Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Kujang Emas Nirwana (bag1)


__ADS_3

Lelaki setengah umur, tinggi besar dan berkumis tebal itu maju beberapa langkah ke depan di dampingi dua orang anak buahnya yang sudah lebih dulu mencabut golok dari pinggangnya. orang ini agak tercengang saat melihat ada seorang pemuda sedang duduk di atas balai bambu yang berada di teras gubuk.


''Hehh., siapa kau anak muda. dimana Ki Mada, suruh dia keluar sekarang.!'' bentak orang itu. dia dan anak buahnya sama menggerendeng marah melihat pemuda di atas balai bambu seakan acuh tanpa perduli. tapi saat melihat sepasanga matanya yang menyorot tajam dan dingin, tanpa sadar hati mereka bergidik ngeri meskipun mata itu hanya melihat pada sosok perempuan berkebaya merah yang berdiri di belakangnya.


''Kurang ajar., apa telingamu tuli hingga tidak mendengar pertanyaan Ki Sentot Bhirawa.?'' damprat seorang anak buah si kumis tebal yang berdiri paling belakang. ''Orang seperti dia mesti di berikan sedikit pelajaran agar tahu sopan santun.!'' geram seorang rekannya yang berdiri di samping. berdua mereka maju ke depan sambil loloskan goloknya.


Namun anehnya langkah kaki mereka serentak berhenti saat tiba didepan seakan ada suatu hawa menyeramkan di sertai angin dingin yang entah datang dari mana menyebar di sekeliling mereka. sewaktu berada di belakang mereka tidak begitu jelas melihat apa yang terjadi, sekarang keduanya baru mengerti kalau hawa membunuh menggidikkan hati itu sesungguhnya berasal dari diri si pemuda yang duduk di atas balai bambu.


Pintu depan rumah gubuk terbuka, orang tua bernama Ki Mada terlihat keluar dari dalam rumahnya. cucunya yang bisu mengikuti di belakangnya dengan mata terkantuk dan mulut menguap. anak itu seketika menjerit ketakutan saat melihat kedatangan orang bernama Ki Sentot Bhirawa dan para anak buahnya. sayang tidak ada suara yang jelas dapat keluar dari mulutnya yang cacat bisu.


''Aauu , aa.,uu., aa., auu..!'' hanya itu saja yang bisa dia katakan sambil menunjuk- nunjuk Ki Sentot Birawa dengan penuh rasa takut dan kebencian. Pranacitra melirik bocah lelaki sepuluh tahunan itu. dalam hatinya timbul rasa simpati. mungkin karena mereka berdua sama- sama orang cacat.


''Masuklah ke dalam rumah dan jangan keluar. sobat muda., bisakah kau ikut masuk ke dalam menemani cucuku Aji Pradana.?'' kata Ki Mada pada cucunya juga Pranacitra. pemuda itu bangkit berdiri dan berjalan terseok masuk ke rumah gubuk. hampir semua orang di depan rumah sama tertawa menghina melihat cara si pincang berjalan yang terlihat aneh dan lucu.


Pemuda itu sepertinya sudah terbiasa melihat orang menertawakan caranya berjalan. karena baginya orang seperti mereka biasanya bakal lebih cepat mati. saat melewati samping tubuh Ki Mada untuk menarik si bocah bisu bernama Aji Pradana itu, mata si pincang sempat melihat tonjolan gagang sebuah kujang emas yang terasa memancarkan hawa kesaktian di pinggang kiri Ki Mada.


''Kujang adalah senjata orang derah Jawa barat. mungkin Ki Mada berasal dari tanah Pasundan. tapi di dengar dari logat bicaranya, dia seperti orang wilayah sini. sudah kuduga dia menyimpan rahasia. hmm, baiklah orang tua., mari kita lihat dulu seperti apa dirimu yang sebenarnya..'' batin Pranacitra sinis sembari mengajak Aji Pradana ke dalam.


