
Gadis itu masih duduk bersimpuh di tengah mayat- mayat yang tergeletak di persawahan itu. pandangan matanya terlihat agak kosong dan bingung seolah dia baru saja mengalami kejadian yang sangat buruk. baju hijau yang dikenakannya sudah berubah jadi cokelat kehitaman bercampur lumpur sawah yang kotor dan bau. karena baju itu rada tipis dan basah melekat di kulit membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas.
''Bukannya perkara gampang membunuh seseorang., malah terkadang rasanya seperti menyakiti diri sendiri. jangan mengatakan apapun soal kejadian ini pada siapapun juga. angap saja kita berdua tidak pernah saling bertemu..''
Meskipun pemuda pincang itu sudah lenyap dari sana, tetapi gema suaranya masih terngiang di telinga gadis itu. di ujung pesannya sempat terdengar juga suara siulan yang bernada menyedihkan hati. entah siulan lagu itu melambangkan soal apa., kesepian ataukah kematian.
Gadis itu belum lama turun gunung. ibarat kata dia masih polos. walaupun demikian sebenarnya dia punya latar belakang dari kelompok persilatan yang cukup ternama. karena bosan hidup dalam lingkungannya tanpa boleh mengerjakan sesuatu yang di sukainya, gadis itupun kabur dari sana dan ingin melihat dunia luar. biarpun sudah sering mendengar tentang kelicikan dan kekejaman orang rimba persilatan, namun baru kali ini gadis itu mengalaminya sendiri.
Dalam hatinya gadis itu di penuhi pertanyaan tentang siapa adanya pemuda itu. sepintas tubuh orang ini terlihat lemah pucat seperti penyakitan bahkan pincang pula kakinya. kalau di perkirakan umurnya mungkin baru dua puluhan tahun. hebatnya dengan usia semuda itu dia sudah mampu menghabisi 'Setan Bungkuk Rombeng' yang merupakan salah satu anggota dari 'Tiga Setan Berbaju Rombeng'. berikut keempat muridnya.
Biarpun Setan Bungkuk Rombeng bukanlah termasuk golongan pesilat nomor satu yang sulit dicari tandingannya, tapi untuk dapat membunuhnya juga bukan perkara mudah. yang paling menarik sekaligus menyeramkan dari semuanya adalah cara pemuda pincang itu menghabisi lawannya. begitu dingin dan kejam tanpa ampun seakan membunuh baginya orang semudah menarik nafas.
Angin dingin yang berhembus sedikit lebih kencang membuat suara gemerisik daun- daun padi. gadis berbaju hijau itu terjingkat gugup saat menyadari waktu sudah berada di penghujung senja. cahaya sinar surya yang semburat jingga terlihat sudah hampir menghilang di ufuk barat.
Gadis yang umurnya tujuh belas tahunan itu menoleh ke satu arah. kewaspadaannya meningkat seketika saat matanya melihat empat titik hitam yang bergerak cepat ke arahnya. sekali berkelebat dia sudah masuk kembali ke dalam gubuk kecil yang berada di tengah sawah setelah lebih dulu meraih arit hijaunya.
Dari balik celah gubuk bambu kecil itu, dia mengamati keadaan di luar. dengan cepat empat titik hitam itu sudah berwujud empat orang lelaki setengah baya. bertubuh gagah kekar berkulit kehitaman. mereka berempat sama mengenakan caping bambu dan memanggul cangkul baja di bahu kanannya.
Angin senja menjelang malam yang dingin berhembus seperti tidak mampu membuat tubuh empat orang yang bertelanjang dada ini menggigil. melihat kedatangan empat orang yang berdandan seperti kaum petani ini, si gadis menjadi senang hati tapi juga khawatir. setelah berpikir sebentar akhirnya dia tetap memilih bersembunyi dulu di dalam gubuk.
''Gila., siapa orang yang telah melakukan pembunuhan ini.?''
