
Sosok yang berada di dalam kegelapan itu tetap diam tidak bergerak. sepasang matanya yang menyorot dingin juga masih tidak memancarkan suatu perasaan apapun. tapi anehnya tatapan mata itu justru membuat orang lain gelisah dan ngeri karena mereka tidak pernah tahu apa yang terkandung dalam pandangan sedingin mata mayat itu.
Dua orang murid perguruan silat 'Naga Biru' yang tersisa dan baru selamat dari telapak kematian Ki Tuyul Ireng juga sama merinding. mereka sampai tidak sempat bangun dari tempatnya terkapar. dalam hati kedua pemuda ini dirasuki perasaan seram yang tidak dapat terkatakan saat melihat sepasang mata aneh yang menyorot di balik kegelapan itu.
'Srreeekh., sheeet., sraak!'
'Teeep., taap., traaak.!'
Suara itu terdengar seiring dengan sosok bayangan hitam itu yang bergerak mendekat. meskipun orang ini sedang berjalan, tapi jelas itu bukan bunyi langkah kakinya. itu seperti suara suatu benda yang sedang terseret lalu membentur sesuatu. setiap kali suara aneh itu terdengar, orang seakan merasakan ada irama kematian yang datang mendekat.
Ujung sebuah tongkat besi yang menancap di atas tanah basah itu menyaruk ke depan seiring langkah kaki orang itu yang pincang terseok. batu kerikil juga tanah berumput tergerus pecah saat di lindas ujung tongkat besi hitam yang tergengggam di tangan kirinya. siapapun yang melihat ujung tongkat itu menggores tanah becek berbatu, akan merasakan seolah jantungnya sendiri yang tergores.
Hujan gerimis yang terus turun dari atas langit gelap seakan deraian air mata yang mengiringi suara siulan berirama menyedihkan hati. meskipun Ki Tuyul Ireng belum dapat melihat tampang orang itu, tapi dia sudah tahu sedang berhadapan dengan siapa. mata tunggalnya yang biasanya merah melotot bengis, kini menatap penuh rasa seram pada sosok gelap yang sudah berhenti hanya lima langkah darinya.
''Ka., kau., kau si pincang itu. ken., kenapa kau bisa berada di sini.?'' tanya Ki Tuyul Ireng alias 'Demit Kate Mata Picak' terbata. sebenarnya orang ini yakin dapat menandingi kehebatan ilmu si pincang yang berada di hadapannya, tapi kedatangan orang itu yang mendadak dan membawa suasana mencekam jiwa layaknya hantu tanpa sadar membuat hatinya ngeri.
Ujung ongkat besi itu terangkat perlahan dari atas tanah. seiring kilatan cahaya petir yang menyambar dan ledakannya yang seakan mampu membelah angkasa, tongkat itu berhenti bergerak saat menunjuk ke muka Ki Tuyul Ireng. ujung tongkat itu mengarah tepat di mata orang kate ini.
__ADS_1
Sekali lagi kilat menyambar, kali ini jauh lebih keras dengan pecahan cahaya yang merobek atap langit. meskipun cuma sekejap mata namun sudah mampu menerangi seraut muka pucat yang dingin tanpa perasaan itu. ''Kaukah yang melukai gadis itu.?''
''Jika demikian matilah kau sekarang.!'' sebuah pertanyaan yang bernada datar tanpa suatu ancaman. namun kalimat yang seterusnya terucap seperti suatu keputusan seorang hakim pengadilan yang langsung menentukan hidup matinya seorang terpidana.
Tongkat besi hitamnya menusuk langsung ke muka. gerakannya menggerus berputar cepat seperti mata sebuah bor baja. sasarannya tepat di mata merah Ki Tuyul Ireng. orang kate itu meraung gusar bercampur ketakutan. dia sendiri tidak mengerti kenapa hatinya menjadi takut. padahal sebelumnya dia sangat percaya diri dengan kemampuan ilmu kesaktiannya.
Dengan mencelat mundur dan menggulingkan tubuhnya yang gempal pendek di tengah udara dia mampu lolos dari serangan itu. tenaga sakti yang tersalur dalam tongkat seketika menghantam sebongkah batu besar. benda itu tidak menjadu hancur melaikan berlobang hangus dan tembus mengepulkan asap panas.
Meski Ki Tuyul Ireng terperanjat melihatnya tapi dia tidak menjadi panik. untung saja dia sempat menggunakan gerakan menghindar sambil memutar tubuh yang di namai jurus 'Demit Tuyul Berguling Menyusup Malam' hingga mampu lolos dari maut. si pincang yang memang Pranacitra itupun sempat tertegun melihat jurus serangan tongkatnya gagal. dia segera maklum dengan ketinggian ilmu meringankan tubuh lawannya.
Orang berjuluk 'Demit Kate Mata Picak' ini tertawa bengis, dengan kembali menggunakan ilmu 'Tujuh Telapak Hitam Amis Gaib' orang kate itu balas menggempur. bayangan tujuh buah telapak besar dan hitam legam yang menebar hawa panas dan bau amis menusuk hidung seketika menyambar bergentayangan dalam kepekatan malam.