Awalnya bocah itu berusaha berontak tidak mau menuruti, tapi tanpa sepengetahuan siapapun ujung jari telunjuk si pincang menotok dua buah urat di punggung si bocah. hingga dia menjadi diam dan kaku. ''Nah., ini baru anak yang baik dan selalu menuruti perintah orang tua. kita tunggu saja kakekmu di dalam sana saja..'' ujar Pranacitra sambil menyeret tubuh si bocah yang diam kaku. sekali masuk pintu gubukpun di tutup.


''Haa., ha., maafkan kalau kedatanganku telah mengganggu tidurmu Ki Mada. tapi masalah yang terjadi di antara kita memang harus segera di selesaikan. karenanya selain dengan beberapa anak buahku, malam ini diriku juga membawa seorang kawan yang cantik untuk dapat membantu menyelesaikan perselisihan kita bedua..'' ujar Ki Sentot Bhirawa sambil menoleh sekejap pada wanita berkebaya dan berkerudung merah.

__ADS_1


Ki Mada menyapu sekejap belasan orang yang berada di depan rumah gubuknya. pandangan orang tua ini berhenti pada wanita berkebaya merah yang baru di katakan oleh Ki Sentot Bhirawa. biarpun tidak mengenali siapa wanita itu, tapi dia dapat merasakan hawa kesaktian yang terpancar dari dalam diri wanita ini.


''Apa lagi maumu Ki Sentot Bhirawa, kurasa sudah tidak ada lagi yang perlu untuk kita bicarakan. barang pusaka itu tidak akan aku serahkan kepada siapapun juga. kalau tidak ada urusan lain sebaiknya kau dan semua orangmu segera pergi dari sini. terus terang saja diriku butuh istirahat setelah seharian bekerja..''


''Dasar keparat. jadi orang tua jangan terlalu keras kepala, salah- salah nyawamu bisa lebih cepat melayang. serahkan pusaka 'Kujang Emas Nirwana' itu padaku sekarang juga atau kuhabisi kau dan juga cucumu yang bisu itu.!'' ancam Ki Sentot Bhirawa berang. ''Huhm., kalau kau inginkan pusaka ini ambillah sendiri dari tanganku.!'' balas Ki Mada tidak kalah garang sambil mencabut sebilah kujang emas yang teselip di belakang pinggangnya.


Semua orang seakan terkesiap kaget melihat sebilah senjata kujang yang memancarkan cahaya terang keemasan hingga sekeliling tubuh Ki Mada seakan turut di selimuti sinar kuning keemasan. ''Kujang Emas Nirwana yang kau inginkan berada di sini. ambillah sekarang jika kau memang mampu.!'' tantang Ki Mada seraya mengejek.


''Setan alas., kalian semua maju dan bunuh orang tua bedebah itu. siapapun yang mampu menghabisinya, imbalan besar dariku akan menantinya.!'' perintah Ki Sentot Bhirawa geram. serentak sepuluh orang anak buah Ki Birawa berteriak kalap. sambil menyerbu mereka sama berebut ayunkan goloknya hendak merajam tubuh Ki Mada.


Tiga golok menyerang dari arah kiri dengan sasaran pinggang, punggung dan iga kiri. tiga lagi menggebrak dari samping kanan dengan mengincar sasaran yang sama. empat orang lainnya langsung menerjang dari depan. awalnya mereka seperti hendak menggasak bagian dada dan perut, tapi di tengah jalan jadi memecah. dua membacok dada serta leher, dua sisanya terus membabat perut paha dan selakangan lawan.!


Serangan sepuluh orang ini tidak begitu membawa hawa tenaga sakti pertanda tingkat tenaga dalam mereka masih rendah. namun karena mereka menyerang pada saat yang bersamaan dengan sasaran yang berlainan, membuat kekuatannya meningkat berkali lipat.


'Whuuuut., bheeet., bheeet.!'


'Traaaang., traaaang., plaang.!


'Shrraaat., dheesss., braaak.!'


