Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Dua lubang aneh.


__ADS_3

Seakan sudah menjadi kebiasaan buruknya. sekali saja dia membuat gebrakan, pemuda pincang itu hampir tidak pernah mau kepalang tanggung. begitu menetapkan lawan harus mati, dia tidak akan pernah berhenti sebelum nyawa orang itu tercabut.


''Sob., sobatku Ki Galing Brajapaksi, cepat tolong aku.!" jerit Ki Gelung Sanca Amurkala pucat pias. dengan memaksakan dirinya orang tua ini kembali hantamkan aji kesaktian 'Sanca Kembar Gelung Raga' miliknya. dua gulungan cahaya hitam berbentuk kepala ular sanca besar melesat ke muka.


Ki Gelung Sanca Amurkala kembali muntah darah dan jatuh bersimpuh. tenaganya terkuras habis. orang ini merutuk dalam hati melihat ilmu pukulan yang dia banggakan di buat buyar oleh sambaran tongkat besi hitam lawannya yang masih sangat muda itu. belum habis kejutnya tangan kiri si pincang sudah berubah bentuk menjadi sebuah cakar yang memancarkan cahaya hitam kemerahan.


Udara sekitar tempat itu sontak menjadi lebih gelap seperti menjelang malam tiba. tubuhnya terus melesat dan berputar seperti gasing seiring cabikan cakar mautnya yang serasa membelah jiwa raga. semua orang berseru tertahan melihat gerakan jurus silat pemuda itu yang pastinya sangat sulit untuk di lakukan. dalam keadaan itu tidak seorangpun yang ingat jika dia seorang yang pincang kakinya.


''Awas., jurus pukulan 'Cakar Burung Hantu Memuja Kegelapan'. Ki Gelung Sanca cepat menyingkir.!'' seru Ki Galing Brajapaksi panik. tanpa perduli lagi dia hantamkan sebuah ilmu kesaktian yang mengeluarkan asap pekat dan cahaya kebiruan. dengan pukulan 'Tinju Naga Mendung Biru' dia bermaksud membunuh si pincang secara licik dari belakang.


''Dasar pengecut., rupanya ketua perguruan silat Naga Biru yang mengaku dari aliran putih hanya berani menyerang secara hina.!''


''Chuih., kelakuannya benar- benar mencoreng kita semua sebagai kaum persilatan golongan lurus bersih. kalau melihat semua ini, jelas keberadaan perguruan silat Naga Biru dalam jajaran sepuluh perguruan silat terbaik dari aliran putih patut kita pertanyakan..''


Umpatan dan cibiran mengejek kembali terdengar bersautan dari tengah ribuan kaum persilatan yang hadir di sana. meskipun masih tidak dapat di ketahui siapa yang bicara, tapi akibatnya banyak orang yang turut mencaci maki perbuatan Ki Galing Brajapaksi. karuan para murid perguruan itu menjadi gusar bahkan beberapa orang diantaranya balik membentak saking kesalnya. jika saja tidak diredam oleh Ki Tanjung Semboro, bisa jadi mereka malah bentrok dengan para tamunya sendiri.


Sementara dalam hatinya Ki Tanjung Semboro yang di juluki sebagai 'Pendekar Golok Emas Berlengan Tunggal' itu berpikir siapakah yang sedari tadi selalu berteriak- teriak menentang perguruan silat Naga Biru. jika di dengar dari banyaknya suara jelas lebih dari dua orang, tapi anehnya tidak ada satupun yang bisa di temukan.


Di saat itulah gadis cantik bernama Puji Seruni turut membentak marah. tidak perduli dengan luka dalamnya yang belum pulih benar, murid mendiang Nyi Pariseta itu berkelebat cepat memburu Ki Galing Brajapaksi. ''Orang tua licik tukang hasut kaum persilatan, serahkan jiwa anjingmu.!''


Mulutnya mencaci, kedua pedang emasnya yang terentang di kiri kanan turut membabat bersilangan. dua larikan sinar kuning emas menyambar bagai sepasang sayap burung walet. hawa tajam dan panas merobek udara pagi. kekuatan jurus 'Sayap Walet Emas Cahaya Surya' menjadi semakin kuat saat di timpa sinar matahari. sasarannya bagian belakang tubuh Ki Galing Brajapaksi.


''Hentikan gadis kurang ajar itu. dia hendak mencelakai guru kita.!''

