
Suara halilintar yang menggelegar di langit juga hembusan angin kencang pada malam itu seolah pertanda akan datangnya hujan lebat. udara terasa sangat dingin sementara di atas sana tidak nampak taburan bintang ataupun cahaya rembulan. awan tebal dan hitam telah menutupi segalanya.
Gemerisik batang dan ranting pepohonan lebat yang saling bergesekan, seiring dengan gugurnya dedaunan terhempas angin. sekali waktu terdengar pula suara kawanan anjing liar yang melolong buas di kejauhan sana. sungguh malam gelap yang mencekam perasaan. apalagi saat ini tepat malam Jumat kliwon yang dalam kepercayaan sebagian besar orang adalah malamnya para mahkluk halus bermunculan.
Sebuah kilatan petir kembali menyambar. meskipun hanya sekali tapi cahayanya yang sangat terang bukan saja seperti sanggup membelah langit namun juga mampu menerangi tulisan diatas sebuah papan kayu besar dan lebar yang tergantung diatas pintu gerbang dari sebuah bangunan.
Padepokan silat 'Gajah Guntur'. itulah tulisan yang ada di atas papan nama kayu berwarna hitam. walaupun baru setahun berdiri tetapi di wilayah sekitarnya nama perguruan silat yang berada di sebelah utara lereng gunung Gajah itu sudah cukup terkenal. apalagi setelah dalam sebuah pertandingan persahabatan antara padepokan silat dua bulan lalu mereka mampu berada di urutan ke empat dari belasan perguruan silat yang turut serta.
Hasil itu tidak hanya membuat Ki 'Gajah Amukso' sang ketua perguruan silat Gajah Guntur ini menjadi bangga tetapi juga membuat minat orang untuk bergabung dalam padepokannya semakin besar hingga murid- muridnya bertambah banyak. sebuah pencapaian lumayan hebat untuk perguruan silat yang baru setahun berdiri.
Biarpun sempat terdengar desas- desus jika padepokan silat pimpinan Ki Gajah Amukso itu memakai cara yang tidak wajar dan curang untuk bisa mengalahkan banyak perguruan silat lain yang lebih dulu terkenal hingga menduduki peringkat ke empat tapi tidak ada seorangpun yang dapat membuktikannya.
Di bagian luar perguruan silat Gajah Guntur yang terdiri dari tiga buah bangunan kayu itu terdapat sebuah pondokan kecil tempat berteduh yang letaknya tepat di samping kiri pintu gerbangnya. di sana terlihat tiga orang murid perguruan yang sedang berjaga sembari sesekali menggigil kedinginan. nyala api obor yang tertancap di tiang pondokan beberapa kali nyaris padam tertiup angin.
"Huhh., sialan dingin sekali malam ini. angin yang berhembus juga sangat keras menerpa tubuh.." keluh salah satu murid penjaga sembari merapatkan kain sarungnya lantas mendekam di sudut pondokan. "Memang mau bagaimana lagi, sudah giliran kita yang bertugas jaga malam. kuharap saja tidak turun hujan sampai pagi hari nanti.." sahut rekannya sambil meneguk wedang jahe penghangat tubuh dari gelas bambu.
Sementara orang ketiga yang kedua matanya agak belok menonjol keluar justru terus menatap lurus di kegelapan. kelakuan orang ini membuat dua kawannya tanpa sadar turut melihat ke arah yang sama. disana tidak ada suatu apapun kecuali semak pepohonan dan kegelapan. tapi baru saja hendak menegur rekannya, telinga mereka mulai mendengar bunyi langkah kaki perlahan dan benda berat menyaruk permukaan tanah.
Tidak perlu menunggu lama bagi ketiganya untuk mengetahui siapa yang datang. meski awalnya si pendatang masih berada lima puluhan langkah dari pondokan tempat mereka tapi dalam sekejap saja orang berbaju gelap itu sudah berada di depan pintu gerbang perguruan. caping bambu yang menutupi kepala orang ini sedikit terangkat. kilatan mata tajam di sebaliknya sekilas menatap tulisan nama perguruan Gajah Guntur.
Orang aneh itu perlahan menoleh. meskipun cuma menatap dari balik caping bambunya namun terasa ada hawa menyeramkan yang terpancar dari sana hingga tanpa terasa tiga orang murid penjaga menjadi merinding. si mata belok yang pertama kali tersadar. dengan marah dia turun dari pondokan sambil mencabut golok di ikuti oleh kedua rekannya.
