Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Mengincar kelengahan.


__ADS_3

Pemuda pincang ini masukkan batu bulat berwarna kebiruan sebesar telur ayam itu ke dalam saku bajunya. seulas senyuman tipis sekilas tersungging di bibirnya. tanpa sadar Nyai Pocong Kabut melangkah mendekat. kini jarak diantara keduanya hanya terpisah tiga langkah saja.


''Dari apa yang sepintas sempat kudengar kau si nenek tua dan empat orang berdandan petani gunung itu sedang mengincar sebuah batu sakti bernama Nirmala Biru. sayangnya., kurasa kalian cuma bakal dapat pepesan kosong saja.!''


Sepasang mata Nyai Pocong Kabut semakin mencorong menggidikkan, ''Apa maksud ucapanmu barusan., siapa kau sebenarnya pemuda pincang dan batu apa yang tadi berada di tanganmu itu.?'' tanya Nyai Pocong Kabut setengah membentak.


''Hhm., sekali membuka mulut peotmu, kau bukannya menyapa sekedar sopan santun, tapi malah lontarkan tiga pertanyaan sekaligus. wah., wah., aku jadi bingung mana yang mesti kujawab lebih dulu..''


Si nenek menggerendeng marah dalam hati ''Pemuda pincang cepat jawab saja semua pertanyaanku tadi atau..''


''Atau apa hah., kau ingin membunuhku lalu merebut batu biru yang berada di dalam kantung bajuku, sayang sekali apapun tindakan yang akan kau perbuat padaku hanya akan jadi suatu yang sia- sia belaka.!'' sahut si pincang seenaknya memotong ucapan Nyai Pocong Kabut, membuat orang tua ini naik pitam.


''Bocah pincang keparat., rupanya kowe wis bosen urip sampai berani menyanggah kata- kataku.!'' bentaknya gusar. kalau saja si nenek tidak ingat pada sakti batu Nirmala Biru yang mungkin berada di tangan si pincang, pasti sudah sedari awal pemuda itu dia habisi.


''Bosan hidup kau bilang., Haa., ha., biarpun diriku melarat tapi kehidupanku lumayan menarik. jadi kenapa mesti bosan., justru kau nenek tua bangka yang seharusnya bersiap masuk ke liang kubur.!'' si pincang Pranacitra balas memaki. pemuda ini selain terkadang tidak tahu diri, juga pantas di bilang goblok. sudah tahu ada bahaya yang mengancam bukannya lari menghindar tapi malah muncul di depan si nenek jahat Nyai Pocong Kabut.!


''Dengar nenek tua., sejak tadi malam sudah ada beberapa orang persilatan yang muncul dan bertarung ditempat ini. mungkin ada juga yang terluka atau tewas. dan semuanya dikarenakan rebutan sebuah batu yang katanya sakti bernama Nirmala Biru..''


''Terus terang saja kukatakan aku merasa sangat terganggu waktu istirahatku, karena harus mendengar semua keributan yang di timbulkan oleh perebutan batu Nirmala Biru sialan ini.!'' umpat Pranacitra meracau dan mencaci maki seperti orang gila.


Tanpa perduli pandangan mata orang batu biru yang barusan masuk ke dalam saku bajunya kembali dikeluarkan lalu dia banting ke tanah beberapa kali dengan muka kesal. ''Keparat., batu Nirmala Biru palsu sialan., perkumpulan pengemis Kelabang Ireng penipu jahanam. kuharap kalian semuanya mampus., modar kabeh.!'' umpat si pincang beringas penuh kemarahan.

__ADS_1


Kejadian ini tentu saja membuat 'Nyai Pocong Kabut' dan juga 'Empat Petani Cangkul Maut' yang masih terkapar lemas terkesiap kaget. tanpa dapat menahan diri lagi Nyai Pocong Kabut berkelebat cepat dan tahu- tahu sudah berdiri di hadapan si pemuda. bersamaan itu kedua tangannya bergerak menyambar hendak merebut batu berwarna kebiruan yang berada di dalam gengaman si pemuda pincang.


Sudut mata Pranacitra mengernyit sinis, lawan sudah mulai terpancing. pangkal tongkat kayunya diangkat sejengkal keatas, memutar membentuk lingkaran lalu dua kali menyodok. tiga macam gerakan ini dia lakukan sekaligus dengan sangat cepat.


Dua gerakan pertama dia lakukan untuk melidungi tangan yang menggenggam batu. gerakan terakhir sengaja menyasar rahang sekaligus leher si nenek.!


'Sheert., Whuuuk.!'


'Dhaas., Dhees.!'


'Bocah keparat., Edan.!'


Nyai Pocong Kabut terperanjat mengumpat kotor, dia sama sekali tidak mengira dalam jarak yang begini dekat si pincang bakal mendadak menyerangnya. biarpun gugup dia masih sempat menarik kedua tangannya sekalian membuat gerakan menangkis dan memotong serangan tongkat kayu si pincang. bersamaan tubuh beserta kepalanya doyong kebelakang menghindar.


Mestinya jika Pranacitra terus mendesak maju, bukan tidak mungkin Nyai Pocong Kabut dapat dipukul roboh atau setidaknya terkena beberapa gebukan tongkatnya. tapi pemuda dari gunung Bisma ini malah melompat mundur. entah apa yang sedang dia pikirkan.


