
Dalam rimba persilatan saat ini yang penuh dengan persaingan diantara kaum pendekar baik yang memilih berdiri sendiri maupun berkelompok, terutamanya bagi mereka yang termasuk dalam golongan muda pendatang baru, kabar tentang kematian dari si 'Siulan Kematian' alias 'Setan Pincang Penyendiri' telah membawa kegegeran tersendiri.
Karena bagaimanapun juga dengan tewasnya sang peringkat teratas itu tentu memberikan peluang bagi para pesilat muda pendatang baru yang lain untuk dapat menggantikan kedudukannya. apalagi selama ini sudah banyak pesilat yang mencoba untuk merebut gelar itu namun malah justru terkapar tewas.
Walaupun mereka sebenarnya sudah sering mendengar tentang kehebatan ilmu silat dan kesaktian si pincang itu juga segala sepak terjangnya yang sering membuat merinding, tapi godaan akan meraih ketenaran nama besar lebih tidak dapat mereka tahan. ibarat kata, semakin tinggi pohon kelapa berdiri makin keras juga angin yang menerpanya.
Demikian juga semakin hebat dan terkenal seseorang, dia akan membuat orang lain bertambah iri hati dan makin bernafsu untuk meruntuhkannya dari puncak kemasyuran. biarpun tidak sedikit orang yang merasa sayang dan bersedih dengan kabar berita ini, bahkan banyak juga yang tidak mempercayai kebenarannya tapi tetap saja semua itu telah membawa pergolakan hebat dalam dunia persilatan.
Beberapa tokoh persilatan yang pernah punya silang sengketa dan dendam kesumat pada diri si pincang baik secara langsung ataupun dengan para gurunya di masa lalu tapi tidak berani untuk bertindak, kini sama muncul dan unjuk gigi. dengan segala kepongahannya para pesilat pengecut itu berkoar kalau merekalah yang punya andil besar dalam keberhasilan membunuh pemuda pincang yang mereka anggap sebagai manusia jahat pembawa bencana bagi masyarakat itu.
Karena tidak ada satu orangpun yang pernah melihat secara langsung bagaimana kisah kematian si pincang alias 'Pendekar Tanpa Kawan' yang sebenarnya, maka bermacam berita simpang- siurpun bertebaran ke seluruh penjuru, apalagi orang cenderung memberikan tambahan bumbu pada setiap ceritanya agar lebih menarik perhatian.
Akibatnya kegemparanpun semakin meluas bukan cuma dalam lingkup dunia persilatan saja, kaum pembesar kerajaan di seluruh penjuru kerajaan juga membicarakan kabar ini. bahkan rakyat jelata dari tua sampai anak kecilpun turut pula ikut nimbrung baik itu di dalam kampung, pasar ataupun saat mereka nongkrong di warung- warung makan.
Padahal hampir semua orang itu belum pernah bertemu dengan si pemuda pincang ini sebelumnya. begitulah salah satu sifat dasar dari kebanyakan manusia. mereka lebih suka mengikuti arus dan sering kali tidak punya pendirian hanya demi mendapatkan sedikit kesenangan.
Namun yang paling aneh., partai 'Gapura Iblis' sebagai pelaku sebenarnya dari peristiwa tewasnya si pincang justru adem- ayem saja, malah terkesan membiarkan semua orang berlomba mengunggulkan dirinya sebagai yang paling berjasa dalam terbunuhnya si 'Iblis Pincang Kesepian' itu. seakan semakin kacau dunia persilatan akan makin baik pula bagi mereka.
Si pincang dianggap sebagai penjahat besar oleh banyak orang meskipun ada sebagian juga yang bersimpati dengannya. terutama bagi mereka yang pernah mengenal atau mendapatkan pertolongan darinya. tetapi semua itu tidaklah berguna. sebab hitam- putih, baik ataupun jahat seringkali hanyalah sebagai pemanis dalam sebuah cerita.
Yang penting mereka bisa turut berbicara dan tidak mau ketinggalan berita tentang kabar tewasnya si pincang. seolah- olah jika sampai terlambat mengikuti, mereka takut akan dianggap sebagai orang yang kurang punya wawasan atau mungkin dalam bahasa jaman sekarang di sebut 'Nggak Update, Lemot, Lelet atau Kurang Gaul'.
