Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Menuju tempat terlarang.


__ADS_3

Hari sudah berganti malam saat seorang pemuda pincang berjalan terseok dengan membekal sebatang tongkat kayu. tongkat itu sengaja dia bawa bukan saja untuk membantunya berjalan, tetapi juga sebagai senjata pelindung diri. dengan tekad bulat pemuda pincang itu terus saja berjalan terseok menyusuri jalanan yang semakin menyempit dan sepi.


Walaupun gunung Welirang sudah terlihat, tapi jaraknya masih sangat jauh. bahkan bagian kaki gunungpun belum dapat dia capai. akhirnya pemuda pincang yang memang Pranacitra itu memilih mencari tempat untuk beristirahat.


Di belakang sebuah cerukan batu yang cukup besar dan terlindungi oleh semak pepohonan, pemuda dari gunung Bisma ini memutuskan berhenti. yang dia lakukan pertama kali adalah membuat sebuah perapian kecil lalu menghabiskan sisa makanan yang diberikan Sulindri siang tadi.


Setelah meminum air dari kendi kecil, dia mulai bersemedi melatih untuk pernafasan tenaga dalamnya agar tidak gampang hilang tersedot oleh 'Lubang Nadi Neraka Gelap' yang masih mengeram di dalam tubuhnya.


Pranacitra tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk mengembalikan kekuatan tenaga saktinya yang sempat berkurang karena dia gunakan dalam pertarungan melawan gerombolan begal 'Taring Brongot.'


Meskipun hanya beberapa hari saja pemuda itu mendapat bimbingan ilmu kanuragan dari Malaikat Copet, tapi dengan kecerdasan otak dan pengalamannya Pranacitra sudah mulai dapat memahami dua jurus ilmu silat yang di ajarkan oleh ketua kelompok 'Maling Kilat' itu. bukan itu saja., sekarang Pranacitra juga mulai mampu menggabungkan beberapa aliran tenaga dalam yang dia dapat dari beberapa tokoh silat hebat yang pernah menolong jiwanya.


Sebenarnya pemuda ini baru mengetahui alasan Malaikat Copet mengajarkan dua jurus ilmu silat kepadanya saat dia hendak pergi meninggalkan markas cabang perkumpulan Maling Kilat. kalau teringat letak markas mereka yang tersembunyi di balik sebuah guyuran air terjun besar yang airnya mengalir ke sungai Wareng, membuat Pranacitra mengakui kepandaian anggota kelompok para pencuri itu dalam mencari tempat persembunyian.


Dengan membekal ilmu 'Tangan Panjang Penjambret Jiwa' dan jurus 'Pencoleng Mencongkel Pintu Alam Gaib' yang belum pernah terdengar di dunia persilatan, pemuda pincang itu akan lebih bebas bergerak dalam pengembaraannya. karena jika sering memakai ilmu 'Langkah Aneh Mayat Hidup' untuk membela diri, akan mengundang perhatian musuh- musuh lama dari si Setan Kuburan untuk membalaskan dendam.


''Setan Kuburan punya banyak sekali musuh, meski aku tidak pernah bersengketa dengan orang ini tapi terus terang saja diriku juga tidak suka dengan kesombongannya yang gemar menantang orang lain bertarung..''


''Dari berita rahasia yang pernah kami dapat, orang tua itu telah puluhan tahun silam masuk kedalam Lembah Seribu Racun. ada yamg berpendapat dia terdesak oleh banyak musuhnya hingga terpaksa masuk kesana. tapi bagiku itu sungguh tidak masuk akal..''

__ADS_1


''Orang tua ini selain angkuh dia juga punya harga diri yang tinggi. Setan Kuburan bakal lebih memilih mati terbunuh ketimbang kabur melarikan diri seperti seorang pengecut.!'' ujar si Malaikat Copet kepada pemuda pincang ini saat masih berusaha untuk mempelajari dua jurus ilmu silat sang ketua perkumpulan Maling Kilat itu.


''Lantas apa yang membuat tokoh silat kawakan yang katanya punya ilmu kesaktian tanpa tandingan itu masuk ke dalam lembah itu ketua., rahasia apa yang sebenarnya ada di dalam lembah itu.?'' tanya Pranacitra dengan rasa tertarik.


''He., he.,.Lembah Seribu Racun., sebenarnya tidak ada satu orangpun di dunia ini yang bisa memastikan ada rahasia apa di dalam lembah itu. banyak berita beredar di luaran mengenai rahasia tempat itu. mulai tempat para siluman dan demit yang bersemayam, sampai tempat pelarian bagi kaum persilatan yang terdesak oleh banyak musuhnya..''


''Tapi ada juga kabar yang sangat menarik hati para pendekar rimba persilatan., entah siapa yang pertama kali mengatakannya, kalau Lembah Seribu Racun itu dulunya adalah tempat tinggal seorang tokoh silat yang sangat sakti mandraguna dan tokoh itu telah meninggalkan banyak sekali catatan ilmu kesaktian tingkat tinggi miliknya di dalam Lembah Seribu Racun.!''


''Karuan saja akibat berita itu banyak sekali orang yang merasa tertarik untuk mengadu peruntungan, apalagi tersiar kabar juga kalau selain ilmu silat juga tersimpan timbunan harta karun yang tak terhitung jumlahnya..''


