
Segala peristiwa yang terjadi di lereng barat gunung Ciremai itu bila dikisahkan seakan terasa lambat. padahal sesungguhnya semua rentetan pertarungan adu nyawa diantara para pesilat kelas atas itu berlangsung begitu cepat. bahkan 'Sepasang Pengemis Bangkai' dan 'Nyai Dupa Tumbal' hampir tidak sempat untuk sekedar berganti nafas.
Kematian dari si 'Tampan Suling Emas Pencabut Sukma' cukup mempengaruhi kepercayaan diri juga semangat bertarung mereka. baru kali ini ketiga orang tua jahat itu mengakui kehebatan ilmu kesaktian lawan sekaligus bergidik ngeri melihat cara bertarungnya yang cenderung gila dan tidak kenal ampun.
Mereka bertiga belum mengatur nafas untuk memulihkan tenaga kesaktiannya tapi jurus 'Cabikan Gila Burung Hantu Sesat' yang digunakan lawan sudah mengancam dada dan tenggorokan ketiganya. biarpun kekuatan jurus ini berada dibawah 'Cakar Burung Hantu Pemuja Kegelapan' namun tetap saja punya daya bunuh yang menyeramkan.
Yang dipakai menyerang meski cuma tangan sebelah kiri saja, tetapi sambaran lima cahaya merah tajam yang menyambar dari jemari berbentuk cakar penuh bulu itu bergerak melingkar saling bersilangan hingga sangat membingungkan dan sulit dihindari. tahu- tahu saja cahaya merah tajam sepanas bara api itu sudah berada sejangkauan dari depan mata mereka.!
Sambil hamburkan ilmu kesaktian masing- masing untuk membendung serangan lawan sambil menjatuhkan diri bergulingan ke tanah berusaha menyelamatkan diri, terpaksa mereka berteriak meminta bantuan pada rekannya yang sedari awal datang hampir tidak pernah turun tangan.
Benturan tenaga ilmu kedigdayaan yang terjadi membuat beberapa mayat murid padepokan Lutung Ciremai yang tergeletak di sana terkoyak disambar angin pukulan sakti yang semburat terpecah. sialnya walaupun ketiga pesilat dari partai Gapura Iblis itu dapat selamat dari kematian tetap saja kulit dada dan bawah pangkal leher mereka tersayat robek mengucurkan darah.
Dalam keadaan tubuh masih berada di udara, tongkat besi hitam kepala tengkorak ditangan si pincang Pranacitra berputar setengah lingkaran ke belakang lantas menusuk cepat. suara ledakan keras mengiringi sambaran cahaya hitam merah dari jurus 'Tongkat Maut Pemecah Rembulan' yang melabrak si 'Gadis Berwajah Tengkorak.!'
__ADS_1
Yang diserang sesaat masih diam. kejap berikutnya tangan kanannya yang memegang erat rantai pengikat buntelan hitam di atas tanah terayun dari bawah keatas. buntelan kulit hitam itu terlontar ke depan langsung menghadang jurus tongkat yang digunakan lawan untuk menyerangnya.
'Whuuuk., whuuuk., wheeess!'
'Claaaang., blaaaam., blakang.!'
Buntelan hitam dari kulit binatang sebesar kepala kerbau itu seketika terpecah hancur. saat debu pekat dan gumpalan udara panas yang menutupi pandangan tersingkap, segala isinyapun jelas terlihat. semua orang tanpa sadar sama keluarkan suara tercekat ngeri melihat benda yang berada di dalam buntelan besar kulit hitam yang sudah hancur itu.
Pranacitra juga tidak dapat menutupi rasa kaget dan seram dihatinya. padahal selama ini sudah sangat banyak kejadian mengerikan yang pernah dia alami. kedua mata pemuda murid lima tokoh besar aliran hitam itu terus menerus menatap perempuan yang berdiri belasan langkah darinya.
Yang sangat menarik sekaligus mengerikan adalah benda aneh yang terikat diujung rantai tulang itu. disana nampak terikat tidak kurang dari sepuluh batok kepala perempuan yang sudah diawetkan. meskipun kepala itu sudah mengecil, pucat dan susut dari ukuran aslinya tapi masih terpancar kecantikan diwajah mereka.
Walaupun jelas para wanita cantik itu sudah lama mati tetapi seluruh bagian kepala termasuk rambutnya masih lengkap hingga sekilas nampak hidup. pagi itu matahari bersinar cukup cerah namun tengkuk dan jiwa semua orang terasa dingin dicekam kengerian.
__ADS_1
Jika diibaratkan, benda yang tergenggam ditangan Gadis Berwajah Tengkorak itu bisa dikatakan sebagai cambuk tulang manusia. Pranacitra tersurut mundur setindak. bukan saja karena jurus tongkatnya yang dapat dihancurkan oleh lawan atau senjata aneh yang dimiliki oleh perempuan bermuka mirip jerangkong itu.
Melainkan dia mendadak teringat pada suatu kisah yang menyedihkan hati tentang riwayat seorang wanita yang kabarnya memiliki pesona kecantikan wajah luar biasa. hanya saja., disebalik cerita sedih itu juga terselip sebuah kisah yang sangat mengerikan.
Jika benar wanita didepannya ini memang mempunyai hubungan dengan kisah yang pernah didengarnya dimasa lalu, Pranacitra tidak tahu apakah mesti kasihan dan bersimpati ataukah malah memaki lantas berusaha untuk menghabisinya secepat mungkin.
Disaat itulah si Gadis Berwajah Tengkorak sudah menggetarkan ujung rantai tulang yang tergenggam ditangannya. susunan cambuk dari tulang belulang itu nampak hidup. bahkan mata sepuluh kepala diujung tulang rantai itu tiba- tiba terbuka menatap nyalang.
Cambuk tulang belulang menghentak keras meluruk dahsyat kedepan. suara- suara jeritan menyayat hati terdengar bersautan. dari sepuluh batok kepala perempuan itu tersembur gumpalan bola api yang langsung menghantam tubuh Pranacitra.!
Di lain penjuru terjadi pula pertarungan sengit antara Raja Ratu Lutung Sakti yang dibantu oleh dua orang murid utamanya melawan Sepasang Pengemis Bangkai bersama Nyai Dupa Tumbal yang baru saja bangkit setelah hampir terkena serangan maut si pincang.
Meskipun kedua orang suami istri yang wajahnya mirip monyet itu masih terluka dalam namun bara dendam kesumat yang membakar hati akibat kematian para murid perguruan Lutung Ciremai seolah membuat mereka terlupa dengan keadaan tubuhnya.
__ADS_1
*****
Maaf, hanya dapat up sedikit. HP eror, sebagian tulisan hilang. mungkin Sabtu/minggu ada lagi. 🙏.