
Sepeminum teh kemudian dari satu arah muncul tiga sosok bayangan manusia berjubah hitam yang berkelebat cepat menuju ke tempat Nyi Sawer Pethak dan rekannya si 'Empat Begal Bogem Gunung' tergeletak. dalam sekejap mata saja mereka sudah tiba di sana menandakan ilmu meringankan tubuh ketiga orang itu sangat tinggi.
Saat sampai ditempat itu barulah dapat diketahui kalau ketiga orang pendatang berjubah hitam ini mempunyai raut wajah bengkak dan tebal berwarna kemerahan hingga seolah memakai topeng. salah satu diantara mereka yang bertubuh paling pendek memberi isyarat pada rekannya yang berdiri paling kiri. dengan cepat orang ini memeriksa semua orang yang tergeletak di sana.
Dia berhenti saat memeriksa tubuh Nyi Sawer Pethak alias si 'Ular Putih Licin'. dengan dua buah totokan dan penyaluran tenaga dalam nenek kepala rampok itu dapat disadarkan. ''Aakh., kaa., kalian bagai., mana bisa aa., ada di sini.?'' teriaknya tercekat melihat siapa yang datang menolongnya. dalam hatinya timbul rasa khawatir.
Tanpa bersuara orang bermuka bengkak merah bertubuh pendek yang mungkin menjadi pimpinan dari ketiganya memberi isyarat Nyi Sawer Pethak untuk cepat bicara. nenek itu hanya bisa menurut. ''Gaa., gadis bopeng yang men., jadi sasaran kami seb., sebenarnya sudah kita dapat., dapat., kan. tapi., sialnya si pin., pincang itu tiib., tiba- tiba saa., saja mun., muncul men,, menyelamat., kan., nya..'' ucap Nyi Sawer Pethak tergagap.
Ketiga orang bermuka merah bengkak seperti daging melepuh di panggang api ini sekilas saling pandang tanpa bicara. ''Too., tolong kau sel., selamatkan aa., aku. luka daa., dalamku sangat parah..'' ratap Nyi Sawer Pethak menahan rasa sesak dan kesakitan. saat dia bicara juga sempat muntah darah.
Si jubah hitam bermuka bengkak merah yang berdiri diam disebelah kanan maju kedepan sambil jejalkan sebutir obat sebesar biji buah salak berwarna kemerahan ke mulut Nyi Sawer Pethak. orang yang berdiri ditengah mengangguk. sekali bergerak tiga orang itu sudah lenyap dari tempatnya berdiri.
Nyi Sawer Pethak merasa lega dengan kepergian ketiga orang berjubah hitam yang mukanya bengkak tebal kemerahan. awalnya dia merasa curiga dengan obat yang dia telan tapi saat merasakan adanya pusaran hawa sakti di perutnya dia menjadi tenang. meski merasakan keheranan dengan perlakuan tiga orang itu yang tidak hampir tidak pernah mau menolong rekan sendiri.
Perlahan Nyi Sawer Pethak bangkit berdiri. dia memuji keampuhan obat yang mereka berikan padanya. dengan pandangan penuh dendam nenek itu melihat semua anak buahnya yang telah tewas. tapi baru saja lima langkah dia beranjak pergi mendadak tubuhnya menegang.
Dengan keluarkan teriakan parau disertai umpatan geram, dari mulut, hidung, mata telinga juga lubang anus dan bagian tengah selakangannya tersembur darah busuk. orang inipun terkapar tewas menyusul kelima anak buah dan empat rekannya yang sudah lebih dulu mampus.
Rupanya obat yang diberikan oleh salah satu dari ketiga orang bermuka merah bengkak itu bukanlah obat pemulih luka dalam dan penambah tenaga, melainkan sejenis racun jahat yang dapat menghancurkan bagian dalam tubuh serta membuat darah panas mendidih.!
