Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Sesumbar.


__ADS_3

Dengan kepercayaan diri penuh 'Dua Dedemit Merah Kuning' itu mengacungkan dua buah bendera lambang partai persilatan aliran hitam terkuat saat itu. raut wajah mereka berdua yang tadinya pucat pias karena ketakutan berubah bengis dan penuh kesombongan. dalam kegelapan malam yang mulai pekat bendera hitam partai 'Gapura Iblis' seolah melambangkan datangnya kematian.


''Haa., haa., ha., bocah pincang keparat. kau boleh menjadi yang terkuat diantara para pesilat muda pendatang baru dan punya nama angker yang menggetarkan kolong langit. tapi sekarang., dihadapan lambang partai Gapura Iblis, semua itu hanyalah onggokan sampah yang tidak berharga.!'' gertak Dedemit Merah.


''Jangankan dirimu., bahkan jika kelima orang gurumu belum mampus dan berada disini, juga tidak akan berani berbuat apapun pada orang yang memegang bendera perlindungan partai Gapura Iblis seperti kami. Hee., he., aku dengar gadis pemimpin Lima Elang Api itu sangat cantik. setelah kau mati, perempuan itu akan menjadi penghangat tubuh kami untuk melewati dinginnya malam ini..'' sambung si 'Dedemit Kuning' terkekeh mesum.


Kedua orang tua itu sempat saling pandang dan tertawa bergelak membayangkan semua yang mereka inginkan bakalan terwujud. tapi perlahan suara tawa mereka menjadi surut. entah kenapa hawa udara malam disekitarnya berubah menjadi semakin dingin menusuk tulang. tanpa sadar keduanya menatap si pemuda pincang yang berdiri enam langkah dari mereka.


Wajah pemuda yang sedikit pucat itu terlihat dingin dan sekaku mayat. sepasang mata merah darah yang sempat terlintas juga mulai pudar. meskipun demikian sorot mata itu masih tanpa perasaan apapun seakan mata orang yang sudah mati. perlahan pemuda bernama Pranacitra itu tundukkan kepalanya.


Melihat semua itu Dua Dedemit Merah Kuning keluarkan dengusan menghina. ''Huhm., baru sekarang kau merasakan ketakutan akan datangnya kematian hingga hanya bisa diam menunduk. Haa., ha., sayangnya kau cuma punya satu nyawa saja. itu tidak cukup untuk menggantikan kedua tangan kami..''


''Orang yang melihat lambang partai Gapura Iblis hanya bisa menuruti perintah, karena bertemu dengan bendera hitam ini sama saja dengan berhadapan sang ketua partai sendiri. aku tidak mau mengotori tanganku, jadi cepat kau bunuh dirimu sekarang juga.!'' bentak Dedemit Kuning bengis penuh kesombongan sementara rekannya hanya mendengus gusar.


''Setan pincang keparat., apa telingamu tuli dan mulutmu menjadi bisu hingga hanya bisa diam menunduk. bocah sialan., rupanya aku mesti turun tangan sendiri untuk mengirimmu ke lubang neraka.!'' orang tua berbaju kuning itu baru saja hendak melabrak saat bersamaan melesat satu bayangan sinar hitam berbentuk tangan yang menyambar menggidikkan hati.


Belum jelas apa yang terjadi tahu- tahu cahaya tangan hitam itu sudah lewat dan lenyap entah kemana. tidak terasa ada hempasan angin atau hantaman pukulan sakti. seolah tangan berjemari hitam legam itu hanyalah sebuah khayalan yang hilang sekejapan mata saja.

__ADS_1


Tidak sempat terdengar suara jeritan ataupun erangan kesakitan meregang nyawa. hanya terlihat tubuh Dedemit Merah yang jatuh tersungkur berkelojotan sebentar dan muntah darah hitam sebelum akhirnya mati dengan mata melotot menatap bendera Gapura Iblis yang masih tergenggam erat ditangan kirinya.


