
Mbah Tumi terbangun paling awal di banding semua orang yang berada di dalam rumah pembuatan jamu itu. berikutnya Gendol turut menyusul membantunya bekerja sebelum kemudian keluar untuk mulai membelah kayu bakar. Srianah dan Rinai yang juga bangun hampir bersamaan. mereka berdua langsung menyibukkan diri ke dapur.
Meskipun pesanan jamu hari ini tidak begitu banyak tapi semuanya tetap dikerjakan dengan cepat. bagi Srianah semakin cepat semua tugasnya selesai dan jamunya terjual habis dibeli para pelanggan, makin cepat pula dia mendapatkan keuntungan hingga dapat bersantai lebih lama.
''Eeh., ada dimana si pincang itu. jangan- jangan dia masih tidur dalam biliknya. dasar pemalas..'' gerutu Rinai sambil tangannya sibuk memarut potongan jahe. ''Huhm., awas saja kalau dia masih ngorok. akan kusiram wajah pucatnya itu dengan air. biar aku lihat ke dalam..'' sungut Srianah. dengan muka masam gadis inipun masuk ke ruang tengah.
Sejak kedatangan Pranacitra dan Rinai, dalam rumah gubuk Srianah sudah ditambah lagi dengan sebuah bilik kecil dengan pembatas anyaman bambu. si pincang sendiri yang membuatnya. meskipun dirinya termasuk pemuda bajingan namun masih tahu batasan antara lelaki dan perempuan hingga memilih tidur terpisah di ruang depan, sementara dua gadis itu malah menempati bilik buatannya.
Di ruang depan tempat menerima tamu yang hendak berobat juga tersedia sebuah balai bambu. biasanya Pranacitra tidur di tempat itu. tapi sekarang dia sudah menghilang dari sana. hanya tertinggal seonggok baju hitam tebal yang sudah agak lusuh. ''Mungkin orang itu sedang mandi atau buang air..'' gumam Srianah sambil melipat baju dan ikat kepala batik lurik yang berserakan diatas balai.
Jika melihat ikat kepala itu teringat juga saat pertama kalinya mereka berdua berpisah. dia dibawa oleh si 'Gembel Sakti Mata Putih' yang kemudian menjadi gurunya, sementara Pranacitra terus mengembara entah kemana. di lembaran ikat kepala batik lurik itu juga masih ada tulisan pesan yang dia buat untuk si pincang.
Saat hendak pergi baru dia menyadari kalau di bawah kolong balai bambu tempat tidur itu tersimpan sebuah tongkat besi hitam kepala tengkorak. itulah senjata milik Pranacitra. ''Kenapa juga ditinggalkan disini. apa dia tidak khawatir ada orang yang akan mengambilnya. dasar ceroboh..'' umpat Srianah sambil tangannya memegang tongkat besi itu. tapi gadis itu menjerit tertahan saat merasakan sebgatan gelombang tenaga panas yang terasa membakar telapak tangannya.!
''Huhm., pantas saja dia tidak merasa takut senjata ini bakal hilang dicuri. rupanya cuma si pemilik saja yang dapat memegangnya..'' batin Srianah terperanjat. meskipun cuma sekejapan mata saja bersentuhan dengan tongkat besi hitam itu, tapi ujung jemarinya sudah terlihat kemerahan seakan melepuh.
Srianah tidak lagi perduli dengan tongkat itu karena pandangannya sudah teralihkan pada sebuah kantung kulit hitam yang juga berada di bawah kolong balai tempat tidur. walaupun sebenarnya gadis ini bukanlah orang yang suka mencari tahu barang- barang milik orang lain, tapi kali ini rasa penasaran membuatnya nekat ingin melihat apa isinya. sekarang Srianah lebih berhati- hati bertindak. setelah yakin tidak terasa suatu apapun barulah dia berani mengambil kantung kulit hitam itu.
__ADS_1
''Tidak biasanya Pranacitra mau menyimpan sesuatu. biar kulihat dulu apa yang ada di dalam kantung jelek ini. Aah, jangan- jangan isinya perhiasan mewah untuk diberikan pada para gadis yang memujanya. Cuih., awas saja kalau dia berani melakukannya. tidak akan kuampuni.!'' geramnya dalam hati.
Tali pengikat kantong telah dibuka. setelah di lihat isinya adalah empat keping uang emas, sepuluh kepingan uang perak dan tembaga. selain itu masih ada sebuah benda lagi yang berwarna keperakan. Srianah tertegun saat mengeluarkan barang itu dari dalam kantung kulit.
''Mbak Sri., kuali ramuan jamunya sudah lama mendidih. kurasa apinya terlalu besar.!'' Rinai berseru dari ruangan dapur. Srianah cepat kembalikan semua barang Pranacitra ke dalam kantung kulit lantas bergegas menuju dapur. ''Hei., dimana si pincang sialan itu, jangan kau bilang kalau dia masih tidur.!'' sungut Rinai kesal. '' Eehm., dia., dia tidak ada disana. mung., mungkin sedang mandi di sungai..'' jawab Srianah agak tergagap lantas diam dan mengaduk kuali jamu.
