Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Memburu para penghasut.


__ADS_3

Pemuda pincang itu agak berubah air mukanya, dia seakan paham dengan bahaya yang sedang mengancam. perlahan kaki kanannya sedikit menggeser ke samping. tangannya membuka buntelan kain hitam yang membungkus gagang tongkat besi hitamnya.


Sebentuk ukiran tengkorak menyeramkan yang terbuat dari perak terlihat di ujung gagang tongkat besinya. otot- urat kehijauan bermunculan di kedua tangannya yang pucat namun kekar. perlahan hawa kesaktian menyelimuti seluruh tubuhnya.


Terdengar suara mendengung dan getaran keras dari dalam bangunan rumah yang ada di tengah. hawa panas yang terpancar dari sana terus menyebar. tekanan tenaga sakti yang menyesakakan seakan menindih tubuh dan jiwa semua orang.


Beberapa anggota perkumpulan silat 'Merak Api' yang berilmu rendah bahkan ada yang sampai gemetar roboh dan muntah darah saking tidak kuat menahan amukan gelombang tekanan hawa kesaktian yang semakin mengganas.!


Terkejut juga si pincang melihat semua yang terjadi. sekilas kedua matanya mengeluarkan kilatan tajam. dalam hatinya dia membatin. ''Seperti pesan yang pernah aku terima., manusia ini tidak pernah perduli apapun. asalkan dapat mencapai semua keinginanya jangankan cuma orang lain, nyawa saudara atau keluarga sendiripun juga sanggup dia korbankan..''


Berasamaan itu dia merasakan gelombang tenaga sakti yang tadinya menyebar dan menghantam sasaran ke segala jurusan, sekarang mulai bergerak ke satu sasaran. tubuh si pincang terasa di jepit dinding besi dari empat penjuru arah, sehingga bukan saja dia tidak mampu bergerak namun juga membuat tubuhnya terasa remuk luar dalam.


Pemuda pincang itu menggeram menahan rasa sakit dan kemarahan. sekali orangnya membentak tongkat besi hitam berkepala tengkorak yang tergenggam di tangannya dia tancapkan ke dalam tanah hingga ambles dua jengkal.


Terdengar suara berderak dan goncangan keras seakan tanah di sekitar tempat itu sedang di landa gempa. dari tongkat yang menembus tanah keras berbatu terlihat jalur retakan yang terus mengarah ke bangunan kayu yang berada di tengah, di mana sumber gelombang hawa panas yang melanda sekeliling tempat berasal.


'Kraaask., kraaak.!'


'Draaaak., traask., glaaaarr.!'


Terdengar suara berderak keras dari tanah yang retak akibat hantaman kekuatan tenaga dalam yang berasal dari tongkat besi hitam si pincang. saat dua arus tenaga kesaktian bertemu terjadilah ledakan keras yang membuat bumi berguncang hebat. bahkan bangunan rumah yang ada di tengah sampai terpecah hancur papan dindingnya hingga nyaris roboh.!


''Bangsat., rupanya kau benar- benar ingin mampus lebih cepat. kematianmu akan aku buat sangat menyakitkan hingga kau merasa menyesal pernah di lahirkan ke dunia ini.!''


Suara bentakan bengis terdengar dari sana, di susul munculnya sesosok tubuh semampai yang menerobos atap bangunan kayu. sesaat bayangan wanita yang seluruh tubuh dan jubahnya seperti di selimuti cahaya merah redup itu melayang di udara, sebelum akhirnya perlahan turun ke bawah dengan anggun.


Hampir bersamaan terdengar suara keras bergemuruh dari bangunan rumah kayu besar yang ada di belakang tubuh wanita ini. rumah berwarna merah itu kini sudah hancur rata dengan tanah.

__ADS_1


Kini di tengah pelataran perkumpulan silat Merak Api telah bertambah seorang lagi. seorang wanita cantik berjubah sutra merah yang sangat tipis terlihat berdiri sambil bertolak pinggang. rambutnya yang panjang hitam lebat di sanggul tinggi ke atas. dua buah tusuk konde emas berbentuk burung merak menghiasi rambutnya.