__ADS_1


''Cepat kita hadang perempuan keparat itu sekarang.!'' bentak puluhan murid utama perguruan Naga Biru sambil menerjang maju. pedang yang sudah keluar dari sarungnya sama bergerak secepat kilat hendak merajam tubuh Puji Seruni dari berbagai penjuru. bahkan sebagian murid yang merasa punya ilmu meringankan tubuh tinggi juga menyerang dari atas udara.


Bukannya mundur atau menghindar, gadis itu malah tergelak menghina, ''Haa., ha., segala macam tikus pengecut di gunung Semeru ini jangan bermimpi dapat merintangiku. enyahlah dari jalanku.!'' bentak Puji Seruni bengis. berkali pedangnya terayun seiring tubuhnya yang terus melesat maju. hanya ada cahaya keemasan berkelebatan menerobos kurungan belasan pedang yang menikam.


Beberapa pedang patah bermentalan, namun pemiliknya masih selamat walau mengalami luka parah. yang masih utuh justru sudah di tinggal si pemilik pedang yang telah terkapar mati bersimbah darah. padahal dalam serangan tadi para murid utama Naga Biru sudah gunakan empat jurus pedang yang berbeda. tapi gadis bernama Puji Seruni itu bukan saja dapat menerobos kurungan pedang, bahkan hanya butuh lima jurus saja baginya untuk membantai lawannya.


Tanpa perdulilan seruan gempar dari semua orang yang melihatnya, Puji Seruni terus melesat ke depan. punggung sang pembunuh gurunya sudah tinggal satu jangkauan lengan dari ujung sepasang pedang Walet Emasnya. ''Tebus kembali nyawa guruku bajingan licik.!'' teriaknya penuh dendam.


Dalam bayangan semua orang, punggung ketua perguruan silat Naga Biru itu bakalan terbelah pedang si gadis cantik berbaju putih. tapi siapa kira saat mata pedang tinggal dua jengkal saja, tubuh Ki Galing Brajapaksi membuat gerakan menyurut ke bawah sambil berputar setengah lingkaran ke belakang. kepalan tangan kanan hantamkan tiga buah pukulan sakti yang berhawa kebiruan untuk menghadang pedang Walet Emas, sementara tinju kirinya tetap menghantam punggung pemuda pincang di depannya.


Gerakan ini mungkin terlihat sepele, tapi sebenarnya cukup sulit di lakukan karena waktu yang sempit dan tubuh masih melesat di udara. masalah mengatur keseimbangan, ilmu peringan tubuh serta ketinggian tenaga dalam yang di miliki sangat menentukan agar bisa berhasil melakukannya.


'Whuuuk., Wheeess.!'


''Aaaaakh., ampuuun.!''


''Gadis sialan, pincang keparat.!''


Jerit makian itu terlontar dari mulut dua orang tua. tanpa di duga siapapun pemuda pincang bernama Pranacitra itu juga turut membuat gerakan yang hampir sama dengan yang telah di perbuat Ki Galing Brajapaksi. bedanya dia bukannya menyurut ke bawah, tapi justru naik beberapa jengkal ke atas kepala lawan.


Jelas gerakan itu lebih sulit lagi untuk di lakukan, karena untuk dapat melompat naik di butuhkan suatu pijakan kaki. tapi Pranacitra mampu menggunakan udara kosong sebagai pijakannya. hampir semua orang meleletkan lidahnya saking terpukau oleh ketinggian ilmu ringan tubuh si pincang.!


Dari atas udara pemuda itu membalik tubuh setengah putaran. tangan kiri yang sudah berubah menjadi cakar maut mirip kaki burung hantu buas terus bergerak mencabik. cahaya hitam bersemu merah bara api menyambar tanpa ampun. meski dua larik sinar hitam berbentuk kepala ular milik Ki Gelung Sanca Amurkala sempat melibat tangan dan tubuhnya. tapi dengan cabikan cakarnya semuanya dapat di buat musnah.

__ADS_1


Kulit tubuh terkoyak dari dada kiri hingga pinggang kanan. usus gosong terburai darah yang menyembur berwarna kehitaman berbau daging hangus. cakar beracun yang sepanas besi meleleh itu terus bergerak membongkar rongga dada sekaligus membetot keluar jantung korbannya. jeritan parau mengiringi lepasnya nyawa dari raga ketua perkumpulan silat 'Sanca Belang' di hulu sungai Cisoka itu.


