Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Jongos.


__ADS_3

Malam semakin larut, hanya sedikit bintang yang terlihat diatas sana. rembulan yang cuma sepenggal juga sedikit tertutup awan. susana terasa mencekam dan dingin. nyala api unggun tidak mampu menghangatkan hati kelima orang yang berada di tepian sebuah hutan di bawah sana.


Pemuda pincang itu perlahan merogoh saku bajunya yang longgar. dalam genggaman tangan kananya kini telah bertambah sebuah benda sebesar telur ayam berwarna biru. dengan menyungging senyuman dingin dia menimang- nimang benda biru yang rupanya adalah sebuah batu.


Semua orang yang berada di sana sama melotot matanya, pemuda itu tahu ada hawa keserakahan dalam sorot mata ke empat orang itu. jangankan si Sukma Tertawa yang ilmunya paling tinggi, Dewi Bintang Hitam, muridnya Retno Item dan Ki Wedhus Jenggot Putih yang sudah tidak berdaya juga jelas mengidamkannya.


''Hhmm., maksudmu kau ingin membunuhku untuk merebut batu biru ini., apa yakin.?'' bertanya si pincang Pranacitra sinis. karuan Sukma Tertawa menggerendeng dalam hatinya. dia ingin secepat mungkin dapat membunuh pemuda ini, untuk merebut batu sakti sekaligus melampiaskan kekesalannya.


''Chuih., percayakah kau saat nyawaku amblas, ragaku tergeletak jadi mayat dan batu biru ini berpindah ke tanganmu. kau bakal langsung menyesal.?'' ucap si pincang sembari meludah. entah apa yang ada dalam otak pemuda ini.


''Haa., ha., bedebah pincang., apa maksud ucapanmu. percuma mencoba mengulur waktu karena kau tetap saja akan mampus dan batu sakti itu akan menjadi milikku.!''


''Anak muda., cepat kau kabur. jangan sampai manusia jahat itu mendapatkan batu sakti Nirmala Biru yang ada di tangannmu..''


''Be., benar., bang., bangsat licik., seperti dia., tidak pan., pantas memiliki., nya..'' ucap Ki Wedhus Jenggot Putih dan Dewi Bintang Hitam dengan suara tersengal menahan rasa sakit di dadanya. bahkan pada akhir ucapan perempuan itu sempat terbatuk darah.


Pranacitra melirik tajam kedua orang itu ''Dia tidak pantas memiliki batu sakti ini., lalu apa kalian berdua lebih pantas darinya.?'' cibirnya sinis. bagi si pemuda ketiga orang ini sama membuatnya muak. seketika itu keduanya merasa tertampar wajahnya.


''Hak., ha., bagus bocah pincang, aku suka ucapanmu barusan. begini saja berikan batu itu padaku dan kau boleh pergi dengan selamat. bahkan bagus juga kalau kita bisa saling berteman. kelak jika ada yang berani membuat masalah kau tinggal menyebut nama besarku. kutanggung mereka akan kabur ketakutan., bagaimana., haa., ha.!''


Pranacitra turut bergelak. saat tawanya sirap raut wajahnya juga turut berubah semakin dingin. ''Rupanya kau sungguh menginginkan batu biru di tanganku ini., baiklah kalau kau tidak menyesal silahkan saja ambil..'' ujar si pincang sambil lemparkan batu itu langsung ke muka lawannya.


Lemparan itu bukan lemparan batu biasa, tapi juga dialiri dengan tenaga dalam yang cukup tinggi. cara dia melempar juga aneh. pergelangannya yang diputar membuat arah lesatan batu menjadi sulit di kira


'Whuuut., Sheeet.!'


'Beet., Claap.!'


Meskipun dalam hati rada terkesiap, tapi si Sukma Tertawa tidak menjadi gugup. sambil menyedot pipa cangklong emasnya. tangan kanan orang ini bergerak cepat. hanya sekali memutar telapak batu biru sebesar telur ayam itu sudah tersedot masuk kedalam genggamannya. Pranacitra tertawa hambar.


''Hebat juga caramu menangkap. apa kelak kau mau mengajarkannya padaku.?''


Yang di tanya terkekeh senang sambil terus mengamati batu berwarna kebiruan itu. tapi tawanya surut berubah menjadi geraman gusar.

__ADS_1


''Ha., ha., kau baru sadar kalau batu itu palsu. menyebalkan bukan.? saat pertama kali mendapatkannya aku juga tidak paham kalau itu batu sakti Nirmala Biru yang palsu..''


''Susah payah aku mencurinya dari sarang perkumpulan pengemis Kelabang Ireng, hingga kakiku terluka parah sampai cacat seperti ini. tapi yang aku dapat cuma sebuah batu palsu., Haa., ha., Jahanam.!'' teriak si pincang sambil kibaskan tongkat kayunya ke tanah hingga rumput belukar dan bebatuan di depannya tersapu rata.


