Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Darah pengkhianat. (bag4)


__ADS_3

Enam nyawa telah menjadi korban tanpa dapat diketahui penyebabnya. sekarang ini selain kedua pimpinan tinggal empat orang lagi yang masih tersisa. kejadian itu membuat mereka merasakan suatu kengerian dalam hati masing- masing hingga menjadi ragu juga takut untuk masuk ke dalam gubuk.


Melihat anak buahnya yang sedang dilanda keseraman membuat dua orang pimpinannya sama mendengus geram. setelah sempat saling lirik mereka berdua memimpin sisa bawahannya untuk merangsek masuk dari dua arah setelah sebelumnya si pemimpin yang memakai jubah ungu tua lebih dulu sempat melemparkan sebuah benda berwarna hitam pekat ke dalam gubuk.


Dengan di ikuti oleh empat anak buahnya, kedua orang ini berkelebat menerobos sambil bersiap lepaskan suatu aji kedigdayaan. biarpun mereka berdua cukup percaya diri dengan tingkat ilmu kesaktian yang di miliki tapi kewaspadaannya tetap tidak mengendur. apalagi mereka juga belum yakin lawan seperti apa yang menunggu di dalam sana.


Pusaran dua arus tenaga ilmu kesaktian yang menggebrak dahsyat langsung disusul dengan kelebatan empat buah mata golok yang membabat sasarannya. biarpun keadaan dalam ruangan gubuk kayu itu agak remang namun masih dapat di lihat oleh mata tajam para penyerbu.


Sekilas nampak sepasang orang tua bertubuh aneh besar dan kecil sedang berdiri menatap sebuah bendera hitam dengan gambar dua gapura besar dengan latar belakang bulan purnama berlepotan darah yang tertancap di atas lantai tanah gubuk. meskipun keduanya sedang terancam maut tapi mereka seolah tidak perduli.


Dua pusaran angin bersemu cahaya merah kehitaman juga ungu pekat yang menebar hawa panas dan dingin menyambar dari arah depan belakang kedua kakek nenek berjuluk 'Kutu Bangkotan' serta 'Benalu Tua' itu. tanpa membalik badan sepasang lengan besar berlemak balas menghantam kedua pukulan sakti lawan yang datang mengancam.


Kedua pimpinan para penyerbu itu tertawa terkekeh penuh penghinaan saat mendapati tidak terlihat adanya gelombang tenaga kesaktian dari ilmu pukulan sakti si nenek bertubuh raksasa itu. namun kejap berikutnya tawa mereka lenyap berganti teriakan panik disertai rutuk makian gusar karena mendadak seperti muncul kekuatan besar yang datang menindas tubuh mereka.


Dua larik cahaya ungu dan merah kehitaman dengan gelombang hawa panas dingin dari ilmu pukulan sakti yang dilepaskan kedua orang tua muda itu seketika buyar. ruangan gubuk kayu bergetar keras seakan hendak roboh disambar tenaga kesaktian yang terpecah melabrak ke segala penjuru. meja dan kursi kayu hancur, sebagian atap gubuk semburat ke udara hingga curahan hujan gerimis disertai angin dingin membasahi ruangan gubuk itu.


Jika kedua pimpinan para penyerbu itu masih sanggup bertahan meskipun mesti terpental kebelakang hingga menabrak dinding gubuk, tidak demikian dengan empat anak buahnya. golok ditangan mereka patah remuk dengan bagian tengah dada hingga perutnya jebol berlubang sebesar batang pohon kelapa.

__ADS_1


Yang nampak sangat aneh adalah biarpun jantungnya telah lenyap, darah membasahi tubuh dan daging tulang beserta isi perutnya berserabutan keluar namun raut wajah mereka berempat tidak memperlihatkan suatu kesakitan, melainkan sebuah senyum kegembiraan.


Pucat pias wajah kedua pimpinan ini. dengan kerahkan tenaga dalamnya mereka sama berusaha menahan aliran darahnya yang tersendat. tanpa dapat ditahan lagi tubuh mereka merosot ke tanah bahkan dari sudut bibir keduanya terlihat meneteskan darah, pertanda luka dalamnya cukup parah. hanya perlu dua gebrakan ilmu kesaktian saja sudah membuat mereka terjungkal.


Meskipun dalam hati keduanya masih sangat penasaran dan tidak terima karena merasa belum mengeluarkan seluruh ilmu silat dan kedigdayaan yang di miliki, tapi mereka juga menyadari kalau nenek bertubuh besar yang menjadi lawannya punya kesaktian yang susah diukur ketinggiannya.


Di tengah gubuk itu si Benalu Tua terlihat tegak berdiri. tangannya meraih potongan besar daging bakar dari kantung bajunya yang gombrong lalu dia makan dengan lahapnya. biarpun tidak sampai terluka dalam tapi nenek yang hampir selalu merasa kelaparan itu agak terkejut dengan kemampuan kedua lawannya. tapi di luarnya nenek ini malah bicara lain.


''Akhir- akhir ini kemampuan para bocah ingusan dalam partai 'Gapura Iblis' semakin mengecewakan. bukan saja sudah tidak tahu tata krama dan rasa hormat, mereka malah berani menyerang atasan. Huhm., sungguh kurang ajar. apa tua bangka 'Dewa Kikir' dan si tolol 'Bungkuk Mata Buta' itu tidak pernah mengajari kalian.?'' damprat si Benalu Tua sembari mendengus.


Mendengar nama dua orang sesepuh partai Gapura Iblis itu disebutkan saja sudah membuat kedua orang lelaki tua muda itu terkesiap kaget, apalagi dari nada bicaranya si nenek aneh bertubuh gemuk tinggi besar ini seperti mengenal mereka bahkan juga berani mengumpatnya. raut muka mereka berubah hebat karena teringat pada sesuatu.


