
Waktu sudah mendekati tengah malam. dua orang muda- mudi itu masih tetap berada di tempatnya semula. pedataran berbatu yang ada di kaki bukit terasa sangat sunyi. tujuh mayat murid perguruan silat 'Naga Biru' sudah di singkirkan. Pranacitra tidak mau bersusah payah, sekali tendang mayat mereka terlempar ke dalam jurang.
Puji Seruni perlahan membuka kedua matanya. arus tenaga dalamnya di alirkan dua kali mengelilingi tubuh dan menembusi setiapnya titik jalan darahnya. semuanya mengalir lancar tanpa ada rasa sakit seperti sebelumnya. dia lalu menoleh ke belakang.
Dalam keremangan malam terlihat olehnya si pincang juga sedang duduk bersila agak jauh darinya. tangan kanannya yang terbuka terlihat di selimuti hawa kehitaman yang berbau busuk. tangan itu bergetaran seperti menahan beban dan rasa sakit.
Segulung cahaya dan uap kebiruan yang muncul dari tubuh pemuda itu nampak mengalir ke tangan kanannya dan terus mendesak hawa kehitaman beracun hingga terkumpul di satu titik telapak tangan kanan. pemuda itu mendengus keras, sekali dia menghantam gelombang hawa hitam itupun terlempar lenyap di udara.
Dalam pengobatan yang dia lakukan pada gadis itu, Pranacitra tidak hanya mengalirkan hawa sakti dari batu 'Nirmala Biru' yang telah menyatu di dalam dirinya, tapi juga berusaha menyedot hawa beracun dari ampas obat yang terpendam di tubuh Puji Seruni. setelah terhisap keluar hawa hitam busuk dari ampas obat itupun di buang lenyap.
Tenaga gaib dari batu sakti Nirmala Biru yang sudah menyatu dalam aliran darahnya membuat pewaris ilmu lima dedengkot persilat aliran hitam itu menjadi sanggup memunahkan hampir segala macam racun ganas. boleh dikatakan dia sudah mencapai tingkatan kebal racun.!
Puji Seruni bangkit dan perlahan berjalan mendekat setelah merapikan terlebih dahulu bajunya yang tersingkap. dia sadar pemuda pincang itu sudah menyelamatkan hidupnya. udara malam berhembus semakin dingin, tapi justru jiwanya terasa hangat. bahkan., agak sedikit panas.
Pemuda itu masih duduk bersila mengatur pernafasannya. di bawah cahaya rembulan yang menerangi, terlihat wajahnya yang sedikit pucat dan dingin tanpa perasaan itu tidak mampu menutupi ketampanannya. meskipun banyak lelaki yang lebih rupawan darinya, tapi harus diakui kalau si pincang sangat menarik hati. Puji Seruni tersadar dan memaki dirinya sendiri. kematian guru dan Wiratama tunangannya belum terbalaskan tapi dia sudah berani mengagumi lelaki lain. gadis cantik ini merasa dirinya benar- benar perempuan rendahan.
''Kalau kau belum puas memandangiku, aku akan tetap duduk di sini. Hhm., kalau Srianah tahu ada gadis lain yang mengagumi diriku, pasti dia bakalan sewot uring- uringan..''
''Sia., siapa yang sedang mengagumimu., dasar kurang ajar. jangan dikira kau sudah menolongku lalu dapat bicara sesuka hatimu. lagi pula siapa itu Srianah, apa hubungannya dengan diriku.?'' semprot Puji Seruni gusar juga malu.
Pemuda pucat itu menoleh, seringai liciknya sekilas tersungging. ''Kalau kau tidak ingin tahu kenapa juga bertanya siapa itu Srianah. rupanya diriku ini cukup ganteng hingga beberapa gadis tertarik padaku, Hee., he..''
Puji Seruni merah padam raut mukanya, saking kesal dan malunya dia sampai tidak tahu harus bicara apa. untung saja saat itu gelap hingga tidak terlihat.
''Aaih sudahlah., aku hanya bercanda saja. Srianah itu seorang gadis nakal bekas copet cilik. aku sudah pernah menceritakan soal dirimu dan beberapa gadis lain yang kutemui selama mengembara kepadanya. Srianah tidak akan marah, dia malah merasa bangga kalau banyak perempuan tertarik denganku..'' ujar Pranacitra sambil bangkit berdiri. Puji Seruni merutuk, baru kali ini dia bertemu dengan seorang gelandangan pincang yang miskin tapi punya rasa percaya diri yang ketinggian, sok ganteng lagi. menyebalkan.!
''Setelah bersusah payah menolongmu tenagaku rada terkuras, perutku jadi merasa lapar. apakah kau punya makanan yang enak. aku tidak mau makanan yang sudah dingin dan rasanya agak hambar. akan lebih baik kau sediakan ayam atau itik bakar dengan bumbu yang pedas..'' ucap si pincang tanpa basa- basi.