__ADS_1
''Jika di lihat dari senjata goloknya yang serupa sepertinya mereka berasal dari satu kelompok, hanya saja., mayat orang tua itu lukanya paling mengerikan. jantungnya jebol seakan telah di renggut paksa..''
''Selain caranya membunuh yang sangat keji, orang yang melakukannya pasti punya ilmu silat dan kesaktian yang sangat tinggi., bagaimana menurutmu kakang Kertopati.?'' bertanya seorang diantara mereka yang bertubuh paling pendek dan gemuk kekar pada orang yang paling tua.
''Siapa mereka berlima ini., kenapa sampai mengalami kejadian mengenaskan, terbunuh di tengah persawahan begini rupa.?'' gumam orang yang di panggil sebagai Ki Kertopati heran juga ngeri.
''Saudaraku Lor Wisesa., terus terang saja aku sulit mempercayai kalau perbuatan ini dilakukan oleh orang yang sama. coba kalian lihat mayat yang agak terpisah di sana itu perutnya robek, jelas dia mati karena sabetan senjata tajam. tiga orang lainnya tewas karena pukulan telapak tangan hingga melesak ke dada korban. terakhir orang tua itu jantungnya terbetot keluar..'' tutur Ki Kertopati sambil mencoba memeriksa mayat yang berada paling dekat dengannya.
Dibantu Ki Ronggo Jangkung rekannya yang paling tinggi, kedua orang setengah tua ini membungkuk dan membersihkan lumpur kotor yang menutupi bagian luka pukulan telapak tangan di dada mayat. saat melihat tanda telapak tangan berwarna merah dan berbau anyir gosong muka keempat orang ini langsung berubah hebat.
''Pukulan 'Tapak Darah Meminta Sedekah.!'' seru mereka hampir bersamaan.
''Ini., ini., tidak mungkin terjadi. apakah si 'Pengemis Tapak Darah' yang melakukan semua pembunuhan ini..'' desis orang yang bermata agak jereng tercekat ngeri.
Semua orang ini sesaaat saling pandang, meskipun mereka berempat juga memiliki nama dalam rimba persilatan, namun jika di bandingkan dengan Pengemis Tapak Darah jelas mereka masih kalah jauh.
Kalau saat itu ada orang rimba persilatan melihat penampilan empat orang yang berdandan seperti kaum petani itu, dia mungkin dapat mengenali siapa adanya empat orang itu. dalam dunia persilatan julukan 'Empat Petani Cangkul Maut' diketahui sebagai salah satu anggota tingkat atas dalam perkumpulan silat 'Bumi Hijau.!'
Ki Kertopati ganti beralih memeriksa mayat orang tua yang jebol dadanya. dengan ujung cangkul bajanya dia membalik mayat yang tertelungkup dan berlepotan lumpur itu hingga wajahnya terlihat. dia tidak kenal dengan orang ini tapi rekannya yang bernama Ki Lor Wisesa langsung berseru kaget.
''Rupanya dia., orang tua itu bukan lain adalah 'Setan Bungkuk Rombeng', salah satu dari Tiga Setan Berbaju Rombeng.!''
__ADS_1
Ketiga rekannya sama berubah raut mukanya. di antara mereka berempat hanya Ki Lor Wisesa saja yang paling sering keluar sendirian ke dunia luar. karenanya meskipun ilmunya terhitung paling rendah namun pengalamannya justru yang paling luas di bandingkan tiga saudara angkatnya.
''Meskipun sangat mengejutkan tapi kita tidak ada urusan dengan semua ini. sudah seminggu kita keluar untuk mencari cucu ketua kita yang kabur dari rumah. dari jejaknya ada kemungkinan dia berada di daerah ini..'' ujar Ki Kertopati khawatir.
''Aah kenapa Nyimas Galuh Intan Arum mesti kabur segala, padahal kita semua yang ada di perkumpulan Bumi Hijau sangat sayang kepadanya, semua keinginannya juga selalu kita turuti. banyak saudara- saudara kita yang ingin turun dari markas kita di bukit Tangkeban untuk turut serta mencari Galuh Intan Arum..'' sahut Ki Ronggo Jangkung ikut merasa cemas.