Seperti juga yang terjadi di pasar Sewon. saat matahari belum sepenuhnya terbit, suasana pasar yang berada di pinggiran kadipaten Muntilan itu sudah sangat ramai dengan suara para pedagang juga pembeli. puluhan gerobak pedati berisikan bermacam barang dan teriakan kuli angkut pasar menambah riuh dan sesak suasana pasar.
__ADS_1
Seorang gadis muda berbaju biru muda dan berwajah manis tanpa pupur gincu juga baru saja menerima uang pembayaran dari para pengecer jamu dan obat buatannya. berbeda dengan pedagang lain yang memakai kuda, keledai atau sapi sebagai penarik gerobak pedatinya, gadis ini justru menggunakan seorang pemuda bertubuh tinggi besar luar biasa sebagai pendorong gerobak jamu dagangannya.
Meskipun gerobak itu cukup besar juga berat berisikan timbunan bahan ramuan obat, tapi pemuda kekar yang sepintas nampak tolol dan bernama Gendol ini tidak terlihat lelah sedikitpun. ''Gendol., mari kita pulang. uang hasil dagangan jamu sudah didapat, bahan- bahan ramuan obat untuk persediaan sebulan ke depan juga telah terbeli..'' seru gadis berbaju biru itu tersenyum manis sambil melompat ke atas gerobak dorong.
Pemuda yang umur sebenarnya baru lima belasan tahun tapi punya potongan tubuh seperti raksasa untuk orang seusianya itu menyahuti. dengan enteng dia kalungkan tali penarik gerobak ke bahunya yang kekar. sambil mencengkeram pegangan kayu dia dengan entengnya menarik gerobak yang di penuhi tumpukan barang berat dengan setengah berlari.
Meskipun sudah beberapa kali orang- orang di pasar itu melihat tapi tetap saja mereka merasa tercengang dengan kekuatan tenaga si Gendol. tapi baru belasan langkah pemuda raksasa itu menarik gerobaknya, mendadak saja dia berhenti sambil menoleh ke samping jalan yang terdapat sebuah warung makan.
Gadis manis berbaju biru muda dengan celana warna hitam itu turut menoleh ke arah warung. disana ada beberapa orang lelaki kasar dengan membekal senjata di pinggang sedang minum tuak dan ngemil gorengan. mulanya gadis bernama Srianah ini merasa heran dengan sikap bawahannya yang berani berhenti menarik gerobak tanpa dia perintah.
Tapi saat dia mendengar apa yang sedang dibicarakan orang- orang itu gadis itupun maklum dengan perbuatan anak buahnya karena diapun merasa sangat jengkel. maka disaat Gendol menoleh padanya dengan raut wajah memendam kemarahan, gadis itupun cuma mengangguk tanpa bicara. ''Aaish., kali ini biar si Gendol saja yang mengatasinya..'' batin murid si 'Gembel Sakti Mata Putih' itu.
Begitu mendapat persetujuan dari Srianah, dengan langkah lebar Gendol menghampiri para pengunjung warung itu. ''Sepagi ini kalian bertiga sudah mabuk tuak dan pentang bacot sesukanya. ocehan kalian membuat telingaku sakit saja.!'' damprat Gendol marah sembari menggebrak permukaan meja kayu hingga jebol pecah.
Biarpun umur Gendol masih sangat muda namun tubuhnya sudah begitu besar. dengan busungkan dada dia menerima begitu saja salah satu pukulan lawan. dua kepalan tinju lagi disambutnya dengan cengkeraman yang disusul dengan gerakan tangan membetot, memelintir lantas membanting.
Tanpa mau memberi jeda pada ketiga orang lawannya, Gendol cepat ayunkan sepasang kepalan tangannya seolah dua buah palu raksasa yang jatuh ke bumi. lelaki yang baru saja menjerit tertahan karena pukulannya tidak mampu sedikitpun menggoyahkan tubuh Gendol, seketika meraung pendek. orang inipun jatuh tersungkur tanpa sanggup bergerak lagi setelah kepalanya terhantam kepalan tangan si Gendol. tidak jelas dia cuma pingsan atau malah mati karena darah telah tertumpah dari mulutnya.
'Whuuk., whuuk., bhuukk.!'
'Craapp., craaakk., kraaask.!'
'Braaakk., blaaang. !'
__ADS_1
''Aaahk., aaakh., uagh.!'' Dua jeritan panjang dan satu pendek terdengar bersamaan dengan suara tulang tangan yang patah remuk. sementara si pemilik tangan terkapar di tanah, kaki besar Gendol sudah menginjak perut mereka tanpa ampun. setelah sempat memuntahkan isi perutnya keduanyapun tidak sadarkan diri.
