Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Janda yang serba salah.


__ADS_3

Wanita pemilik rumah makan dan penginapan 'Lawang Wangi' itu hanya bisa menghela nafas panjang. dengan langkah anggun diapun beranjak meninggalkan kolam pemandian itu. setelah melewati dua buah lorong, perempuan yang biasa dipanggil sebagai 'Nyi Rondo Kuning' ini sampai di depan pintu kamar tidurnya. meskipun tempatnya terpisah dari kamar tidur yang lainnya, tapi pintu kamar juga sama berbau wangi.


Setelah yakin tidak ada seorangpun disana, janda cantik itupun masuk ke dalam kamar tidurnya. semerbak aroma wangi bunga yang lembut tercium dari dalam ruangan ini. kamar tidur Nyi Rondo Kuning meskipun tidak begitu luas dan sederhana perabotannya, tapi sangat bersih dan nyaman. balai tempat tidur itu terbuat dari kayu jati berukiran indah, selembar kain kuning menutupi kasur itu. diatasnya terlihat ada sebilah pedang bersarung kuning.


Nyi Rondo Kuning duduk termenung cukup lama ditepi ranjangnya sebelum mengambil pedang itu. jika diamati panjang pedang tidak kurang dari lima jengkal. saat dicabut cahaya redup kekuningan terpancar dari mata pedang yang cukup tipis dan agak lentur. pada bagian hulu pedang tertulis 'Pedang Rondo Kuning' yang berarti pedang janda kuning.


Wanita bertubuh sintal itu masih teringat jelas peristiwa lima tahun silam. saat itu dia baru saja ditinggal mati suami dan anak perempuan semata wayangnya akibat serbuan kawanan perampok yang menghancurkan desanya. perempuan itu cuma bisa menangis pasrah saat sang pimpinan gerombolan begal rampok ini menindih tubuhnya.


Tapi nasibnya masih mujur. entah darimana muncul seorang lelaki tua yang ibu jari dan telunjuk tangan kanannya buntung. wajah orang tua ini sangat umum tanpa ada ciri tertentu. rambutnya yang panjang dan ubanan diikat kebelakang mirip ekor kuda. tanpa bicara apapun orang tua yang umurnya mungkin lebih enam puluh lima tahunan itu menghabisi hampir tiga puluhan anggota gerombolan perampok itu, termasuk juga pimpinannya yang telah menodainya.


Dalam keadaan lemas tidak berdaya wanita itu dibawa pergi oleh orang tua penolongnya, meninggalkan desanya yang sudah musnah terbakar. saat tersadar dia sudah berada di dalam sebuah goa kecil. orang tua berambut kuncir ekor kuda memandanginya dari mulut goa sambil menghela nafas beberapa kali seakan ragu memutuskan sesuatu.


''Aku bicara langsung saja padamu, apakah dirimu kenal dengan seorang nenek tua bernama Nyai Ranggit.?'' tanya orang tua berjari buntung itu. meskipun terkejut dan bingung tapi dia membenarkan kalau mengenal Nyai Ranggit sebagai seorang nenek dari pihak ibunya. saat dirinya hendak balik bertanya bagaimana orang tua itu bisa mengenal Nyai Ranggit yang sudah lama sekali tidak ketahuan kabar beritanya, lelaki tua itu sudah mencegahnya bicara dan lantas memberinya sebuah pedang bersarung kuning dan mengatakan sesuatu yang sampai sekarang saja hampir tidak dapat dipercayai olehnya.


''Pedang ini bernama 'Pedang Rondo Kuning' yang berarti pedang 'Janda Kuning'. dulu diriku pernah kenal baik dengan pemiliknya, dia adalah seorang wanita janda yang jago bermain silat pedang. sebenarnya beberapa waktu belakangan ini aku sudah berusaha untuk mencari keturunan jago pedang itu tapi belum juga berhasil. asal kau tahu saja., pendekar pedang wanita yang aku maksudkan bukan lain adalah nenekmu sendiri yang bernama Nyai Ranggit itu.


