
Ki Karwa Manggala masih berdiri setengah membungkuk hormat. dari arah kepergian sang 'Tuan Utusan Mata Buta' melayang selembaran kain hitam berbentuk persegi. hebatnya kain yang mirip sebuah sapu tangan itu seakan sengaja terbang kearahnya. dengan agak gemetaran orang tua itu menyambut lembaran kain hitam yang selintas menebar bau anyir darah. tidak ada suatu apapun kecuali lambang partai 'Gapura Iblis' di bagian bawahnya.
''Ingatlah 'Setan Berjari Iblis'., waktu kalian tidak banyak. gunakan segala kemampuanmu untuk dapat melenyapkan bibit masalah di masa depan..'' gema suara itu masih terngiang jelas di telinga Ki Karwa Manggala, meskipun dia tahu si pemilik suara mungkin sudah berlalu ratusan langkah dari tempatnya berdiri.
Sebuah rumah milik bekas pembesar istana itu terlihat begitu megah dan mentereng. walaupun Ki Ageng Panji Wiro Bagaskoro sudah dua tahun lalu meninggal menyusul mendiang istrinya yang mangkat setahun sebelumnya, tapi keluarga pembesar keraton itu masih sangat di hormati orang.
Hal ini dirasa cukup wajar karena semasa hidupnya keluarga pembesar kerajaan itu terkenal sangat baik pada siapapun, namun juga tegas dalam bertindak memberantas kejahatan di dalam keraton. apalagi menantu dari Ki Ageng Panji Wiro Bagaskoro yang bernama raden Aryo Wangiran telah tiga tahun lalu diangkat menjadi salah satu kepala pasukan istana yang paling diandalkan.
Ki Ageng Panji Wiro Bagaskoro mempunyai tiga orang anak. yang pertama perempuan dan sudah berkeluarga. sekarang dia beserta kedua anaknya ikut keluarga suaminya yang menjadi adipati di daerah Muntilan. anak kedua laki- laki berusia tiga puluhan yang menjadi seorang kepala pasukan kerajaan yang bertugas menjaga perbatasan di daerah Tuban.
Anak bungsunya bernama Diyah Indani. perempuan dua puluh lima tahunan inilah yang sekarang menjadi istri dari Aryo Wangiran dan menempati rumah besar milik mendiang orang tuanya. sepasang suami istri ini sejak lima tahun pernikahannya belum di berikan keturunan. tapi itu semua tidak ada kaitannya dengan urusan hubungan suami istri. setidaknya sudah tiga kali Diyah Indani hamil sebelum akhirnya keguguran saat janin itu belum terbentuk sempurna di rahimnya.
Kejadian ini tentu sangat menyedihkan bagi sebuah keluarga dari kalangan atas. beberapa tabib istana pernah memeriksa kandungan wanita itu tapi tidak di temukan masalah apapun. akhirnya mereka hanya beranggapan kalau yang Maha Kuasa belum berkenan memberikan momongan.
Raden Aryo Wangiran sendiri adalah seorang lelaki empat puluhan lima tahun yang terlihat gagah tampan dan berperangai halus hingga orang mengiranya baru tiga puluh tahunan. lelaki ini sebenarnya kurang begitu jelas asal- usulnya, ada yang bilang dulu dia pernah menyelamatkan keluarga Ki Ageng Panji dari usaha pembunuhan. kabar lainnya raden Aryo masih kerabat jauh dari pembesar itu lantas dijodohkan dengan putri bungsunya.
__ADS_1
Langit senja telah berganti malam hari. raden Aryo Wangiran baru saja selesai menyantap hidangan makan malam bersama istrinya yang cantik. kehidupan mereka terlihat bahagia meskipun masih belum memiliki anak. dua orang emban yang membersihkan sisa makanan diatas meja agak terkejut saat melihat sebuah lipatan sapu tangan hitam yang terselip dibawah taplak meja makan yang terbuat dari kayu jati berukiran indah.
