Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Sebilah pisau. (bag1)


__ADS_3

Mendung kelabu yang menggantung dilangit terlihat semakin tebal. mungkin tidak lama lagi hujan deras akan turun. ditengah jalanan yang terapit dua tebing batu itu terjadi pertarungan sengit dua lawan lima. walaupun unggul dalam jumlah, tapi anggota perkumpulan jasa pengawalan barang 'Teratai Hijau' justru malah terdesak hebat.


Kedua orang perempuan berdandan menor dan berjubah merah muda yang menjadi lawannya mempunyai kepandaian silat lebih tinggi. mungkin paling lama dalam sepuluh jurus kedepan mereka semua akan menyusul ketujuh rekannya yang sudah lebih dulu terkapar tidak bernyawa dijalanan itu.


Dalam sekali menyerang kedua perempuan setengah umur bertubuh sintal itu mampu membuat kelima orang anggota pengawalan barang Teratai Hijau yang membekal pedang semburat menjauh. cahaya menyilaukan yang memancar dari benda ditangan lawannya bukan saja membuat pandangan mata silau namun juga mampu membakar kulit.


Meskipun hanya bersenjatakan sebuah cermin bulat dengan pegangan bingkainya yang tipis dan tajam berwarna keperakan, tapi ditangan 'Sepasang Musang Pesolek' benda yang biasa dipakai oleh kaum wanita untuk berdandan itu bisa menjadi senjata yang sangat mematikan.


Jangan dikata badan keduanya terlihat gemuk sintal, ilmu mengentengi tubuh yang mereka miliki lumayan tinggi. saat senjata cermin bulat ditangan kirinya berkilatan menyilaukan mata lantas membabat batang leher dan perut lawan, sepasang kaki mereka juga turut lancarkan tendangan beruntun.


Apalagi dijemari dikakinya yang diselimuti bulu tebal itu berkuku tajam kemerahan pertanda mengandung racun ganas, membuat serangan Sepasang Musang Pesolek menjadi semakin berbahaya. walaupun Ki Teratai Wulungijo dan anak buahnya sudah berulangkali berusaha membabat putus kaki lawan, tapi selalu saja gagal. bulu tebal yang menutupi kaki mereka seolah mantel besi yang tahan senjata tajam.


Terdengar jeritan meregang nyawa dari mulut dua orang anak buah Ki Teratai Wulungijo. satu orang terkoyak pangkal lehernya, seorang lainnya robek dibagian perut hingga dia mati dengan usus terburai. gadis muda yang bernama Rara Cempluk itu menjerit ngeri dan menangis penuh kesedihan melihat kematian rekannya, apalagi keduanya mati karena berusaha untuk melindungi dirinya.


Selama ini dia hanya berada dirumah ditemani dua orang pembantu rumah jika sang ayah dan anak buahnya yang sudah dianggapnya seperti saudara sendiri baginya pergi mengawal barang. sudah berulang kali dia ingin ikut serta karena sering mendengar cerita rekan- rekannya tentang berbagai pengalaman didunia luar. setelah berulang kali memohon pada ayahnya, baru kali inilah Rara Cempluk di ijinkan ikut serta.


Betapa senangnya gadis itu membayangkan semua pengalaman menyenangkan yang akan dialami nanti selama perjalanan mengawal barang. tapi sungguh mimpipun dia tidak pernah mengira bakal mengalami kejadian seram dan sangat menyedihkan hati dalam perjalanan pertamanya hari ini.


Kesedihan hati yang mengguncang jiwanya membuat Rara Cempluk sesaat kehilangan kewaspadaan. sekelebat cahaya keperakan dari cermin bulat lawannya membuat silau pandangan. kedua mata dan wajahnya juga terasa kepanasan seakan tersengat nyala api.


Gadis manis berpipi tembem itu pasti mati jika saja ayahnya tidak datang membantu. tiga sabetan pedang yang diakhiri dua tusukan mengarah pinggang kiri kanan memang mampu menangkis serangan senjata cermin yang mengancam putrinya. tapi disisi lain tulang iga Ki Teratai Wulungijo mesti ganti terhajar tendangan salah seorang dari Sepasang Musang Pesolek yang datang dari samping kirinya.


'Whuuutt., traaang., traaaang.!'

__ADS_1


'Whuuukk., dhaaass., kraaass.!'


''Aaaakh.!''


Ki Teratai Wulungijo terjungkal roboh pegangi iga kirinya yang remuk bersimbah darah. ''Cep., cepat kau., kau bawa pergi putriku.!'' serunya terbata pada seorang anak buahnya yang masih tersisa. ''Tidak ayah., aku., aku tidak mau meninggalkanmu.!'' bantah Rara Cempluk menangis sambil memeluk ayahnya.