''Tapi niat hati dan harapan manusia sering kali berbeda dengan kenyataan. jangankan untuk masuk kedalam lembah, untuk dapat mengetahui letak sebenarnya dari tempat itu saja sangatlah susah. kalau toh ada yang dapat menemukannya, untuk bisa masuk ke dalamnya juga bukan persoalan gampang. karena perlu ilmu kesaktian tinggi untuk dapat bertahan dari kabut beracun ganas yang ada di lembah itu..''


''Maaf jika aku menyela ketua., tapi apakah selama ini orang yang sanggup memasuki Lembah Seribu Racun itu ada yang dapat keluar lagi dalam keadaan hidup.?'' bertanya si pemuda pincang. tapi Malaikat Copet hanya menggelengkan kepala sambil menghisap pipa cangklongnya.


''Dulu ada dua orang yang berhasil keluar., seorang diantaranya adalah ketua sebuah perguruan silat aliran putih yang terkenal. meskipun saat dia berhasil keluar dari dalam lembah itu ilmu kesaktiannya jadi meningkat berkali lipat, tapi orang ini juga berubah perangai menjadi jahat dan gila sampai lupa dengan keluarganya sendiri juga para muridnya. hingga dengan kejam membunuh mereka semua. bahkan ada yang bilang dia sampai memperkosa seorang murid perempuannya sendiri. anehnya setelah melakukan perbuatan keji itu dia kemudian sadar, dan akhirnya mati bunuh diri karena menyesal dan malu..''


Satu lagi adalah pentolan kaum begal yang di sebut sebagai 'Dewa Rampok Bertangan Seribu.' manusia sakti yang kabarnya punya ilmu kebal senjata dan gemar harta benda ini berhasil keluar dengan membawa sekarung gumpalan emas dan batu permata. tapi baru saja keluar dari lembah, manusia serakah itu sudah tewas menjadi seonggok daging busuk menghitam..''


''Ada beberapa orang yang berniat untuk mengambil emas dan batu permata itu. tapi baru saja ujung jarinya menyentuh gumpalan emas itu, dia sudah tewas dengan tubuh menghitam keracunan seperti yang dialami oleh si Dewa Rampok Bertangan Seribu.!''

__ADS_1


''Ada lagi yang masih penasaran., dengan menggunakan bermacam alat dan sarung tangan, mereka berusaha untuk mengambil harta itu. tapi racun terlalu ganas dan hampir tidak masuk akal, karena mampu dengan cepat menyebar melalui semua peralatan yang mereka gunakan itu. seperti yang sudah terjadi sebelumnya merekapun turut menjadi onggokan daging dan tulang busuk menghitam.!''


''Kejadian ini biarpun bisa menjadi bukti bahwa kemungkinan memang ada timbunan harta karun dan ilmu- ilmu kesaktian di dalam lembah itu, tapi akibat yang harus mereka tanggung untuk mendapatkannya juga terlalu menakutkan..''


''Sejak saat itu tidak ada lagi orang yang berusaha mencari tahu soal Lembah Seribu Racun. maka saat perkumpulan Maling Kilat mendapat pesanan batu sakti 'Nirmala Biru' dari perkumpulan pengemis 'Kelabang Ireng' kami juga merasa heran dan curiga..''


''Setelah kau ketahui betapa mengerikannya tempat yang bakal kau tuju., masih adakah keberanian dalam dirimu untuk tetap masuk ke dalam Lembah Seribu Racun.?'' sindir Malaikat Copet sinis seakan mengejeknya.


Pranacitra masih duduk termenung seorang diri menghadap perapian. malam terasa dingin. dulu di saat seperti ini Srianah pasti mendekap erat tubuhnya yang kedinginan sambil memakaikan selimut untuk sekedar mengurangi kedinginan yang menyerangnya. biarpun sekarang dia sudah memiliki tenaga sakti yang dapat menahan hawa dingin, tapi Pranacitra lebih memilih berada dalam selimut dan dekapan gadis pencopet cilik itu.


Teringat akan Srianah, tanpa sadar Pranacitra meraba ikat kepala kain batik lurik yang melilit kening dan rambutnya. ada perasaan rindu pada juga kesedihan dalam hati pemuda itu.


''Hidupku tidak bakal lama lagi., dalam tubuhku juga mengeram racun dan penyakit. akan kugunakan sisa umurku untuk mencari tahu rahasia sebenarnya dari Lembah Seribu Racun.!'' jawab pemuda pucat penyakitan itu pada Malaikat Copet.


Orang tua ini tertegun lalu menyeringai sinis, "Baiklah bocah pincang penyakitan yang angkuh., kita nantikan saja apa yang kelak bakal terjadi denganmu.."


Sementara dalam hatinya orang tua ini tergelak "Hak., ha., Maling Nyawa sialan, kau bakal lihat kejutan apa yang bisa bocah pincang ini buat, karena persaingan di antara kita akan terus berlanjut.!"


*****

__ADS_1


Mohon sampaikan komentar, kritik dan sarannya juga like👍 jika anda suka., jangan lupa untuk terus menjaga kesehatan anda sekeluarga di masa pandemi covid 19 ini. semoga kita semua segera terbebas dari kesusahan akibat pandemi virus ini., Amin. Terimakasih, Wasalam.


__ADS_2