Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Sarapan pagi yang (teramat)., mahal.


__ADS_3

Jarak kaki gunung Merapi tidak begitu jauh. mungkin lewat tengah hari sudah akan sampai. untuk naik dari kaki gunung ke bagian lereng juga memerlukan waktu. pemuda pincang dari gunung Bisma bernama Pranacitra masih berdiri memandangi cahaya pelangi yang mulai sirnah di atas langit. seiring hilangnya cahaya indah tujuh warna itu, lenyap juga bayangan semua orang yang sempat terlintas di kepalanya.


Meskipun belum jelas apa masalahnya, tapi dia dapat menduga kemungkinan kalau 'Tiga Singa Buas Bersurai Biru' sengaja menantang dirinya karena berkaitan masalah lama dengan salah satu gurunya. bukannya dia sombong atau terlalu percaya diri, tapi dengan namanya yang saat ini menjadi peringkat teratas dalam jajaran pesilat pendatang baru terkuat tentu membuat lawan berpikir berulang kali untuk mencari perkara dengannya.


Namun dia tidak tahu diantara kelima orang gurunya, siapa yang pernah berperkara dengan Tiga Singa Buas Bersurai Biru itu. mereka bertiga juga bukan termasuk pesilat angkatan tua. tidak mungkin pernah bertemu apalagi berseteru dengan kelima orang tua yang sudah menghilang dari dunia persilatan belasan bahkan lebih dua puluh tahun silam. jadi kemungkinan mereka hanya ingin menuntut balas kematian gurunya saja.


Untuk mengerjakan sesuatu butuh tenaga. meskipun waktu sarapan pagi sudah tiba dan perutnya juga mulai lapar, tapi di tepian hutan begini tidak bakal dia temukan warung makan. dengan melangkah terseok dia mulai berjalan memasuki hutan. mata dan telinganya terbuka lebar mencari sesuatu yang dapat dia pakai untuk mengganjal perut. sialnya tidak ada satupun hewan atau buah- buahan liar yang terlihat disana.


Pemuda itu melirik ke belakang, ''Sepertinya pagi ini diriku terpaksa makan itu..'' gumamnya mengeluh. sebilah pisau belati sepanjang satu jengkal lebih dua ruas jari ditangan kirinya berkelebat menyambar sesuatu yang berada tiga tombak diantara rumput belukar. sempat terlihat gerakan menggeliat keras sebelum akhirnya diam.


Seekor ular sanca kembang sepanjang hampir satu tombak itu bukan saja sudah terkuliti tapi juga telah terpotong- potong dagingnya. beberapa diantaranya bahkan terpanggang bara api. meskipun yang dimasaknya seekor ular tapi hebatnya tidak tercium sedikitpun bau amis. sebaliknya aroma sedap gurih yang menggugah selera menebar ke sekelilingnya. si pincang ini memang jago memasak sejak lama.


Entah bagaimana rasa dari daging ular itu dan bumbu macam apa yang dia racik, namun aroma nikmatnya memang menggugah selera. bahkan mungkin bagi orang yang perutnya sudah terisi sekalipun bisa jadi akan kembali merasa lapar. angin gunung yang berhembus menebarkan bau sedap masakan ke segala penjuru menarik perhatian empat orang untuk mendatanginya.


Lima potong daging ular bakar sudah berpidah ke dalam perut. diatas bara perapian yang sudah mulai mengecil masih tersisa tiga tusukan daging yang sudah matang dan siap santap. empat orang pendatang itu sudah berdiri tiga langkah dari perapian. satu orang tua berjanggut dan berjubah putih dengan seutas cambuk panjang yang juga bercahaya putih keperakan berdiri paling depan. terlihat kepala seekor naga terukir di gagang cambuk yang tergulung di pinggang kirinya.


Tiga orang lainnya yang berdiri di belakangnya masih muda, mungkin tiga puluhan tahun. berpakaian dan berikat kepala kain putih dengan membekal cambuk yang serupa namun tidak memancarkan kesaktian sekuat milik si orang tua berjubah putih. dari sini dapat diperkirakan kalau mereka segolongan. kemungkinan adalah guru dan para muridnya.


''Anak muda., aroma daging bakarmu sungguh menggugah selera. kebetulan kami berempat sedang lapar. aku melihat masih banyak potongan daging ular yang belum kau masak. bakar semuanya untuk kami nikmati. jika rasanya memuaskan aku akan membayarmu..'' ujar orang tua berjubah putih itu.