''Hek., he., jangan mencoba untuk membuat suasana yang mengharukan disini, karena itu tidak akan ngubah datangnya kematian kalian berdua, ayah dan anak..'' ejek perempuan bermuka menor yang bertubuh sedikit lebih pendek tertawa mengekeh. ''Lagi pula., kami sudah bosan melihat sandiwara bodoh seperti itu..'' timpal rekannya mencibir.


''Perempuan jahanam., kau mesti gantikan nyawa semua temanku. rasakan pedangku.!'' bentak anggota Teratai Hijau yang terakhir kalap. rupanya orang yang umurnya paling muda dibanding semua rekannya dan sebaya Rara Cempluk itu ingin membokong selagi kedua lawannya tidak memperhatikan dirinya.


''Huhm., bocah kemarin sore ini rupanya sudah bosan hidup. mampuslah menyusul semua kawanmu.!'' gertak si menor pendek sambil kibaskan senjata cermin peraknya. selarik kilatan cahaya menyilaukan mata yang panas menyambar ke muka hingga pemuda itu berteriak kesakitan sembari lindungi mata dan wajahnya yang terasa perih.


Balasan yang mendadak itu membuat jurus serangannya menjadi terputus ditengah jalan. dari menikam kini pedangnya berubah memutar seperti perisai untuk melindungi tubuhnya. gerakan yang dilakukan pemuda itu hanya dapat dilakukan tidak lebih dari empat kali putaran pedang saja, karena dada kanan serta bahunya sudah termakan sabetan senjata cermin perak lawannya.


Penderitaan pemuda ini semakin parah karena kulit perutnya turut robek tersambar kuku- kuku tajam beracun dijari kaki lawan yang deras menendangnya. tanpa ampun tubuh pemuda itu terjungkal roboh. Rara Cempluk berteriak gusar, ketakutan juga putus asa. diantara semua temannya gadis tembem ini paling akrab dengan pemuda itu karena usia mereka yang seumuran. bahkan dialah yang telah membantunya untuk membujuk sang ayah agar mengijinkannya ikut serta dalam mengawal barang.


Semua kejadian yang dialaminya membuat gadis itu merasa kehilangan segalanya dalam waktu singkat. kini tinggal dia seorang saja yang masih dapat berdiri meskipun tubuhnya gemetaran sedih dan kebingungan. baru kini Rara Cempluk merasakan sebuah ketidak berdayaan serta putus asa.


Sepasang Musang Pesolek malah bercermin wajah sambil menata sanggul dirambut hitamnya. sikap mereka seolah sengaja menghina gadis itu. tanpa perduli apapun keduanya bergerak melewati Rara Cempluk seolah dia cuma patung kayu. sekejap saja mereka sudah mulai membongkar dua buah gerobak kereta kuda berisi barang kawalan.


''Haa., ha., berita rahasia yang kita dapat dari lelaki muda itu rupanya benar adanya, hari ini mereka akan mengawal barang berharga dan perhiasan ke kota raja..'' musang pesolek yang bertubuh tinggi tertawa bergelak sambil tangannya menggenggam perhiasan emas dari dalam kotak kayu.


''Jika orang itu tidak mengatakan tempat rahasia penyimpanan yang diletakkan dibalik lapisan lantai kayu kereta kuda, kita mungkin kesulitan juga mencarinya..'' sambung musang pesolek bertubuh pendek. Rara Cempluk juga ayahnya yang mendengar ucapan itu merasa kaget karena tidak mengira ada orang lain yang tahu soal tempat penyimpan rahasia dibawah gerobak kereta kuda.

__ADS_1


Dalam setiap menjalankan pembegalan, Sepasang Musang Pesolek mempunyai suatu kebiasaan. mereka akan lebih dulu membunuh kuda atau binatang penarik kereta barang sekalian kusirnya sehingga sasaran tidak punya kesempatan untuk melarikan barang kawalannya. demikian juga sekarang, empat ekor kuda penarik gerobak sudah dihabisi dengan lemparan senjata rahasia beracun berupa tusuk kundai dan sisir rambut kecil yang terbuat dari besi.


''Hen., hentikan perbuatan busuk kalian., sel., selama aku masih hidup jang., jangan harap bisa menjarah barang kawalan kami.!'' teriak Ki Teratai Wulungijo seraya bangkit melabrak tanpa perdulikan lukanya. melihat ayahnya menyerbu, Rara Cempluk juga turut membantu menyerang lawan dengan sabetan pedangnya. tapi hanya butuh empat kali kibasan cermin perak, dua buah tendangan menyasar perut yang diakhiri dengan pukulan telapak untuk menyudahi perlawanan ayah dan anaknya.


Rara Cempluk menjerit kesakitan. bahu dan lengannya yang terhantam pukulan lawan terasa remuk hingga pedangnyapun terlepas. musang pesolek pendek mengumpat kotor saat kakinya tertahan tangan Pujo Satriman yang erat menggelung hingga niatnya untuk menghabisi Rara Cempluk menjadi gagal.


