Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Pertemuan di balik kegelapan.


__ADS_3

Hari sudah berganti senja saat Pranacitra yang sedang bergerak menyusuri sungai kecil itu sampai di kaki bukit kecil di sebelah timur kaki gunung Semeru. daerah sekitar itu sangat sunyi dan terkurung oleh rimbunan semak pepohonan. meskipun di atas langit masih terang, namun kelebatan hutan yang terbelah aliran sungai kecil itu membuat sinar mentari senja hampir tidak dapat menembus ke bawah, hingga suasananya menjadi lebih gelap dan suram.


Pemuda pincang ini berdiri diam. selintas terdengar suara mendesis halus yang di barengi bau amis yang samar tercium olehnya. tanpa menoleh tangan kirinya bergerak menyambar dan mencengkeram. cahaya redup kuning hitam berkelebat.


Seekor ular piton hitam yang merayap turun dari atas pohon dan besarnya lebih sepaha orang dewasa itu masih berusaha untuk membelit remuk tubuh si pincang. panjang ular itu hampir lima tombak. pemuda itu seperti lenyap dari pandangan karena terbungkus tubuh ular piton besar yang terus membelit mangsanya.


Berikutnya ada kepulan asap tipis dan bau daging hangus terbakar. tubuh ular hitam besar dan panjang itu menggeliat keras lalu merenggang jatuh ke bawah. terlihat daging ular yang terkoyak hangus beberapa bagian. pemuda itu kibaskan tangannya. ular piton terbanting dengan kepala remuk dan leher patah di cengkeram tangan si pincang.


Dengan ilmu 'Naga Bertapa Membakar Jagad' tenaga kesaktian sepanas bara api dapat di hasilkan dari dalam tubuhnya. Pranacitra seakan tidak perlu banyak bergerak kalau hanya untuk membunuh seekor ular raksasa. bahkan seandainya ular itu jauh lebih besar sekalipun juga bukan masalah baginya.


Aliran sungai di depannya terlihat bercabang dua. setelah menentukan arah murid lima tokoh sakti aliran hitam itu kembali bergerak. dia tidak lagi mengikuti aliran sungai, namun menerobos sisi hutan sebelah kiri sungai yang banyak tonjolan batuan padas dan tinggi.


Butuh ilmu meringankan tubuh yang tinggi dan ketajaman mata untuk dapat melakukan semuanya. jika saja ada orang yang melihat, pasti mereka tidak akan percaya kalau yang sedang berkelebatan secepat hembusan angin itu adalah orang yang cacad kakinya.


Menjelang tengah malam Pranacitra sudah tiba di sebuah pedataran berdekatan dengan kaki bukit yang berada di sebelah timur gunung Semeru. jarak antara kaki gunung dan bukit itu mungkin dua ratusan tombak, terpisah oleh sebuah jurang sungai yang lebar dan curam. di langit malam bulan bintang bertaburan. bukit itu terjal dengan tonjolan batu padas berumput belukar.


Tidak terlihat adanya jembatan yang dapat menghubungkan antara gunung dan bukit. kini Pranacitra paham kenapa Puji Seruni memintanya agar tidak terus mengikuti aliran sungai melainkan menerobos hutan di sisi sebelah kiri, karena jika itu dia lakukan mungkin sekarang dia akan tersesat dan berada di dalam jurang, karena pangkal sumber aliran sungai kecil yang tadi siang dia lalui berasal dari dalam jurang ini.


Tapi jika dia berbuat sebaliknya menerobos ke hutan yang berada di sisi kanan sungai, saat ini Pranacitra pasti ada di sisi seberang kanan jurang dekat dengan wilayah kaki gunung Semeru. pemuda itu membalikkan tubuhnya menatap bukit kecil yang berada di depannya. di balik bukit itulah letak goa rahasia tempat Puji Seruni berada.


Sekali kakinya menjejak tanah, tubuhnya sudah berubah menjadi sekelebat bayangan setan hitam yang menyusup naik di antara celah batuan padas yang berada di bukit itu, sebelum dia lenyap di balik kegelapan malam.