Sikap wanita yang berdandan menor dengan gincu dan pupur tebal ini terlihat genit menggoda. sebenarnya usianya sudah enam puluh tahunnan, namun karena dia meyakini sebuah ilmu awet muda, membuatnya masih terlihat tiga puluhan tahun. saat wanita ini melangkah belahan jubahnya tersingkap hingga terlihat pahanya yang putih mulus dan gempal. dua bilah pedang berukiran burung merak merah bergelantungan di pinggangnya yang masih ramping namun sedikit berlemak.


Melihat kehadiran wanita itu semua orang langsung gemetaran membungkuk. ''Salam hormat kami yang mulia ketua Nyai Sinden., sang 'Dewi Merak Merah'..''


''Mohon ampunanmu karena kami gagal menahan pengacau pincang ini yang telah banyak menghabisi anggota kita. bahkan., wakil ketua Ki Tugu Karang juga telah tewas di tangannya..''


''Harap yang mulia ketua segera membalas kematian mereka semua., darah si keparat pincang ini bisa kita jadikan tumbal kejayaan perkumpulan 'Merak Api' kita.!'' seru para anggota perkumpulan silat Merak Api hampir bersamaan sambil menjura hormat.


Orang yang di panggil sebagai Nyai Merak Sinden mendengus keras, bibir merahnya menyungging senyuman sinis. sekali tangannya yang di hiasi belasan gelang emas menggebut, serangkum angin keras menyapu sekeliling tempat. puluhan orang anggotanya menjerit keras roboh terjungkal.!


''Dasar kalian semuanya bodoh., dengan jumlah begini banyak tapi kalian tidak mampu membunuh seorang pengacau. sungguh tidak berguna.!'' teriak Dewi Merak Merah murka. matanya berkedut mendelik saat melihat sosok mayat Ki Tugu Karang.


Orang tinggi besar ini bukan saja wakilnya yang setia, tapi juga lelaki yang selalu sanggup memuaskan hasratnya saat dia membutuhkan. ini membuat kegeramannya semakin memuncak.


Tanpa perduli banyak anak buahnya yang masih terkapar, Nyai Merak Sinden menunjuk pemuda pincang yang berdiri beberapa langkah di depannya. ''Kau., sebelum kuhabisi nyawa anjingmu cepat katakan siapa dirimu dan ada urusan apa kemari.?''


''Kudengar selain meyakini ilmu awet muda, kau juga sedang mempelajari sebuah ilmu kesaktian yang bernama 'Kepakan Sayap Api Iblis Langit'. aku di utus oleh seseorang untuk menagih hutang lama yang berkaitan dengan ilmu pukulan itu..''


''Untuk memperjelas semuanya akan kutunjukkan sesuatu padamu. jika kau masih ingat mainan jari tanganku ini tentunya juga akan tahu siapa orang yang mengutusku..'' selesai berucap si pincang rentangkan kedua tangannya yang terkembang ke atas. selapis cahaya merah hitam menyelimuti tangan dan jemarinya yang entah bagaimana mulai di tumbuhi bulu- bulu lebat. kedua bola matanya yang bulat membesar dan hitam menyiratkan cahaya menggidikkan.


Dari ujung jemarinya keluar sepuluh kuku- kuku tajam melengkung bagai cakar burung ganas yang juga menyiratkan cahaya dan asap merah kehitaman. tubuh pemuda pincang itu perlahan bergerak membungkuk seakan binatang buas yang siap menyerang mangsanya. hawa menakutkan seketika menyebar ke seluruh penjuru.


Pucat pias wajah cantik menor 'Dewi Merak Merah' tanpa sadar dia tersurut mundur.


''Kau., kau., bagaimana kau dapat memiliki ilmu setan itu, bocah bangsat., katakan siapa dirimu sebenarnya.!''

__ADS_1


''Kau mengenali mainan tanganku ini Nyai Merak Sinden.?'' seringai kejam tersungging di mulut si pincang.


''Tidak., ini tidak mungkin. mereka semua sudah lama mati di dalam lembah itu.!'' teriak Dewi Merak Merah gusar bercampur ngeri.


''Haa., ha., kau tidak perlu panik seperti itu nenek tua cabul. mereka semua memang sudah tidak ada lagi di dunia ini. tapi sayang., sebelum mati satu orang di antaranya masih sempat berpesan padaku untuk menagih nyawamu..''