Meskipun merasa agak heran bagaimana benda itu bisa berada disana tapi kedua emban pembantu rumah itu tidak berani memungutnya. sebuah tangan kekar namun halus bersih mengambil lipatan sapu tangan itu, raden Aryo Wangiran mengernyit alis matanya saat membuka sedikit lipatan sapu tangan hitam itu. ''Kain apa itu kakang Aryo, kenapa bisa berada disana.?'' tanya Diyah Indani seraya bangkit dari tempatnya duduk.
''Entahlah., siapa yang meletakkan kain hitam ini di meja makan, apakah kain ini yang biasa kalian gunakan untuk membersihkan meja dan perabotan rumah.?'' raden Aryo balik bertanya pada kedua emban pembantu rumahnya. keduanya saling pandang dan menggeleng. lelaki itu bangkit mendengus, ''Lain kali kalian periksa dulu lebih teliti kebersihan meja ini sebelum menghidangkan makanan. warna hitam bisa memberikan kesan buruk pada pandangan mata orang lain..''
''Sudahlah kakang Aryo., tidak perlu marah begitu. toh itu cuma sehelai kain saja. mungkin ada pelayan rumah kita lainnya yang tanpa sengaja terlupa meninggalkanya diatas meja itu. kalian berdua bisa pergi dari sini. setelah menyelesaikan pekerjaan, kalian dapat beristirahat..'' ucap Nyi Diyah Indani. kedua emban pelayan rumah setengah umur itu mengangguk hormat sebelum pergi kedalam.
Dalam kamarnya yang luas dan berhias ukiran serta perabotan indah pada setiap sudutnya terlihat Nyi Diyah Indani sedang duduk ditepi ranjang. perempuan cantik itu telah melepas sanggul dan pakaian luarnya. kini tubuhnya yang putih mulus hanya ditutupi sehelai kain jarik kembang- kembang. sepasang matanya menatap lembut penuh kekaguman pada suaminya yang juga sudah bertelanjang dada hingga tubuh kekarnya yang bersih terlihat.
Selanjutnya Nyi Diyah Indani mengeluh tertahan saat hidungnya mencium aroma wangi yang entah bagaimana dapat terpancar dari dalam diri suaminya, hingga tubuhnya seketika terbaring lemas tanpa daya. dia ingat pernah beberapa kali mencium wewangian aneh ini saat dirinya mengandung. meskipun pikirannya masih sadar dan bisa mendengar, tapi tidak mampu lagi bergerak, melihat atau bersuara.
''Sebenarnya kehidupanku bersamamu lumayan bahagia, duhai dinda Diyah Indani istriku tercinta. hanya saja., kadang manusia tidak dapat terlepas dari masa lalu..'' ujar raden Aryo Wangiran dingin. ''Akan kuberitahukan sebuah rahasia padamu, tiga calon bayi yang pernah berada dalam kandunganmu mati kuracuni. kau tahu kenapa dindaku sayang., karena aku tidak suka punya anak, suara mereka berisik membuat kepalaku pusing..''
''Sekarang kau bisa menyusul mereka ke alam sana. Aah hampir lupa., jika bertemu dengan Ayah dan Ibu mertua sampaikan juga salamku pada mereka. katakan saja kalau peristiwa pembunuhan yang pernah menimpa kalian adalah bagian dari tipu muslihatku untuk dapat mengambil hati mereka. para pembunuh itu sebenarnya adalah orang- orangku sendiri. lalu di saat nyawa kalian semua sudah berada di ujung maut, akupun segera muncul sebagai pahlawan penyelamat sang putri, Haa., ha.!''