__ADS_1


Pranacitra berdiri diam merapat di antara celah tebing batu. dia tidak perlu mendekam atau membungkuk. kegelapan malam dan tempatnya berdiri sudah cukup tersembunyi. sebaliknya tidak seorangpun di luar sana yang dapat melihatnya. biarpun masih jauh tapi pemuda ini dapat mendengar beberapa orang bergerak mendekati tempat itu. dari bunyi langkah kakinya yang ringan dan cepat dapat di kira mereka punya ilmu kepandaian yang lumayan.


''Apakah kau yakin tidak salah mendengar ada suara wanita di sekitar tempat ini.?''


''Jangan- jangan., yang kau dengar itu hanya suara angin atau bisa juga bunyi kentutmu sendiri, Haa., ha..''


''Sialan kalian., kedua telingaku belum lepas dari tempatnya. kalau mau bicara jangan seenaknya saja..'' terdengar suara sungutan kesal seorang dari mereka.


Kalau di dengar dari suara pembicaraan tadi setidaknya ada tiga orang yang mendekati tempat itu. namun Pranacitra tahu kalau sebenarnya ada lebih dari lima orang yang datang.


Kini belasan langkah di depannya telah muncul tujuh orang. cahaya bulan bintang yang terang bertaburan diatas langit seperti menyinari baju biru bersulaman seekor naga yang sedang melingkari sebuah gunung.


''Chuih., mau apa orang- orang sombong dari perguruan silat 'Naga Biru' itu muncul di sini.?'' gumam Pranacitra sembari meludah. hatinya terasa panas mendidih jika teringat masa lalunya.


Ada seorang kenalan gurunya yang berbaik hati memberinya sekedar tempat berteduh juga pengobatan tenaga dalam untuk lebih memperkuat tubuhnya. bahkan nenek tua bernama Nyi Rumbiah ini memberinya saran ke gunung Semeru untuk mencoba meminta bantuan pada perguruan silat Naga Biru yang saat itu menjadi salah satu dari sepuluh perguruan silat terbesar aliran putih.


Tetapi seperti yang sudah lewat, merekapun juga menolak untuk ikut campur. karena sudah putus asa Pranacitra nekat berlutut di depan pintu perguruan itu dan meminta agar di angkat sebagai murid. dengan alasan tubuhnya yang lemah berpenyakit serta kakinya yang pincang, mereka bukan saja menolaknya tapi juga mencaci maki lalu menyeretnya jauh ke luar wilayah perguruan itu, setelah sebelumnya dia di hajar sampai terkapar pingsan setengah mampus.


''Aku yakin suara itu berasal dari daerah ini., mulanya diriku coba menyelidiki saat siang hari, tapi tidak ada suatu apapun. tapi malam selanjutnya suara itu kembali terdengar. bahkan dua malam terakhir ini lebih jelas lagi seperti mirip suara seorang gadis sedang berlatih ilmu silat. karena bukit ini bukan wilayah perguruan Naga Biru dan terpisah oleh jurang, aku tidak dapat memeriksanya saat itu juga..'' ujar orang yang bertubuh sedang dan berambut agak pendek.


''Karena itu aku berani melaporkan masalah ini kepada ketua kita Ki Galing Brajapaksi, meskipun beliau sedang di landa kemurkaan dan duka akibat dari kematian tuan muda Hanggajaya putranya, saat dia memburu Wiratama dan Puji Seruni..'' sambungnya.

__ADS_1


Enam orang lainnya saling pandang dengan muka sedikit berubah. salah satunya yang punya kumis tipis dan berusia paling tua seperti tersentak karena merasakan sesuatu. mungkin dia pemimpinnya dan berilmu silat paling tinggi. perlahan tangannya melolos pedang yang berada di punggungnya.


Semua rekannya juga berubah tegang sambil edarkan pandangannya. tubuh mereka bergidik merasakan ada hawa membunuh yang muncul dari balik kegelapan. pedang sudah berada dalam genggaman tangan mereka. ''Orang dari mana yang diam- diam mengintai kami dari perguruan silat Naga Biru., cepat keluar.!''