''Meskipun batu yang ada dalam genggaman tanganku ini adalah batu Nirmala Biru yang palsu, tapi aku mengambilnya dengan taruhan nyawa. jadi tidak akan kubiarkan siapapun merebutnya dari tanganku.!'' ujar Pranacitra sambil menatap garang Nyai Pocong Kabut yang sedang meraba lehernya yang sedikit perih dan kudung putih penutup kepalanya yang robek. nenek ini mendengus murka dalam hati dia membatin ''Serangan tongkat bocah pincang ini sepintas terlihat sederhana, tapi perubahan jurusnya aneh dan mengerikan..''


''Biarpun tenaga sakti yang terkandung di dalam serangannya tidak begitu kuat, tetapi karena di lancarkan pada saat yang tepat, hasilnya rahang serta leherku nyaris saja di buatnya jebol., bangsat pincang sialan.!''


Sambil merutuk gusar si nenek kibaskan kedua tangannya. gulungan kabut putih menyeruak keluar dari kedua lengan jubah gombrong Nyai Pocong Kabut. seiring gerakan tangan dan tubuh kurusnya yang melayang berkelebatan, dalam waktu beberapa kejab mata saja gumpalan kabut tebal sudah menyelimuti pedataran rumput yang berada tepat ditepian hutan itu. meskipun terkejut tapi pemuda ini tidak menjadi panik apalagi takut, karena ancaman kematian seakan sudah menjadi barang mainan baginya.

__ADS_1


Pada awalnya Pranacitra hendak bermain muslihat dengan Nyai Pocong Kabut sama seperti saat dia menghadapi si Sukma Tertawa. tapi pemuda ini malah berubah pikiran saat diluar dugaannya jurus serangan tongkatnya mampu merobek kain penutup kepala lawan. bahkan dari beberapa titik noda darah merah di bagian atas jubah putihnya, menandakan leher si nenek sedikit terluka.


Hal ini menunjukkan walaupun Nyai Pocong Kabut punya kesaktian menebar kabut beracun juga senjata rahasia, tapi tingkatan ilmu silatnya tidak begitu tinggi. untuk pertama kalinya pemuda pincang ini berniat mengadu ilmu silatnya. karena selama ini dia cuma tepaksa bertarung untuk sekedar membela diri.!


Nyai Pocong Kabut menggeram bengis, ''Untuk terakhir kalinya aku bertanya., siapa kau bocah pincang keparat dan apa maksud ucapanmu kalau batu Nirmala Biru yang ada padamu adalah batu palsu., lalu dimana yang asli. capat jawab sebelum kubuat mampus.!''


Pranacitra meludah baru menjawab ''Hhm., tidak ada salahnya kujawab. siapa namaku kurasa tidaklah penting. dulu diriku adalah anggota perkumpulan pengemis Kelabang Ireng..''


''Aku sekarang menjadi buronan mereka karena telah mencuri batu Nirmala Biru dari tangan wakil ketua Pengemis Gigi Gompal., tapi sialnya batu yang kucuri itu ternyata palsu., brengsek., bedebah licik.!''


''Hek., he., pemuda pincang tolol., kenapa kau sampai berani mencuri batu sakti dari perkumpulanmu sendiri. apa kamu sudah gila atau bosan hidup.?''


''Huh., aku sudah cukup lama menjadi anggota perkumpulan, tapi hidupku tetap saja jadi bawahan dan kere., aku ingin kaya raya dan punya ilmu kesaktian tinggi hingga di gandrungi para wanita cantik. kurasa batu Nirmala Biru dapat mewujudkan semua mimpiku., tapi ternyata sekarang..''


''Ternyata sekarang mimpimu tinggal mimpi buruk Hik., hi., hi., lantas dimana batu sakti yang asli.?'' desak Nyai Pocong Kabut tidak sabaran.


Dengan tertunduk Pranacitra mengatakan semua yang pernah dia sampaikan kepada si Sukma Tertawa. tentu saja dengan disertai bumbu yang menarik di sana- sini. hingga membuat Nyai Pocong Kabut merasa ragu apakah mesti menghabisi si pincang yang cuma memiliki batu sakti palsu ataukah menyusul ke tempat pertemuan rahasia antara gerombolan begal 'Taring Brongot' dan perkumpulan pengemis Kelabang Ireng.


Hingga tanpa dia sadari tubuh si pincang sudah berkelebat menggebrak dirinya dengan dua ilmu kesaktian sekaligus. tongkat kayu menyerang dengan jurus 'Pencoleng Mencongkel Pintu Alam Gaib' bersamaan tangan kirinya menghantam dengan ilmu pukulan 'Tangan Panjang Penjambret Jiwa.!'


Saat Nyai Pocong Kabut tersadar, semuanya seakan sudah terlambat. seringai buas dan licik tersungging di bibir Pranacitra. dia masih ingat wejangan dari si Malaikat Copet. ''Menyeranglah di saat lawanmu lengah., itulah cara paling mudah untuk menang dalam sebuah pertarungan.!''

__ADS_1


****


Maaf🙏 kalau up datenya sering lambat dan kadang rada berantakan alur ceritanya., (karena authornya juga kerja) mohon sertakan koment, kritik saran juga like👍 jika anda suka. trimakasih buat yang sudah vote dan Favorit novel ini., 👏 Wasalam.


__ADS_2