Tanpa bicara dia mengambil setusuk besar daging ular bakar yang harum berlemak dan langsung menyantapnya. liurnya menetes dari sela mulut peotnya yang di penuh daging. ''Gila., daging ular bakar ini rasanya sungguh enak..'' batinnya sambil memberi isyarat pada tiga orang muda dibelakangnya untuk ikut makan. karena hanya tersisa dua tusuk daging bakar, terpaksa mereka mesti berbagi.


''Hei apalagi yang kau tunggu., cepat bakar juga semua sisa daging itu. jangan lupa untuk membumbui seperti sebelumnya..'' ujar salah satu pemuda berbaju putih itu setengah kesal. ''Kami masih sangat lapar, jadi jangan buat kami dari perguruan silat 'Cambuk Naga' harus menunggu.!'' hardik yang lainnya.


Pemuda berbaju gelap itu cuma mengangguk, tangannya sangat terampil mengolah daging ular bakar. empat tusuk sate ular seketika menebar aroma harum gurih. tanpa sadar empat orang yang mengaku dari perguruan silat Cambuk Naga ini mendekati keperapian. dengan isyarat tangan dia mempersilahkan mereka untuk menyantapnya.


''Luar biasa., meskipun perutku sudah penuh tapi mulut dan lidahku masih ingin merasakan daging ular bakar itu lagi..'' seru orang berbaju putih yang bertubuh paling pendek. ''Entah dengan bumbu apa dimasak hingga jadi begini nikmat disantap..'' ujar yang lainnya sambil menjilati jemarinya.

__ADS_1


''Anak muda, kulihat kau punya keahlian memasak yang luar biasa. ehm., bagaimana kalau dirimu ikut kami ke perguruan Cambuk Naga yang berada di bukit Pecutan, tidak begitu jauh dari timur kaki gunung Merapi ini. kau bisa jadi tukang masak perguruan silat yang aku pimpin. tentu saja selain penghasilan lumayan, kau juga bisa belajar ilmu silat cambuk dariku Ki Cemeti Nogoseto.!''


''Tapi., untuk sementara ini dirimu terpaksa harus menunggu kami di sini karena aku mesti lebih dulu menyelesaikan satu urusan penting di atas lereng gunung Merapi ini..'' ujar Ki Cemeti Nogoseto sambil menepuk perutnya yang kenyang dia menatap ke atas lereng gunung. ''Hee., he., kurasa banyak pesilat tangguh yang akan ikut membantai si bocah pincang sialan itu..'' gumamnya terkekeh sendiri. pemuda berbaju gelap itu sekejap agak terkejut tapi dia tidak berkata apapun.


Tiga orang muda yang berada di samping orang tua bernama Ki Cemeti Nogoseto itu sejenak tercengang, namun mereka cepat tanggap. ''Kau sungguh beruntung sobat., guru kami tidak gampang menerima murid. tunggu apa lagi cepat berlutut mengucapkan terima kasih kepada beliau.!'' seru seorang murid yang bermuka kehitaman.


Tukang masak ular bakar itu malah mengusap mulutnya yang berlepotan minyak daging lalu ujung jemarinya mengetuk- ngetuk seakan menghitung sesuatu. ''Ehm., kalian berempat sudah makan masakanku, masing- masing orang menghabiskan tiga tusuk daging ular bakar. apakah tuan- tuan semua merasa puas dengan ular bakar yang kumasak.?''


Biarpun merasa heran dan kurang senang tapi ketua perguruan Cambuk Naga bersama tiga muridnya sama mengiyakan. ''Baguslah., satu tusukan berisi dua potong daging ular sanca bakar dengan bumbu istimewa ini harganya sepuluh keping perak. jika dikalikan tiga berarti harganya tiga puluh keping uang perak untuk setiap orang. tapi., karena kalian merasa puas, cukup bayar dua puluh sembilan keping perak saja..'' ujar pemuda itu sambil ulurkan tangan kanannya.


Empat orang pesilat dari perguruan Cambuk Naga itu sama berubah raut mukanya. dari terkejut heran sekejap menjadi kemarahan. ''Bocah edan., bacotmu benar- benar harus disumpal kotoran anjing agar tidak lagi bicara sembarangan. sejak kapan semua ini menjadi sebuah pedagangan.?'' damprat Ki Cemeti Nogoseto yang merasa dipermainkan.


