.
Dari atas sepasang periuk besi ditangan mereka memukul beberapa kali kebawah. hawa hitam panas dan busuk yang disertai melesatnya kepingan uang receh tembaga berhamburan bagai hujan. ''Kurang ajar., minggat saja semua ke neraka.!'' damprat kedua pengemis jahat itu bengis.
Suatu keanehan terlihat disini. walaupun jelas kalau Sepasang Pengemis Bangkai sudah beberapa kali menggunakan uang recehan tembaga dan perak yang ada diperiuk besinya sebagai senjata pembunuh, tapi isi periuk itu seakan tidak pernah habis. kabarnya ini karena kepingan uang itu bukanlah barang sembarangan, melainkan uang goib yang mereka dapatkan dari dunia lelembut dengan jalan bertapa dan mengikat suatu perjanjian dengan mahkluk siluman jahat.!
''Aaaakh., Aaakh.!'' suara jeritan menyayat hati terdengar bersautan saat tubuh kedua murid perguruan Lutung Ciremai terkena sambaran jurus lawan. tubuh mereka tumbang ditancapi berkeping uang tembaga hitam sebelum akhirnya mengepulkan asap hitam berbau busuk. jika diamati uang yang merajam tubuh kedua orang itu mendadak lenyap bersama terlepasnya nyawa mereka dari raga.
Baik Palastra dan Darmanik juga semua murid yang tersisa sama keluarkan suara tercekat ngeri melihat kejadian itu. tanpa sadar tubuh mereka tersurut mundur dan menggigil seram. meski merasakan dendam atas kematian para saudara seperguruannya tapi apa daya ilmu lawan jauh lebih unggul diatas mereka.
Seandainya saja kepandaian silat dua orang murid utama ini tidak lebih kuat dibandingkan dengan murid yang lainnya hingga sempat menghindar, bisa jadi mereka bakalan bernasib sama dengan kelima orang rekannya yang tewas secara mengerikan ditangan ketiga orang tua jahat itu.
Tapi kedua pemuda ini beserta belasan murid yang tersisa tidak bisa banyak berpikir karena Nyai Dupa Tumbal dan Sepasang Pengemis Bangkai sudah kembali melabrak dengan ganasnya. satu persatu nyawa terlepas seiring tubuh mereka yang roboh binasa bersimbah darah.
Belum lagi dia bersiap sebuah bayangan kepala naga hitam emas yang menyebar hawa panas dan keras menindas sudah menggebrak pukulan sakti 'Naga Penghancur Remburan' telah dilontarkan si pincang. seakan belum cukup, tongkat besi hitamnya juga menusuk deras ke tengah udara. suara ledakan beruntun seolah hujan petir di siang bolong terdengar bersautan. jurus 'Tongkat Maut Sembilan Geledek Kematian' turut pula memburu korbannya.!
Jika pukulan Naga Penghancur Rembulan memang dilontarkan untuk menghabisi si Tampan Suling Emas Pencabut Sukma, maka jurus Tongkat Maut Sembilan Geledek Kematian' sengaja si pincang lepaskan guna menghajar Nyai Dupa Tumbal dan Sepasang Pengemis Bangkai yang hendak membantai para murid perguruan Lutung Ciremai yang tinggal tersisa beberapa gelintir saja.
'Whuuuss., whuuuss., slhaaass.!'
'Blaaaaarr., blaaaaarr., blaaaamm.!'
''Setan alas., pincang keparat edan.!'' maki Sepasang Pengemis Pengemis Bangkai dan Nyai Dupa Tumbal nyaris bersamaan dengan wajah pucat pias. Terpaksa mereka batalkan niatnya untuk menghabisi murid yang tersisa. selain berusaha untuk menghindar mereka juga hantamkan satu ajian untuk menahan pukulan lawan sekaligus melindungi dirinya.
__ADS_1
Suara gemerincing dan berdesing nyaring dari berpuluh uang receh dan gumpalan hawa hitam busuk yang melesat berhamburan menandakan kalau Sepasang Pengemis Bangkai telah keluarkan ilmu 'Hujan Petaka Hitam'. begitupun Nyai Dupa Tumbal, sinar- sinar merah sebesar lidi dari batangan kuali pedupaan panas kembali menebar maut.