Semua orang di sana sama tertegun tidak mengerti. Sukma Tertawa delikkan matanya, hawa kemarahan mulai meluap kembali di kepalanya.


''Bocah pincang sialan., apa maksud ucapanmu barusan. cepat jawab atau kubuat dirimu menjadi mayat sekarang juga.!''


''Huh., apanya yang perlu kujelaskan lagi. sebagai tokoh silat terkenal nomor wahid yang jarang ada tandingannya, tentu tuan besar Sukma Tertawa sudah bisa menduga kalau ada sesuatu yang tidak beres dalam masalah ini bukan.?'' ucap Pranacitra sambil melirik si Sukma Tertawa yang di sebutnya sebagai tuan basar itu.


''Sebagai tokoh silat kawakan yang memiliki nama besar di delapan penjuru angin dan punya segudang pengalaman pastinya tuan besar Sukma Tertawa tidak bisa ditipu dengan muslihat rendahan seperti ini., berbeda dengan orang tolol rendahan sepertiku yang dengan mudah tertipu oleh sebuah batu sakti Nirmala Biru palsu yang sengaja di siapkan oleh perkumpulan pengemis Kelabang Ireng untuk mengadu domba orang persilatan.!''


Pranacitra berjalan terseok maju mendekat, lalu berhenti hanya selangkah di depan si Sukma Tertawa. pandangan mata pemuda ini meredup, tubuhnya pucat menggigil dan terjatuh lemas bersimpuh di atas tanah. nafasnya tersengal dan keluar asap dingin.


Baik Sukma Tertawa dan yang lainnya sama terkejut dengan kejadian itu. ''Kulihat dari keadaanmu sepertinya tubuhmu sedang keracunan hebat..''


''Ugh., tuan besar Sukma Tertawa memang bermata tajam. diriku benar sedang keracunan. me., reka mem., memberi., ku racun pem., pembeku darah dan jan., tung.!'' ucap Pranacitra dengan nafas tersengal dan batuk menggigil. semua orang kembali tersentak mendengar pengakuan si pincang ini. dengan tangan kiri Sukma tetawa memeriksa bagian dada pemuda itu, tapi hanya sekejab saja sudah di tarik kembali.


''Memang benar., kau terkena racun pembeku darah dan jantung. memangnya siapa yang telah meracunimu.?'' tanya lelaki bertubuh tinggi gemuk itu penasaran.


''Tapi rupanya mereka memang sudah mengira bakalan ada yang merebut batu itu. hingga menyiapkan batu sakti Nirmala Biru yang palsu..''


''Aku bukan saja kepergok mereka, selain sebelah kakiku di buat cacat, mereka juga menjejaliku racun ganas pembeku darah dan jantung. masih untung ada seorang teman baikku di perkumpulan itu yang diam- diam menolongku hingga aku masih dapat kabur.!''


''Tapi berita yang kami dengar 'Pengemis Gigi Gompal sudah tewas di Pungingan..'' potong Ki Wedhus Jenggot Putih heran. orang yang lain punya pendapat sama dengannya.


''Hehm., begitukah menurutmu.?'' asal kalian tahu saja Pengemis Gigi Gompal keparat itu masih segar bugar. berita yang beredar di luaran adalah permainan belaka. karena sebenarnya batu sakti Nirmala Biru itu masih berada di tangan perkumpulan pengemis Kelabang Ireng.!'' desis Pranacitra dengan raut muka beringas. karuan mereka yang mendengar menjadi makin kacau pikirannya.


''Bocah pincang., jangan pernah bermain- main denganku. cepat katakan dimana batu sakti itu berada sekarang.!'' bentak si Sukma Tertawa bengis. tapi dari nada suaranya terselip ada suatu kebimbangan. meskipun samar tapi si pincang bisa merasakannya. sekilas bibirnya menyeringai licik. dia ganti menggertak keras. ''Apa kau pikir tubuhku yang keracunan, kakiku yang cacat dan nyawaku yang tinggal sebentar ini cuma main- main.?''


''Dengarkan tuan besar Sukma Tertawa., aku cuma ingin kau balaskan dendamku pada dua kelompok anjing yang telah membuatku tertipu dan menderita. asalkan kau habisi perkumpulan pengemis 'Kelabang Ireng' dan gerombolan begal rampok 'Taring Brongot' kupastikan batu Nirmala Biru akan menjadi milikmu.!'' ucap Pranacitra dengan mata menyorot tajam, membuat Sukma Tertawa yang berhati keji sampai bergidik ngeri.


''Kedua kelompok ini telah bekerja sama untuk membuat kekacauan. gerombolan Taring Brongot telah membantu merampok barang kawalan pembesar Majapahit yang isinya batu Nirmala Biru..''

__ADS_1


''Batu sakti itu sengaja di pindahkan dari ruangan pusaka rahasia di dalam istana, karena telah tersiar kabar burung bakal terjadi pemberontakan. tapi mata- mata kami bisa mendengar berita rahasia itu.!''


