
Meskipun dalam hati Pranacitra sebenarnya masih merasa sangat penasaran dengan siapakah sesungguhnya orang yang pernah menyelamatkan nyawa 'Setan Gorengan' sekaligus membuat perjanjian dengan dengan orang tua bungkuk itu, namun karena si tukang masak enggan untuk menjelaskan, diapun tidak mau mendesak lebih jauh.
"Jika kau belum bisa kembali ke puncak gunung Dieng, lantas kemana tujuanmu. kenapa dirimu tidak sekalian memilih untuk bergabung dengan perkumpulan 'Maling Kilat' seperti Ki Payung Gendingan.?'' tanya si pemuda. orang tua bungkuk yang juga adik bungsu dari salah satu gurunya si 'Nenek Tabib Bertongkat Maut' ini menghela nafas sejenak sebelum menjawab. ''Musuhku cukup banyak diluaran sana. diriku tidak mau jadi beban orang lain..''
''Lagi pula., aku mesti mengantar Ki Buntel Tembem dan kedua anaknya ke tempat kenalan baikku di pinggiran kota raja terlebih dulu agar mereka bisa mendapatkan tempat tinggal sekalian memulai kehidupan baru dengan membuka warung makan seperti sekarang. kurasa dengan bakat memasak kedua anaknya, Ki Buntel Tembem dapat mendapat hasil yang lebih baik dibanding saat ini..''
''Kalau memang sudah kau atur demikian, maka kukira tidak akan ada masalah lagi. mumpung hari masih gelap, kau bisa mengajak mereka untuk berangkat karena lebih cepat sampai di sana tentunya lebih baik juga bagi mereka. hanya saja., harap paman guru 'Setan Gorengan' ingat agar berusaha menyamarkan dirimu agar tidak dikenali musuhmu juga partai Gapura Iblis..'' tukas Pranacitra sekalian memberi saran.
Pewaris ilmu dari lima dedengkot persilatan golongan hitam itu menjura hormat sebelum balikkan tubuhnya lalu lenyap dari ruangan itu. kini hanya tinggal si bungkuk tua tukang masak yang berada disana. tanpa sadar dia teringat kejadian seminggu lalu saat pertama kalinya dirinya bertemu dengan murid dari kakak perempuannya. saat itu warung sudah hendak tutup namun di salah satu meja yang berada di pojok masih ada seorang pengunjung.
Meski pemuda berpakaian hitam dari kain tebal dan bercaping bambu itu hanya memesan sekendi tuak dan dua ikat kacang rebus namun dia membayar dengan harga lumayan mahal yang bahkan cukup untuk membeli tiga porsi makanan paling enak di warung makan 'Mampir Daharan' milik Ki Buntel Tembem itu. sebagai gantinya dia di ijinkan untuk terus berada di mejanya hingga warung itu tutup serta berpesan agar tidak ada siapapun yang mengganggu dirinya.
Saat Ki Buntel Tembem mengatakan bahwa warungnya sudah waktunya untuk tutup, pemuda itu malah memesan sebuah menu masakan dari bahan- bahan yang telah dia persiapkan sendiri dari dalam kantong kain hitam yang teronggok diatas mejanya. ''Katakan pada juru masakmu yang berada di dapur. jika tidak sanggup mengolah semua bahan yang siapkan ini, lebih baik dia berhenti jadi tukang masak. jangan khawatir, aku akan membayar mahal jika hasil masakannya memuaskan lidahku..'' ujar si pemuda sambil memberikan dua kepingan uang emas dan empat keping perak pada Ki Buntel Tembem.
Sesaat orang gemuk yang wajahnya seperti selalu tersenyum itu terperanjat kaget. tapi dia buru- buru menyambutinya karena biar bagaimanapun juga uang masih punya kuasa. ''Aah, hampir lupa. katakan pada juru masakmu, nama hidangan yang kupesan adalah, 'Ikan Patin Tujuh Rasa..'' bisik pemuda aneh itu menyeringai.
__ADS_1
Hanya terpaut waktu sepuluh tarikan nafas saja semenjak Ki Buntel Tembem masuk ke dalam ruangan dapur, muncul keluar seorang tua bungkuk yang dengan raut muka garang dan membawa sebuah wajan hitam. dengan melotot gusar penuh hawa nafsu membunuh orang tua itu menghampiri meja si pemuda.
Di luar dugaan, pemuda itu cuma melirik sinis. jemari telunjuk tangan kanannya menggurat sesuatu di atas meja kayunya. itu adalah gambar sebuah gunung dan sepuluh guratan tegak lurus. guratan garis terakhir dibuat agak terpisah dan sedikit lebih kecil dari sembilan garis lainnya. melihat guratan gambar yang dibuat pemuda ini, si bungkuk tersurut mundur.
Tentu saja dia tahu arti dari gambar di atas permukaan meja kayu, karena itulah lambang gunung Dieng dan sepuluh bersaudara yang menjadi anggota keluarganya. garis guratan terakhir yang paling kecil dan agak terpisah dari sembilan guratan lainnya, menandakan dirinya sendiri yang memilih keluar dari lingkungan tempat tinggalnya yang menekuni dunia pengobatan dan racun.
Sedangkan nama hidangan 'Ikan Patin Tujuh Rasa' adalah masakan yang dia buat saat mengikuti pertandingan di kota raja untuk menentukan juru masak baru bagi anggota keluarga keraton. selain itu., diantara sembilan saudara kandungnya hanya ada dua orang saja yang sedikit menghargainya yang memilih memasak sebagai jalan hidupnya.
