Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Gadis polos penggoda dan pemuda pincang mesum.


__ADS_3

Kehangatan cahaya matahari yang baru saja terbit seakan menyambut langkah seorang pemuda gelandangan berbaju gelap yang berjalan pelan memasuki jalanan sebuah perkampungan. meskipun cuma sebuah kampung namun cukup besar dan ramai. di tugu perbatasan kampung yang terbuat dari susunan batu bata tertulis desa 'Kali Waru' sebagai nama desa atau perkampungan itu.


Semenjak memasuki ujung desa pemuda itu hampir selalu menunduk seakan takut wajahnya di kenali orang. kening dan rambutnya yang hitam gondrong di ikat secarik kain batik lurik. sebuah tongkat besi hitam setinggi pinggang yang tergenggam di tangan membantunya berjalan.


Cara dia melangkah selain sangat aneh juga mengundang tawa sekaligus rasa kasihan. pertama kaki kanannya melangkah ke depan lalu yang kiri terseret pelan menyusul. kanan setapak maju, kaki kiri terseok mengikuti. begitu seterusnya seperti cacing merayap.


Beberapa penduduk desa yang kebetulan melihat atau berpapasan dengannya sama menghela nafas prihatin dengan pandangan iba dan simpati. meskipun mempunyai niat untuk memberikan suatu sedekah, tapi entah kenapa mereka segan untuk melakukannya. mereka seolah dapat merasakan semacam hawa buruk yang keluar dari tubuh pemuda pincang itu.


Di depan sebuah warung makan kecil yang baru saja buka pemuda pincang ini berhenti. dengan terseok dia menuju ke pintu warung lalu berdiri diam menunggu disana. seorang perempuan setengah umur yang rupanya pemilik warung makan itu hendak menegur tapi di urungkan seketika saat si pincang mengulurkan tangannya sambil berkata, ''Berikan aku sebungkus nasi dengan lauk apapun dan juga sekendi kecil wedang jahe. kalau uangnya kurang akan kutambah. jika lebih silahkan ambil saja..''


Nilai sepuluh keping uang tembaga memang tidak begitu besar, tapi lebih dari cukup untuk membeli sebungkus nasi dengan lauk yang paling enak berikut minumnya. secepatnya perempuan pemilik warung itu menyiapkan pesanan si pincang, yang begitu menerima dia langsung berlalu pergi begitu saja.


Di bawah jajaran pohon waru yang tumbuh di tepian sungai kecil, terlihat seorang pemuda berpakaian gelap sedang menikmati makan paginya yang baru saja dia beli. lauknya ikan lele dan paha itik goreng. di temani dengan lalapan timun serta sambal terasi yang tidak begitu pedas membuat rasanya sangat nikmat.


Meskipun cuaca cerah namun udara terasa agak dingin. sekendi wedang jahe gula aren membuat hangat tubuh pemuda itu. setelah mencuci tangannya di aliran sungai yang jernih pemuda itu kembali duduk di bawah pohon. pikirannya melayang pada waktu sebulan silam.


Sebuah gubuk bambu yang tadinya reot bolong- bolong dan hampir rubuh itu sudah menjadi lebih baik. paling tidak bisa dipakai tempat berteduh. dia dan gadis bernama Srianah itu yang memperbaikinya.


Saat gadis itu bilang hendak mandi di sungai belakang gubuk, sempat timbul pikiran nakal di otak si pemuda yang bernama Pranacitra itu untuk mengintainya. tapi semuanya segera menghilang dari benaknya. biarpun dia bukan pemuda suci, namun tidak akan sudi berlaku mesum pada gadis polos itu, meskipun cuma untuk sekedar iseng saja. tanpa sadar Pranacitra tersenyum masam.


''Aku sudah selesai mandi., sekarang tiba giliranmu membersihkan diri..'' terdengar seruan Srianah dari dalam gubuk. rupanya dia sudah masuk lewat pintu belakang. dengan agak malas Pranacitra bangkit dari balai bambu dan pergi mandi di sungai belakang gubuk.


Karena tubuhnya sangat kotor dia butuh waktu yang lebih lama dari Srianah untuk mandi. setelah itu Pranacitra kembali ke gubuk dengan melewati beberapa gundukan tanah yang berisi mayat- mayat anggota perkumpulan 'Musang Kelabu' yang telah dia bantai habis pagi tadi.