''Saat baru menikah beberapa bulan, Nyai Ranggit sudah ditinggal pergi suaminya yang kepincut wanita lain. sejak saat itu dia meyakinkan sejenis ilmu pedang yang inti kekuatannya berasal dari kesedihan hatinya akibat ditinggalkan sang suami..''


''Kabarnya ilmu pedang yang dinamai Rondo Kuning hanya bisa dikuasai kaum janda saja. sejak saat itu dia lebih dikenal dengan nama 'Nyi Rondo Kuning'. di balik lipatan kain kuning yang melapisi sarung pedang itu terdapat ukiran dan tulisan mengenai rahasia jurus- jurus silat pedang Rondo Kuning..''

__ADS_1


''Baik suka atau tidak, sekarang ini dirimu sudah menjadi seorang janda. aku berikan sebuah penawaran., jika kau mau, aku akan luangkan waktu dalam waktu satu bulan ini untuk mengajari dasar berlatih ilmu silat serta menghimpun tenaga dalam. tapi untuk selanjutnya kau harus melatihnya sendiri..''


''Jika kelak kau berhasil mempelajari semua ilmu silat yang tersimpan dalam pedang itu, nama Nyi Rondo Kuning bisa juga kau pakai. satu masalah lagi., meskipun dirikulah yang mengajarimu, tapi diantara kita tidak ada hubungan guru dan murid atau apapun..'' tegas orang tua berambut kuncir ekor kuda itu.


''Yang sudah mati tidak akan hidup kembali. sangat wajar kau berduka karena ditinggalkan orang- orang terdekatmu. tapi dirimu masih muda dan cantik. sepahit apapun kehidupan, kita mesti dapat bertahan dan bangkit untuk meraih harapan. aku tidak pandai menghibur orang, tapi kurasa suami dan anakmu juga tidak ingin kau terus bergelut dalam kesedihan dan rasa putus asa..''


Itulah sepenggal ucapan orang tua itu yang masih terngiang dibenaknya. meskipun terasa kasar terdengar tapi cukup masuk akal. singkatnya dalam sebulan itulah dia mendapat bimbingan dasar ilmu silat dari orang tua berjari buntung yang kemudian diketahuinya memiliki julukan aneh si 'Maling Nyawa'.


Dari cerita orang tua itu juga si janda tahu kalau dia memiliki seorang murid lelaki yang baru beberapa bulan lalu dia tinggalkan bersama dengan sebuah pedang pusaka bernama 'Iblis Hitam' dan kitab ilmu kesaktian 'Kobra Iblis' untuk dipelajari sebagai bekalnya kelak di rimba persilatan.


Setahun belakangan ini muncul seorang pembunuh bayaran muda berjuluk 'Ular Sakti Berpedang Iblis'. dari yang dia dengar pedang pusaka milik pendekar muda itu juga bernama Kobra Iblis. jika pendekar muda itu dengan murid si Maling Nyawa yang menjadi tuan penolongnya adalah orang yang sama, maka Nyi Rondo Kuning menjadi merasa serba salah, kalau harus menyelidiki asal- usulnya sesuai dengan perintah si pincang yang juga pernah menyelamatkan hidupnya.


Cerahnya cahaya mentari pagi yang sudah beranjak menuju siang hari itu membuat pemandangan alam di lereng gunung Bromo menjadi terlihat jelas dipandang mata. meskipun disana terdapat hutan lebat, tapi sinarnya masih mampu menembusi celah sebagian pepohonan hutan yang rimbun.


Alunan suara siulan yang terdengar dari ujung jalanan sempit curam dan berbatu menuju kaki gunung Bromo itu membuat hati orang yang mendengarnya ikut merasa tenggelam dalam kesedihan. entah siapa orang yang sedang bersiul lagu menyedihkan seperti itu, kenapa juga dia melakukannya.


Seorang pemuda berbaju gelap terlihat sedang berjalan perlahan menyusuri jalanan kecil itu. jika diperhatikan pemuda yang lebih mirip dengan gelandangan melarat itu mempunyai langkah kaki yang aneh, membuat iba hati sekaligus menggelikan bagi siapapun yang melihatnya. kaki kanan setapak ke depan, kaki kiri selangkah terseret menyusul. yang kanan maju setindak, sebelah kiri terseok dibelakang.


