Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Pengadu domba, pemikat lelaki.


__ADS_3

Sebenarnya Pranacitra enggan berurusan terlalu lama dengan empat orang ini. apalagi ada seorang gadis muda yang sikapnya angkuh dan menyebalkan diantara mereka. turut kemauannya, dia bermaksud untuk meninggalkan saja mereka sekarang juga. lagi pula semua yang terjadi disini tidak ada sangkut paut apapun dengan dirinya.


Cuma kadang pikiran dan hati nurani sering kali tidak sejalan. lelaki setengah umur yang terbaring di sampingnya meskipun sudah mendapatkan pengobatan tetapi masih belum sadar juga dari pingsannya. sekeras dan sedingin apapun hati si pincang ini, dia tetap saja tidak sampai hati meninggalkannya.


Dengan penyaluran tenaga dalam dari telapak tangan kanannya, dia kembali menggunakan kekuatan batu sakti Nirmala Biru yang sudah terlebur ke dalam tubuhnya. cahaya redup yang disertai kabut berwarna kebiruan nampak merasuki tubuh lelaki itu. sesaat kemudian tubuhnya terjingkat dan keluarkan suara keluhan tertahan.


''Aa., apa yang sedang kau lakukan pada pamanku.?'' teriak gadis bernama Winuyem itu khawatir. dua orang pemuda yang berlutut di kiri- kanannya juga bingung bercampur marah namun tidak berani berbuat apapun. untungnya semua ketegangan itu tidak berlangsung lama. dengan tubuh masih gemetaran dan terbatuk- batuk lelaki setengah umur berusaha untuk duduk bersila.


Biarpun belum jelas secara keseluruhan tapi orang ini masih dapat berpikir jernih. sebelum pingsan dia masih sempat melihat kehadiran seseorang yang datang menolongnya. meski tidak tahu jelas siapa orangnya tapi yang pasti bukanlah Winuyem dan kedua kawannya. jadi tinggal satu kemungkinan saja. pemuda disampingnya inilah yang telah menyelamatkan hidupnya.


Setelah bersila dan mengatur pernafasan tenaga dalamnya, orang inipun membuka mata lalu masih dalam keadaan duduk bersila dia menjura hormat pada si pemuda. ''Saya Jati Sembodo, wakil ketua padepokan silat 'Glagah Wangi' mengaturkan beribu terima kasih atas bantuan saudara yang telah menyelamatkan jiwaku dari ancaman anggota perkumpulan 'Panah Pemburu Jantung..''


''Bolehkah aku juga ketiga anggota perguruan silat 'Glagah Wangi' yang tersisa untuk mengetahui siapa nama saudara dan berasal dari mana.?'' ucap orang bernama Jati Sembodo itu sekalian bertanya. di luar dugaan pemuda pucat itu hanya menggeleng dan kibaskan sebelah tangannya sambil menjawab tegas, ''Tidak boleh.!''


Sebuah jawaban langsung yang tanpa basa- basi ini cukup membuat siapapun yang mendengarnya merasa tidak enak hati. tapi mengingat si pemuda telah menolongnya, lelaki wakil ketua perguruan silat Glagah Putih tidak sampai mengambil hati. berbeda dengan Winuyem serta kedua kawannya, mereka bertiga menganggap pemuda pucat itu sangat sombong dan tidak punya kesopanan.


Biarpun demikian ketiganya hanya dapat memendam amarah dan mengumpat dalam hati karena sadar dengan kemampuan si pucat sangat tinggi. ''Kalau demikian, sekali lagi kuucapkan terima kasih pada saudara atas semua pertolongan yang kau lakukan. setidaknya perguruan silat Glagah Putih masih punya penerus..''


Jati Sembodo terbatuk- batuk keras pegangi dadanya yang sesak. dari luka luarnya akibat panah kembali mengucurkan darah agak berwarna kehitaman. saat darah berubah menjadi merah, dua buah totokan langsung menghentikan aliran darah yang sudah bersih dari racun. ''Kau masih perlu banyak istirahat dan pengobatan untuk bisa pulih. carilah tempat yang aman untuk merawat dirimu. karena perkumpulan 'Panah Pemburu Jantung' bisa saja terus mengejar kalian..''

__ADS_1


''Aa., apakah luka paman kami masih dapat mengancam nyawanya.?'' Winuyem beranikan diri bertanya. ''Adakah obat yang benar- benar dapat menyembuhkan beliau.?'' sambung pemuda sebelah kiri. ''Kami mohon saudara dapat mengatakannya pada kami..'' sahut rekannya yang sedang membalut luka di tubuh Jati Sembodo.


''Dia hanya lemah karena banyak kehilangan darah. nyawanya tidak akan terancam karena racun panah sudah keluar dari tubuhnya..'' jawab Pranacitra sambil berikan lima butir obat berwarna kekuningan pada Jati Sembodo. ''Obat ini untuk mengobati luka dalam dan memulihkan tenaga. kau minum dua butir. tiga lainnya berikan pada mereka bertiga..''


Jika ketiga murid padepokan Glagah Wangi masih meragukan obat itu, tidak demikian dengan Jati Sembodo. dengan penuh yakin dan rasa terima kasih dia menelan dua butir obat berwarna kekuningan itu lantas kembali bersemedi mengatur pernafasan. ada sedikit uap putih kekuningan nampak keluar dari atas kepalanya. kejap berikutnya kedua tangannya menyentak. segulung angin keras menghempas ke depan.


'Whuuuuss., Wheeess.!'


'Blaaaass., blaaaam.!'