Kedua mata orang ini seolah sedang bertanya, ''Bukankah., kau ini barang pusaka sakti yang tidak tertandingi. kenapa kau tidak mampu melindungiku. apakah., kau ini hanyalah sebuah bendera palsu.?'' hanya sayang., sepertinya dia tidak akan pernah mendapatkan jawabannya.


Pranacitra masih diam berdiri menggenggam tongkat besi hitamnya, seolah dia tidak pernah bergerak. jarak enam tujuh langkah mungkin agak jauh, membuat pemuda ini seperti malas untuk bergerak menyerbu lawan. dengan ilmu 'Tangan Panjang Penjambret Jiwa' ajaran 'Malaikat Copet' dia mampu mencabut nyawa lawannya dari jarak yang jauh.


Berubah hebat raut muka si Dedemit Kuning melihat kematian sobatnya. ''Bocah pincang jahanam., dasar keparat gila. beraninya kau membunuh kawanku yang memegang bendera perlindungan partai Gapura Iblis. kau dengar pincang bangsat., ini Gapura Iblis. partai persilatan terkuat yang tidak tertandingi siapapun.!''


''Buka telingamu juga otak bebalmu. yang sedang kau hadapi adalah Gapura Iblis. kau pasti mampus tidak terbentuk karena berani menantang mereka.!'' damprat Dedemit Kuning coba mengancam. ''Jangan mendekat bangsat sialan. apa matamu buta sampai tidak dapat melihat bendera Gapura Iblis yang kupegang. bedebah., jangan mendekat kemari kataku. ini Gapura Iblis., Gapura Iblis.!'' teriak si Dedemit Kuning penuh amarah bercampur ketakutan.


Orang tua itu terus tersurut mundur sembari acungkan bendera hitam ditangan kirinya. setapak kaki si pincang maju, dua langkah dia bergerak mundur. dua tindak si pincang kedepan, tiga kali dia menjejak ke belakang. saking ketakutan wajah orang ini mendadak menjadi jauh lebih pucat dari si pincang.


''Kau tahu kenapa aku lebih memilih untuk membunuh kawanmu duluan dibandingkan dirimu., itu karena orang yang selalu banyak bicara omong kosong sepertimu biasanya lebih takut mampus. katakan dari mana kau bisa mendapatkan bendera Gapura Iblis itu. hari sudah malam. mataku juga mulai mengantuk ingin tidur..''


''Kuberi waktu tiga kali tarikan nafas untuk menjawabnya, jika lewat dari itu kau pasti mati dengan sangat menyakitkan. asal kau tahu saja aku punya kegemaran menyiksa lawanku sebelum kuhabisi. tiga., dua., satu..'' ucap Pranacitra dingin. tongkat besinya yang teracung bergerak laksana mata bor baja yang menggerus bukit karang.


''Jaa., jangaan., aamm., ampuun.!'' teriak si Dedemit Kuning ngeri. ujung tongkat besi berhenti tepat di depan keningnya. kulitnya sudah terkelupas bolong mengucurkan darah hingga tulang kepalanya terlihat. ''Aaa., akan kukatakan. taa., tapi kau., kau mesti berjanji untuk mel., mel., melepaskan diriku..''

__ADS_1


''Aku berjanji akan memecahkan kepalamu sekarang juga jika kau tidak cepat bicara.!'' damprat Pranacitra menyeringai dingin. tidak ada jalan lain kecuali menurut. raut wajah pemuda dari gunung Bisma itu beberapa kali nampak terkejut juga rada sangsi mendengar semua yang dikatakan si Dedemit Kuning.


''Segala yang kuketahui sudah aku katakan padamu. sekarang bisakah diriku kau lepaskan sesuai perjanjian.?'' tanya Dedemit Kuning khawatir. yang ditanya hanya diam tanpa menjawab. matanya melirik sekejap ke pintu gubuk. dengan munduk- munduk Dedemit Kuning beringsut menjauh sebelum berdiri balikkan tubuhnya untuk meninggalkan tenpat itu secepatnya.