''Kurang ajar., kunyuk tua keparat.!'' maki beberapa anak buah Ki Sentot Bhirawa yang berhasil selamat dari sabetan kujang emas dan pukulan Ki Mada. dalam bentrokan singkat itu mereka mendapati golok di tangannya sama gempil bahkan ada yang nyaris patah.

__ADS_1


Di saat mereka masih tertegun, terdengar tiga orang rekannya berteriak parau disertai darah yang menyembur dari mulut luka di perut yang robek besar terbabat kujang emas Ki Mada. belum sempat mereka bersiap, sekelebatan empat cahaya tajam keemasan bersilangan sudah kembali menyambar.


Dengan meraung gusar bercampur ngeri tujuh orang sisa anak buah Ki Sentot Bhirawa memutar goloknya masing- masing untuk menangkis serangan sekaligus mundur menghindar. tapi kujang emas yang panjangnya tidak sampai dua jengkal itu terus memburu sasaran. suara dentang senjata yang beradu dan jeritan ngeri memecahkan kesunyian malam.


''Bangsat., mampuslah kau Ki Mada keparat.!'' maki Ki Sentot Bhirawa geram melihat seorang lagi anak buahnya tewas, seraya menyerbu ke depan membantu begundalnya yang kocar- kacir diamuk kujang pusaka di tangan Ki Mada. bedanya orang ini membekal sebilah pedang yang memancarkan cahaya kebiruan.


Sambil lepaskan dua tusukan maut yang mengarah perut dan diakhiri sebuah sabetan miring hendak membelah dada lawan, orang ini memberikan isyarat kepada dua orang anak buahnya untuk masuk ke dalam rumah sementara dia sendiri terus mengurung Ki Mada bersama sisa anak buahnya yang lain.


''Pengecut kau Ki Sentot Bhirawa, jangan harap dapat melukai cucuku.!'' bentak Ki Mada panik saat melihat dua orang anak buah Ki Sentot Birawa berguling dan menyusup masuk ke dalam rumah. orang tua itu berusaha menjebol kurungan lawan, tapi kehadiran Ki Sentot Birawa membuat keadaannya menjadi sulit.


Rasa cemas akan keselamatan sang cucu membuat Ki Mada terpecah perhatiannya hingga mesti menerima dua buah sabetan golok di punggung dan paha kanannya. orang ini terjungkal roboh muntah darah saat satu tendangan Ki Sentot Bhirawa menghajar lambungnya.


Hampir bersamaan dari dalam rumah gubuk terdengar suara keributan dan jeritan ngeri yang di barengi jebolnya dinding gubuk kayu. dua sosok tubuh terlempar hingga tiga tombak dengan di sertai semburan darah dan bau daging hangus. keduanya jatuh tepat hanya selangkah saja di depan kaki perempuan berkerudung merah itu.


Menggunakan sisa tenaganya, Ki Mada yang masih tergeletak berusaha mengangkat kepala dan tubuhnya hendak melihat keadaan sang cucu dan pemuda pincang yang menjadi tamunya. tapi di sana hanya ada dua sosok tubuh anak buah Ki Sentot Bhirawa yang terkapar mati bermandikan darah dengan kepala pecah.!


*****


Asalamualaikum., salam sehat dan sejahtera selalu buat kita semua.🙏


Kami berdua (saya dan adik yg bikin novel ini) mohon maaf kalau dalam menulis atau up date cerita PTK dan 13 PBH mungkin ada yg tidak singkron/kurang sesuai. misalkan di bab 1 nama tokoh, tempat, jumlah orang, situasi maupun plot cerita dll, tidak sama/ berbeda dgn di bab lainnya. 😅🙏 mungkin authornya lupa (lagi ngantuk😜) atau saya yg salah ketik. sekali lagi mohon maaf🙏. akan kami usahakan utk di perbaiki.

__ADS_1


Silahkan tulis komentar, kritik saran, like👍, favorit👌jika anda suka. juga tolong bantu share novel PTK ini dan 13 Pbh. Terima kasih, Wasalamualaikum.


__ADS_2