Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Tamu yang tidak diundang.


__ADS_3

Di wilayah pulau Jawa belahan barat ada cukup banyak gunung, salah satu diantaranya adalah gunung Ciremai yang letaknya berada di daerah kadipaten Kuningan. jika hendak kesana melalui perbatasan Jawa tengah mungkin membutuhkan waktu hampir sehari semalam perjalanan berkuda.


Gunung Ciremai merupakan salah satu dari gunung tertinggi di wilayah tanah Pasundan. menurut cerita ada beberapa orang yang kabarnya pernah menjadi pengikut dan murid dari Sunan Gunung Jati yang merupakan salah satu Wali Songo atau sembilan wali penyebar agama Islam dipulau Jawa, yang mendiami sebelah timur kaki gunung itu.


Mungkin mereka berniat untuk menyebarkan kepercayaan baru bernama agama Islam didaerah itu. ada juga beberapa penduduk sekitar gunung yang tertarik dengan ilmu agama turut belajar disana. meskipun masih sangat banyak pemeluk keyakinan lain di sekitar gunung Ciremai, tapi hubungan diantara mereka tetap terjalin dengan baik serta saling menghargai.


Sebaliknya di lereng gunung sebelah barat telah lebih sepuluh tahun lalu berdiri sebuah padepokan silat yang bernama 'Lutung Ciremai'. pendiri sekaligus ketuanya adalah sepasang suami- istri tua yang dikenal dengan julukan 'Raja dan Ratu Lutung Sakti'. disebut demikian karena keadaan tubuh dari keduanya yang ditumbuhi bulu- bulu putih kecoklatan mirip monyet lutung.


Meskipun langit masih gelap namun waktu malam telah melewati ujungnya, suara kokok ayam hutan menandakan hari akan berganti pagi. disalah satu tempat yang berada dilereng barat gunung Ciremai nampak deretan bangunan kayu dan bilah bambu yang cukup luas. kalau dihitung setidaknya ada delapan bangunan rumah berukuran sedang serta satu lagi yang lebih besar dan agak tinggi.


Deretan bangunan rumah itu berada disuatu pedataran lapang berumput dan cuma dipagari batangan bambu setinggi kepala orang dewasa sekelilingnya, dengan sebuah gapura pintu dari papan kayu di bagian depan pagar. jika dipandang dari jauh tempat ini mirip sebuah perkampungan kecil.


Tapi bila dilihat dari dekat utamanya setelah membaca tulisan yang ada diatas pintu pagar kayu, orang baru akan paham kalau tempat itu adalah sebuah padepokan silat yang cukup terkenal dikalangan rimba persilatan terutama di wilayah barat. karena di situlah padepokan silat Lutung Ciremai berada.


Justru saat mendekati tempat itu orang juga akan melihat sesuatu pemandangan ganjil sekaligus menyeramkan yang terpampang ditengah pelataran perguruan silat itu. walau bukan termasuk dalam sepuluh perguruan silat terbesar aliran putih namun Lutung Ciremai juga cukup punya nama besar.


Setidaknya sekarang ini jumlah murid yang sedang berguru disana sudah lebih dari seratus orang, belum termasuk juga belasan orang mantan murid yang telah lulus dan sedang mencari pengalaman didunia luar sambil mengamalkan ilmu kepandaian yang telah mereka kuasai.

__ADS_1


Namun sekarang ini lebih dari separuh murid perguruan itu telah terkapar bergelimpangan bermandikan darah diatas tanah. belasan orang mengerang kesakitan dengan tubuh terluka dan patah tulang, puluhan lainnya malah sudah terbujur diam tanpa nyawa.


Masih ada empat puluhan orang murid perguruan silat Lutung Ciremai yang masih bertahan hidup meskipun beberapa diantara mereka juga ada yang terluka. dengan tangan membekal sebilah golok tipis berbentuk agak melengkung mereka menatap penuh dendam amarah bercampur rasa ngeri dan takut pada kelima orang yang berdiri disana. awalnya para pendatang itu ada tujuh orang. namun dua diantaranya sudah berhasil dihabisi oleh ketua mereka.


Biarpun ditengah para murid itu juga masih ada kedua ketua mereka juga tiga orang murid utama yang punya kepandaian silat tinggi, namun lawan yang sedang mereka hadapi saat ini justru berilmu lebih hebat. entah kelima orang itu muncul dari mana, yang jelas belum sampai waktu sepenanakan nasi lebih separuh kawan mereka dibuat binasa.


Bahkan saat kedua ketua perguruan si 'Raja dan Ratu Lutung Sakti' turun tangan dibantu tiga orang murid utama yang bakal menjadi pimpinan padepokan dimasa depan, mereka masih belum sanggup untuk menghabisi lawan. namun setidaknya dua dari mereka telah terbunuh ditangan para ketua itu.


Udara menjelang pagi terasa begitu menusuk tulang. hembusan angin dingin yang bertiup membawa bau anyir darah. dibawah cahaya beberapa nyala api obor yang tergenggam ditangan sebagian murid perguruan Lutung Ciremai yang masih mengepung, dapat dilihat rupa kelima sosok manusia itu.