''Apa kalian dua orang keroco pantas untuk menyebut nama kami berdua. sekali saja kalian berdua berani membuka mulut tanpa diminta, akan aku cabut nyawa kalian untuk menyusul semua anak buahmu ke neraka.!'' kali ini si Kutu Bangkotan yang membentak. tidak terlihat kapan kakek ceking bungkuk dan bertubuh pendek itu bergerak menghajar keduanya karena saat ini dia masih berdiri diam di samping si Benalu Tua seolah orang itu belum pernah beranjak dari tempatnya.


Lelaki muda berjubah hitam gemetaran tubuhnya menahan takut dan amarah yang menggelegak di dadanya. meskipun merasa terhina tetapi dia tidak berani berbuat apapun begitu juga dengan rekannya. ''Dengar bodoh., biarpun kami berdua sudah lama menyepi dan tidak mau turut campur urusan partai Gapura Iblis tapi hampir semua yang terjadi di dalamnya tidak pernah luput dari pengamatan mata dan telinga kami.!''


''Kau lihat lelaki brewok tolol yang tergeletak di sana. sudah beberapa hari belakangan orang ini berusaha diam- diam mengintai gubuk tempat peristirahatan ini untuk mencari tahu segala yang kami berdua sedang lakukan. sialan., alangkah bodohnya. apa dipikirnya kami tidak tahu semua gerak- geriknya meski dia bersembunyi di kejauhan.?''

__ADS_1


''Mulanya bedebah yang katanya mempunyai panggilan 'Pendekar Harimau Putih' ini tidak mau mengatakan apapun. tapi dengan sedikit siksaan dan racun akhirnya dia mengaku sebagai begundalnya si tua bungkuk buta. aku tidak perduli apa tujuan kalian berdua datang kemari juga siapa yang telah memberi perintah..''


''Sekarang juga ambil kembali bendera hitam lambang partai Gapura Iblis, juga kau bawa sekalian si brewok baju putih itu.!'' damprat si Kutu Bangkotan bengis. ''Tunggu dulu Kutu peot., terlalu enak buat kedua cecunguk ini jika disuruh pergi begitu saja. lihatlah, gubuk tempat kita beristirahat hampir roboh akibat ulah bodoh mereka yang sok jago. setidaknya mereka berdua harus kuberikan pelajaran.!'' potong Benalu Tua sewot.


Nenek tinggi gemuk itu tidak cuma bicara. kedua tangannya yang besar berlemak bergerak meremas dan menyentak. secara hebat tubuh jangkung lelaki muda berjubah mantel hitam garis- garis merah yang masih terpuruk di dinding gubuk kayu tersedot ke depan. dengan leher tercengkeram tubuh orang inipun diangkat si Benalu Tua hanya dengan sebelah tangannya saja.!


Hawa yang sangat menggidikkan jiwa seolah tersembur dari tubuh besar gemuk itu sampai membuat rambut lebat si lelaki muda yang menutupi separuh wajahnya sebelah kanan tersibak. kini sesuatu yang menyeramkan jadi terlihat jelas. jika wajah pria muda itu meski pucat namun tampan di bagian kiri, maka sebaliknya pada bagian kanan wajahnya yang selama ini tertutupi rambut hitam lebat amat jelek dipandang.


Bukan saja penuh bekas sayatan senjata hingga mirip daging cacah tapi juga terdapat luka bakar melepuh di pipinya. yang paling menakutkan adalah mata kanan lelaki itu. matanya yang merah mencorong tajam nampak melesak ke dalam rongganya, dengan kelopak mata robek terkelupas gosong hingga terlihat tulang pelipisnya. satu seringai tersungging di bibir tebal Benalu Tua.


''Turut keadaan wajahmu yang tidak jelas wujudnya ini, aku bisa menebak kalau kau pastilah pesilat dari bagian dalam di partai Gapura Iblis yang di juluki 'Separuh Pangeran Setengah Setan'. Hik., Hi., kurasa gelaran itu lumayan cocok dengan dirimu..'' ujar si Benalu Tua tertawa sendiri.


''Aku juga tahu kalau lelaki ini mempunyai pasangan dalam bekerja. kalau melihat orang tua berjubah ungu dengan rambut sengaja dikepang sembilan itu, pasti dia si 'Malaikat Ungu Sembilan Kepang'. pesilat bagian dalam sekaligus kawan karib si muka terbelah itu..'' tunjuk si Kutu Bangkotan. sekilas Kutu dan Benalu saling lirik dan mengangguk.


Tubuh si Separuh Pangeran Setengah Setan dihempaskan ke bawah. ''Kali ini nyawa kalian berdua kami ampuni. sekarang cepat pergi dari hadapanku. bawa sekalian si brewok. katakan pada pimpinanmu kalau Sepasang Kutu dan Benalu tidak akan segan bergerak jika terus di desak..'' ancam Kutu Bangkotan.


''Tapi ingatlah., sekali saja kami berdua turun tangan, tidak ada satupun kekuatan di bumi ini yang mampu menahan amukan kami berdua.!'' timpal Benalu Tua. dengan menahan rasa sakit dan ketakutan, kedua orang itupun menjura hormat. setelah memanggul tubuh si brewok dan mencabut kembali bendera hitam partai yang tertancap di tanah, merekapun bergegas tinggalkan tempat itu.

__ADS_1


*****


Silahkan tulis komentar, kritik saran, like👍 atau vote👌jika anda suka. Trims🙏.


__ADS_2