''Besok pagi kedua kelompok akan bertemu dalam hutan bambu di pinggiran Pungingan. kalau kau ingin mendapatkan batu sakti itu, segeralah pergi kesana. asal kau tahu cuma tuan besar saja yang mendengar berita ini..'' tutur Pranacitra sambil terus berlutut dan wajah tertunduk. belum sempat Sukma Tertawa bicara, pemuda pincang itu sudah berdiri dan menunjuk Retno Item.


''Seumur hidupku aku belum pernah bermain perempuan. aku inginkan gadis itu sekarang. setidaknya saat mati aku sudah pernah melepaskan keperjakaanku pada seorang wanita Haa., ha.!'' ucap Pranacitra sambil bergelak tertawa penuh kemesuman.


''Pemuda setan., bocah pincang keparat. jangan berani melakukan apapun pada Retno Item. aku bersumpah akan membunuhmu.!'' teriak Ki Wedhus Jenggot Putih geram. sementara Dewi Bintang Hitam sampai muntah darah saking gusarnya pada kelakuan si pincang yang seperti iblis.


Justru sebaliknya Sukma Tertawa malah tertawa bergelak hingga menggoncang sekitar hutan itu. ''Hak., ha., ha., bagus., bagus sobat pincang. kuberikan gadis itu untukmu. sekarang kau boleh melakukan apapun kepadanya..''


''Hhmm., sayangnya aku mesti pergi untuk mengambil batu sakti Nirmala Biru. kalau tidak aku bisa menemanimu bersenang- senang dengan gadis itu..''


Pranacitra langsung sewot ''Aku tidak ingin berbagi dengan orang lain. gadis ini cuma milikku. kalau kau ingin perempuan cari saja di tempat lain. kurasa tuan besar Sukma Tertawa yang gagah perkasa tidak sulit mendapatkan wanita cantik bukan.?''


''Ha., ha., baik., baiklah gadis itu hanya untukmu. aku akan segara pergi dari sini, selamat bersenang- senang sobat pincang..''


''Eeh., sebelum kau pergi, bisakah tuan besar memadamkan perapian itu., maklumlah ini yang pertama bagiku. aku., aku rada malu jika dilihat orang lain..'' gumam Pranacitra sambil melirik Ki Wedhus Jenggot Putih dan Dewi Bintang Hitam.


Mungkin karena berkali- kali disebut sebagai tuan besar yang ternama membuat si Sukma Tertawa tanpa sadar menjadi besar kepala. hingga mau saja menuruti permintaan si pincang. sekali kebutkan lengannya yang berlemak api perapian tersapu padam. seiring itu tubuh gemuk Sukma Tertawa juga turut lenyap.


Pemuda puncang itu mengikuti kepergian Sukma Tertawa dengan ujung matanya lalu meludah ''Tuan besar., apanya yang tuan besar., bagiku kau cuma seorang jongos rendahan. pesuruh kecil tolol dan menyedihkan yang bisa kuperintah pergi untuk memadamkan api unggun. Haa., ha.!''


Sejak awal pemuda ini sadar kalau dia belum sanggup untuk melawan si Sukma Tertawa. maka dia membuat siasat adu domba. beruntung Malaikat Copet membekalinya beberapa batu Nirmala Biru palsu.


Dengan menggunakan keadaan tubuhnya yang lemah dan keracunan sebagai alasan, Pranacitra mulai membuat tipu muslihat.


''Seorang maling harus pandai juga membuat tipuan dan siasat. kalau kau kalah tenaga gunakanlah otakmu untuk menjungkalkan lawan..'' itulah wejangan dari Malaikat Copet.


Pranacitra berjalan terseok mendekati tubuh Retno Item, gadis itu ingin menjerit, memaki atau bahkan menangis ketakutan. tapi dia tercengang saat pemuda itu melemparkan lembaran kain bajunya yang terkoyak ke atas dadanya yang tanpa penutup.


Berikutnya Pranacitra lemparkan dua buah pil obat yang pernah dia dapatkan dari Malaikat Serba Hitam saat menolongnya di gunung Bisma kepada Ki Wedhus Jenggot Putih dan Dewi Bintang Hitam. ''Ini obat penguat tenaga, jika suka bisa kalian telan. kalau curiga itu racun silahkan buang saja.!''


Sebelum pergi dia sempat melirik Retno Item yang masih tertotok. biarpun tidak bisa bergerak dan bicara, tapi gadis itu masih dapat melihat serta mendengar.

__ADS_1


''Hemm., payudaramu montok juga..'' gumam Pranacitra terkekeh lalu melangkah pergi dengan kakinya yang terseok, menyeret pelan seperti seekor cacing. baik Retno Item dan kedua orang tua di sana sama tertegun. mereka tidak tahu apakah mesti berterima kasih ataukah harus menyumpahi kekurang ajaran pemuda pincang itu tujuh turunan.


__ADS_2