"Katakan siapa kau dan ada keperluan apa malam- malam buta begini berani datang ke padepokan Gajah Guntur.!" bentak si mata belok. ''Huhm., melihat penampilannya aku rasa dia hanya seorang gelandangan miskin yang kesasar kemari untuk meminta sedekah makanan..'' cibir orang disebelah kanan dan tubuhnya paling pendek. "Cepat jawab atau golok kami bertiga yang akan bicara untuk meringkusmu.!" ancam yang lainnya.
Melihat si pendatang yang kelihatannya masih sangat muda itu cuma melirik diam membuat hawa kemarahan ketiga penjaga seketika meluap. si mata belok yang pertama kali menyerbu. goloknya membacok bahu kiri sekalian menikam dada, sementara kakinya menyusul kirimkan tendangan ke perut.
Yang diserang masih diam tidak bergerak. baru saat senjata lawan tinggal sejengkal dari lehernya, terjadilah hal yang luar biasa. golok itu seketika berhenti seolah terhalang oleh dinding gaib yang tidak kasat mata. belum hilang rasa kagetnya, lawan mendadak hentakan tongkat besi hitam yang ada di tangan kirinya ke tanah.
__ADS_1
Sebuah sentakan tenaga kesaktian seketika menghantam mental tubuh si mata belok hingga menghantam retak tiang pondokan. orang ini pingsan seketika goloknyapun mental entah kemana. dua orang rekannya masih belum mengerti betul dengan semua yang terjadi di depan mereka.
Namun saat itulah sebuah sambaran telapak tangan datang mengemplang pulang balik wajah sekaligus menghantam hancur golok di tangan mereka hingga berkeping- keping. saat sekali lagi telapak tangan lawan datang mengibas ke arah kepala, tubuh keduanya dibuat terkapar roboh lalu pingsan menyusul si mata belok.
Tanpa perduli apapun, tubuh pemuda berbaju gelap itu berkelebat ke udara melewati pagar dinding padepokan silat Gajah Guntur yang setinggi hampir dua tombak lantas lenyap menyusup masuk ke dalam sana. bersamaan dengan itu dari atas langit hujan gerimis juga mulai turun dan sepertinya akan bertambah semakin lebat.
Meskipun belum pernah memasukinya tapi tidak butuh waktu lama bagi si pendatang untuk bisa menemukan ruangan yang di carinya. jika ada beberapa orang murid perguruan Gajah Guntur yang memergokinya, dia hanya perlu sekedipan mata saja untuk dapat membuat mereka terjungkal roboh tanpa sanggup mengingat apapun. anehnya orang ini seperti sengaja mengincar urat besar di bagian kepala lawannya.
Suara lenguhan berat dan pekikan tertahan dari mulut seorang perempuan terdengar dari balik sebuah kamar. Ki Gajah Amukso yang baru saja menuntaskan hasratnya tertawa mengekeh, sementara wanita bertubuh agak gemuk yang berada dalam dekapannya masih mengatur nafas lalu tersenyum puas. kedua orang telanjang itu tersentak kaget saat terdengar suara ribut dari luar kamar meski hanya sebentar saja sudah kembali tenang.
Sebagai seorang tokoh silat berpengalaman sekaligus ketua sebuah perguruan silat yang sedang naik daun, Ki Gajah Amukso tentu memiliki kewaspadaan tinggi. cepat dia menghardik. ''Siapa diluar sana. katakan apa yang sedang terjadi.?'' dia tertegun karena tidak mendapat suatu jawaban dari murid- muridnya yang berjaga di luaran. sebagai gantinya pintu kamarnya sudah di jebol dari luar.
Pintu kayu itu terbuat dari kayu jati yang tebalnya hampir tiga ruas jari tangan. tidak mudah untuk membuatnya hancur dalam sekali pukulan. belum sempat Ki Gajah Amukso meraih pakaiannya, si penyusup sudah keburu masuk ke dalam dan kini berdiri di tepi ranjangnya. satu kibsan tangan seketika membuat wanita teman kencannya terkulai lemas tidak sadarkan diri.