Malam sudah turun. lampu minyak dan obor kecil menerangi ruangan dalam gubuk. Pranacitra tertegun melihat Srianah yang terbaring di atas balai tempat tidurnya. sebenarnya seorang gadis muda yang sedang berbaring di tempat tidurnya bukan sesuatu yang aneh. tapi masalahnya menjadi lain jika gadis itu tidur terlentang dengan hanya memakai pakaian dalam berupa baju kutang putih dan selembar kain hitam yang cuma menutupi pingul hingga lututnya saja.

__ADS_1


Srianah tersenyum mengangkat kedua tangannya keatas dan di jadikan bantalan pengganjal kepalanya. dia seakan sengaja memamerkan kedua betis dan lengannya yang putih bersih. darah muda Pranacitra berdesir lebih cepat.


''Kau memang sengaja ingin menggodaku atau bagaimana., apakah kau tidak takut aku bakalan gelap mata dan memperkosamu.?'' desis pemuda pincang itu dengan sinar mata tajam dan seringai buas, seakan sedang di landa hawa birahi. anehnya Srianah tidak merasa khawatir. dia tetap berbaring sambil menyilangkan sebelah kakinya ke atas lutut.


''Kalau kau melakukan hal itu aku bisa apa kecuali bersikap pasrah., karena walaupun melawanmu tetap saja diriku akan kalah tenaga. tapi jelas hatiku akan sangat kecewa karena Pranacitra yang kukenal kuat lahir batin, sekarang sudah berubah menjadi lelaki lemah dan gampang tergoda oleh tubuh seorang gadis..'' ucap Srianah sinis.


Pranacitra mendengus kesal, ''Dulu kau juga tidak seperti ini., sekarang bisa- bisanya kau mengumbar auratmu di depanku. membuat hatiku kesal saja..''


''Ooh jadi kau tidak suka melihatku seperti ini., pasti di luar sana kau sudah melihat banyak wanita yang jauh lebih cantik dariku dengan tubuhnya yang molek dan wangi. iya kan.?'' sungut Srianah mencibir. Pranacitra langsung berbalik dan menindih tubuh gadis enam belas tahunan itu. karuan saja dia terperanjat kaget dan berusaha berontak. tapi sayang tenaganya semakin melemah.


''Banyak gadis cantik yang kutemui di luar sana, beberapa diantaranya mempunyai kecantikan yang memukau seperti bidadari. terus terang saja meskipun wajahmu tidak begitu cantik. tapi., kau adalah gadis paling menarik yang pernah aku kenal..'' ucapan itu di akhiri dengan kecupan lembut di kening Srianah. gadis itu tersenyum malu sekaligus senang. tapi selanjutnya dia terpekik dan tertawa kegelian saat jari telunjuk Pranacitra menggelitik ketiaknya yang putih bersih.


''Kau istirahat saja dulu, akan kubuatkan makanan untukmu..'' ujar si pemuda sambil beranjak pergi. tapi tubuhnya tertahan oleh sepasang lengan halus yang memeluk erat pinggangnya dari belakang.


Jadilah malam itu Pranacitra menceritakan hampir segala yang pernah dia alami. gadis itu sempat marah besar saat mengetahui Pranacitra pernah mencoba bersembunyi darinya. padahal Srianah sudah berada dekat sakali di depannya. sampai akhirnya gadis itupun terlelap dalam pelukan si pemuda.


Meskipun mereka berbaring tidur dalam satu bilik ruangan di atas balai bambu yang sama, tapi tidak ada pikiran kotor yang muncul yang muncul diantara keduanya.


Sepasang muda- mudi itu begitu murni hati dan perasaannya. Pranacitra sampai heran, padahal sebelumnya dalam hatinya sempat timbul kobaran hasrat yang menyala melihat Srianah bertingkah menggoda seperti itu. tapi justru sekarang disaat tubuh gadis itu dalam dekapannya yang ada hanya perasaan tidak tega dan ingin selalu melindunginya.


Beberapa hari kemudian Pranacitra pergi seorang diri meninggalkan Srianah di gubuk bambu bekas tempat tinggal mendiang Ki Suta, guru Srianah yang pertama. ''Paling lama satu tahun ke depan., aku akan datang kembali kemari untuk menemuimu setelah menyelesaikan semua urusanku..''