''Kenapa juga kau tidak bilang sejak awal kalau daging ular bakarmu itu kau jual. lagipula harganya sangat tidak masuk akal. setan alas., rupanya kau belum sadar sedang bicara dengan siapa.!'' ketiga muridnya juga turut naik darah. ''Guru., waktu kita tidak banyak lagi. biar kami habisi saja pemuda gila ini sekarang juga.!'' teriak mereka geram sambil loloskan senjata cambuk dari pinggangnya. tetapi gerakan mereka tanpa sadar tertahan melihat pemuda itu perlahan berdiri menunduk.


''Sedari awal aku tidak berniat menjual daging ular bakarku, jika saja kalian mau memintanya baik- baik mungkin akan kuberikan semuanya. tapi kalian malah mengambilnya terlebih dulu tanpa seijinku. meskipun aku bukan pedagang yang mencari keuntungan, tapi juga tidak mau dirugikan siapapun. lagi pula sebenarnya diriku juga tidak tertarik berdagang dengan kalian., para calon mayat..''


''Huhm bangsat., dasar bocah edan. kurasa kau memang sudah kepingin mampus hingga berani mencari perkara dengan kami dari perguruan Cambuk Naga. pergilah menemui moyangmu di akhirat.!'' bentak seorang murid Ki Cemeti Nogoseto yang bertubuh paling tinggi. bersama kedua rekannya dia getarkan cambuknya yang berbentuk seekor naga lalu menyentak keras ke depan.


Tiga buah cambuk meluruk dan menyambar bagaikan seekor naga mengibaskan ekornya. menghempas sekaligus membelit. dari hawa udara dingin yang tersapu dan ujung cambuk yang terpecah menjadi beberapa bayangan sayatan tajam, dapat diketahui ilmu ketiga orang murid perguruan silat 'Cambuk Naga' itu lumayan tinggi. belum juga cambuknya tiba, hawa panas perih yang memecah kulit sudah lebih dulu terasa.


Pemuda itu sesaat masih diam menunduk, mengambil dua langkah mundur dan bergeser ke kiri serangan cambuk dari ketiga lawannya dapat dilewati hanya sejengkal dari tubuhnya. tiga cambuk naga kembali menderu. kini mencabik dari tiga penjuru mengincar tiga sasaran. membelit leher, merajam punggung dan mencabik perut. cahaya putih berkilau mengiringi serangan itu. mata tajam dibalik rambut panjang si pemuda dapat melihat tiga buah gaetan kecil yang tersembunyi di ujung cambuk lawan.


Kedua tangannya yang terlihat lemah pucat dan menjuntai kebawah mendadak tegang mengepal dilingkari otot kehijauan. sinar hitam kuning menyelimuti kepalan hingga sikunya. tidak terlihat jurus yang indah dipandang. hanya gerakan tangan berputaran untuk menangkis lalu menghantam tiga kali. sekilas terlihat tidak beraturan tapi akibatnya sungguh mengerikan.


'Whuuuk., whuut., ctaaarr., ctaar.!'


'Dheeeess., thaaass., theeeess.!'

__ADS_1


'Blaaaang., dhaaass., braaaak.!'


Tidak suara ada jeritan parau yang terdengar. awalnya hanya ada lecutan tiga cambuk yang beradu dua lengan beberapa kali, lantas disusul sambaran sinar kuning hitam yang samar membentuk kepala naga. tiga buah cambuk putih hancur musnah. tubuh pemiliknya terhempas kebelakang hingga empat tombak sebelum terkapar dengan dada jebol hangus terbakar.!


Pucat pias wajah Ki Cemeti Nogoseto. tubuh tuanya gemetaran tanpa kendali, entah karena kemarahan atau malah ketakutan. dengan pandangan ngeri bercampur benci matanya menatap pemuda tukang masak itu. seiring kepalanya yang perlahan mendongak, rambut panjang yang menutupi sebagian mukanya turut tersibak. wajah itu sebenarnya tampan hanya sedikit pucat. sepasang matanya yang menyorot tajam namun tanpa suatu perasaan apapun. seakan itu adalah mata orang mati., dingin menyeramkan.