''Kurang ajar. mampus kau penyusup keparat.!'' maki Ki Gajah Amukso. tanpa pedulikan keadaan dirinya yang masih bugil, orang ini bergerak hantamkan dua buah kepalan tangannya ke depan. bayangan dua ekor gajah yang di iringi pusaran angin dan suara bergemuruh turut melabrak. ruangan kamar tidur langsung berguncang keras. inilah ajian 'Gajah Guntur Samber Jagad'. yang menjadi andalan perguruannya.!
Menghadapi serangan yang begitu kuat tidak membuat si penyusup bercaping bambu itu panik apalagi takut. jangankan menghindar, bergerak sedikitpun juga tidak. hanya saat kedua kepalan tangan lawan sudah hampir serangkauan di depannya, mendadak pemuda itu menekuk lutut sangat rendah dengan punggung membungkuk. selanjutnya sepuluh jemarinya yang membentuk cakar berbulu dan ditumbuhi kuku- kuku tajam melengkung bagai cengkeraman burung buas membeset ke depan.
Hanya dua gebrakan saja kalah menang sudah bisa ditentukan hasilnya. tanpa perduli dengan mayat lawan yang sudah hancur tidak terbentuk, pemuda berbaju gelap itu mencari- cari sesuatu. dengan bantuan tongkat besinya dia mencongkel sebuah peti besar yang ditemukan dibawah dipan tempat tidur. dua buah pisau terbang melesat cepat ke arahnya saat penutup peti besi itu di buka.
Namun dengan satu kibasan tangan saja dua buah pisau terbang beracun itu sanggup dia buat mental berpatahan. pemuda bercaping bambu ini menyeringai saat melihat tumpukan uang dan emas permata di dalam peti itu. tapi yang paling dia perhatikan adalah selembar bendera hitam berbau anyir darah busuk yang tertancap di atasnya.
Dengan mendengus geram tangannya meraih bendera hitam bergambar dua buah gapura dengan latar belakang bulan purnama dan elehan darah. kepulan asap merah disertai kobaran api terlihat saat bendera lambang partai Gapura Iblis itu terbakar habis dalam genggaman tangan si penyusup.
''Kau memang manusia licik yang pantas mati. hanya karena ingin menjadi pemenang dalam adu ilmu silat antar perguruan kau sampai sudi mengorbankan nyawa tiga orang muridmu sendiri dengan memaksa mereka memakai obat yang mampu menguatkan tenaga dalam untuk sementara. padahal kau tahu kalau obat itu dapat menghancurkan tubuh mereka.."
"Selain itu., yang paling membuat diriku muak, kau juga telah bersekutu dan menjadi budak dari partai Gapura Iblis. sampai mau- maunya memberikan upeti harta sebanyak ini pada mereka.!'' geram si penyusup mendengus. sambil membawa kabur peti harta, tubuhnya lenyap tinggalkan ruangan itu. tidak ada satu halangan apapun bagi si penyusup yang dengan santainya berjalan terseok pelan menyusuri lorong bangunan perguruan Gajah Guntur.
__ADS_1
Di sepanjang jalan yang dia lewati hingga ke luar pintu gerbang padepokan, tergeletak tidak kurang dari tujuh puluhan murid perguruan. sebagian mati ada pula yang cuma pingsan. tapi anehnya keesokan harinya saat mereka terbangun, tidak ada satupun yang benar- benar bisa mengingat kejadian malam itu, karena setiap kali mencoba berpikir kepala mereka terasa sangat sakit bagai di rajam paku panas.
..................
Ruangan dalam goa batu yang tadinya gelap itu mendadak menjadi lebih terang setelah seseorang menyalakan api obor batu yang tertancap ditengah lantai ruangan. dari kilauan pantulan cahaya yang terpantul dari dinding, dapat diketahui kalau ruangan luas ini terbuat dari susunan batu pualam putih.
Sesosok tubuh tua renta berpakaian putih rombeng berkepala botak dan membawa buku catatan tebal tahu- tahu sudah berdiri di ruangan goa batu itu. mata orang tua sekilas melirik lukisan dua buah gapura besar dengan latar belakang langit hitam dan bulan purnama bermandikan darah yang berada di permukaan dinding goa batu.
