
Semuanya terasa hening seakan waktu telah berhenti berputar. bahkan saat Pranacitra sudah melangkah separuh jalan mendekati Nyai Gading Wikuni, kedua anak dan muridnya juga masih diam mematung ditempatnya. baru setelah pemuda pincang dari gunung Bisma itu tiba didepan tubuh ketua perguruan 'Gading Emas' yang masih terkapar semuanya baru tersadar.
''Pemuda jahanam., aku akan beradu jiwa denganmu.!'' rutuk Gading Arwana kalap. ''Kau harus mengembalikan nyawa ibuku.!'' jerit Gading Mawarimut ikut meraung. keduanya serentak bergerak menyerbu diikuti oleh seluruh murid padepokan yang masih tersisa. meskipun sadar bukan tandingan lawan, tapi kesetiaan dan keberanian mereka patut dipuji.
Belasan orang serentak melabrak dengan berbekal senjata tombak besi berbentuk cula gading gajah. yang diserang seolah tidak perduli, tetap berdiri diam tundukkan kepala. ujung tongkat besi hitam kepala tengkoraknya menotok tiga jalan darah di dahi, dada serta perut Nyai Gading Wikuni. tubuh perempuan itu seolah diselimuti kabut kebiruan yang menebar hawa sejuk.
''Jangan berani menyentuh raga ibuku. dasar keparat., kubunuh kau manusia bangsat .!'' Gading Mawarimut meraung keras diantara tangisannya. diantara semuanya cuma dia yang tidak membekal senjata. sepasang kepalan tangannya yang gemuk kasar dan berlemak punya kekuatan untuk menggasak tumbang sebatang pohon.
Dengan seluruh kekuatannya gadis yang berperawakan mirip lelaki kasar itu hantamkan ajian 'Gajah Raung Geluduk' yang disusul dengan jurus 'Gajah Menggusur Bukit'. terasa gulungan angin tenaga sekuat kawanan gajah mengamuk melabrak. secara kekuatan tenaga dalam orang ini lebih hebat jika dibandingkan kakaknya. ditambah lagi serangan gabungan dari para murid lainnya membuat Pranacitra terkurung ancaman maut.
Terdengar satu helaan nafas kesal. tongkat besi hitam kepala tengkorak berputaran membentuk perisai hitam yang melindungi tubuh, lantas menusuk dan membabat. bersamaan tangan kirinya yang terkepal turut menghantam. bentrokan senjata dan ledakan keras terdengar berselingan dengan suara jeritan kengerian. potongan senjata yang patah berhamburan diudara menyusul puluhan tubuh yang jatuh bergelimpangan.
__ADS_1
Diantara belasan penyerangnya hanya Gading Mawarimut saja masih dapat berdiri meskipun dengan tubuh terhuyung mundur. meskipun luka dalam wanita gemuk ini tetap nekat untuk meneruskan pertarungan. sambil menahan rasa sesak dan sakit dirongga dadanya dia kembali maju menerjang. ajian 'Gajah Raung Geluduk' dilontarkan. karena luka dalamnya kekuatan ilmu pukulan itu jadi jauh !berkurang. dengan dua kali kibasan lengan dan sekali jotosan tinju saja Pranacitra sudah mampu merobohkan gadis itu.
''Ibu kalian berdua belum mati, aku sudah berusaha mengobati luka dalamnya. kalian semua tidak perlu merasa cemas. tapi jika masih ingin berbuat bodoh, aku bisa lupa diri dan membunuh kalian.!'' damprat Pranacitra kereng sambil gebrakkan tongkatnya ketanah hingga retak dan terbelah.
''Set., setan jah., jahan., nam. sud., sudah je., las kau mem., membu., nuh ibu dan mel., melukai aa., adik., ku tapi kenapa masih ber., lagak baik hati.?'' geram Gading Arwana terbata menahan rasa sakit dan kebencian. sambil memeluk adiknya dia menyeka tetesan darah di bibirnya.
''Kau dan adik perempuanmu yang tubuhnya seperti tumpukan buntelan karung beras itu cukup punya rasa bakti pada orang tua. ibumu juga memiliki rasa kasih sayang dan tangung jawab yang baik terhadap kalian berdua sebagai anak juga murid- muridnya. untuk itu kalian semua kulepaskan. hanya saja., kuharap dimasa depan kita tidak pernah bertemu lagi..''
''Aku rasa., sudah saatnya kau membuka semua simpul rahasia yang telah kau pendam lama pada kedua anakmu. kau pasti merasa heran dan penasaran dari mana diriku dapat mengetahui semua kisah lamamu ini. tentunya kau masih ingat dengan bocah perempuan kecil yang pernah kau tolong dan sempat menjadi pelayanmu sebelum dia diangkat sebagai murid Nyi Pariseta kakak seperguruan Ki Galing Brajapaksi.?
''Bocah bernama Puji Seruni itu sekarang sudah tumbuh menjadi gadis dewasa berilmu tinggi yang cantik jelita. dari dirinyalah aku mengetahui semua ini. meskipun dia tidak pernah bilang padaku tapi kurasa Puji Seruni juga ingin membalas budimu. anggap saja sekarang semuanya sudah impas..'' ujar Pranacitra sambil balikkan tubuhnya.
__ADS_1
Sekali tongkat besinya mencongkel keatas, tubuh Jingga Rani yang masih tergolek lemah sudah melayang ke atas dan jatuh dibahunya. setelah melemparkan dua butiran obat luka dalam pada Gading Arwana dan adiknya, pemuda pincang itupun berkelebat pergi tinggalkan tempat itu.
''Nyai Gading Wikuni., aku hanya gelandangan miskin mana ada banyak uang. jadi., kalian saja yang menggantikan semua kerugian dari pemilik warung makan itu. Haa., ha.!'' masih sempat sayup terdengar suara si pincang dari kejauhan berseling gelak tawanya.
Tidak berselang lama kemudian tubuh ketua perguruan Gading Emas itu sudah menggeliat. dibantu kedua anaknya dia berhasil duduk bersila dan mulai bersemedi mengatur nafas dan jalan darahnya. terlihat air mata bening menetes dari ujung matanya yang terpejam. dalam hatinya bercampur berbagai luapan perasaan.
Saat semuanya selesai dia membuka kelopak matanya dan balas memeluk kedua anaknya yang merangkul dirinya. ''Aih., tidak kusangka bocah perempuan kecil yang jadi pelayanku dulu masih teringat pada diriku. Puji Seruni., seperti apa anak itu sekarang.?'' batin Nyai Gading Arwana tersenyum.
Di sisi lain wanita gemuk berjuluk si 'Gading Gajah Sakti' itu juga mengakui kehebatan ilmu kesaktian pemuda pincang yang menjadi lawannya. bahkan dia merasa kalau sepertinya lawan sengaja tidak menggunakan seluruh kekuatannya, jika tidak saat ini dia pasti sudah tewas. ''Berita yang terdengar diluaran kadang tidak seperti kenyataannya. bocah pincang itu cukup punya keluhuran budi..'' gumam Nyai Gading Wikuni termenung.
*****
__ADS_1
Maaf cuma dapat kiriman cerita pendek, Selamat hari raya Idul Adha untuk para reader semuanya (baik bagi yang merayakan kemarin atau sekarang) 🐐🐏🐑 🍖🍖🍖mbeeekkk., mbeeeekkk.!''