Selain tiga lelaki itu masih ada dua orang lagi yang berada dilain meja dan tadinya juga turut nimbrung berbicara. dari cara gerakan kedua orang ini yang lebih cekatan menandakan ilmu silat mereka lebih tinggi, karena tahu- tahu golok yang tergenggam ditangan mereka sudah membabat bersilangan. pertama mereka seakan hendak membelah pinggang dan perut Gendol, tapi ditengah jalan malah naik ke atas hendak memenggal leher.!
Serangan jurus golok yang mengandung gerak tipuan mematikan ini masih ditambah dengan dua pukulan juga tendangan yang mengarah dada serta iga kiri dari pemuda berbadan raksasa itu. ''Kurang ajar., mampus kamu bocah besar keparat.!'' bentak mereka beringas. jelas keduanya ingin menghabisi si Gendol secepatnya.
Yang diserang cuma keluarkan dengusan. tubuhnya yang tinggi besar juga tidak berusaha untuk menghindar. hanya kedua tangannya memukul, mencengkeram, mengunci dan membanting. ''jurus 'Gerakan Delapan Lengan Naga Besar., Gerakan 'Tinju Kepalan Naga, 'Cengkeraman Cakar Naga, 'Kuncian Naga Membelit' dan terakhir., gerakan 'Naga Membanting Gunung'. modar., kowe kabeh.!'' teriakan keras Gendol yang mengamuk seketika membuat gempar seluruh pasar.
Tidak jelas mana suara batang golok yang mencelat patah, tulang tangan kaki yang remuk, muntahan darah yang tersembur, teriakan parau kesakitan juga tubuh yang terbanting hingga melesak setengah ke dalam tanah. Gendol masih berdiri angker acungkan kedua kepalan tangannya. bunyi tulang otot yang berkerotokan terdengar jelas dari dalam tubuh kekarnya. semua orang bergidik dan tersurut mundur saking ngerinya.
Hanya dengan dua atau tiga gebrakan saja lima orang sudah tersungkur tanpa mampu terbangun lagi. tidak seorangpun berani memastikan apakah mereka masih bernafas atau malah tewas. meskipun sudah pernah mendengar tentang kekuatan si Gendol tapi baru sekarang semua orang melihat betapa menakutkan bekas kuli angkut pasar ini.
''Kalian semuanya dengarkan., lima orang pecundang yang sok jagoan ini telah bicara ngawur terang si pincang. asal kalian tahu saja, orang yang kalian bicarakan macam- macam itu pernah menyelamatkan nyawaku. jika sampai aku mendengar bacot kalian berkoar ngawur tentang tuan penolongku itu, lima orang ini bisa jadi contohnya. apa kalian semua dengar dan paham, hahh.?'' gertak si Gendol dengan mata melotot. seketika semuanya mengangguk cepat- cepat.
''Bagus., anggap saja semuanya tidak pernah terjadi. jika masih ada orang yang berani mengungkit masalah ini, kalian akan terima akibat yang jauh lebih buruk.!'' ancam Gendol sambil lemparkan beberapa keping uang perak dan tembaga ke arah pemilik warung. ''Ini sebagai ganti meja kursimu yang hancur juga upah untuk menyingkirkan kelima cecunguk tolol ini dari jalanan..''
Setelah sekali lagi menyapu pandang semua orang dipasar dengan tatapan bengis, Gendol kembali menarik gerobak barang tinggalkan pasar di iringi dengan pandangan ngeri semua orang. ''Hee., he., mbak Srianah, bagaimana penampilanku di pasar tadi. mirip tidak dengan gaya seorang pendekar besar yang terkenal.?'' Srianah cuma bisa tepuk jidatnya melihat kelakuan anak buahnya ini.
Dengan geleng- geleng kepala Srianah menggumam, ''Apa kau percaya kalau tuan penolongmu itu sudah mati seperti yang di bicarakan orang.?'' Gendol langsung mencibir, ''Chuih., meski aku ini bodoh tapi tidak setolol orang- orang itu. karena hanya orang dungu saja yang percaya kalau tuan guru besar yang mulia sudah mati..'' ujarnya sambil terus menarik gerobak barang.
........
Silahkan tuliskan komentar, kritik saran, like👍, vote👌juga Share novel ini jika Anda suka. Trims 🙏.
__ADS_1