__ADS_1
''Satu rahasia lagi sayangku., sebenarnya Aryo Wangiran bukanlah namaku. bahkan diriku tidak pernah memiliki nama. tapi aku punya gelaran di dunia hitam persilatan. tubuhku punya keanehan, meskipun berkeringat atau tidak mandi, tapi aroma tubuhku tetap saja harum. keharuman tubuhku bukanlah sembarangan, melainkan keharuman yang membunuh. kau tahu kenapa., karena akulah si 'Harum Beracun.!'' desis Aryo Wangiran. dengan menyeringai sadis dia mencium bibir istrinya, saat kedua bibir terlepas, wajah Nyi Diyah Indani berubah kuning kemerahan dan membengkak. anehnya dari tubuh wanita yang sudah menjadi mayat itu tercium bau wangi yang menyengat.!
Kalau saja ada orang rimba persilatan yang mendengar nama Harum Beracun di sebutkan, biasanya mereka akan memilih menjauh darinya. jangan kata orang ini terlihat santun ramah dan gagah rupawan. sebenarnya dia adalah seorang penipu ulung sekaligus pembunuh keji.
Konon kabarnya ilmu silat orang ini tidaklah begitu hebat. tapi yang luar biasa adalah dia memiliki kepandaian ilmu racun yang sangat langka. dari dalam tubuhnya seolah dapat terpancar berbagai macam aroma wewangian yang memabukkan bahkan mematikan lawan. hampir sepuluh tahun belakangan orang ini menghilang tak karuan rimbanya. sungguh tidak disangka dia malah menjadi menantu dari seorang pembesar istana.
Raden Aryo Wangiran alias si Harum Beracun berjalan mondar- mandir mengelilingi kamar tidurnya yang luas. matanya menatap tidak berkesip selembar sapu tangan kain hitam legam yang lapat- lapat menebar bau anyir darah. di sana terdapat beberapa baris tulisan dan lukisan. ''Tiga kawan lama kita Nyi Merak Sinden si 'Dewi Merak Merah', Ki Gelung Sanca Amurkala ketua perguruan silat 'Sanca Belang' dan 'Sepuluh Cincin Pembunuh' sudah menemui ajalnya.!''
''Tuan Utusan Mata Buta meminta kita bertiga untuk menghabisi sang pewaris ilmu lima tua bangka yang dulu pernah kita tipu masuk ke dalam 'Lembah Seribu Racun'. dia seorang pemuda pincang yang sekarang menjadi pesilat muda pendatang baru yang terkuat dan di musuhi sekaligus ditakuti semua orang. sebulan lagi si pincang itu akan membuat perhitungan dengan 'Tiga Singa Buas Bersurai Biru' di lereng gunung Merapi. itu kesempatan kita untuk dapat menghabisinya..''
''Aku tidak dapat mengetahui dimana kawan kita si gembel tua berada saat ini. secepatnya kau temukan dia lalu katakan padanya semua yang telah terjadi.!'' hanya itu saja yang tertulis di atas lembaran kain hitam itu. pada bagian bawah terlukis dua buah gapura besar dengan latar belakang bulan purnama berlumuran darah.
Meskipun demikian si Harum Beracun paham siapa pengirimnya. ''Hhm., jadi sekarang ini tinggal aku, Ki Karwa si 'Setan Berjari Iblis' dan 'Gembel Gila Dari Utara'. sialan betul, kenapa bisa muncul kejadian seperti ini. tidak ada jalan lain lagi, si pincang keparat itu mesti mampus secepatnya.!'' dengus Aryo Wangiran alias Harum Beracun.
Tangannya mengibas ke udara. segulung angin lembut namun kuat menghembus ke atas. dari tiang penglari atap ruangan kamar tidurnya melayang turun selembar pakaian jubah berwarna jingga yang memancarkan cahaya redup dan aroma wangi. dengan pejamkan mata dan tersenyum, orang ini merentangkan tangannya ke atas sambil bergerak memutar seakan sedang menari.
__ADS_1
Aroma wewangian semerbak menyelimuti seluruh ruangan. secara aneh jubah jingga itu kini sudah menutupi tubuh lelaki ini. saat jendela kamar tidur terbuka, segulung angin berbau wangipun berhembus keluar seolah mengiringi tubuh si Harum Beracun yang berkelebat lenyap dari sana.