
Tebing batu karang yang tinggi menjulang di depannya itu bentuknya nyaris tegak lurus. kalau diperkirakan ketinggiannya mungkin lebih tiga puluhan tombak. biarpun ada orang persilatan yang memiliki ilmu meringankan tubuh sangat tinggi sekalipun juga belum tentu sanggup untuk mendakinya.
Ditambah lagi bau busuk menyengat hidung yang serasa menyumpal jalan pernafasan, pastinya akan menguras tenaga kesaktian siapapun pesilat yang berada di sana. pendek kata hanya untuk mendatangi tempat bernama Lembah Seribu Racun ini, kaum persilatan mesti mengeluarkan tenaga dua atau tiga kali lipat lebih besar. belum lagi mendaki tebingnya.
Prancitra menatap ke puncak tebing batu padas. cahaya rembulan yang tersembul dari puncak tebing menyoroti wajahnya. angin malam yang semakin dingin berhembus lebih kencang menyibakkan rambut hitam lebatnya yang terikat secarik kain batik lurik di dahinya. sementara dibawah kakinya terlihat ratusan tulang belulang tengkorak manusia yang menjadi korban karena terjatuh saat berusaha melompati tebing ini.
Pemuda ini sebenarnya tidak begitu yakin akan mampu melompati tebing batu itu dalam sekali gerakan, meskipun dia memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat hebat. karenanya pemuda dari gunung Bisma itu perlu mengincar beberapa titik di permukaan tebing batu yang dapat di jadikan pijakan kaki apabila dia kehabisan tenaga saat melesat ke atas udara.
Sepasang kakinya sedikit merenggang dengan kedua lutut agak tertekuk rendah. tumpuan tenaga dalamnya dikumpulkan pada bagian betis dan kedua pahanya agar dapat memberikan dorongan yang paling kuat. permukaan tanah tempatnya berpijak mulai retak terpecah dan diselimuti pusaran angin yang semakin lama makin menguat.
Berikutnya kedua kakinya menghentak keras ke tanah. bersamaan itu sepasang tangannya turut juga menyentak ke bawah untuk menambah daya dorong tubuh ke atas. debu tanah bercampur pecahan batu kerikil yang semburat disertai suara ledakan mengiringi sosok tubuh Pranacitra yang melesat ke udara dengan kecepatan bagaikan sambaran petir.
Jarak tiga puluhan tombak ke atas puncak tebing itu dapat Pranacitra lalui dengan dua kali menutulkan kakinya ke tonjolan tebing tinggi. meskipun batu yang dijadikan pijakan kaki itu hanya sedikit saja menonjol keluar dari permukaan tebing karang yang nyaris rata namun sudah cukup membantunya untuk dapat mencapai puncak.
Walau bagaimanapun juga pemuda ini adalah pewaris ilmu 'Bayang- Bayang Hantu' dari si 'Burung Hantu Bungkuk Pencabut Nyawa' yang semasa hidup memang sangat terkenal dengan ilmu meringankan tubuhnya selain juga berkesaktian tinggi, hingga dia selalu lolos dari kejaran musuh- musuhnya.
Puncak tebing karang telah terlewati. sekejap Pranacitra mengatur pernafasan juga tenaga saktinya yang rada terkuras. biarpun sudah mempelajari ilmu 'Ramuan Peningkat Tenaga Dalam dan Pancaindera' dia tetap saja butuh istirahat barang beberapa kali tarikan nafas. si pemuda membalikkan tubuhnya sambil memandang kebalik tebing.
__ADS_1
Meskipun gelap dan dingin tapi Pranacitra tahu betul di bawah sana juga terdapat satu pedataran berbatu yang penuh dengan tulang belulang dari bermacam mahkluk hidup termasuk manusia. kabut dan bau busuk beracun yang ada disana juga jauh lebih mematikan dibandingkan bagian luar tebing.
Sebenarnya jika diperkirakan untuk mencapai mulut goa batu tempat kelima gurunya dimakamkan, jaraknya dari tempat dia berada saat ini hanya berkisar dua ratusan langkah saja. namun untuk mencapainya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. karena ada beberapa bagian di pedataran tulang- belulang itu yang berupa pasir dan lumpur hisap beracun.
Dulu untuk melewatinya Pranacitra sengaja menggunakan tumpukan tulang- belulang juga tengkorak manusia sebagai bahan pijakan kakinya agar dia tahu tempat mana yang aman untuk dilewati. perlu diketahui juga, beberapa kubangan pasir lumpur hisap beracun ini tidak selalu berada di daerah yang sama melainkan dapat berpindah tempat.
Jika sudah mengetahui bahaya yang ada di balik tebing kenapa juga Pranacitra malah memilih untuk menyeberangi tebing juga pedataran di Lembah Seribu Racun ini pada malam hari yang gelap. bukankah semua ini hanya akan menambah kesulitan bagi dia karena berkurangnya jarak penglihatan.?
Walaupun pemuda ini seringkali berbuat yang tidak masuk akal tapi pastilah ada alasannya. Pranacitra sengaja memilih waktu tengah malam yang gelap sunyi agar dia lebih dapat mendengar suara pergerakan dari tanah pasir lumpur hisap yang berada dibawah sana, karena jika di waktu pagi atau siang hari suara pergeseran kumbangan lumpur hisap yang begitu halus itu malah tidak terdengar karena tertutupi suara- suara lain dari alam.