__ADS_1
--------------
Sosok bayangan hitam itu terus berkelebat seringan hembusan angin melewati lebatnya hutan dan tonjolan bebatuan terjal. sepintas orang yang punya mata tajam dapat melihat kalau di atas bahu kirinya sedang memanggul sesuatu. disuatu tempat yang sunyi dan terlindung oleh batang pohon besar sosok bayangan itupun berhenti. baru sekarang dapat dilihat kalau yang berada diatas bahu kirinya adalah tubuh seorang gadis yang sedang terluka parah.
Perlahan dia menurunkan tubuh gadis itu ke tanah berumput. orang yang memanggul gadis berbaju hitam rombeng dan sudah robek besar itu adalah seorang pemuda berparas tampan namun rada pucat seperti orang penyakitan. sorot matanya yang dingin seakan tanpa ada perasaan apapun itu menatap si gadis muda bermuka bopeng bekas luka bakar dengan mata sebelah kiri cacat.
Baju hitamnya yang koyak besar sudah tidak mampu menutupi auratnya sebelah atas hingga kedua buah dada di gadis itu terlihat. meskipun ukurannya tidak besar dan ada bekas luka bakar tapi justru membawa daya tarik tersendiri. pemuda itu bukanlah orang suci. nafsu lelakinya sempat juga terbangkit meski hanya sekilas saja.
Pemuda itu tancapkan tongkat besi hitam kepala tengkorak ditangannya ke dalam tanah sebelum dia duduk bersila disamping gadis bermuka bopeng. telapak tangan kirinya terulur ke depan tepat berada sejengkal di atas dada si gadis bopeng. selarik sinar dan kabut biru keluar dari telapak tangan itu lalu turun menembus ke dalam tubuh gadis picak yang masih terbaring pingsan.
Gadis itu seakan terjingkat keatas dibarengi suara keluhan lirih. tubuhnya diselimuti kabut dan cahaya biru redup. hawa sangat sejuk terasa di terpancar dari sana. lewat tiga puluh tarikan nafas kemudian pemuda itu menarik kembali telapak tangan kirinya pertanda pengobatan yang dia lakukan telah selesai.
Dua butir obat pulung berwarna kekuningan sebesar biji kelengkeng dimasukkan ke mulut gadis bopeng itu. dengan sedikit pukulan di tengkuk dua butir obat itupun masuk ke dalam tenggorokannya. mata dingin pemuda itu memandang wajah cacat gadis yang terbaring dibawahnya. meskipun picak dan bopeng tapi anehnya justru membuatnya agak menarik.
Gadis itu keluarkan suara rintihan perlahan. tubuhnya menggeliat lemah. matanya yang tinggal sebelah kanan sedikit terbuka. sesaat dia terkejut tapi kemudian bibirnya yang tipis tersenyum senang saat melihat seraut wajah yang sering dia impikan berada di dekatnya. ''Kau., kaukah yang datang menolongku.?'' bisiknya lirih. pemuda itu cuma mengangguk. ''Engkau istirahatlah dulu, aku akan berjaga untukmu..''
Sebuah api kecil unggun telah menyala ditengah lebatnya hutan. bau harum daging kelinci yang terbakar diatas bara api segera tercium disekitarnya. dua orang muda mudi itu terlihat duduk berdampingan di depan api unggun sambil menunggu kelinci bakar itu matang. sesekali terdengar suara terbatuk batuk dari seorang gadis pertanda dia sedang terluka.
''Kurasa dirimu perlu tempat aman untuk bisa memulihkan diri. meskipun saat ini luka luar dan dalammu sudah berkurang namun untuk mencapai kesembuhan seluruhnya masih diperlukan waktu yang lebih lama, karena pukulan lawanmu sudah melukai bagian dalam tubuhmu..'' terang pemuda itu sambil membalik daging kelinci bakar yang sudah separuh matang.
__ADS_1
''Aash., sayangnya di sini tidak tersedia bumbu yang lengkap, seandainya ada pasti bisa aku buat masakan yang jauh lebih nikmat..'' keluh pemuda itu mengangkat daging kelinci bakar dari atas bara api. bau harum sedikit gosong tercium di hidung kedua orang itu.
