Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Antara berani, tolol dan gila.


__ADS_3

Dengan menghisap pipa cangklong emasnya tokoh silat bertubuh tinggi gemuk berjuluk si 'Sukma Tertawa' itu perlahan memutar langkahnya, kini dia berjalan perlahan mendekati tubuh Retno Item yang masih terkulai pingsan. seringai menjijikkan masih tersungging di bibirnya yang tebal. biarpun tubuhnya terluka cukup parah dan masih mengalirkan darah, tapi orang ini masih juga bisa tertawa. selintas pikiran buruk muncul di kepala Ki Wedhus Jenggot Putih yang juga masih terkapar tanpa daya.


''Aa., apa yang., aak., akan kau., per., perbuat., jang., jangan ber., berani mengu., mengusik anak., itu.!'' dengan bersusah payah Ki Wedhus Jenggot Putih mencoba untuk menghentikan Sukma Tertawa, tapi karena luka dalamnya cukup parah akibatnya dia sampai muntah darah hanya karena memaksakan diri untuk bicara.


''Hak., ha., Memangnya apa perdulimu dengan gadis murid 'Dewi Bintang Hitam' itu. sebaiknya urusi saja dirimu sendiri. kalau kau ingin tahu apa yang akan kuperbuat pada gadis ini., silahkan saja melihatnya..'' ucap si Sukma Tertawa sambil berjongkok, tangannya yang gemuk meraih kerah baju gadis cantik berkulit hitam manis itu lalu petlahan mulai membukanya.


''Bang., bangsat., jah., jahanam bus., busuk., henti., kan., perbu., perbua., tan bejat., mu.!'' rutuk Ki Wedhus Jenggot Putih sambil berusaha bangkit. tapi apa daya tubuhnya terlampau lemah. akhirnya orang tua itu cuma bisa meratap minta agar dibunuh sebagai pengganti Retno Item.


''Kau minta kubunuh untuk mengganti gadis ini., memangnya seberapa berharga nyawa tuamu. karena dimataku jiwamu tidak lebih dari seekor lalat yang berterbangan di atas onggokan sampah. Haa., ha., ha., sama sekali tidak ada harganya.!''


''Ku., kumo., hon., lepas., kan ga., gadis itu., akan aa., aku laku., lakukan semua., yang kau., mau..'' ratap Ki Wedhus Jenggot Putih. kini dia tidak saja meneteskan darah, tapi juga air mata. meskipun kejadian ini terasa agak janggal bagi Sukma Tertawa, tapi hawa nafsu kotor sudah naik ke atas kepalanya. sekali tangan kirinya bergerak bagian depan baju Retno Item sudah tersingkap.


'Breet., sreeet!'


Baju hitam Retno Item di bagian atas robek tersingkap berikut pakaian dalamnya.

__ADS_1


''Haa., ha., biarpun kulitnya agak gelap tapi gadis ini cantik juga., sudah lama diriku tidak bermain perempuan., hhmm., kalau memang sudah rejeki tidak akan kemana., Ha., ha.!'' gelak si Sukma Tertawa.


''Man., manusia ter., kutuk., jang., jangan pernah menyen., tuhnya.!'' geram Ki Wedhus Jenggot Putih. sementara sepasang mata basah dan putus asa terlihat mengalir di pipi Dewi Bintang Hitam. rupanya perempuan ini sudah mulai tersadar, hanya luka di tubuhnya yang lebih parah membuatnya tidak mampu bicara apalagi bergerak.


Di waktu hampir bersamaan, Retno Item juga mulai siuman. gadis itu mengerang lemah, matanya menatap takut si Sukma Tertawa. murid Dewi Bintang Hitam itu menangis saat menyadari pakaian atasnya sudah separuh terbuka. dengan sisa tenanya dia berusaha bangkit, tapi satu kali pipa cangklong emas menotok, gadis itu sudah kembali terkapar.


''Haa., ha., muridmu sengaja masih kubuat sadar, hanya saja tidak bisa bergerak. karena aku tidak suka menikmati perempuan yang sedang pingsan., Ha., ha., rasanya jadi kurang menarik..''


Dengan susah payah Ki Wedhus Jenggot Putih merayap mendekat, sebelah tangannya berhasil meraih kaki kiri Sukma Tertawa. lelaki tinggi gemuk itu menjadi gusar karena merasa terganggu. biarpun begitu dia masih sempat tertawa mengejek. tapi orang ini agak tertegun melihat orang tua berbaju putih itu menangis dan memohon agar dia mengurungkan niat jahatnya pada gadis bernama Retno Item itu.