Ketiga orang murid perguruan Glagah Wangi sama keluarkan seruan tertahan. dua sosok mayat anggota 'Panah Pemburu Jantung' yang tergeletak melintang jalan beberapa langkah didepan sama tersapu beberapa tindak ke belakang hingga terperosok di balik rumbunan semak belukar. tanpa sadar mereka melihat pamannya.


Winuyem dan kedua kawannya tanpa ragu mengambil dan langsung menelan obat sebesar biji salak pemberian si pemuda. setelah bersemedi mengatur pernafasan, bukan saja tubuh mereka menjadi bugar, tenaga dalamnyapun juga terasa meningkat. jika kedua orang pemuda di sampingnya seketika menjura hormat untuk berterima kasih, Winuyem walaupun merasa senang tapi masih merasa malu untuk mengakui kehebatan pemuda itu. sesaat dia cuma bisa menunduk dan bingung hendak berbuat apa.


Pranacitra tidak perduli dengan sikap gadis itu karena baginya dia cuma bocah manja yang baru tahu dunia ramai. ''Sebenarnya aku tidak tertarik dengan urusan kalian tapi kenapa sampai perkumpulan Panah Pemburu Jantung bisa mengejar kalian seperti kawanan serigala. memangnya perguruan kalian punya silang sengketa apa dengan mereka.?''


Para murid Glagah Wangi sekejap saling lirik lalu hampir bersamaan memandang Jati Sembodo dengan tatapan mata ragu penuh kesedihan. setelah menghela nafas dan tengadahkan kepalanya seakan menyesali sesuatu, wakil ketua perguruan Glagah Wangi itupun mulai berkisah.


''Ketua perkumpulan silat Glagah Wangi yang bernama Ki Mangun Bentar adalah saudara seperguruan sekaligus kakak iparku karena istrinya adalah adik perempuanku sendiri. sayangnya., jodoh mereka hanya sebentar karena sang istri keburu meninggal saat melahirkan bayi lelakinya. sejak menduda saudara seperguruanku ini tidak berniat untuk berumah tangga lagi..'' ucap Ki Jati Sembodo membuka ceritanya.

__ADS_1


''Sebagai gantinya dia terus merawat dan mendidik putra tunggalnya dengan penuh kasih sayang namun tetap tegas memberi aturan. hingga anaknya yang bernama Jalak Damar itu tumbuh menjadi pemuda yang dapat diandalkan. suatu ketika Jalak Damar yang baru pulang dari mencari pengalaman di dunia ramai kembali ke perguruan dalam keadaan luka berat..''


''Dia juga tidak pulang sendirian namun diantar oleh seorang perempuan cantik yang dikenalnya dalam perjalanan. kabarnya wanita ini pernah menyelamatkan Jalak Damar dari kepungan gerombolan begal rampok yang hendak membunuhnya saat dia berusaha menolong para penduduk desa yang menjadi sasaran perampokan..''


''Dari sikapnya yang lemah lembut dan paras cantiknya orang tidak akan mengira kalau dia sebenarnya adalah seorang wanita berhati iblis. baru belakangan ini kami sadar kalau rupanya wanita licik ini sengaja hendak masuk ke dalam perguruan silat kami sekaligus berusaha merayu kakak iparku yang sudah lama menduda..'' sampai disini Ki Jati Sembodo rada berubah wajahnya menahan sedih dan amarah.


''Entah sengaja atau kebetulan, raut wajah perempuan sundal itu mirip sekali dengan mendiang istri Ki Mangun Bentar. dapat di duga selanjutnya kakak iparkupun terpikat hatinya. celakanya., Jalak Damar sebenarnya juga sudah menaruh hati pada wanita itu dan berniat untuk melamarnya..''


''Hubungan antara ayah dan anak yang tadinya sangat dekat berubah penuh dengan permusuhan. sialnya wanita gila berhati iblis itu juga seperti sengaja mengadu domba mereka berdua. aku merasa sangat mungkin dia memakai semacam ilmu pengasihan atau sihir pemikat lelaki yang sangat hebat. bahkan kamipun juga tidak mampu untuk membantah setiap ucapannya..''


''Tunggu dulu., ada asap timbul pasti karena ada apinya. wanita yang kau sebutkan itu tidak mungkin mau bersusah payah masuk ke dalam perguruan Glagah Wangi, jika hanya untuk memikat ketua kalian dan anaknya. dia pasti mempunyai tujuan tertentu yang tersembunyi..'' potong Pranacitra.


''Kau benar saudara., wanita binal dan licik itu mengincar kitab jurus 'Lima Pukulan Tangan Berbisa' yang sudah lama disimpan oleh kakak iparku. konon di masa mudanya dia pernah menang bertaruh dengan ketua perguruan 'Tapak Emas Beracun'. jurus 'Lima Pukulan Tangan Berbisa' itu sebenarnya adalah milik dari ketua perguruan itu..''


''Perguruan silat 'Tapak Emas Beracun.!'' desis Pranacitra lumayan kaget mendengar nama salah satu padepokan silat yang terkenal itu disebutkan. ''Mereka saat ini telah menjadi salah satu dari sepuluh perguruan terkuat dari aliran putih. bahkan kabarnya menghuni peringkat tiga teratas.!''


''Sepertinya aku sudah bisa menebak alur ceritamu. mungkin untuk menjaga nama baik sebagai perguruan persilatan aliran putih yang terkenal mereka tidak mau turun tangan sendiri, melainkan secara diam- diam menyewa orang luar termasuk perkumpulan Panah Pemburu Jantung dan wanita sundal pengadu domba sekaligus pemikat lelaki yang kau ceritakan itu..''


 

__ADS_1


Silahkan tuliskan komentar Anda☺ yah., Trims.


__ADS_2