''Kalau melihat sikapmu yang ketakutan begitu, jelas kau masih teringat dengan si 'Burung Hantu Bungkuk Pencabut Nyawa' nenek tua yang masih kerabatmu dan pernah kau tipu hingga terjerumus masuk ke dalam 'Lembah Seribu Racun' belasan tahun silam karena kau mengincar kitab jurus 'Kepakan Sayap Api Iblis Langit' yang di milikinya.!''


''Karena merasa masih kalah ilmu, kau dan beberapa kambratmu bersekongkol untuk menghabisinya. pertama kau berpura- pura menyamar menjadi dirinya dan melakukan banyak pembunuhan atas namanya hingga dia punya banyak musuh. di saat terdesak dan hampir mati oleh keroyokan para pesilat, kau berlagak muncul menyelamatkannya..''


''Lantas kau menghasutnya untuk masuk ke dalam Lembah Seribu Racun. kau bilang di dalam sana ada banyak tersimpan ilmu kesaktian tingkat tinggi. jika si Burung Hantu dapat menguasainya, tentu tidak ada lagi yang berani memburunya. bahkan dengan liciknya., kau juga berani berkata kalau orang yang telah menyamar sebagai si Burung Hantu juga telah masuk ke lembah itu..'' ujar pemuda pincang itu dengan pandangan mata hitam yang tajam menakutkan.


''Sebagai kerabatnya tentu dirimu tahu betul jika nenek 'Burung Hantu Bungkuk Pencabut Nyawa' adalah orang yang berangasan dan tinggi hati. dengan memakai akal licik kau bukan saja membuat hatinya panas ingin mencoba masuk ke Lembah Seribu Racun yang memang saat itu sedang banyak di bicarakan orang, tapi juga di titipi kitab sakti yang memang menjadi incaranmu..''


''Si Burung Hantu hanya punya sedikit teman. diantaranya seorang nenek ahli pengobatan dan racun. Nyai Merak Sinden, si Dewi Merak Merah., bukankah kau juga tahu siapa pemilik tongkat kepala tengkorak yang ada di tanganku ini.!'' desis si pincang sedingin es. sepasang mata besar yang gelap dan hawa kematian yang menyelimutinya membuat suasana kian mencekam seperti di tengah kuburan.


Dewi Merak Merah kembali tersurut mundur, nafasnya tersengal dia benci mengakuinya tapi ada rasa ketakutan yang mulai merasuki hatinya. meskipun bukan dia yang telah menghasut si nenek ahli racun melainkan orang lain, tapi dia juga turut terlibat di dalam rencana licik itu.


''Mereka semua tahu kau tidak akan mungkin berani bergerak sendiri, pasti ada orang lain yang terlibat dan ikut mengatur semuanya di belakang layar dengan memakai perangkap 'Lembah Seribu Racun'. sekarang katakan siapa saja orang- orang itu dan kini berada di mana.!'' gertak si pincang bengis mengancam.


Nyai Merak Sinden sang Dewi Merak Merah merutuk. lawan yang masih begitu muda, berkaki cacat juga penyakitan itu berani mendamprat di depan semua anak buahnya. rasa malu dan geram membuat rasa takut dihatinya tersapu lenyap. dengan meraung gusar dia mencabut sepasang pedang yang tergantung di pinggangnya. tapi baru saja pedang terlolos dari sarungnya, lawan sudah keburu melabraknya.


''Persetan kalau kau tidak mau menjawab., kuhabisi saja nyawa busukmu sekarang juga.!'' bentak pemuda pincang itu sambil hantamkan sepasang cakar mautnya ke muka. sepuluh larik cahaya merah hitam menyambar ganas merobek udara pagi.!


*****


Asalamualaikum., salam sejahtera.

__ADS_1


Mohon tulis komentar, kritik saran dan like👍 jika anda suka., terimakasih bagi para reader yang sudah memberikan vote dan tip koin pada novel ini 🙏., mohon kalau berkenan


Tolong Share ke teman" yang lainnya. Terima kasih. Wasalamualaikum.


__ADS_2