''Mbak Srianah., apakah nyala apinya tidak terlalu besar, kenapa malah kau tambahi kayu bakar. lihatlah, kuali obat itu sudah semakin mendidih mau tumpah.!'' teriak Rinai hingga Srianah terkejut dan buru- buru mengurangi kayu bakar yang sudah terlanjur dimasukkan ke dalam perapian.
''Aneh sekali., semenjak kembali dari ruangan depan, mbak Srianah jadi suka melamun dan kurang memperhatikan tugasnya. seperti ada suatu masalah berat yang sedang dipikirkan..'' batin Rinai. meskipun merasa rada heran dengan sikap Srianah tapi dia tidak berani banyak bertanya.
Tidak ada kata perpisahan yang terucap dari mulut Srianah maupun Pranacitra. sebaliknya Rinai mesti meneteskan air matanya saat dia memeluk Srianah yang telah menganggapnya sebagai saudara. selain Pranacitra mungkin cuma Srianah, mbah Tumi dan Gendol saja orang yang dekat dengan dirinya.
''Ini adalah rumahmu juga adikku Rinai. kalau kau butuh tempat melepas lelah, rasa bosan atau teman untuk berbicara, datanglah kemari karena pintu rumah gubuk jamuku selalu terbuka buatmu..'' ucap Srianah mengusap air mata gadis picak berwajah bopeng itu. sejak Srianah memberikan ramuan obat padanya, bekas luka bakar di wajah dan tubuhnya sudah terlihat berkurang.
''Terima kasih mbak Srianah. aku., aku pasti kembali berkunjung kemari suatu ketika nanti..'' Rinai semakin erat memeluk Srianah sebelum melepaskannya karena menerima dua buah kendi berisi minuman wedang jahe dan kunyit asam pemberian dari mbah Tumi.
''Kau mesti giat berlatih dan menuruti semua ucapan majikanmu. biarpun badanmu kuat tapi tenaga dalammu masih sangat cetek. keselamatan Srianah dan mbah Tumi menjadi tanggung jawabmu. kau dengar Gendol.?'' tanya Pranacitra. pemuda berbadan besar itu kepalkan kedua tangannya lalu di pukulkan ke dadanya sendiri.
__ADS_1
Meskipun agak bodoh tapi Gendol mengerti tentang sebuah tanggung jawab. ''Tuan guru penolong tidak perlu khawatir. selama diriku masih hidup, tidak akan terjadi apapun pada mereka berdua. jika kembali kemari kau akan melihat ilmu silatku yang semakin kuat..'' janji Gendol busungkan dadanya. meski begitu air matanya tetap saja menetes dan sesengukan.
Saat tiba di persimpangan jalan menuju dua desa yang berlawanan arah, Pranacitra dan Rinai berhenti. gadis itu mendongak ke langit. matahari sudah naik menuju siang hari. ''Ehm., kurasa ini saatnya untuk mengambil jalan masing- masing. sialan betul., aku benci perpisahan..'' Rinai mengomel sendiri. kendi berisi minum kunyit asam gula kelapa yang manis segar terasa sedikit getir saat diteguknya.
''Kalau kau masih betah kenapa juga tidak tinggal di sana lebih lama.?'' sindir Pranacitra sambil ganti meminum kendi yang diberikan Rinai. itu juga bisa diartikan sebagai tanda selamat tinggal bagi keduanya. kata perpisahan yang menyedihkan memang enggan mereka ucapkan.
''Aku masih suka berpetualang. jaga dirimu., ingatlah mbak Srianah selalu menunggumu di sana. dan aakk., aaku., aku juga tidak ingin terjadi sesuatu denganmu..'' ucapan itu diakhiri dengan sebuah ciuman lembut di bibir Pranacitra. sekejap kemudian gadis itupun sudah berkelebat pergi.
Pranacitra sempat terhenyak. bahkan Srianah seingatnya juga belum pernah mencium bibirnya. ''Gadis- gadis muda jaman sekarang memang lebih berani berbuat apapun yang mereka mau. tapi rasanya., menyenangkan juga..'' batin pemuda itu tersenyum sendiri. dengan langkah terseok pelan diapun pergi ke arah yang berlawanan.
Sementara itu di dalam gubuknya Srianah berdiri melamun menatap keluar jendela kamar tidurnya. semenjak dia melihat benda berwarna keperakan yang tersimpan di dalam kantung kulit hitam milik Pranacitra hatinya terselip perasaan bingung. dia tidak tahu apakah mesti gembira ataukah bersedih.
''Sejak kapan dia juga mempunyai barang yang sama denganku. dari mana si pincang itu mendapatkannya.?'' batin Srianah risau. kedua matanya menatap benda bundar yang tergenggam di tangan kanannya. sebuah gelang perak berbandul tengkorak.
*****
Silahkan tulis komentar Anda, kritik saran, like👍, vote👌, juga favorit jika suka. kalau berkenan tolong share novel ini ke teman" yang lainnya. Terima kasih👏🙏.
__ADS_1