''Huhm., segala yang terjadi di luaran sana terasa semakin kacau. aku tidak tahu kenapa tapi firasatku mengatakan kalau ada sesuatu yang terlewatkan oleh kita. anak buah yang di kirim oleh 'Sesepuh Bungkuk Mata Buta' ke gunung Singgalang yang berada di pulau besar Andalas juga gagal menemukan 'Bunga Jamur Cendawan Iblis' dari tempat goa rahasia yang kabarnya pernah menjadi tempat tinggal kedua sesepuh partai 'Gapura Iblis' lainnya..''
''Biarpun begitu mereka masih mendapatkan beberapa tanaman dan jamur langka yang juga memiliki khasiat bagus bagi para pesilat jika diolah dengan baik. sialan betul., apakah ada pihak lain yang mendahului kami. tapi siapa mereka dan bagaimana caranya dapat mengetahui tempat rahasia jamur Cendawan Iblis.?'' gerutu orang tua botak yang memang adalah si 'Dewa Kikir' salah satu sesepuh dari partai Gapura Iblis.
Setelah beberapa waktu lamanya mengomel dan meracau penuh kegusaran, Dewa Kikir akhirnya cuma bisa hembuskan nafasnya seolah ingin membuang kekesalan di dalam hatinya. setelah itu tanpa membuang waktu lagi orang tua botak itu mulai membaca beberapa lembar tulisan dari buku catatan tebal yang di bawanya.
''Meskipun keadaan di luar sana semakin tidak karuan tapi ada kabar baik juga, karena kita masih bisa mendapatkan keuntungan dari beberapa upeti yang telah kita terima. itu belum termasuk dengan dua buah peti penuh emas dan barang berharga dari gerombolan rampok 'Seribu Mambang' yang bercokol di hutan Mambangan dan juga para pelanggan kita yang lainnya.!''
''Hee., he., para begundal rendahan ini selain cukup rajin dalam soal setoran, mereka juga termasuk pelanggan lama Gapura Iblis. tidak percuma pihak kita beberapa kali membantu gerombolan perampok tengik ini hingga sampai saat ini selalu lolos dari sergapan para pasukan kerajaan dan kaum persilatan aliran putih yang ingin membasminya..'' ujar Dewa Kikir pada seseorang yang berdiri diatas tiga undakan lantai batu di depannya.
Orang berjubah putih yang berdiri sambil silangkan tangan ke balik pinggangnya ini sesaat masih mengamati lukisan besar lambang partai Gapura Iblis yang terpampang di dinding ruangan goa. setelah mendengus sinis, orang ini berjalan menuruni tiga undakan lantai batu lantas berhenti dua langkah di depan Dewa Kikir.
''Masalah upeti harta benda dan segala macam urusan keuangan dalam partai Gapura Iblis memang hanya kau saja yang mampu menanganinya. tapi kegagalan anak buah kita untuk mendapatkan bunga jamur Cendawan Iblis itu sampai sekarang masih membuatku tidak dapat tidur nyenyak. kau tahu bukan Sesepuh Dewa Kikir, kalau aku sangat menginginkannya..''
''Jadi bagaimanapun caranya, kau juga Sesepuh Bungkuk Mata Buta dan seluruh anak buahmu baik yang berada diluar atau bagian dalam, harus bisa mendapatkannya untukku.!'' ujar si jubah putih dengan suara dingin. meskipun tidak terdengar ada hawa amarah ataupun tekanan dalam ucapannya namun anehnya terasa mengancam jiwa pendengarnya.
Dewa Kikir menarik nafas pelan sebelum menjawab. ''Tanpa kau mintapun kami semua pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa mewujudkan keinginanmu. karena siapa lagi di dunia ini yang pantas untuk memiliki juga memanfaatkan Bunga Jamur Cendawan Iblis itu kecuali dirimu., sang pimpinan tertinggi dari partai Gapura Iblis.!''
Orang berjubah putih yang pastinya adalah ketua partai terkuat golongan hitam Gapura Iblis itu hanya mendengus sinis. seolah roh gentayangan, tanpa menggerakkan tubuhnya tahu- tahu saja orang ini sudah kembali berdiri di lantai atas tiga undakan. ''Aku berikan waktu satu bulan bagi kalian untuk mendapatkan benda itu. kuharap saja., kau bisa memberikan berita bagus pada waktunya nanti.!"
__ADS_1
..............
Karena lambat update, chapter ini dibuat panjang🙏. (gak nyangka juga bisa sampai episode ke 300👏. Silahkan tulis komentar Anda, Terima kasih😊.