
Pranacitra tidak mau berlama- lama ditempat itu. karena dari balik pintu- pintu bangunan rumah yang berada di sepanjang jalan itu juga di kejauhan sana terlihat orang- orang mulai berani muncul. bahkan ada beberapa prajurit kadipaten yang bergerak dengan sikap waspada mendekati tempatnya berada.
Setelah sekali lagi memandang sekelilingnya, murid lima orang pentolan aliran hitam itu segera berkelebat pergi meninggalkan jalanan becek di depan rumah penginapan yang sudah ambruk itu dengan membawa sebuah peti besi berisi harta rampasan. maka saat beberapa orang datang, mereka tidak menemukan seorangpun berada di sana.
Waktu sudah beranjak tengah siang hari saat pemuda itu keluar dari wilayah perbatasan kadipaten Sumedang. dia sengaja memilih lewat jalan sepi agar tidak menarik perhatian orang lain. setelah menyusuri tepian hutan jati sampailah Pranacitra di sebuah sungai yang tidak seberapa lebar namun jernih airnya hingga dapat terlihat dasarnya.
Hujan deras tadi pagi membuat daerah sekitarnya basah, cahaya mentari membias permukaan sungai itu. Pranacitra berjongkok di tepian sungai untuk sekedar mencuci muka. saat ujung matanya melihat ada seekor ikan lele sebesar tangan berenang diantara celah bebatuan dasar sungai sejarak dua tombak dari tempatnya, dengan memakai sebuah batu kerikil dia buat ikan lele ini mati setelah sempat menggelepar keras di dalam air saat lemparan batunya memecah kepala ikan itu.
Dengan tenaga dalamnya yang sangat tinggi Pranacitra sangat mudah menyedot keluar ikan mati itu dari dalam sungai sebelum jauh terbawa arus. hanya butuh waktu singkat baginya untuk membersihkan ikan, memberi bumbu sekaligus membakarnya diatas bara api. selain ketinggian ilmu silat dan kesaktian, masalah masak- memasak si kaki pincang ini juga boleh dibilang sebagai jagonya.
Ikan sungai itu cukup besar ukurannya. meski rasa masakan lele bakarnya sangat sedap tapi Pranacitra hanya makan separuhnya saja, karena sebenarnya dia tidak terlalu lapar. yang dipilihnya hanya bagian perut ikan dan cuma meninggalkan ekor juga kepala saja. selesai makan dia kembali memeriksa isi peti harta yang diambilnya dari bawah ranjang korbannya. selain uang emas dan perak juga ada perhiasan bernilai tinggi.
Tadinya didalam peti itu juga ada bendera hitam lambang partai silat Gapura Iblis tapi sudah dia musnahkan sejak awal. Pranacitra sempat bingung hendak di buat apa harta upeti hasil rampasannya dari berbagai tempat karena sebelumnya dia juga sudah mengambil peti harta sejenis dari padepokan silat 'Gajah Guntur' di lereng gunung Gajah dan beberapa tempat lainnya.
__ADS_1
Untuk sementara waktu peti- peti harta itu disimpannya di beberapa tempat rahasia yang berbeda. sebagian lagi dia bagikan kepada kaum miskin secara diam- diam. selintas pikiran muncul di kepalanya. entah kenapa dia teringat dengan 'Nyi Rondo Kuning' sang pemilik rumah makan dan penginapan 'Lawang Wangi' yang berada di perbatasan Jepara.
''Sebaiknya peti- peti harta ini aku berikan saja pada wanita itu biar dia yang mengaturnya. sekalian juga berkunjung pada kawan lama..'' gumam Pranacitra yang tanpa sadar tertawa sendiri. diantara semua kenalan wanitanya sampai saat ini cuma Nyi Rondo Kuning saja yang pernah melakukan perbuatan laknat namun membawa nikmat itu bersamanya.
Terbayang kembali saat mereka berdua bergelut penuh nafsu untuk menuntaskan hasrat birahi yang membakar jiwa membuat aliran darah Pranacitra berpacu lebih cepat. ''Aaish., sialan betul. meskipun bentuk tubuh Nyi Rondo Kuning itu rada gemuk tapi sangat padat juga putih bersih. bahkan seingatku., tidak ada sehelai bulupun tumbuh di sana..'' batinnya setengah menggeram.
Lamunan sesat yang mengacau pikiran si pincang itu terhenti seketika saat matanya melihat permukaan air sungai. meskipun masih jernih tetapi ada sedikit warna kekuningan bahkan bercampur merah. Pranacitra menoleh ke arah hulu sungai. tidak begitu jauh darinya terlihat sesosok tubuh yang menelungkup dan tersangkut di antara tonjolan batu kali.