Sebaliknya bersamaan itu tongkat hitam di tangan kanannya terus melabrak kebelakang. berputaran seperti kincir lalu menghentak. dua buah jalur hitam panas menyambar di udara di barengi suara ledakan keras. dengan jurus 'Tongkat Kembar Cahaya Kegelapan' pemuda itu bermaksud menangkis sekaligus balik menghantam buyar ilmu pukulan 'Tinju Naga Mendung Biru' Ki Galing Brajapaksi.


Dalam petualangannya di rimba persilatan, ini yang kedua kalinya Pranacitra menggunakan jurus tongkat yang pernah menjadikan Ki Tugu Karang, pembantu utama 'Dewi Merak Merah' sebagai korban pertama dari jurus tongkatnya itu.


Bentrokan senjata dan ilmu pukulan sakti terjadi. suara dentuman yang menggoncang lereng gunung Semeru terdengar berulang kali. tubuh Puji Seruni terhempas bergulingan hingga tiga tombak ke belakang lalu jatuh menabrak sisi luar panggung. beberapa murid perguruan Naga Biru mencoba mengambil kesempatan itu untuk membunuhnya.


Namun dua kali kibasan cahaya golok emas seketika membuat mereka terjungkal roboh bermandi darah. meskipun gusar tapi para murid lainnya menjadi keder jika harus berhadapan dengan Ki Tanjung Semboro yang entah sejak kapan sudah turun panggung. golok emas yang melintang di tangan kanan dan sorot mata garangnya membuat mereka terdiam.


Pranacitra terhempas mundur dua tindak. tongkat besi hitam kepala tengkorak nyaris terlepas dari tangannya. cepat dia alirkan tenaga dalam untuk meredam getaran yang membuat telapak tangannya ngilu perih serta menenangkan aliran darahnya yang sempat bergolak akibat benturan ilmu kesaktian tadi.


Ki Galing Brajapaksi tegak berdiri dengan sikap angkuh. kedua tangannya yang gempal kekar masih memancarkan sisa cahaya biru. orang ini tertawa bergelak seakan menghina. ''Hek., he., rupanya kau cuma seekor monyet pincang yang tidak punya kemampuan. kalau ingin membunuhku belajar dulu sepuluh tahun lagi.!''


Si pincang hanya menghela nafas. dengan langkah terseok seperti cacing merayap orang ini berjalan menghampiri Puji Seruni yang masih berusaha bangun. saat melewati tubuh Ki Galing Brajapaksi yang masih tegak berdiri, dia seperti tidak menganggap keberadaan ketua perguruan silat Naga Biru itu. tentu saja kelakuan si pincang Pranacitra membuat orang berjuluk 'Dewa Naga Langit' itu murka dan terhina.


Namun saat hendak menghantam dia baru merasakan ada yang aneh pada semua orang di sekitarnya. wajah mereka semua seakan memperlihatkan kengerian. bahkan begitu juga para muridnya. mata mereka memandang tubuhnya dengan pandangan seram bergidik.


Tanpa sadar orang ini melihat ke bawah. di atas tanah ada bayangan tubuhnya yang tinggi besar dan memanjang karena dia berdiri membelakangi cahaya mentari pagi yang muncul dari timur. tapi ada satu keanehan yang muncul di sana. bayangan tubuh di atas tanah itu seharusnya gelap seutuhnya. namun terdapat dua buah bulatan terang sebesar telur angsa di bagian dada kiri kanan. lalu dari mana bisa muncul dua bulatan cahaya terang matahari di tengah bayangan gelap tubuh manusia.?


Dengan gemetaran Dewa Naga Langit melihat jubah biru di bagian dadanya. entah sejak kapan di sana sudah bertambah dua buah lubang sebesar telur angsa. cahaya mentari pagi menyorot dari belakang pungung tembus melalui dua buah lubang di dadanya hingga tercetak ke atas bayangan tubuhnya yang ada di atas tanah. dua lubang yang gelap dan daging darah yang hangus membeku menimbulkan kengerian yang sulit di katakan.


Ki Galing Brajapaksi menoleh ke belakang, wajahnya pucat ketakutan bercampur rasa tidak percaya. kedua tangannya menggapai- gapai ke arah Pranacitra seakan dia hendak bertanya kenapa bisa muncul dua buah lubang di dadanya.

__ADS_1


Tidak ada jeritan ngeri atau darah kental yang tersembur. orang ini bahkan tidak sempat merasakan kesakitan karena saat itu juga nyawanya sudah minggat ke akhirat. matanya mendelik dengan mulut ternganga. mungkin sampai matinya dia tetap merasa penasaran bagaimana mungkin bisa muncul dua buah lubang aneh ditengah dadanya.


__ADS_2