
Dalam sekejapan mata saja Dewi Malam Beracun dan lelaki santun yang bermama Kamajaya itu sudah menghilang di kejauhan. Pranacitra mendadak terhuyung mundur tekap lengan kirinya yang tertancap pisau. sekali tangannya bergerak dia mencabut sekaligus menotok di sekitar luka.
Meskipun mungkin racun yang terkandung di dalam pisau itu tidak begitu ganas, tapi tenaga sakti yang terpancar sampai nyaris tembus ke urat jantung. kalau saja pemuda itu tidak memiliki tenaga dalam yang tinggi, mungkin dia sudah mati dengan jantung terpecah.!
''Lemparan pisaunya sangat menakutkan. aku pasti mati jika tidak sempat menangkisnya. hampir tidak dapat kulihat kapan pisau itu dia lepaskan, karena baru kusadari saat sudah sejengkal dari leherku..'' gumam pemuda dari gunung Bisma itu.
''Pranacitra., apa kau baik- baik saja, sungguh aku juga tidak mampu melihat kapan orang itu melempar pisaunya. siapa dia sebenarnya.?'' seru Puji Seruni khawatir, gusar sekaligus ngeri. dalam hati dia juga bertanya kenapa teman barunya Roro Wulandari sampai mengenal dengan pria bernama Kamajaya itu, bahkan terkesan takut.
''Seorang pria tampan empat puluh tahunan bernama Kamajaya yang terlihat sopan dan berperangai lemah lembut. berjubah hijau serta gemar mengukir boneka wanita cantik dari kayu dengan sebuah pisau tajam., orang itu pastilah salah satu pentolan kelompok 13 Pembunuh. si 'Pendekar Romantis Pencabut Nyawa.!'' desis Pranacitra dengan muka berubah. Puji Seruni yang mengetahui siapa orang itu tambah terperanjat dan khawatir dengan keselamatan Roro sahabatnya.
Sementara dalam hatinya pemuda itu berpikir lain, ''Ada sesuatu yang aneh dengan sumber hawa kesaktian dalam gadis bernama Roro itu. entah kenapa aku merasakan ada kesamaan dengan salah satu sumber kesaktianku. siapa gadis cantik itu sebenarnya.?'' batinnya heran.
Jika saja saat itu Pranacitra sadar kalau Roro Wulandari si Dewi Malam Beracun ini adalah murid dari 'Nenek Tabib Selaksa Racun' yang menjadi adik salah satu gurunya si 'Nenek Tabib Bertongkat Maut, bisa jadi dia bakal melabrak orang bernama Kamajaya itu. tapi mungkin takdir sudah menetapkan kalau lelaki cabul itu kelak akan mati di tangan wanitanya sendiri.
__ADS_1
''Aah., kalau demikian Roro pasti dalam bahaya, kita harus segera menolongnya.!'' Puji Seruni yang hendak mengejar langsung di cegah Pranacitra. tongkat besi hitamnya melintang jalan. ''Kau tidak usah cemas. jika lelaki itu hendak berbuat buruk, pasti sudah dia lakukan saat itu juga. aku merasa kalau sahabat barumu itu punya kesulitan tersendiri, perlahan kau bisa mencari tahu penyebabnya dan membantunya, tapi tidak sekarang.!''
Meskipun masih hendak membantah, tapi melihat tatapan mata tajam si pemuda, Puji Seruni paham kalau semuanya sudah menjadi sebuah keputusan tegas yang pantang untuk di langgar. terpaksa si gadis hanya bisa menurut dan berdoa akan keselamatan sobat barunya itu.
''Mulai sekarang kau tinggallah di lembah ini bersama para wanita itu. selain tempat yang bagus dan nyaman untuk memperdalam ilmu silatmu, sesuai nama yang di berikan oleh mereka 'Lembah Seruni' ini seakan memang di takdirkan untukmu..'' kata Pranacitra sambil memandang sekeliling lembah yang kini penuh dengan bunga- bunga berwarna putih.
Dua buah kursi goyang yang terbuat dari anyaman bambu itu di duduki oleh muda- mudi yang terlihat bersantai menikmati malam. jika di atas sana bintang bulan bersinar terang, di bawah hembusan angin malam membawa harum taman bunga seruni yang berada di depan mereka berdua. entah kenapa aroma bunga di lembah ini seakan terasa lebih harum dari pada bunga di tempat lain.
Semangkuk periuk kacang goreng, ketela rebus dan wedang jahe gula aren yang masih hangat terhidang diatas meja kayu. Pranacitra sudah meneguk habis gelasnya, kendi berisi minuman juga tinggal separuh. segenggam kacang goreng yang gurih dan empat potong ketela juga telah berpindah ke perutnya. selain itu di atas meja juga ada dua buah kendi berisi tuak yang masih penuh. malam yang indah dengan camilan yang enak di temani pula dengan seorang gadis muda yang cantik jelita.