''Benar- benar pemuda yang tidak tahu malu. bagaimana mungkin dia sanggup bicara seperti itu., memangnya tempat ini warung makan. kalau saja dia bukan penolongku sudah kutempelengi wajah pucatnya yang menyebalkan itu ?'' batin Puji Seruni gusar menahan marah.
__ADS_1
Tapi anehnya dia malah balikkan tubuhnya sambil memberi isyarat agar si pemuda mengikutinya. mereka terus berkelebatan mendaki bukit berbatu yang di tumbuhi pepohonan dan gelap. namun keduanya seakan tidak kesulitan melewatinya.
Diam- diam Puji Seruni terkesiap mendapati ilmu ringan tubuh si pincang yang sangat tinggi. berkali- kali dia berniat meninggalkan pemuda itu, sampai harus kerahkan semua kemampuan ilmu ringan tubuhnya. tapi jarak keduanya tetap dua langkah saja. akhirnya gadis inipun menyerah. sesampainya di sebuah tebing batu yang tinggi gadis itupun berhenti.
Sekali kakinya menjejak tubuh langsingnya melayang ringan dua tombak ke atas, di sana tangannya meraih tonjolan batu padas bulat sekaligus memutarnya. terdengar suara berderak yang di susul terbukanya dinding tebing batu. sebuah lubang goa muncul di sana. beberapa obor kecil yang menancap di dinding menerangi bagian dalam goa batu.
Puji Seruni turun kembali ke bawah. ''Di dalam goa tidak ada ayam panggang seperti maumu. di sini hanya ada ubi, jagung, sayuran dan daging rusa kering yang belum di masak. kalau mau silahkan saja kau memasaknya sendiri..'' cibirnya sinis sambil mendahului masuk ke dalam goa. Pranacitra menghela nafas, perutnya masih harus menahan kelaparan lebih lama lagi.
Di suatu tempat yang berada di perbatasan pulau Jawa bagian barat dan tengah terdapat sebuah jurang yang sangat dalam. begitu dalamnya hingga tidak dapat terlihat dasarnya jika di lihat dari atas. apalagi bagian dalam jurang itu terselimuti kabut putih tebal dan berbau busuk. sampai- sampai jika ada hewan atau burung yang melintas di sekitarnya bakalan mati keracunan oleh bau busuk itu.
Tempat itu sangat terpencil dan di kelilingi lima buah bukit berhutan lebat. jangankan manusia, binatang liar juga tidak ada yang muncul di sana. tempat itu seakan terpisah jauh dari dunia luar. seperti tidak ada suatu kehidupan kecuali pepohonan lebat.
Maka tidak akan ada yang bakal menyangka jika sebenarnya terdapat satu rahasia besar di balik segala kesunyian itu. sebuah rahasia yang selama puluhan tahun terpendam rapat dari ketajaman telinga dunia persilatan.
Lelaki setengah tua berjubah hitam itu masih terlihat diam agak membungkuk di hadapan seseorang yang berdiri beberapa langkah di depannya. saat ini keduanya berada dalam sebuah ruangan yang sangat luas berdinding dan berlantai batu pualam. mungkin ruangan itu berada di dalam sebuah goa batu.
''Berita apa yang kau dapat dari luar sana.?'' bertanya orang yang berdiri di atas lantai undakan. dari suaranya yang datar tanpa tersirat perasaan apapun juga, orang tidak akan dapat menduga apakah dia seorang laki- laki atau perempuan, sudah tua ataukah masih muda. bahkan tampan atau jelek, juga cantik ataukah buruk rupanya juga tidak dapat terlihat. kegelapan ruangan itu seperti menutupi segala sesuatu mengenainya.
Yang saat ini terlihat, orang berjubah putih itu sedang berdiri sedikit mendongak dengan wajah menghadap ke dinding ruangan batu yang ada di belakangnya. sepasang tangannya yang putih bersih dan kokoh terlipat di belakang punggungnya. di dinding batu pualam yang rata mengkilap itu terdapat sebuah lukisan besar yang bukan saja terlihat hidup tapi juga menyiratkan hawa menyeramkan.
Orang tua berjubah hitam sedikit tegakkan tubuhnya kini terlihat kalau sepasang mata orang ini tinggal rongga kosong alias buta.! ''Semuanya berjalan seperti biasanya, hanya ada beberapa peristiwa yang cukup menarik terjadi di luar sana..''
''Menarik., menarik bagaimana maksudmu.?''
''Ada berita kalau perguruan silat Naga Biru dari gunung Semeru sedang menyebar undangan kepada para tokoh silat aliran putih. mereka di mintai bantuan untuk memburu si pembunuh Hanggajaya, putra tunggal Ki Galing Brajapaksi si 'Dewa Naga Langit'., ketua perguruan silat itu..''