''Kau harus menjaga dirimu., berjanjilah untuk tetap hidup. jangan lagi mudah turun tangan kejam dan membunuhi lawanmu. karena., aku tidak suka kau jadi pembunuh..''


Itulah sepenggal kalimat yang terucap dari kedua muda- mudi itu saat berpisah. tidak ada linangan air mata dan kata- kata sedih yang cengeng terdengar. mereka berdua saling menguatkan karena sudah mengerti isi hati masing- masing.

__ADS_1


Pranacitra masih duduk termenung di tepi sungai kecil itu. dalam hatinya dia merasa kalau Srianah yang sekarang sudah tumbuh semakin dewasa dan matang, hingga tanpa harus menjelaskan panjang lebar gadis itu sudah paham bahaya yang mengancam jika dia ikut bersama Pranacitra. kelima guru pemuda itu punya banyak sekali musuh.


Sambil menghela nafas panjang Pranacitra bangkit berdiri. sepasang matanya menatap tajam bayangan sebuah gunung besar dan tinggi yang berada di kejauhan. di gunung Semeru itulah tujuan berikutnya.


Baru saja dia hendak beranjak pergi, dari kejauhan terdengar derap kaki kuda bergerak cepat mendatangi. karena Pranacitra berada di pinggiran tebing sungai kecil yang dekat dengan jalan desa, dia dapat melihat tujuh orang penunggang kuda yang bergerak beriringan karena jalanan yang rada sempit.


Pranacitra duduk bersandar batang pohon dan menghadap sungai. tapi ekor matanya masih dapat melirik para penunggang kuda yang melewatinya. dari ke tujuh orang itu lima diantaranya memakai seragam biru yang sama dengan sulaman seekor naga besar yang melingkari sebuah gunung. dari lambangnya dapat di pastikan kalau mereka adalah anggota perguruan silat 'Naga Biru' dari gunung Semeru.


Dua orang lainnya sepertinya adalah orang luar. dari sikap para murid perguruan Naga Biru yang menghormat mungkin mereka adalah para pesilat undangan yang akan hadir dalam pertemuan besar. meskipun belum pernah bertemu sebelumnya tapi si pincang dapat mengenali salah satu diantara mereka berdua.


Seorang kakek enam puluh tahun berjubah kuning keemasan, lengan kirinya yang berkibaran terlihat kosong alias buntung. di punggungnya tergembol sebilah golok besar berukiran indah yang juga menyiratkan warna keemasan saat di timpa sinar surya.


Orang tua itu bukanlah pesilat sembarangan. karena nama Ki Tanjung Semboro yang bergelar 'Pendekar Golok Emas Berlengan Tunggal' adalah tokoh silat golongan putih yang cukup ternama di kawasan timur jawa. utamanya daerah semenanjung Blambangan dan pulau dewata Bali.


Orang yang berkuda di belakangnya adalah seorang lelaki pendek bertubuh ringkih dan berbaju hitam compang- camping seperti seorang gembel pengemis. kedua tangannya tidak terlihat karena tertutupi oleh lengan bajunya yang panjang longgar bertambalan. dari tampangnya yang keriput sepertinya dia lebih tua di bandingkan Ki Tanjung Semboro.


Biarpun Pranacitra tidak kenal siapa dia, tapi jelas orang pendek kurus itu juga bukan manusia sembarangan. ''Hhm., sepertinya acara di gunung Semeru itu bakalan ramai..'' gumamnya dalam hati sambil mengikuti rombongan itu yang berlalu dengan ujung matanya.


Setelah semuanya menghilang diujung jalan, pemuda pincang itupun berkelebat pergi. dia memilih jalan lain dengan menyusuri aliran sungai kecil ini. karena dari petunjuk yang pernah di berikan oleh gadis bernama Puji Seruni, dari aliran sungai itu dapat di temukan sebuah jalan rahasia untuk menuju ke salah satu bukit kecil yang berada di sebelah timur kaki gunung Semeru.


*****


Asalamualaikum., salam sejahtera buat kita semua.🙏 saat dapat kiriman chat cerita ini dari authornya, ada kabar kalau gunung Semeru meletus. semoga tidak ada korban dan semuanya selamat. Amin.


Silahkan tulis komentar, kritik dan saran juga like👍 vote jika suka. ingatlah untuk selalu menjaga kesehatan anda sekeluarga. Terimakasih. Wasalamualaikum.

__ADS_1


__ADS_2