Namun baru tiga empat langkah dia berlalu dari mulutnya terdengar jeritan meregang nyawa saat sekelebat cahaya asap merah berbentuk cakar menghajar punggung orang tua berjubah kuning itu. sebelum roboh terjungkal dia sempat menolehkan kepala ke arah gubuk. di sana entah sejak kapan sudah berdiri seorang gadis cantik berbaju jingga.


''Yang berjanji untuk melepaskanmu adalah dia., bukan diriku. asalkan kau tahu saja keponakanmu yang bernama Ranca Kundara dan para begundalnya itu punya kelakuan bejat menculik beberapa orang gadis desa untuk dijual ke tempat pelacuran. sayangnya disaat terakhir dia telah memilih sasaran yang salah. pimpinan Lima Elang Api bukanlah perempuan yang bisa dibuat sembarangan..''


Bersamaan dengan berakhirnya ucapan Jingga Rani, tubuh orang terakhir dari 'Dua Dedemit Merah Kuning' itupun sudah roboh tersungkur dengan punggung terkoyak hangus dihantam senjata cakar elang baja milik gadis pimpinan dari Lima Elang Api ini.


Perapian batu didalam gubuk reot itu kembali menyala. meskipun apinya kecil tapi cukup memberikan kehangatan dicuaca malam yang dingin. hujan gerimis mulai turun dari atas langit. hembusan angin malam menerobos celah gubuk bambu yang hampir roboh. dua orang muda- mudi itu masih duduk saling berhadapan hanya terpisah nyala api unggun.


''Maaf jika aku bicara lancang, tapi jika kulihat dari kejadian dan sikapmu tadi, sepertinya kau punya dendam kesumat dengan partai Gapura Iblis. apakah dirimu sadar bersengketa dengan partai persilatan terkuat aliran hitam itu sama saja mencari mati..'' ujar gadis berbaju jingga yang memang Jingga Rani ini khawatir.


''Setidaknya sampai sekarang aku masih hidup dan kehidupanku., kurasa lumayan menarik..'' jawab pemuda bernama Pranacitra itu enteng sambil tangannya yang memegang ranting terus sibuk mengatur perapian. Jingga Rani menjadi kesal dan gemas dengan sikap acuh pemuda pincang itu.


''Bukan itu masalahnya tahu., sebenarnya apa yang membuatmu berseteru dengan Gapura Iblis. aku., aku ingin membantumu. setidaknya ijinkan diriku membalas budi baikmu pada kami berlima. Hei., bagaimana kau dapat tetap tenang dan seolah tidak perduli begini. bisakah kau sedikit merasa khawatir dengan hidupmu. yang sedang kau hadapi ini adalah Gapura Iblis tahu.!'' bentak Jingga Rani geram. turut maunya ingin dia menggampar muka pucat si pincang yang menyebalkan itu.

__ADS_1


''Kalau mereka Gapura Iblis memangnya kenapa. apakah aku mesti mengkeret dan lari ketakutan sambil menjerit., Iiihh., aduuh aku takuuutt., seeraaamm., ngerriiii., begitu.? asal kau tahu saja gadis cerewet, diriku sudah bermusuhan dengan partai hitam terkuat itu sejak umurku lima belas tahunan..''


''Jadi., jika kau ingin menyarankanku untuk mundur atau menghindar dari mereka, Chuih., maaf saja lebih baik aku tergeletak jadi mayat. ingatlah ini baik- baik., selama masih bernyawa si 'Setan Pincang Penyendiri' tidak akan pernah lari dari kancah pertarungan.!'' sumbar Pranacitra angkuh. dari sorot matanya yang dingin tajam menggidikkan hati, Jingga Rani sadar kalau orang ini tidak bisa lagi diubah pendiriannya.


__ADS_2