''Meskipun belum jelas siapa pembunuhnya, tapi kemungkinan ada hubungannya dengan 'Serikat Kalong Hitam' dan seorang pendekar muda pincang yang beberapa bulan terakhir membuat goncang rimba persilatan. harus diakui kalau orang ini punya kemampuan hebat karena mewarisi ilmu- ilmu sakti dari lima dedengkot persilatan aliran hitam yang lama menghilang karena mereka terjebak di dalam Lembah Seribu Racun.!''
Dalam kegelapan orang berjubah putih itu seperti tercengang, ''Ooh., kiranya kelima orang itu masih bisa bertahan hidup dan bahkan punya pewaris., menarik juga..''
__ADS_1
''Beberapa pentolan dunia persilatan aliran putih, bahkan yang berasal jauh dari tanah seberang juga turut hadir. termasuk sepuluh perguruan silat terbesar aliran putih. dan lima perkumpulan terkuat, satu diantaranya adalah perkumpulan pengemis 'Sembilan Tambalan.!''
''Mengenai kabar hilangnya beberapa orang pemegang bendera kepercayaan kita sudah kami selidiki, namun sampai saat ini belum ada kabar yang masuk..'' saat mengatakan masalah ini si buta berjubah hitam terlihat lebih berhati- hati. melihat orang di depannya hanya terdiam, barulah dia melanjutkan lagi ucapannya.
''Berita lainnya datang dari kelompok '13 Pembunuh'., sepertinya mereka sedang menyusun sebuah rencana besar yang berkaitan dengan 'Istana Angsa Emas' dan pemilik 'Darah Keabadian'., kami mengharap petunjukmu soal masalah ini..'' ujar si buta berjubah hitam sambil membungkuk.
''Kelompok 13 Pembunuh dan Serikat Kalong Hitam meskipun bukan tandingan kita tapi mereka juga perlu di waspadai..''
''Biarkan mereka mengejar buruannya, tapi Darah Keabadian itu menarik juga. Hhm., kalian ikuti saja dulu semuanya, saat ada kesempatan kita bisa merebutnya dari tangan mereka..'' ucap orang berjubah putih sambil kibaskan sebelah tangannya. si buta berjubah hitam menjura hormat lalu lenyap dari ruangan.
''Nenek Iblis Berkaki Ganco'., apakah kau ada di sini.?''
Sekelebat bayangan merah muncul di depan si jubah putih. tempatnya berdiri tepat di atas bekas lelaki tua buta berjubah hitam tadi berada. seorang nenek tua tujuh puluhan tahun bermuka bengis. rambutnya yang putih menjela di ikat sehelai kain hitam. kaki kanan nenek tua itu buntung sebatas pergelangan. dua buah ganco besi berwarna merah tertancap di kakinya yang buntung.
Kalau ada orang rimba persilatan sampai mendengar nama nenek tua ini, mereka bakal memilih kabur sejauh mungkin. karena nama besar Nenek Iblis Berkaki Ganco dapat di sejajarkan dengan lima tokoh aliran hitam yang terperangkap di Lembah Seribu Racun.
Kabarnya nenek jahat ini sudah lama sekali mati, sungguh tidak di sangka ternyata dia masih hidup.
''Kuijinkan kau keluar sarang., cari tahu apa yang sedang di perbuat oleh 'Tiga Setan Berbaju Rombeng' jika mereka berani berkhianat, kau sudah tahu apa yang mesti di lakukan.!''
''Satu hal lagi., ada pertemuan besar antar tokoh silat aliran putih di gunung Semeru. pergilah kesana dan cari tahu apa yang terjadi..'' perintah itu terdengar datar dan lamban tanpa tekanan, tapi anehnya justru membawa perasaan merinding bagi pendengarnya.
Nenek tua itu menjura hormat dan terkekeh seram, matanya yang cekung menyiratkan cahaya kejam kegembiraan. sikapnya seperti orang hukuman yang baru terbebas dari penjara. ''Hek., he., anggap saja semua keinginanmu sudah terpenuhi..'' sekali bergerak tubuhnya lenyap dari sana.
Orang berjubah putih yang tidak di ketahui tampang dan umurnya itu menyeringai tipis. dia terus memandangi lukisan besar yang ada di dinding batu pualam. sebuah gambar dua gapura besar dengan latar belakang langit hitam pekat dan rembulan purnama yang bermandikan darah.!
*****
Asalamualaikum., salam sejahtera dan sehat selalu bagi kita semua. mohon๐ sampaikan komentar, kritik dan sarannya. 'Terutama Bagi Para Reader Pembaca Yang Belum Pernah Komentar Di Sini.!' komentar apa saja boleh, menghujat yo ora po" ๐ (tapi jangan minta crazy up, maaf gak sanggup๐๐๐) juga like๐ atau vote jika anda suka. Terimakasih, Wasalamualaikum.๐๐
__ADS_1