Pada akhir gerakannya tongkat itu menyentak ke depan. suara ledakan keras yang memecah keheningan malam terdengar berulang kali mengiringi sembilan sinar hitam pekat yang juga menebar hawa panas. jurus 'Tongkat Maut Sembilan Geledek Kematian' menyambar memburu korbannya.!
Tujuh cahaya telapak hitam amis., sembilan sinar hitam tongkat kepala tengkorak., kilatan lidah petir serta kobaran api bercampur gelombang angin panas yang semburat dari tengah kalangan pertarungan sontak menyapu lenyap hawa dingin dan kegelapan di lereng gunung Semeru.
'Whuuuss., wheeeess.!'
__ADS_1
'Blaaam., blaaaar.!'
Sosok tubuh gempal pendek terpental hampir lima tombak ke belakang. meskipun sempat terluka dalam tapi orang ini masih lolos dari kematian. dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sangat tinggi dia mampu membuat tiga kali jungkir balik sebelum menjejakkan kakinya ke atas tanah.
''Ughk., bocah pincang jahanam, kuakui ilmu kesaktian yang kau miliki sangat tinggi. meski mungkin aku bukan tandinganmu tapi tetap saja dirikulah yang akan jadi pemenangnya. kau tahu kenapa.?'' orang kate hitam berkepala gundul itu sempat kembali terbatuk keras dan sedikit muntahkan darah sebelum lanjutkan ucapannya.
''Karena di dunia persilatan ini tidak ada suatu apapun yang berani melawan kekuasaan dari partai kami. pincang keparat., Gelandangan Hantu., Setan Pincang Penyendiri., Pendekar Tanpa Kawan., si Siulan Kematian., atau siapapun gelaranmu, coba kau lihat baik- baik benda apa yang kupegang ini.!'' ucap Ki Tuyul Ireng sambil acungkan tangan kanannya ke atas.
''Hek., he., he., Walaupun suasana malam ini sangat dingin dan gelap, tapi aku yakin kedua matamu yang menyebalkan itu masih dapat mengenali lambang apa yang berada padaku.!'' sambungnya tertawa mengejek. entah suatu kebetulan atau memang pertanda buruk, saat itu selarik kilat menyambar hingga meskipun hanya sekejapan mata dapat menerangi barang yang berada di tangan Ki Tuyul Ireng.
Di sana terlihat sebuah benda berupa bendera kecil berwarna hitam legam. biarpun malam itu sangat gelap tapi warna bendera itu jauh lebih pekat dari kegelapan malam. sebuah gambar dua buah gapura besar dengan latar belakang bulan purnama berselimut lelehan darah nampak terlukis di bendera hitam itu. bau anyir lapat- lapat tercium dari bendera itu saat angin dingin berhembus.
''Gaa., Gap., Gapu., ra Ib., Iblis.!'' seru dua orang murid perguruan silat Naga Biru yang masih tersisa dengan suara tercekat gemeletuk di landa ketakutan. sungguh mereka tidak pernah membayangkan jika tokoh silat yang di minta bantuannya oleh guru mereka si 'Dewa Naga Langit'., Ki Galing Brajapaksi berasal dari partai aliran hitam yang terkuat 'Gapura Iblis.!'
Pantas saja kalau guru mereka tidak mau ada orang lain yang tahu kalau perguruan silat Naga Biru yang selama ini dikenal berasal dari aliran lurus bersih sampai meminta bantuan perlindungan dari partai Gapura Iblis yang berasal dari aliran jahat. sebab kalau mereka sampai tahu masalah ini sejak awal, nama besar Naga Biru akan runtuh seketika itu juga dan menjadi bahan celaan para pendekar di seluruh rimba persilatan.
Rupanya tindakan bersekutu dengan Gapura Iblis ini hanyalah untuk berjaga- jaga saja. tapi sayangnya semua yang terjadi malah di luar perhitungan Ki Galing Brajapaksi. bukan saja si pincang berani muncul secara terang- terangan dan keburu menghabisinya, malah Puji Seruni juga telah berhasil membongkar tipu muslihat dan rahasia kejahatannya.
__ADS_1
Jika hampir semua orang di dunia persilatan mengalami perasaan ngeri dan keseraman jika bertemu dengan Gapura Iblis, maka ada juga sebagian kecil manusia yang tidak merasa takut meskipun berseteru dengan Gapura Iblis. dan salah satu dari segelintir orang itu adalah pemuda pincang ini.
Sepertinya Ki Tuyul Ireng sedang tertimpa kesialan malam ini, karena tanpa disadari dia seperti telah menyiramkan segentong minyak tanah ke atas bara api dendam yang masih berkobar di dalam jiwa pemuda dari gunung Bisma itu. tawa bergelak orang kate gundul ini perlahan surut dan menghilang, saat dia melihat sepasang mata yang dingin tanpa perasaan itu berubah menjadi semerah darah.