Pranacitra bukannya tidak tahu hal itu, tapi dia memilih diam saja karena paham jika gadis ini sudah bertekat melakukan sesuatu tidak ada suatu apapun yang bisa mencegahnya. lagi pula ini adalah hari terakhir baginya tinggal di Lembah Seruni. murid Nyi Pariseta itu pasti ngotot untuk menyelesaikannya malam ini juga.
Matahari pagi belum muncul namun di langit timur sudah mulai terang. udara di lembah terasa segar berpadu aroma bunga. Puji Seruni menggeliat bangun dari tidurnya di atas kursi goyang. semalam dia nekat minum tuak berdua dengan Pranacitra. dasar si gadis tidak pernah meneguk minuman keras, sebentar saja sudah dia mulai mabuk dan mengoceh tidak karuan sebelum akhirnya tersungkur tanpa ingat apapun lagi.
__ADS_1
Sebuah baju hitam tebal masih terlipat rapi di atas meja. kendi gelas minuman dan periuk makanan tergeletak di atas tanah. bahkan ada bekas ceceran muntahannya semalam akibat mabuk. awalnya Puji Seruni merasa kecewa karena baju buatannya tidak sempat dia berikan pada Pranacitra. tapi saat melihat guratan tulisan di atas meja kayu itu dia jadi tersenyum manis.
''Baju buatanmu sedikit kebesaran, tapi cukup nyaman bagiku. kalau belum pernah minum- minuman keras jangan sekali- kali berlagak sok jagoan menantang minum tuak segala. masih untung tubuhmu ramping, wajahmu cantik jelita dan hatimu baik hingga dengan senang hati aku membopongmu ke atas kursi goyang. jika saja kau gembrot, berat, jelek dan menyebalkan, pasti sudah kutinggal pergi saat tersungkur diatas tanah.
''Jaga dirimu baik- baik dan latih ilmu silatmu. para wanita malang di lembah ini kurasa akan terus setia mengikutimu. kelak jika ada umur panjang aku akan mampir menemui Nyi Puji Seruni., 'Dewi Seruni Putih' sang penguasa Lembah Seruni. dariku si pincang yang tanpa kawan..''
Biarpun tidak ada satupun kata ucapan terima kasih kepadanya yang tertulis di atas meja kayu itu. tapi anehnya Puji Seruni merasakan hatinya gembira. baju hitam yang terlipat di atas meja di bentangkan. rupanya itu hanyalah pakaian lama Pranacitra yang penuh tambal sulam.
Dengan memeluk pakaian hitam yang sudah usang dan rada bau itu dia bangkit berdiri, sinar matahari pagi yang hangat menyorot tubuh langsingnya. dia sudah mengambil suatu keputusan. dengan satu suitan Puji Seruni memanggil salah satu dari bekas wanita culikan yang sedang membersihkan taman bunga agak jauh didepannya.
''Cepat pergi dan panggil semua kawanmu kemari, karena ada sesuatu yang mesti aku sampaikan.!'' serunya. perempuan dua puluh lima tahun itu menghormat mengiyakan, tidak berapa lama kemudian sebelas orang wanita yang umurnya berkisar lima belas sampai tiga puluh tahunan sudah berkumpul di depannya. sepasang mata gadis itu menatap tajam para wanita itu sebelum berbicara.
''Aku bicara langsung saja., kalian bilang ingin ikut bersamaku dan melakukan apapun yang aku perintahkan. baiklah jika itu mau kalian, tapi aku punya syarat. pertama diriku sangat menjunjung tinggi kejujuran dan kesetiaan. tapi sebaliknya aku sangat benci dengan orang munafik dan pengkhianat.!'' ucapnya tegas.
__ADS_1
Bersamaan itu sepasang pedang pendek keemasan sudah keluar dari sarungnya. cahaya matahari seakan terserap kedua mata pedang itu. dengan setengah memutar tubuh sepasang pedang di tangannya bergerak membabat. dua kilatan tajam cahaya kuning keemasan menyambar sebatang pohon yang tumbuh tiga tombak di depan sana. pohon yang cukup besar itu berderak patah dan tumbang menjadi tiga bagian. belasan perempuan itu terperanjat leletkan lidahnya.
''Kaum pengkhianat dan munafik akan berakhir seperti pohon itu. kalian semua mengerti.?" hampir serentak semuanya menganguk. "Apa kalian juga ingin menghukum para bajingan yang gemar menindas kaum lemah.?" tanyanya dingin. setelah sesaat saling pandang mereka langsung berlutut, "Mohon Nyi Puji Seruni sudi untuk membimbing kami semuanya, dan kami bersumpah akan selalu setia pada aturanmu.!" seru mereka hampir bersamaan.