''Huhm., para pengecut dari perguruan silat Naga Biru berani mengotori tempat suci ini., kalian semua layak mati.!'' terdengar seruan garang seorang perempuan. belum sempat para murid perguruan Naga Biru mengetahui siapa lawamnya, dari atas bebatuan terjal yang tinggi, meluncur cepat sesosok bayangan putih yang di iringi sambaran dua cahaya sinar emas yang berputar membabat selincah sayap burung walet.!


Gulungan kedua sinar emas itu bergerak sangat cepat membelah kegelapan malam. terdengar makian dan jeritan ngeri saat terjadi bentrokan senjata. tujuh orang murid perguruan silat Naga Biru itu bukan berilmu rendah, tapi dalam segebrakan saja dua diantaranya sudah terjungjal roboh dengan leher putus dan dada terbelah semburkan darah.


''Aaakh., jahanam keparat.!'' teriak para murid Naga Biru panik sekaligus marah. dari kelima orang yang tersisa hanya tiga orang saja yang masih selamat. sedangkan dua lainnya sudah robek punggung dan terputus tangan kirinya. beruntung mereka cepat mencelat jauh ke belakang bahkan harus bergulingan hingga nyawanya masih dapat selamat.


Di hadapan mereka terlihat berdiri seorang gadis cantik jelita dua puluh tahunan. pakaiannya yang putih bersih sangat mencolok dengan rambutnya yang hitam lebat ikal sepanjang bahu dan berkibaran tertiup angin dingin. sepasang pedang pendek yang lebar dan bersinar keemasan tergenggam di kedua tangannya. darah merah yang membasahi pedang emas terlihat lenyap seperti terhisap oleh pedang itu. cahaya emas jadi semakin terang.


''Kau., kau., bukankah kau ini Puji Seruni., bagai., bagaimana dirimu dapat kembali ke tempat ini.?'' seru si kumis tipis tergagap. dia ingat betul gadis ini karena sewaktu terjadi pertarungan di goa rahasia milik Nyi Pariseta dia juga turut ikut menyerbu. bahkan dialah yang melukai Wiratama tunangan gadis itu.


''Baguslah kau masih ingat diriku, sebab akupun tahu kau salah satu orang yang telah ikut menyerang guru dan kakang Wiratama. jadi aku tidak perlu lagi bersusah payah mencarimu.!'' ucapan gadis bernama Puji Seruni itu di akhiri dengan gerakan tubuh melayang cepat. sepasang pedang emas kembali berkelebatan diantara tubuh dan pedang kelima lawannya yang membacok dan menikam.


Benturan senjata terdengar nyaring berulang kali. pijaran bunga api dari senjata yang saling bentrok di susul dengan semburan darah dan jeritan menyayat hati. si kumis tipis masih mampu bertahan hingga empat jurus. mengirimkan tiga babatan pedang dan dua pukulan tangan kosong. tapi akibatnya tangan kirinya terbabat putus di susul usus terburai saat dua pedang emas berkelebat menyambar di depannya.!


Tujuh orang murid perguruan Naga Biru kini terkapar tak bernyawa. tidak sampai sepuluh jurus pertarungan sudah berakhir. pedang emas terlihat bergetaran saat darah lawan yang menempel terhisap ke dalam. sekali lagi kedua pedang emas berputar cepat seiring melesatnya tubuh langsing Puji Seruni, menggebrak ganas menyasar sebuah celah bebatuan yang ada di sana.


Jaraknya yang belasan langkah seperti cuma terlewati dalam sekejap mata. gerakan ilmu meringankan tubuh 'Bayangan Walet Langit Melintasi Udara' memang bukan olah- olah hebatnya.

__ADS_1


''Sampai kapan kau mendekam di situ. terima serangan ini dasar pengecut.!'' bentak Puji Seruni bengis. dua larik sinar kuning emas menyambar menerobos kegelapan. hawa panas tajam menyayat turut mengiringinya.


''Belum tiga bulan berpisah tapi kesaktianmu sudah meningkat sehebat ini., lumayan juga, Haa., ha.!'' suara tawa yang dingin terdengar dari balik kegelapan. selarik cahaya hitam pekat berhawa panas menghantam ganas. jurus 'Tongkat Maut Pemecah Rembulan.!'


__ADS_2