Sementara jika dilihat dari luar juga tidak ada perbedaan antara tanah keras dengan permukaan pasir hisap sebab sama- sama berada dibawah onggokan tulang belulang. Pranacitra pejamkam kedua matanya. dengan kerahkan kesaktiannya dia mulai menyatu dengan semua yang terjadi disekitarnya. pendengaran juga indera perasanya menjadi jauh lebih peka.
Sosoknya bergerak cepat meluncur ke kiri sembari terus memasang telinga dan seluruh inderanya. berlompatan di atas tumpukan tulang tengkorak berhawa kabut penuh racun seakan tanpa arah. kejap selanjutnya tubuh si pincang ini seolah berpendar kebiruan tanda kekuatan dari batu sakti 'Nirmala Biru' sudah dia kerahkan lebih banyak sebagai pelindung tubuhnya.
Sekali berjumpalitan di udara Pranacitra melesat lurus ke depan lantas hilang di balik kegelapan. kabut pekat beracun kembali mengambang menutupi permukaan tanah. meskipun terlihat mudah tetapi dalam pergerakannya tadi sebenarnya Pranacitra nyaris saja celaka karena terlambat dalam menentukan langkahnya. masih untung ilmu ringan tubuhnya sangat tinggi. jika tidak., bisa jadi dia sudah terperosok ke dalam kubangan pasir hisap beracun.
Mulut goa batu itu sama sekali tidak berubah. ada perasaan terharu muncul dalam hatinya saat kembali ke tempat itu. ''Tidak kusangka., akhirnya aku kembali juga kemari..'' batin Pranacitra tersenyum getir menatap langit- langit goa batu yang terdapat bermacam batu berkilauan sehingga suasana di dalam goa jadi sedikit memiliki cahaya dibandingkan keadaan diluar sana.
__ADS_1
Hanya sebentar saja melangkah ke dalam goa dia telah sampai di sebuah pembaringan batu. dada Pranacitra terasa sesak mengingat di sinilah pertama kalinya dia menjadi barang permainan dari kelima dedengkot persilatan aliran hitam yang kemudian menjadi gurunya, setelah melewati 107 lemparan pisau. semua kenangan yang pernah dialaminya segera terlintas di kepalanya.
Di ujung ruangan dekat dinding goa ada sebuah tonjolan batu sepanjang lima jengkal. Pranacitra kibaskan sebelah tangannya. sekelebat udara panas bercahaya kemerahan menyambar tonjolan batu. ujung tonjolan batu menyala bara api. Pranacitra ingat kalau di dinding itu ada sebuah obor batu untuk penerangan.
Melangkah lebih masuk ke dalam pemuda ini menjumpai sebuah ruangan lain. meskipun tidak terdapat obor di ruangan itu tapi dengan cahaya obor yang ada di ruangan goa bagian depan orang masih dapat melihat adanya lima buah gundukan tanah dengan batu pipih sebagai penandanya. di situlah kelima orang gurunya dia makamkan.
Pranacitra berlutut lalu bersembah sujud pada lima makam itu dari kiri ke kanan sesuai waktu kematian mereka yang berlainan. pada makam paling kanan tempat 'Setan Kuburan' terbaring untuk selamanya, pemuda itu berlutut sedikit lebih lama. biarpun orang tua ini paling jarang bicara, sangat kejam dan tidak berperasaan tapi anehnya pada orang inilah dia merasa punya hubungan yang lebih mendalam.
Setelah memanjatkan doa bagi ketenangan arwah gurunya, Pranacitra tidak segera bangkit berdiri melainkan malah duduk bersila di depan makam. pertama dia hanya menggumam tidak jelas. lambat laun suara si pincang semakin terdengar bahkan kadang berseling tawa mengekeh juga geraman penuh kemarahan. di lihat sepintas lalu orang lain akan mengira kalau pemuda ini sudah menjadi gila.
Namun kalau lebih diperhatikan sebenarnya pemuda pincang itu hanya sedang mencoba meluahkan segala yang dia alami selama berkecimpung dalam ganasnya dunia persilatan kepada para gurunya. Pranacitra tidak perduli apakah semua yang dia katakan akan tersampaikan pada kelima orang tua itu di alam sana atau tidak.
Karena baginya yang terpenting., dia sudah mengatakan segala macam perbuatan gila dan menggemparkan yang telah dia lakukan di luaran sana, sesuai dengan pesan para gurunya yang menginginkan agar dia menjadi pendekar paling ditakuti sekaligus membalas dendam kesumat pada semua orang yang telah mencelakai mereka. mungkin dalam bahasa jaman sekarang., pemuda ini sedang Curhat di depan kuburan.
''Aku tidak tahu apakah semua yang telah kulakukan di luar sana dapat membuat kalian merasa puas dan bangga. tapi semua orang yang punya sangkut paut dengan tertipunya kalian berlima hingga terperangkap di dalam goa terkutuk ini sudah kuhabisi. tinggal partai Gapura Iblis saja yang mesti kuhadapi. karena itulah., diriku memohon ijin dan restu kalian untuk bisa memasuki ruangan terlarang itu.!''
Sekali lagi pemuda pincang ini menjura hormat sambil kembali berdiri. Pranacitra tidak merasa perlu terburu- buru untuk masuk ke dalam ruangan goa terlarang yang berada di bagian lorong goa yang paling dalam. dia mesti lebih dulu menelan, mengolah dan memadukan bunga jamur 'Cendawan Iblis' bersama dengan semua kesaktian yang di milikinya.
__ADS_1
............
Silahkan tuliskan komentar Anda๐. Terima kasih., ๐.