Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Kisah kelam yang terpendam.


__ADS_3

Dengan dibantu oleh kedua orang anaknya Nyai Gading Wikuni berusaha untuk bangkit berdiri. dengan tatapan penuh keraguan putranya melihat wajah sang ibu. ''Bagaimana keadaanmu Bu., benarkah kau sudah kembali pulih dari luka dalammu.?'' dengan mengusap kepala putra- putrinya ketua padepokan silat Gading Emas itu tersenyum. ''Aku tahu kalau sebenarnya dalam hati kalian berdua sedang bertanya- tanya tentang maksud ucapan pemuda pincang tadi..''


''Mungkin benar yang pemuda pincang itu bilang., sudah tiba saatnya bagi kalian berdua untuk mengetahui jati diri kalian juga masa lalu ibumu ini. disini bukanlah tempat untuk mengatakannya. kita harus kembali ke padepokan. tapi sebelumnya ada sesuatu yang mesti lebih dahulu kita lakukan..'' ujar sang ibu hingga membuat kedua anak dan para muridnya saling pandang tidak mengerti.


Nyai Gading Wikuni terbatuk menghela nafas sambil menatap bekas warung makan yang sudah hancur musnah akibat tersapu badai pertarungan sengit yang terjadi. ''Hhmm., kira- kira berapa banyak uang yang mesti aku keluarkan untuk mengganti kerugian pemilik warung itu. Aah., paling banter hanya tiga kepingan uang emas dan beberapa keping uang perak saja..''


Perempuan gemuk ini merogoh kantung jubah kuningnya. raut wajahnya tertegun memucat saat sadar kalau dia tidak membawa uang sepeserpun. dengan mulut nyengir menahan rasa malu dia meminta pada kedua anak dan para muridnya untuk membayar lebih dulu kerugian pemilik warung makan dengan menggunakan uang mereka. setelah semua selesai rombongan inipun bergegas pergi meninggalkan tempat itu.


Jauh sebelum mendirikan perguruan silat Gading Emas, di masa mudanya Nyai Gading Wikuni adalah seorang pendekar wanita yang cantik dan cukup punya nama baik dirimba persilatan. ini dapat dimaklumi karena ayah sekaligus guru wanita itu adalah 'Ki Ageng Tapak Gajah'. seorang pesilat tangguh aliran putih yang ternama.


Dalam suatu pertemuan antara pesilat aliran putih, Gading Wikuni tanpa sengaja berkenalan dengan Gading Brajapaksi yang pada waktu itu juga masih muda dan gagah. kebetulan ayah serta guru kedua orang ini adalah sahabat lama. singkatnya terjadilah suatu perjodohan diantara mereka.


Kehidupan pernikahan mereka awalnya cukup baik dan saling menyayangi. masa depan sepasang suami istri itu terasa semakin cerah dengan diangkatnya Galing Brajapaksi sebagai ketua perguruan 'Naga Biru' di gunung Semeru menggantikan gurunya, hingga lahirlah Gading Arwana sebagai putra pertama mereka.


Tapi masalah datang saat muncul seorang wanita yang mengaku telah menjadi kekasih lama Galing Brajapaksi. celakanya perempuan itu datang dengan membawa seorang anak lelaki yang baru berusia dua tahun yang dia beri nama Hanggajaya. setelah didesak akhirnya ketua perguruan Naga Biru itupun mengakui kalau jauh sebelumnya dia sudah memiliki kekasih hati. dia menikahi Gading Wikuni hanya untuk menghormati gurunya.


Meskipun merasa sakit hati, tapi wanita itu mencoba untuk menerima keadaan dan hidup berdampingan dengan madunya. apalagi suaminya berjanji tidak akan membedakan siapapun anak dan istrinya. tapi hati manusia seringkali diselimuti kedengkian serta tamak. saat Gading Wikuni hamil anak yang kedua ibu Hanggajaya memberikan sejenis racun halus yang bekerja secara perlahan hingga sangat sulit dirasakan pengaruhnya.

__ADS_1


Namun yang jelas akibat racun itu tubuh Gading Wikuni yang tadinya langsing menarik hati menjadi gemuk dan membesar tanpa dapat ditahan. selera makan perempuan itu juga berkali lipat lebih besar. sifatnya yang baik hati dan lemah lembut berubah pemarah gampang naik darah. semua itu membuat rasa muak dan benci mulai timbul dihati Galing Brajapaksi si 'Dewa Naga Langit'.


Puncaknya terjadi pertengkaran hebat diantara kedua orang itu yang diawali Hanggajaya dan ibunya yang jatuh sakit karena keracunan. sebelum pingsan wanita itu sempat menuduh Gading Wikuni adalah orang yang telah meracuni dia dan putranya. bahkan seorang pelayan wanita itu juga bersaksi kalau Gading Wikuni menyembunyikan sisa bubuk racun itu dibawah tempat tidurnya.


Tentu saja ibu dari Gading Arwana langsung menyangkal tuduhan itu. sempat terjadi pertarungan diantara kedua suami istri ini yang diakhiri sebuah pukulan telak diperut Gading Wikuni. meskipun wanita gemuk itu mampu menahannya tapi hawa kesaktian jurus masih sempat menggoncang rahimnya.


Kejadian itu membuat Gading Brajapaksi agak khawatir. bagaimanapun juga itu adalah anak istrinya sendiri. dia bertambah menyesal saat tidak menemukan bubuk racun apapun dibawah tempat tidur istri tuanya. melihat itu Gading Wikuni meledak kemarahannya dan balik mencaci maki suami dan madunya dihadapan para murid perguruan Naga Biru hingga membuat malu suaminya, bahkan karena gelap mata dia hampir saja membunuh ibu Hanggajaya.