Dalam rimba persilatan kedua saudara perempuannya yang nomor empat dan kelima ini meskipun hampir selalu berselisih paham tapi mereka punya nama besar. 'Nenek Tabib Bertongkat Maut' dan adiknya si 'Nenek Tabib Selaksa Racun'. mereka berdua juga sangat suka masakan 'Ikan Patin Tujuh Rasa' buatannya. dari semua ini, si bungkuk dapat mengira kalau pemuda aneh didepannya pastilah punya hubungan dengan salah satu dari kedua saudara perempuannya itu.
''Orang tua yang memberiku tongkat kepala tengkorak ini pernah berkata, biarpun adik bungsunya sudah lama keluar dari lingkaran keluarga tapi darahnya masih tetap berbau obat dan racun. itu tidak dapat dihilangkan sampai kau mati. sebagai muridnya, aku juga bisa mengendus auramu yang sama dengan si 'Nenek Tabib Bertongkat Maut'. begitulah caraku menemukan dirimu. lagi pula., diriku juga seorang tukang masak..'' jelas pemuda yang akhirnya dia ketahui bernama Pranacitra ini.
Si juru masak tua menarik nafas perlahan seakan ingin melepaskan segala beban di dalam hatinya. jendela ruangan yang terbuka membuat hembusan angin diujung malam menjelang pagi itu terasa dingin menusuk tulang. Setan Gorengan mendengus geram. wajan hitam ditangannya bergerak mengibas ke depan. cahaya hitam redup turut berhawa panas turut pula menyambar ke luar jendela.
Di sana terdengar suara ledakan dari dua kekuatan sakti yang beradu. sebatang pohon kelapa gading yang ada di seberang jalan berderak roboh hingga sebagian hangus terbakar. ''Bangsat dari mana yang berani menyerang secara gelap.!'' teriak si bungkuk sambil berkelebat keluar jendela ruangan. sekali bergerak tubuhnya sudah tiba di seberang jalan.
__ADS_1
''Haa., ha., meskipun lama terbenam didalam panci dan wajan masakan tapi ilmu silat sobat Setan Gorengan alias si 'Bungkuk Pengoreng Jiwa' masih luar biasa. meskipun awalnya aku ragu kenapa malah kau yang diberinya perintah. namun sekarang ini diriku bisa mengerti pilihannya tidaklah salah..''
Mendengar gelak tawa dan suara yang menggema di empat penjuru, Setan Gorengan maklum kalau saat ini lawan yang belum dia ketahui siapa adanya dan berada dimana itu memiliki tingkat ilmu kesaktian yang hebat, bahkan mungkin setara dengannya. ''Terima kasih atas pujianmu. tapi maaf aku tidak suka berurusan dengan pengecut yang cuma bisa main sembunyi.!''
Mulut bicara wajan hitam kembali mengibas dari atas kebawah. dengan gerakan yang dinamai jurus 'Wajan Setan Gosong ' selarik cahaya hitam berbentuk bundar cekung menyambar ke satu arah. samar terbayang sebuah wajah hitam yang menyeramkan mengiringi serangan ini. dari balik sudut kegelapan terdengar jeritan tertahan disusul kilatan sinar kuning terang yang beradu hingga menimbulkan ledakan keras.
''Uugh., hugh., sialan. sayang sekali tuan muda melarang keras pertarungan diantara rekan sendiri. jika tidak, tentu aku tertarik untuk menjajal kekuatanmu. tugasku cuma menyampaikan pesannya kepadamu. selamat tinggal tukang masak bungkuk. Haa., ha.!'' bersamaan gelak tawa itu, dari balik gemuruh ledakan melesat sesosok bayangan manusia yang dengan cepat lenyap di kegelapan.
''Keparat, jangan kabur dariku.!'' rutuk Setan Gorengan gusar. saat hendak mengejar dari arah lenyapnya lawan melesat sebuah benda berupa gulungan. walaupun tidak memberi ancaman maut padanya tetapi dia mesti kerahkan tenaga dalam untuk menyambut gulungan yang terbuat dari kulit binatang itu.
Setelah sejenak mengedarkan pandangan ke sekelilingnya dan dirasa aman, juru masak tua inipun membuka gulungan kulit itu. di sana tertera sebaris tulisan, 'Kaki tangan ke 326, dalam waktu paling lambat dua minggu, dengan cara apapun kau harus berhasil menyusup ke sebuah tempat yang bernama pulau 'Seribu Bisa'. tugas selanjutnya akan kuberikan pada saat waktunya tiba. jika gagal melakukannya, lebih baik kau bunuh diri.!''
Setelah membaca tulisan dalam gulungan kulit, orang tua bungkuk itu seketika berubah hebat air mukanya. meskipun tidak ada tanda ataupun nama dari si pengirim pesan ini, tapi Setan Gorengan tahu betul siapa orangnya karena dialah orang yang beberapa tahun lalu pernah menyelamatkan nyawanya dari kematian saat terkurung oleh para musuhnya.
''Akhirnya waktu untuk membayar hutang jiwa datang juga..'' gumam Setan Gorengan. tapi biarpun merasa senang, dalam hatinya juga timbul pertanyaan sekaligus ketegangan karena pulau Seribu Bisa bukanlah tempat yang layak untuk dikunjungi meskipun oleh kaum persilatan berilmu tinggi. karena pulau misterius itu sebenarnya adalah markas rahasia dari sebuah perkumpulan pembunuh bayaran terkuat dunia persilatan yang di kenal sebagai 'Kelompok 13 Pembunuh.!'
__ADS_1
............................
Telat update lagi🙏., silahkan tuliskan komentar Anda, like👍, vote👌, give👏, juga share novel ini jika suka. Terima kasih.