Orang yang berdiri paling kiri adalah seorang pemuda dua puluh lima tahunan yang punya paras gagah tampan namun matanya seolah bersinar penuh keangkuhan dan senyuman mesum. berpakaian jubah putih bersih dengan rambut panjang kelimis berkilat tanda diolesi minyak. yang menarik adalah ditangan pemuda itu tergenggam sebuah suling panjang yang terbuat dari emas.


Selama ini sudah banyak tokoh silat aliran putih dan pihak kerajaan yang berusaha untuk menghentikannya namun pemuda yang dengan penuh percaya diri menggelari dirinya sendiri sebagai si 'Tampan Suling Emas Pencabut Sukma' ini malah balik menghabisi semua lawannya.


Dalam keadaan seperti ini maka tidak salah kalau ada pihak yang berani menempatkan pemuda biadab itu dalam jajaran sepuluh pesilat muda pendatang baru yang terkuat menggantikan 'Sepasang Cakra Malaikat' yang telah tewas saat terjadi peristiwa besar digunung Semeru tempo hari.


Disamping pemuda mesum itu terlihat dua orang lelaki tua kurus berpakaian rombeng gombrong bertambalan serta membawa sebuah periuk besi berisi uang recehan tembaga. ditimpa cahaya obor muka kedua orang ini yang sepucat mayat itu terlihat seram penuh hawa membunuh.

__ADS_1


Jangan pernah memandang remeh kedua orang yang menyerupai gembel melarat itu karena 'Sepasang Pengemis Bangkai' adalah salah satu nama besar golongan hitam yang sudah lama menjagoi wilayah tenggara tanah Pasundan. kabarnya mereka baru mendirikan sebuah perkumpulan silat yang diberi nama perkumpulan Pengemis 'Periuk Petaka.!'


Raja Ratu Lutung Sakti sesaat saling lirik. meskipun sangat ternama tapi tiga orang tadi bukanlah yang paling mereka khawatirkan. karena orang keempat yang berdiri paling depan itulah yang sangat berbahaya. disana berdiri seorang nenek berambut sangat panjang putih hingga menyentuh lutut.


Tangan kiri nenek itu memegang sebuah pedupaan kecil yang terbuat dari tembaga kemerahan berisikan arang panas serta ditancapi beberapa batang dupa merah yang sedang menyala diatasnya dan menyebarkan aroma kemenyan memuakkan.


Wajah si nenek tidak terlihat karena tertutupi rambutnya yang panjang memutih. tangan kanannya yang kurus keriput tinggal kulit tipis pembungkus tulang beberapa kali mengibas lembut asap pedupaan yang panas menyala hingga menyebar kesegala arah. melihat asap dupa itu menyebar kedua ketua perguruan silat Lutung Ciremai segera memerintahkan semua muridnya untuk secepatnya menjauh.


Tapi sayangnya masih ada yang terlambat bergerak. mendadak tiga orang murid sama mendelik lalu terkapar ditanah. setelah berkelojotan tubuh ketiganya menggembung besar hingga akhirnya meletus tinggal gumpalan cairan hitam dan tulang daging busuk menghitam.!


''Nenek tua jahanam bernama Nyai 'Dupa Tumbal'., apapun taruhannya hari ini kau bersama keempat kawanmu akan kami buat mati mengenaskan di gunung Ciremai ini.!'' gertak Ratu Lutung Sakti bengis. hampir saja dia menyerbu kalap jika saja suaminya tidak keburu mencegahnya.


''Istriku tenangkan dirimu dulu., mereka berlima memang harus mampus ditempat ini. tapi aku penasaran kenapa mereka semua sampai mau datang malam- malam tanpa diundang cuma untuk membuat pembantaian terkutuk di padepokan kita.?'' bisik si Raja Lutung Sakti. sementara ujung matanya melirik orang terakhir yang berdiri agak terpisah dari keempat orang lainnya.


Dia seorang gadis muda yang mungkin umurnya baru delapan atau sembilan belas tahunan yang sejak datang selalu menunduk hingga tidak terlihat mukanya. berpakaian hitam ketat dan tipis hingga lekuk tubuhnya yang langsing dan indah terbayang oleh cahaya obor. dipunggung gadis itu tergembol sebuah buntelan kulit yang juga berwarna hitam dan terikat rantai pada ujungnya. diantara kelima orang itu, gadis aneh inilah yang belum terlihat turun tangan.


Jika seorang lelaki merasa bergairah melihat bentuk tubuh indah itu, maka nafsunya akan langsung hilang berganti perasaan takut saat gadis berbaju hitam ini mengangkat kepalanya, itu karena parasnya jauh dari kata cantik. sebuah wajah berkulit tipis hampir tembus pandang hingga tulang- tulang diwajahnya terlihat membayang. ''Dii., dia., dia si 'Gadis Berwajah Tengkorak.!'' desis Raja dan Ratu Lutung Sakti nyaris bersamaan.

__ADS_1


*****


Maaf yah., 🙏 up datenya telat sampai diberi peringatan sama NT🤭. sedang banyak pekerjaan di rumah kami. Terima kasih.


__ADS_2