Tapi dengan dua kali sentakan saja dia sudah mampu membuat kakinya terlepas dari belitan tangan sekaligus menginjak patah siku tangan pemuda itu. suara tulang patah dan jeritan meraung kesakitan terasa merobek telinga Rara Cempluk. gadis itu hanya bisa menangis jatuh bersimpuh melihat pengorbanan Pujo Satriman. entah dia cuma pingsan atau malah sudah mati.


''Hei kau., kenapa masih tidak keluar dari tempatmu. memangnya dirimu sudah tidak menginginkan gadis ini juga barang kawalan bekas pimpinan Teratai Hijau yang telah mengusirmu.!'' seru musang pesolek pendek pada seseorang yang bersembunyi dibalik bebatuan tebing. belasan tombak dari sana keluar sesosok lelaki muda dua puluh lima tahunan. meskipun cukup gagah tapi terlihat licik air mukanya.


''Hee., he., cukup lama kita tidak berjumpa Rara Cempluk, sejak ayahmu mengusirku tiga bulan lalu. kulihat keadaan kalian seperti kawanan anjing yang mau mati..'' melihat siapa orang yang bicara itu Rara Cempluk terperanjat. ''Darta Ganjaran., rupanya kaulah yang berada dibalik semua ini. dasar bajingan terkutuk., hari itu ayah cuma mengusirmu karena berniat tidak senonoh padaku. beliau pasti menyesal karena tidak menghabisimu.!'' rutuk Rara Cempluk geram.


''Huhm., penyesalan tidak akan ada gunanya. sekarang ini bukan saja harta kawalan bisa kami rampas, dirimu juga akan terjatuh dalam pelukanku. Haa., ha.!'' ancam pemuda yang bernama Darta Ganjaran itu tertawa bengis. ''Kau., kau sungguh manusia keji. aku lebih baik mati daripada terhina ditanganmu.!'' umpat Rara Cempluk marah dan jijik.


''Memangnya apa yang bisa kau perbuat, saat ini juga akan kutelanjangi tubuhmu. sialan., selama ini aku hanya bisa menahan hasratku dengan mengintipmu saat mandi. sekarang juga kunikmati tubuhmu sepuasnya.!'' dengan melangkah cepat pemuda itu sudah berada didepan Rara Cempluk. gadis itu berusaha untuk berontak, menendang dan menghantam namun dengan dua kali totokan saja pemuda itu membuat mangsanya diam tidak berkutik.


Rara Cempluk selain ketakutan juga terkejut mengetahui ilmu Darta Ganjaran yang menjadi lebih hebat. ''Pemuda jahanam ini pasti sudah berguru pada orang lain. apakah kedua setan perempuan itu yang mengajarinya.?'' batin Rara Cempluk. tapi dia mesti singkirkan semua pikirannya melihat seringai kejam yang penuh nafsu menjijikkan yang tersungging di bibir Darta Ganjaran.


''Tid., tidak., tidak., kau jangan melakukan itu., kuu., kumohon jangan lakukan. tolong.!'' ratap Rara Cempluk. namun sayangnya totokan itu tidak cuma melumpuhkan tapi juga membuat suaranya bisu. air mata mengalir deras dari pelupuk Rara Cempluk membayangkan nasib buruk yang bakal menimpanya. pakaiannya yang berupa baju hijau berlengan pendek sudah robek tersibak.


Dia cuma bisa diam pasrah pejamkan matanya saat tubuh Darta Ganjaran menindihnya diatas jalanan berbatu itu. pemuda keji itu sempat menggerung buas dan menegang tubuhnya sebelum tangannya mencengkeram dengan kedua mata mendelik seakan tidak percaya sebelum terdiam kaku.


Rara Cempluk bergidik ngeri melihat ada darah menetes keluar dari sela bibir dan leher si pemuda yang masih menindih tubuhnya. darah yang mengalir dari pangkal leher itu terasa terasa basah dan amis. karena tertotok anak perempuan Ki Teratai Wulungijo ini tidak dapat mengetahui kenapa ada luka berdarah dileher Darta Ganjaran.

__ADS_1


Karena sibuk dengan harta rampasannya membuat Sepasang Musang Pesolek tidak mengetahui betul apa yang sebenarnya telah terjadi pada Darta Ganjaran. tapi saat melihat tubuh pemuda itu tidak bergerak barulah keduanya merasa curiga. mereka sama mendekat dan terperanjat mengetahui pemuda itu sudah tidak bernyawa dalam keadaan tertelungkup diatas tubuh Rara Cempluk yang setengah telanjang.


Lebih terkejut lagi mendapati ada sebuah pisau yang tertancap dibelakang pangkal leher Darta Ganjaran. sebilah pisau dapur yang bentuknya sangat umum dengan panjang sejengkal lebih dua ruas jari. separuh mata pisau ini sudah terbenam di leher pemuda itu. Sepasang Musang Pesolek saling lirik, sejak kapan pisau dapur itu berada disana, siapa pula pemiliknya., tidak seorangpun yang tahu.


__ADS_2