Masih untung Gading Brajapaksi mampu mencegahnya. tapi semuanya malah membuat istri tuanya kalap karena merasa sang suami lebih melindungi istri mudanya. tanpa perduli apapun dia beradu jiwa dengan ketua perguruan Naga Biru itu. tapi tidak lebih sepuluh jurus wanita yang hamil muda itupun jatuh dalam kekalahan.


Di sana juga terdapat beberapa butir obat pemulih luka dalam dan tenaga kesaktian pemberian Nyi Pariseta, kakak seperguruan dari Ki Galing Brajapaksi yang selama ini punya hubungan sangat baik dan bersimpati dengan dirinya yang tinggal disebuah bukit kecil tidak jauh dari gunung Semeru.


Tidak ingin terjadi apapun pada Gading Arwana yang belum berumur setahun, Gading Wikuni nekat melarikan diri. tepat tengah malam dengan semua sisa tenaganya dia menjebol pintu ruang penyekapan, membunuh dua orang penjaga sekaligus melarikan diri.


Di suatu tempat dekat kaki gunung Semeru dia bertemu dengan Nyi Pariseta yang rupanya sudah membawa Gading Arwana secara diam- diam. setelah menerima sejumlah bekal darinya perempuan gemuk kasar berlemak yang tadinya bertubuh semampai dan cantik itupun pergi menghilangkan jejaknya.


Ki Galing Brajapaksi yang kemudian tahu istri tuanya kabur menjadi sangat marah dan malu. untuk menutupi kejadian memalukan dalam keluarganya, dia menyebarkan berita kalau Nyai Gading Wikuni telah diusir karena berselingkuh serta mempelajari ilmu hitam untuk membunuh dia dan istri mudanya.

__ADS_1


Beberapa hari kemudian Nyi Pariseta meminta pada adik seperguruannya agar gadis kecil bekas pelayan Nyai Gading Wikuni untuk tinggal bersamanya. Ki Gading Brajapaksi tidak keberatan karena dia juga enggan menghidupi bocah kecil bekas pelayan istri tuanya itu, tanpa dia pernah tahu kalau gadis inilah yang telah mengambil bubuk racun yang diselipkan orang suruhan istri mudanya di bawah tempat tidur untuk memfitnah Nyi Gading Wikuni.


Dua orang pria wanita muda itu masih saling duduk berhadapan, terpisah oleh sebuah perapian kecil. saat itu kedua orang ini berada didalam sebuah gubuk reot yang berada ditepian hutan dan sudah lama ditinggal oleh pemiliknya. diatas perapian itu terpanggang tiga ekor ikan gabus. aroma sedap dengan sedikit bau hangus tercium menggugah selera makan.


Meskipun dalam keadaan perut kelaparan tapi gadis jelita berbaju jingga itu terus menatap seraut wajah pucat milik seorang pemuda yang berada di balik kobaran api unggun kecil pemanggang ikan. baginya cerita pemuda pincang itu tentang kisah hidup Nyai Gading Wikuni sangat menyentuh perasaan. dalam hatinya timbul rasa kasihan pada Gading Mawarimut, mungkin akibat racun dan pukulan itulah yang membuat tubuhnya terlihat aneh.


''Lalu kapan terakhir kalinya kau bertemu dengan gadis bekas pelayan Nyai Gading Wikuni itu. bagaimana hubungan kalian berdua, sedekat apakah.?'' tanpa tertahan gadis cantik itu bertanya. tapi dia cepat tersadar dan malu karena merasa tidak pantas untuk mengajukan pertanyaan bodoh yang bukan menjadi urusannya. beruntung pemuda itu cuma menyeringai sinis tanpa menjawab apapun dan terus sibuk mengatur ikan bakar.


Perut gadis cantik berbaju jingga itu sudah sangat keroncongan. mungkin cacing- cacing di dalamnya sudah berteriak minta makanan. beberapa kali tangannya yang putih mulus mencoba mengambil ikan gabus bakar yang berada di depannya, tapi sebuah tangan pucat kekar menepisnya. ''Kubilang jangan berani mengambilnya jika belum kuijinkan.!'' geram pemuda berbaju gelap dengan suara dingin.


''Tapi sampai kapan aku mesti menunggu., kurasa sedikit mentah juga tidak mengapa. lihat kulit ikan itu sudah kehitaman, ini pasti tanda kalau sudah matang bukan.?'' ujar gadis itu sambil tangannya bergerak meraih tusukan ikan diatas panggangan bara api. pemuda bermuka pucat dingin itu mencoba mencegah tapi dia terlambat. dua ekor ikan gabus bakar sudah berpindah ketangan sigadis yang dengan rakus menggerogotinya meskipun masih panas.


''Hei gadis sialan., aku yang menangkap dan memasak ikan ini tapi kau malah memakan dua ekor. dimana sifat Jingga Rani sang pemimpin 'Lima Elang Api' yang katanya dingin dan suka memandang rendah kaum pendekar muda itu..'' rutuk pemuda pucat berpakaian gelap gusar.


*****


Asalamualaikum., salam sehat sejahtera selalu. Mohon maaf, mungkin PTK akan berhenti up date sampai akhir minggu ini karena kesibukan pekerjaan authornya. tapi kalau memungkinkan sebelum seminggu Insya Allah sudah bisa update lagi🙏 Wasalamualaikum.

__ADS_1


__ADS_2