''Kurasa begitupun tidak masalah karena apapun yang kau masak pasti akan terasa enak..'' sahut gadis bermuka bopeng itu lantas sandarkan tubuhnya ke bahu si pemuda yang lantas merangkulnya. gadis bopeng itu tersenyum. tangannya mengambil tusukan daging kelinci bakar dari tangan si pemuda. karena lapar dia langsung melahap daging itu. tapi sialnya dia lupa kalau masih panas hingga tersedak.
Pemuda itu tertawa lirih. daging kelunci bakar kembali berpindah ke tangannya. jarinya merobek dan memotong sedikit daging itu. lalu setelah ditiup- tiup hingga panasnya berkurang, dia suapkan ke mulut si gadis bopeng yang agak menunduk jengah. ''Aa., aku bukan anak kecil yang perlu disuapi..'' ucapnya cemberut. tapi tetap saja mulutnya melahap rakus setiap potongan daging yang di sodorkan ke bibirnya.
''Daging kelinci itu cuma seekor saja. kalau semuanya kau berikan padaku kau pasti tidak kebagian makan. apakah dirimu tidak merasa lapar.?'' tanyanya khawatir. meski begitu dia tetap tidak mau berhenti membuka mulut jika ada potongan daging didepan bibirnya. ''Aku tidak lapar. setelah ini kau mesti tidur karena besok pagi akan kuantar dirimu ke suatu tempat yang aman untuk memulihkan diri..''
''Memangnya kau hendak mengajakku kemana.?'' tanya si picak bopeng sambil membalik tubuhnya ke belakang untuk membetulkan pakaiannya yang terkoyak. karena sudah tidak dapat dipakai terpaksa dia cuma melilitkan sisa baju hitamnya untuk menutupi bagian dada, punggung dan atas pusarnya saja.
Pemuda itu terdiam dalam hatinya dia juga belum memutuskan hendak kemana. ''Tempat 'Nyi Rondo Kuning' jelas yang paling aman tapi letaknya terlalu jauh. belum lagi orang dari 'Gapura Iblis' pasti juga tidak akan tinggal diam dan bisa menghadang kami ditengah perjalanan. sialan., karena sangat khawatir dengan keadaan Rinai aku tidak sempat memastikan apakah empat orang bedebah itu sudah mampus atau hanya terluka parah oleh pukulan saktiku..''
Dari keadaan diatas bisa dipastikan kalau kedua orang muda mudi itu adalah Rinai si 'Kusir Picak Muka Bopeng' dan Pranacitra. tiba- tiba saja pemuda dari gunung Bisma itu teringat seseorang. sebuah senyuman yang jarang terlihat seketika muncul di bibirnya. ''Besok pagi akan kucarikan sebuah kereta kuda karena kita perlukan untuk perjalanan ke daerah Muntilan..''
''Jarak kadipaten Muntilan hampir dua hari perjalanan berkuda dari sini. memangnya kita akan menemui siapa di sana.?'' tanya gadis bopeng picak bernama Rinai itu penasaran. ''Seorang kawan lama., dia bekas seorang copet cilik yang sekarang menjadi juragan pembuat jamu dan obat..'' jawab Pranacitra. dikepalanya terbayang seraut wajah gadis manis yang polos dan murni dengan banyak bekas luka cambukan di punggungnya.
*****
Asalamualaikum., salam sehat sejahtera buat kita semua. kami author (dan bagian up date) dari novel silat 'Pendekar Tanpa Kawan' juga '13 Pembunuh' mengucapkan 'Selamat Tahun Baru 2023' kepada para reader pembaca. semoga di tahun baru ini kita semua selalu sehat dan di limpahi kelancaran rejeki. Amin🤲. Mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan. Terima kasih., Wasalamualaikum 🙏.
__ADS_1