''Hhmm., mungkin ini semua terjadi karena kita terlalu memanjakannya selama ini. kita lupa semakin dia beranjak remaja rasa ingin tahu tentang dunia luar juga akan semakin tinggi., mungkin juga kita tanpa sadar telah mengekangnya karena khawatir ada sesuatu yang buruk menimpanya jika sampai cucu ketua kita Ki Tani Langit Jagad keluar rumah tanpa pengawalan..'' Ki Julingan ungkapkan pendapatnya. meskipun enggan mengakui tapi tiga rekannya juga tidak menyangkalnya.
''Meskipun yang kau bilang ada benarnya tapi cucu ketua sudah sejak kecil mengidap penyakit parah, hingga kebiasaan untuk menjaganya terbawa sampai dia beranjak remaja. beruntung ketua perkumpulan 'Maling Kilat' telah mengirimkan sejumlah obat untuk menyembuhkan penyakit Nyimas Galuh Intan Arum hingga dia dapat selamat dan tumbuh menjadi gadis yang cantik dan pintar..'' timpal Ki Ronggo Jangkung.
''Tapi sayangnya., kini gadis itu sudah minggat dari rumah hingga membuat kita semuanya khawatir. bahkan ketua Ki Tani Langit Jagad sampai jatuh sakit karena memikirkannya..''
''Waktu itu beliau sedang melatih ilmu kesaktian baru hingga tidak boleh ada gangguan. celakanya dia mendengar suara kekacauan akibat kaburnya Galuh Intan Arum hingga beliau salah berlatih dan kacau jalan darahnya lalu jatuh sakit..'' Ki Kertopati menarik nafas menyesali semuanya.
''Aa., apa yang terjadi dengan kakekku., cepat bawa aku pulang sekarang juga paman Kertopati., sungguh aku tidak bermaksud membuat susah semua orang. aku., aku hanya ingin melihat dunia luar saja tidak lebih. maafkan., maafkan aku kakek..'' jerit si gadis berbaju hijau yang tiba- tiba saja keluar dari persembunyiannya di dalam gubuk itu. dia lantas jatuh berlutut dan menangis sesengukan.
Serentak Empat Petani Cangkul Maut menoleh. hampir bersamaan pula mereka berkelebat menyambut gadis itu seraya berseru kaget campur kelegaan, ''Nyimas Galuh Intan Arum., apa yang terjadi denganmu, bagaimana kau bisa berada di sini.!''
Gadis tujuh belasan tahun yang rupanya adalah cucu kesayangan dari Ki 'Tani Langit Jagad' sang ketua perkumpulan silat Bumi Hijau dan bernama Galuh Intan Arum itu menurut saat Ki Kertopati dan tiga kawannya membimbingnya berdiri. gadis cantik itu kembali bergidik ngeri saat menatap lima mayat yang terkapar di sawah.
Meskipun hanya sekilas saja tapi perubahan sikap cucu ketuanya itu tidak lolos dari perhatian Ki Kertopati dan rekannya. dengan hati- hati mereka bertanya apakah Galuh Intan Arum tahu siapa yang melakukan pembunuhan keji itu.
__ADS_1
Gadis itu menunjuk mayat pemuda yang perutnya robek besar. ''Orang itu hendak berbuat tidak senonoh padaku, aa., aku., akulah yang telah membunuhnya..'' jawabnya tersengal. jelas ada beban berat dalam ucapannya. tapi suaranya semakin tercekat kelu, raut wajahnya memucat gemetaran saat menunjuk empat mayat yang lainnya.
''Me., mereka berempat mati., buk., bukan aku pelakunya. orang itu., dia., dia pincang. yang mem., membu., nuh mereka adalah., iib., iblis. seorang iblis yang berkaki pincang.!'' cuma itu saja yang sempat terucap dari bibir gadis itu sebelum dia terjatuh pingsan, entah karena kelelahan atau justru ketakutan.