Cambuk berukiran naga yang terlolos dari pinggangnya seperti tidak mampu digerakan. hawa dingin mencekam jiwa yang entah datang dari mana seperti menyelimuti tempat itu. wajah Ki Cemeti Nogoseto semakin memucat saat mendengar pemuda itu mulai bersiul pelahan.


Siulan pelan yang bernada sangat aneh dan memedihkan hati. dari balik batu tempat dia duduk dan terlindung oleh semak rerumputan orang itu meraih sebuah tongkat besi. kain hitam yang menutupi gagang tongkat perlahan dibuka. sebuah ukiran kepala tengkorak yang terbuat dari perak terlihat disana.


''Kkaa., kau., kau., kena., pa bisa bera., da di., disini.? sem, semua orang menung., gumu di lereng uta., ra gunung ini. sialan., kep., kepa., rat.!'' maki Ki Cemeti Nogoseto kebingungan bercampur ketakutan. orang tua itu bergerak mundur dengan tubuh gemetaran saat melihat pemuda bernama Pranacitra itu mulai melangkah.


Kaki kanannya setapak ke depan, yang kiri terseok mengikuti. kanan melangkah kiri terseret di belakang. begitu seterusnya bergerak perlahan seperti cacing merayap. meskipun nampak lucu, namun Ki Cemeti Nogoseto sang ketua perguruan Cambuk Naga itu tidak mampu tertawa, bahkan dia seakan lupa bagaimana caranya.


Saat mendengar berita akan ada pertarungan besar para tokoh silat kalangan atas baik dari aliran hitam maupun putih melawan 'Pendekar Pincang Tanpa Perasaan' alias si 'Muka Pucat Dingin, dia berniat ikut dalam pengeroyokan itu dengan harapan dapat melambungkan nama dan perguruan silatnya di tingkatan atas. tapi mimpipun orang tua ini tidak menyangka bakal bertemu calon lawannya di tempat ini.


Dengan meraung gusar penuh amarah, seram, dan penyesalan Ki Cemeti Nogoseto kibaskan cambuknya kemuka. tiga larik cahaya bersemu bayangan naga putih menyambar diiringi suara pecahnya suara letusan sekeras petir. dalam kenekatannya orang tua ini terpaksa gunakan ilmu pamungkasnya yang dinamai 'Tiga Lecutan Petir Naga'. siapapun yang terkena ilmu ini akan mati seakan tercabik sambaran halilintar.!


Tongkat hitam kepala tengkorak diangkat sejajar dada berputar setengah lingkaran lalu menusuk. bunyi ledakan berulang terdengar bersama taburan cahaya hitam pekat. hawa yang lebih panas dari bara api semburat membelah udara pagi. jurus 'Tongkat Maut Sembilan Geledek Kematian.!'


Ki Cemeti Nogoseto menggembor buas. tanpa peduli darah yang tersembur dari lukanya dia melompat ke udara. dari atas sana orang tua itu kembali lepaskan jurus 'Tiga Lecutan Petir Naga' dengan seluruh tenaga kesaktiannya. cahaya petir naga yang lebih kuat menderu. tapi tongkat besi hitam lawan cuma terangkat, menusuk satu jurusan. selarik sinar hitam bersemu merah menyambar. ledakan keras seakan guntur menggebrak bumi terdengar. jurus 'Tongkat Maut Pemecah Rembulan' melesat memburu korban.!


Tubuh tua itu melayang bagaikan daun kering yang rontok, terkapar mati bermandikan darah. daging tulang tuanya semburat gosong ke segala arah. hanya karena sekerat ular bakar dia harus mampus tanpa berwujud mayat utuh. si pincang Pranacitra menyeringai, dia sungguh tidak menyangka kalau harga ular sanca bakar buatannya bisa demikian mahal.


*****


Asalamaualaikum, Salam sehat sejahtera selalu buat kita semuanya. ini mungkin chapter terpanjang yang pernah di buat authornya. sebenarnya mau di bagi dua bab, tapi rasanya terlalu pendek😏. (sesuai aturan di NT setiap chapter/bab 1000~ 2000 karakter kata, tidak termasuk tanda baca.,) silahkan tulis komentar, kritik saran, like👍, vote atau favorit👌 jika anda suka. Terima kasih. Wasalamuaaikum.🙏.,

__ADS_1


__ADS_2