Dentuman keras seketika menggoncangkan tempat itu saat dua aji kesaktian saling beradu dengan sembilan larik cahaya hitam pekat yang sekuat halilintar menyambar bumi. bergumpal- gumpal debu pasir dan bebatuan yang membumbung naik menutupi pandangan mata.
Suara pohon dan bangunan kayu yang berderak roboh sampai sebagian terbakar dihantam angin pukulan nyasar membuat segalanya laksana disapu amukan badai topan. Raja dan Ratu Lutung Sakti yang baru saja berdiri kembali jatuh terduduk. tubuh mereka turut diterpa angin kekuatan sakti yang saling hantam.
Biarpun dadanya terasa sesak kedua mata juga perih tidak dapat melihat namun telinga mereka masih jelas mendengar jeritan dan raungan ngeri dari ketiga pesilat tua itu. tapi yang paling terdengar menyayat adalah teriakan si Tampan Suling Emas Pencabut Sukma. ''Aaaaakkhh., sii., siaa., lan. aak., aku., aku., tidak muu., mung., kin kaa., kalah oo., oleh., mu pin., cang kep., kepa., rat.!''
Disaat semuanya mulai jelas terlihatlah pemandangan yang menggidikkan hati. tubuh pemuda yang tadinya nampak gagah kelimis berjubah putih bersih itu kini telah terbujur berantakan dan menyedihkan. sebagian besar wajahnya nyaris gepeng hancur bersimbah darah. tulang bagian dada remuk terkoyak dan mengepul asap panas. suling emasnya terpental hilang entah kemana.
Nafasnya berat tersengal megap- megap. setiap ucapannya terasa dipaksakan. dari mulut, hidung dan kedua matanya terus mengalirkan darah. jika orang ini tidak punya tenaga dalam tinggi pastilah nyawanya sudah terbang ke akhirat sejak awal. biarpun begitu di lihat dari keadaannya dia juga tidak akan mampu selamat dari kematian.
Belum lagi kedua ketua padepokan Lutung Ciremai itu memahami betul apa yang telah terjadi, pemuda pincang itu sudah berkelebat secepat bayangan hantu gentayangan. tongkat besi hitam menusuk bagai mata bor, sementara tangan kiri yang membentuk cakar dipenuhi bulu hitam turut mencabik beringas.
Jurus 'Tongkat Maut Pemecah Rembulan' dan 'Cabikan Gila Burung Hantu Sesat' sengaja dilancarkan si pincang untuk menamatkan nyawa ketiga lawannya yang masih berdiri terhuyung. dengan muka ketakutan sepucat mayat, hampir serempak mereka berteriak ''Aakh., Gadis Berwajah Tengkorak' cepat kau selamatkan kami.!''
Mendengar nama itu disebutkan lawan, si pincang seakan tersengat sesuatu. walaupun jarak antara dirinya dengan wanita bertubuh sangat indah namun punya raut muka sangat menyeramkan ini terpaut cukup jauh hampir belasan tombak dan hanya tinggal tiga jangkauan tangan saja baginya untuk dapat membunuh ketiga lawannya, tapi pemuda bernama Pranacitra itu lebih memilih membalikkan sebagian tubuhnya kebelakang.
Dia merasa kalau diantara kelima pesilat Gapura Iblis, perempuan aneh yang dipanggil sebagai 'Gadis Berwajah Tengkorak' itulah yang paling berbahaya. jurus' Cabikan Gila Burung Hantu Sesat' tetap menyasar tubuh Sepasang Pengemis Bangkai dan Nyai Dupa Tumbal. sementara dengan setengah membalik tubuh Pranacitra hantamkan jurus 'Tongkat Maut Pemecah Rembulan' kearah belakang dimana wanita bermuka seram itu berada.!
*****
Mohon sertakan komentar anda. Terima kasih🙏😊.
__ADS_1