Dengan dua kali menutulkan kakinya ke atas permukaan sungai, jarak lima puluh langkah dapat dia lewati dengan mudah. masih dalam keadaan tubuh melayang di udara tangan kirinya meraih ke bawah. sekali lagi pemuda ini bersalto tahu- tahu dia sudah berada di tepian sungai yang terlindung diantara semak belukar bersama sosok tubuh yang baru diambilnya dari tengah sungai itu.
Orang yang mungkin umurnya masih tujuh atau delapan belas tahun itu memiliki wajah yang sangat tampan. andai saja dia masih segar bugar, ketampanannya sangat mungkin bakal meruntuhkan hati banyak gadis cantik. saat dirinya tersadar, Pranacitra langsung membisikkan sesuatu pada si pemuda yang hanya termenung sedih. tapi kemudian dia ganti berbicara dengan perlahan dan terputus- putus sebelum akhirnya terkulai lemas.
Pranacitra tertegun saat dirinya mendengar penuturan singkat dari mulut pemuda tampan itu sebelum tewas di atas pengakuannya. ''Aku tidak kenal denganmu tapi kau sampai berani menitipkan sesuatu yang tidak ternilai padaku. baiklah., akan kulakukan semua pesanmu..'' putusnya menghela nafas. meski selalu menghidari masalah tapi sayangnya selalu ada saja persoalan yang datang menghampirinya.
__ADS_1
Setelah menarik mayat pemuda tampan itu Pranacitra berkelebat kembali ke tempatnya tadi membakar ikan. tanpa harus menunggu lama, dari ujung kelokan sungai muncul kelebatan beberapa orang. sekali lihat saja dia paham kalau kelima pendatang itu memiliki tingkat ilmu silat yang tinggi. dalam sekejap saja mereka sudah tiba di depannya.
Pranacitra tetap tenang mengorek perapian yang hampir padam. sudut matanya melirik pakaian hitam dan penutup kepala yang dikenakan kelima orang itu. satu diantaranya selain juga memakai selembar jubah mantel hitam. mungkin dialah pemimpin mereka. pakaian seragam hitam seperti itu sudah tidak asing bagi si pincang karena dia tahu kalau itulah salah satu ciri dari anggota partai 'Gapura Iblis.!'
Setelah memeriksa sekeliling tepat dan tidak menemukan yang mereka cari, perhatian lima orang inipun beralih pada pemuda pucat yang duduk menunduk dihadapan perapian. ''Heii kau., cepat katakan pada kami apakah dirimu pernah melihat ada seorang pemuda dengan tubuh penuh luka lewat di tepian sungai ini.?'' tanya salah satu diantaranya yang tubuhnya paling tinggi setengah membentak.
Yang ditanya sesaat tetap menunduk. rambut panjangnya yang terikat secarik kain batik lurik menutupi raut wajahnya. perlahan dia mengangkat kepala. satu muka pucat dengan sorot mata dingin kaku terlihat. tanpa sadar lima orang ini terperanjat. entah kenapa ada suatu perasaan seram menyusup dalam jiwa mereka.
''Aku melihatnya. seorang pemuda berbaju putih celana hijau. punggungnya terdapat tiga luka tusukan pedang dan sebuah pukulan tangan kosong yang mematahkan tulang iga sebelah kanan. bagian depannya terdapat satu sayatan panjang dari dada kiri sampai turun ke pinggang..'' tanpa diduga pemuda itu menjawab begitu jelas. meskipun begitu setiap ucapannya terdengar hambar tanpa menyiratkan perasaan apapun.
Hal ini sungguh diluar perkiraan kelima orang pendatang ini hingga sesaat mereka saling pandang dan curiga. ''Kalau begitu, sekarang berada dimana pemuda itu. jawab saja dengan sebenarnya. kau bukan saja dapat selamat dari masalah tapi juga bakalan kuberikan imbalan besar..'' ujar si pemimpin yang lebih dulu menyadari kalau mungkin orang yang mirip gembel di depan mereka bukanlah manusia sembarangan.
Hening sesaat lamanya. pemuda bermuka dingin pucat itu cuma tersenyum tipis. sebuah senyuman sinis yang lebih mirip seringai iblis. ''Orangnya sudah mati. jadi tidak ada perlunya bagimu untuk mencari mencarinya. lagi pula., kalian semua juga akan segera menyusul ke sana..'' ujung suaranya belum habis tapi ujung sebuah tongkat besi hitam sudah menderu ganas ke depan.!
__ADS_1
.........
Silahkan tuliskan komentar Anda🙏. Terima kasih.