Sebatang tongkat besi hitam dengan gagang kepala tengkorak yang terbuat dari perak membantunya berjalan menuruni gunung Bromo. rupanya pemuda berambut hitam gondrong yang dikeningnya terikat selembar kain batik lurik itu adalah seorang yang cacat sebelah kakinya.

__ADS_1


Sesampainya diujung jalan yang berbatasan antara wilayah gurun pasir dan hutan belantara, pemuda itu hentikan langkahnya. meskipun masih berjarak sangat jauh dan samar, tapi telinganya yang tajam dapat mendengar suara teriakan parau bertindih dengan dentingan senjata yang beradu. hanya beberapa tarikan nafas saja pemuda pincang itu berhenti sebelum kembali melanjutkan langkah kakinya yang menyeret seperti cacing.


Sambil terus melangkah terseok dalam hati si pemuda membatin. ''Kau baru saja bertarung sengit dengan 'Lima Elang Api'. untuk apalagi mencari tahu perkara orang lain. masalahmu sendiri masih bertumpuk. dunia persilatan memang tempat yang kejam untuk saling bunuh. jadi sudah sewajarnya jika ada darah tertumpah dan nyawa yang melayang dalam sebuah pertarungan..''


Pemuda pincang itu terus saja melangkah maju tanpa perduli dengan suara pertarungan yang seakan semakin jelas terdengar. hampir seratusan langkah dia memasuki tepian hutan rimba yang mengarah ke wilayah kaki gunung. saat itulah sayup terdengar suara jeritan pilu yang bercampur dendam dan putus asa dari seorang wanita.


Manusia dikaruniai akal pikiran dikepala dan hati nurani di jiwanya. meskipun isi otaknya memutuskan untuk terus berlalu pergi, tapi suara hatinya justru mengatakan lain. dengan menghela nafas kesal kakinya yang cacat menutul ke tanah. sekejap saja tubuhnya telah lenyap dari tempatnya berdiri.


Waktu sudah beranjak mendekati siang hari saat si pemuda tiba disana. di atas pedataran berumput dan berpasir itu terbujur dua sosok tubuh berpakaian jingga. terlihat bagian perut terbongkar dan dada mereka koyak dan jebol hangus terbakar seakan dicabik benda tajam. jelas kalau keduanya sudah tewas.


Dua orang lainnya adalah seorang gadis muda cantik dan seorang pemuda yang umurnya sedikit lebih tua dan juga sama berpakaian jingga. senjata mereka yang berbentuk cakar besi terlihat sudah terlepas dari genggaman. meskipun mereka terkapar roboh dan lukanya cukup parah, tapi masih memiliki harapan hidup.


Orang terakhir yang juga merupakan gadis muda berparas cantik masih terus berusaha bertahan. sekujur tubuhnya sudah basah kuyup oleh keringatnya. dengan berkali- kali melepaskan jurus 'Cakar Asap Neraka' dia masih sanggup menahan gempuran dari sejata dua buah ganco aneh lawan yang tertancap di kaki kanannya.


Meskipun demikian kalau melihat dari keadaan pertarungan itu, jelas dia tidak akan sanggup bertahan lebih lama lagi. sepertinya lawan dari gadis cantik yang seingatnya bernama Jingga Rani itu mempunyai ilmu kesaktian yang sangat tinggi.


Si pincang terperanjat juga melihat kejadian itu. dia tahu betul kekuatan ilmu 'Cakar Asap Neraka' yang diandalkan pimpinan dari 'Lima Elang Api' karena baru awal pagi tadi dia sempat mencicipinya. lawan si gadis adalah seorang nenek tua bermuka bengis berjubah merah dengan secarik kain hitam mengikat kening dan rambutnya yang putih menjela.


Terlihat ada suatu keanehan sekaligus juga keangkeran dikaki kanan si nenek yang buntung sebatas pergelangan. dua buah senjata aneh berbentuk ganco besi yang memancarkan sinar semerah darah sepanas api membara tersambung di sana.

__ADS_1


__ADS_2