''Hak., ha., perduli setan., memangnya apa hubunganmu dengan gadis ini., jangan suka menggangu kesenangan orang. pergilah.!'' bentak Sukma Tertawa bengis sambil kakinya menyepak tangan kurus Ki Wedhus Jenggot Putih hingga patah. berikutnya kepala orang tua itu yang menjadi sasaran.


Kepala orang ini pasti pecah jika tidak ada sebongkah lepalan batu yang melesat cepat menghantam betis si Sukma Tertawa.


''Anjing buduk edan., siapa orang yang berani bermain gila denganku di tengah gelapnya hutan begini.!'' maki Sukma Tertawa sambil menoleh ke asal lemparan batu. dalam hati sesast dia membatin. meskipun lemparan itu tidak menimbulkan luka di kakinya, tapi sanggup membuat aliran tenaga dalam di kakinya sempat tersendat, ini pertanda si pelempar batu cukup punya ilmu.

__ADS_1


''Hak., ha., tidak kusangka di sini juga ada orang yang suka sok jadi pahlawan., bagus ingin kulihat kau manusia macam apa.!''


Di bawah sebuah cerukan batu besar, tidak jauh dari sebuah perapian kecil yang masih berkobar. terlihat oleh si Sukma Tertawa seorang pemuda gembel berbaju gelap sedang duduk bersandar selonjor sebelah kaki. wajah pemuda ini tidak begitu jelas karena kepalanya sedikit menunduk hingga rambut panjangnya tergerai menutupi muka.


Perlahan pemuda ini bangkit berdiri. dengan dibantu sebatang tongkat kayu dia mulai melangkah. dari mulut Sukma Tertawa seketika tersembur gelak tawa menghina saat melihat pemuda gembel itu berjalan. kaki kanan melangkah yang kiri terseok mengikuti. yang kanan maju ke depan sebelah kiri terseret di belakang. kalau di umpamakan langkah kaki pemuda itu lebih mirip gerakan seekor cacing atau siput sedang merayap. orang yang melihatnya pasti merasa lucu atau malah prihatin.


Pemuda ini berhenti tiga langkah di depan Sukma Tertawa. kepalanya yang menunduk terangkat, hembusan angin malam menyibak rambutnya. kini seraut wajah tampan namun pucat dan dingin terlihat.


Dengan pandanganan acuh pemuda gembel bernama Pranacitra ini melirik tubuh atas Retno Item yang tersingkap jelas tanpa penutup apapun. ''Hhmm., memang tubuh gadis ini menarik juga., Hei gendut., kau sudah berumur. jadi ada baiknya mengalah pada kaum muda dan miskin sepertiku. diriku juga ingin bersenang- senang dengan wanita sepertinya..''


''Berikan saja dia padaku., biar kuurusi gadis ini sendiri. sekarang kau boleh pergi.'' ujar Pranacitra sambil terseok menghampiri tubuh Retno Item seakan dia tidak perduli dengan semua orang yang ada di sana.


Walaupun empat orang di sekitar si pincang punya pikiran yang berbeda, tapi ada satu pendapat yang sama di kepala mereka. pemuda pincang kurus yang penyakitan ini kalau bukan manusia dungu pastilah gila.


Retno Item tertegun melihat kedatangan pemuda pincang yang pernah dia tendang betisnya, Dewi Bintang Hitam dan Ki Wedhus Jenggot Putih memandang penuh rasa duka dan prihatin. mereka bisa membayangkan ancaman maut seperti apa yang menunggu pemuda pincang itu.

__ADS_1


Sebaliknya Sukma Tertawa sampai tidak tahu apakah si pincang aneh ini memang kurang waras ataukah sudah bosan hidup hingga berani meremehkannya.


Semua orang yang ada disana mana pernah tahu kalau pemuda pincang dari gunung Bisma ini memang sudah tidak mengenal arti kata takut. jangankan cuma ancaman maut., bahkan bendera lambang partai aliran hitam terkuat dunia persilatan yang paling di takuti dan berkuasa sekalipun juga berani dia robek, meskipun niatnya berujung pada sebuah kegagalan yang memalukan.


__ADS_2